Bab III Akuntabilitas Kinerja
B. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja
15. Sasaran Terwujudnya Pelestarian dan Pengembangan
Semenjak penerapan UU No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, urusan kebudayaan merupakan salah satu urusan yang memiliki kedudukan signifikan. Posisi kebudayaan menjadi semakin kuat karena kebudayaan menjadi payung atau pengarusutamaan pembangunan di segala bidang. Kewenangan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY.
Dalam bidang kebudayaan, misi pemerintah Kabupaten Bantul adalah meningkatkan tata kehidupan masyarakat Bantul yang agamis, nasionalis, aman, progresif dan harmonis serta berbudaya istimewa.
[121]
Tabel III.36 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Terwujudnya Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah
No Indikator Kinerja Utama Target Realisasi % Realisasi
1. Indeks Pembangunan Kebudayaan
54,80 50 57,01 114,02 90 63,34
Sumber : Dinas Kebudayaan, 2018
Sasaran terwujudnya pelestarian dan pengembangan budaya daerah tercapai Sangat Tinggi. Hal ini dilihat dari indikator Indeks Pembangunan Kebudayaan yang tercapai 57,01 dari target 50 atau nilai capaian sebesar 114,02%. Capaian ini menyumbangkan 63,34% dari target akhir RPJMD tahun 2021 yaitu sebesar 90.
Angka IPK dihitung dengan melakukan suervey di masyarakat. Kementerian Pendidikan Nasional menggunakan angaka gotong royong dan indeks toleransi untuk mengukur capaian sasaran strategis yang tiap tahunnya disyaratkan minimal tercapai 0,55 (indeks gotong royong) dan 0,49 (indeks toleransi) selama tahun 2015 – 2019 (sumber: Rakor Pusat dan Daerah Dirjen Kebudayaan tanggal 16 April 2015) Pengukuran IPK Kabupaten Bantul juga menggunakan kedua indeks tersebut untuk penghitungan.
Nilai Indeks Pembangunan Kebudayaan di Kabupaten Bantul dihitung berdasar rerata indeks toleransi, indeks gotong royong dan indeks rasa aman. Perhitungan Nilai IPK dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel III.37 Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Tahun 2017
Indeks Nilai I
Indeks Toleransi 57,62
Indeks Gotong Royong 57,20
Indeks Rasa Aman 55,19
Indek Pembangunan Kebudayaan 57,01 Sumber : Dinas Kebudayaan, 2018
[122]
Maraknya event seni budaya bisa dilihat dari semakin banyaknya event budaya yang dilaksanakan seperti festival, karnaval, gelar budaya, pasar rakyat dan event-event lainnya baik yang bertaraf lokal, nasional maupun internasional. Menarik untuk dicermati bahwa berbagai event ini diselenggarakan baik oleh swasta, masyarakat maupun pemerintah.
Event budaya yang dilaksanakan di Kabupaten Bantul meliputi Pentas Kesenian dan Budaya Daerah sebanyak 488 pentas di sepanjang tahun 2017, antara lain: Wayang, Ketoprak, Jathilan, Reog, Pentas Seni Religi, Hadroh dan lain-lain. Melalui kegiatan-kegiatan ini kesenian dan budaya daerah mendapatkan ruang untuk mengaktualisasikan eksistensinya kepada masyarakat, dan kelompok seni maupun tradisi yang tersebar di Kabupaten Bantul juga mendapatkan kesempatan untuk tampil di tengah-tengah masayakat
Gambar III.38 Tradisi membagi Lemper Raksasa dalam Rebo Pungkasan
Terdapat 235 (dua ratus tiga puluh lima) Warisan Budaya Cagar Budaya (WBCB) di Kabupaten Bantul, 21,7% atau 51 diantaranya telah ditetapkan menjadi Cagar Budaya.
Warisan Budaya Benda Cagar Budaya (Tangible) dapat berupa benda, bangunan, struktur bangunan maupun situs. Sebelum mendapatkan penilaian atau kajian oleh TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) untuk ditetapkan menjadi Cagar Budaya, sebutan peninggalan/warisan budaya benda sebagaimana tersebut di atas adalah Warisan Budaya.
