Sastra Digital dan Penyebaran Sastra Indonesia melalui Industri Kreatif
5. Sastra Digital dan Industri Kreatif Berbasis Independent Publishing Platform
Industri kreatif dalam pengertian sub-sektor ke-11 menurut Kementerian Perdagangan RI, khususnya di ranah kegiatan kreatif yang berhubungan dengan penulisan konten digital dan penerbitan buku (cetak), di dunia teknologi-informasi berbasis internet dewasa ini telah sedemikian maju dan terbuka yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam lima atau sepuluh tahun ke belakang.
Mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya bahwa penerbitan buku cetak di dunia teknologi-informasi berbasis internet dewasa ini cukup dilakukan oleh dua komputer dekstop dan modem dan bersifat lintas negara. Satu komputer desktop penulis buku atau penerbit (di rumah, di kantor atau di mana saja jika ia menggunakan laptop) dan satu komputer server di negara lain yang menyediakan fasilitas pencetakan secara printing on demand sekaligus menyediakan layanan pendistribusiannya secara online yang dapat menjangkau calon pembaca buku (konsumen) secara world-wide. Kedua komputer (yang jarak dari satu komputer yang satu ke komputer lainnya bisa lebih dari 16.000 kilometer ini) terhubung oleh modem, terkoneksi oleh internet, dan berinteraksi dalam hitungan menit untuk memeriksa naskah siap cetak yang telah melalui self-editing dan self-proof-editing,
9 saling mengoreksi naskah dan membuat sampul buku dalam hitungan jam, dan dapat memproduksi satu buku cetak (paperback) dengan kualitas sangat baik yang siap dipasarkan dan didistribusikan secara online antara tiga sampai tujuh hari, dan bisa sampai ke tangan calon pembaca (konsumen) pada hari itu juga.
Pola penerbitan buku yang disebut sebagai independent publishing platform (yang dipilih sebagai pola penerbitan buku-buku cetak yang diterbitkan Sastra Digital), berdasarkan pengalaman Sastra Digital sendiri, dapat dikatakan sebagai “pembaruan yang cepat”, jika tidak dapat dikatakan sebagai “revolusi”, yang sangat mungkin akan menjadi kecenderungan masa depan dalam industri kreatif penerbitan buku (cetak), dengan alasan-alasan sebagai berikut:
(a) Jangka waktu proses penerbitan buku yang biasanya memakan waktu paling cepat sekitar tiga bulan dan terkadang lebih lama dari itu (dari mulai tersedianya naskah buku yang telah mengalami proses editing dan proof-editing hingga buku tersebut beredar di pasar) dalam pola proses penerbitan konvensional, dapat diperpendek masa produksinya hingga antara satu minggu (paling cepat) dan satu bulan (paling lambat);
(b) Independent publishing platform yang menjadi basis penerbitan industri kreatif
Sastra Digital memungkinkan buku didistribusikan secara langsung kepada calon pembaca (konsumen) di mana pun calon pembaca (konsumen) itu berada sejauh mereka bersedia melakukan pembelian atau transaksi secara online;
(c) Buku selalu tersedia tanpa pernah mengalami out of stock karena naskah digitalnya senantiasa tersedia di server percetakan dan hanya dicetak kepada pembeli atau apabila ada yang membeli;
(d) Penerbit tidak akan pernah berhadapan lagi dengan kosa kata “retur”;
(e) Penulis buku dapat memperoleh laporan penjualan buku secara real time, dan dapat mengakses laporan penjualan buku kapan saja diperlukan;
(f) Karena independent publishing platform menghubungkan penulis buku dengan calon pembaca (konsumen) secara langsung (online), tanpa perantaraan distributor atau toko buku konvensional, maka penulis buku dapat memperoleh royalti dari setiap buku yang terjual lebih besar dan bahkan dapat menentukan sendiri royalti yang diinginkan dari setiap buku yang ditulisnya;
10 Namun demikian, pola atau mekanisme sistem independent publishing platform ini bukannya tanpa kelemahan. Dalam kasus Sastra Digital, harga buku-buku (cetak) terbitan
Sastra Digital menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan harga buku-buku sastra umumnya yang dipasarkan melalui toko-toko buku konvensional, khususnya bagi calon pembaca (konsumen) buku yang berasal dari Indonesia sendiri atau yang bukan berasal dari Amerika Serikat, Eropa dan Jepang (yang telah memiliki perwakilan Amazon). Hal ini terutama disebabkan karena buku-buku tersebut dicetak di, dan didistribusikan dari, Amerika Serikat atau UK, yang memerlukan ongkos kirim yang besarnya lumayan signifikan terutama apabila buku-buku tersebut ingin sampai di tangan calon pembaca (konsumen) di Indonesia dalam 4 sampai 7 hari melalui pengiriman priority shipping. Harga-harga buku terbitan
Sastra Digital menjadi lebih kurang sama harganya dengan buku-buku impor.
6. Penutup
Dari keseluruhan uraian dalam makalah ini, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
(a) Di tengah perkembangan dunia teknologi-informasi yang sangat pesat yang salah satu indikatornya dapat dilihat dari derasnya produk-produk telekomunikasi berbasis internet yang membuat masyarakat selalu terhubung secara gadgetis dengan realitas digital, sebuah pasar baru berbasis transaksi online juga pada saat yang bersamaan terbuka lebar, lengkap dengan segala kemungkinannya yang dapat diambil manfaatnya untuk perkembangan industri kreatif berbasis transaksi online; (b) Sekaitan butir (a) di atas paragraf ini, industri kreatif berbasis transaksi online dapat
dijadikan alternatif yang dapat dipertimbangkan karya sastra berbasis digital, baik dari segi bentuk maupun proses pembuatannya (dengan sistem independent publishing platform), bagi penyebaran (diseminasi) karya sastra berbasis digital tersebut;
(c) Industri kreatif berbasis transaksi online yang tidak mengenal batas negara
(borderless) dan bersifat lintas negara jika dimanfaatkan sebaik-baiknya dapat membantu, mendorong, dan memperluas penyebaran sastra Indonesia berbasis digital, baik dari segi bentuk maupun terutama dari segi proses pembuatannya, secara lebih luas dan dapat diakses dari berbagai tempat di dunia (worlwide);
11 (d) Mekanisme sistem independent publishing platform (yang menjadi pola penerbitan
yang dipilih Sastra Digital) dapat dipertimbangkan para penulis sastra Indonesia sebagai salah satu alternatif penyebaran karya kreatifnya di bidang kesusastraan karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki mekanisme independent publishing platform tersebut, dari sudut kepentingan para penulis, lebih menjanjikan benefit bukan saja secara ekonomis melainkan juga secara eksistensial, karena para penulis menjadi memiliki kendali penuh atas setiap buku yang ditulis dan diterbitkannya, baik dalam bentuk buku cetak maupun digital;
(e) Proses alihbahasa buku-buku sastra Indonesia ke dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi mutlak diperlukan dan perlu dipertimbangkan sebagai “pekerjaan rumah” lembaga-lembaga penerjemahan maupun para penerjemah sebagai pribadi dan juga para penulis sastra Indonesia sendiri karena, berdasarkan pengalaman Sastra Digital, buku-buku sastra Indonesia yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, akseptabilitas pasarnya jauh lebih besar di dalam mekanisme independent publishing platform karena daya jangkau pasarnya terutama diarahkan ke para calon pembaca (konsumen) yang memahami bahasa Inggris.
Cimahi, 10 Oktober 2013
Cecep Syamsul Hari adalah penyair; pendiri dan redaktur Sastra Digital (Online Literary Magazine); redaktur majalah sastra Horison; pemimpin umum dan pemimpin redaksi Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly); managing editorIndonesian Literature in Translation (I-Lit, dipublikasikan oleh Lontar Foundation). Sejak 1999 menjadi salah seorang instruktur materi menulis dalam Lokakarya “Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra” (MMAS) untuk guru-guru bahasa dan sastra Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional. Pernah tinggal sebagai sastrawan tamu di Korea Selatan, Malaysia, Hongaria, dan Australia. Saat ini sedang menempuh studi pascasarjananya dalam Ilmu Hukum di Universitas Islam Bandung.
Official websites:
https://www.amazon.com/author/cecep http://www.sastradigital.com http://cecepsyamsulhari.webs.com
1 INDUSTRI KREATIF KEBAHASAAN