[123]
Penetapan Warisan Budaya menjadi Cagar Budaya oleh TACB mempetimbangkan hal-hal antara lain: karena keberadaannya memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, sehingga perlu upaya pelestarian, dan dilestarikan melalui proses penetapan.
Pada Tahun 2016 Cagar Budaya di Kabupaten Bantul berjumlah 26, melalui kegiatan Pelestarian Warisan Budaya Cagar Budaya (DANAIS) pada tahun 2017 sejumlah 25 Warisan Budaya telah dikaji oleh TACB dan ditetapkan menjadi Cagar Budaya melalui SK Bupati Bantul Nomor 416 Tahun 2017.
Kabupaten Bantul sebagai salah satu destinasi wisata penting di DIY, khususnya jenis wisata budaya maka penyelenggaraan urusan kebudayaan diarahkan untuk melestarikan kebudayaan daerah melalui kebijakan yang berlandaskan prinsip perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan aset seni budaya masyarakat, warisan budaya, dan Cagar Budaya (CB) guna menunjang predikat sebagai destinasi wisata budaya. Kawasan strategis pengembangan kawasan budaya Kabupaten Bantul diarahkan di beberapa kawasan sebagai berikut:
a. Kawasan Kotagede Banguntapan;
b. Kawasan Imogiri;
c. Kawasan Pleret;
d. Kawasan Goa Selarong Pajangan;
e. Kawasan Ambar Binangun Kasihan;
f. Kawasan Masjid Pathok Negoro Kasihan;
g. Kawasan Parangtritis Kretek;
h. Kawasan Mangir Pajangan;
i. Kawasan Makam Sewu Pandak;
j. Kawasan Cagar Budaya Pendidikan.
Peran serta dan apresiasi masyarakat dalam pengembangan dan pelestarian budaya dengan terbentuknya kelompok-kelompok kesenian dan budaya dari tingkat pedukuhan dan desa. Kelompok tersebut banyak yang aktif secara swadaya berlatih sendiri, dan Pemerintah memberikan fasilitasi dengan menyediakan tempat bagi kelompok-kelompok seni ini untuk melakukan pentas atau mengekspresikan.
Bantul juga turut berprestasi dalam ajang parade maupun festival dalam kancah provinsi dan nasional, diantaranya adalah pada ajang Parade Teater Tradisi Tingkat Nasional sebagai Penyaji Unggulan I/Terbaik, Festival Dalang Cilik Tingkat Nasional
[124]
sebagai Penampil Terbaik. Sedangkan di tingkat provinsi sebagai Juara Umum pada ajang Festival Ketoprak, Juara 1 pada Festival Dalang Anak, Juara 1 pada Festival Teater, Juara II pada Festival Langen Carito, Juara III pada Festival Karawitan, Juara III pada Festival Sendratari dan Juara III pada Festival Upacara Adat.
Permasalahan :
a. Belum optimalnya pengelolaan aset seni budaya, warisan budaya, dan cagar budaya.
b. Pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pelestarian aset seni budaya, warisan budaya, dan cagar budaya belum optimal.
c. Kegiatan perlindungan terhadap aset seni budaya, warisan budaya, dan cagar budaya belum optimal.
Solusi :
a. Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM serta kelembagaan pengelola urusan kebudayaan.
b. Peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pelestarian aset seni budaya, warisan budaya, dan cagar budaya.
c. Penyusunan regulasi tingkat kabupaten terkait peraturan perundangan perlindungan aset seni budaya, warisan budaya, dan cagar budaya.
Strategi kedepan membangun kelembagaan yang lebih profesional dan mumpuni untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi.
Capaian kinerja di atas merupakan hasil dari program yang dilakukan terkait Terwujudnya Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah. Pada tahun 2017, sebanyak 2 (dua) program yang dilaksanakan untuk sasaran strategis ini, terdiri dari :
1. Program Pengembangan Nilai Budaya 2. Program Pengelolaan Keragaman Budaya
[125]