DENGAN DAFTAR SUPAS05-L
TIDAK SELALU SAMA DENGAN SATU KELUARGA
SATU KELUARGA TIDAK SELALU SAMA DENGAN SATU RUMAH TANGGA, ATAU SEBALIKNYA, SATU RUMAH TANGGA
SUPAS05 38 Buku 1 Penjelasan:
1. Rumah tangga yang menerima pondokan dengan makan (indekos) kurang dari 10 orang dianggap sebagai satu rumah tangga biasa dengan yang indekos. Jika yang mondok dengan makan 10 orang atau lebih, maka rumah tangga yang menerima pondokan dengan makan merupakan rumah tangga biasa, sedang yang mondok dengan makan dianggap sebagai rumah tangga khusus.
2. Pengurus asrama, pengurus panti asuhan, pengurus lembaga pemasyarakatan, dan sejenisnya yang tinggal sendiri maupun bersama anak isteri serta anggota rumah tangga lainnya dianggap rumah tangga biasa.
Pencatatan Rumah Tangga yang Terlewat
1. Bila pada saat pendaftaran ditemui bangunan tempat tinggal yang rumah tangganya sedang bepergian, nomor urut rumah tangganya tetap ditulis sementara isian pada Kolom (6) s.d.(14) dibiarkan kosong (diisi pada saat rumah tangga tersebut bisa ditemui).
2. Jika pada saat ditemui diketahui bahwa jumlah rumah tangga dalam bangunan tersebut lebih dari satu maka rumah tangga berikutnya (pada bangunan tersebut) terpaksa dituliskan setelah nomor urut rt terakhir yang telah dilisting.
3. Dalam keadaan terpaksa, setelah di tunggu sampai jadwal listing berakhir, ternyata anggota suatu rumah tangga tidak juga kembali ke rumahnya, maka pengisian Kolom (6) s.d Kolom (14) dapat ditanyakan kepada tetangga yang mengetahui persis siapa saja anggota rumah tangga tersebut.
• RUMAH TANGGA KHUSUS TIDAK DICACAH DENGAN DAFTAR SUPAS05-S
• RUMAH TANGGA KHUSUS HANYA DICATAT PADA DAFTAR SUPAS05-L
SUPAS05 39 Buku 1 Beberapa contoh pengisian daftar
Nanang Andriyanto seorang pencacah Desa Turi, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, akan mencacah blok sensus nomor 2. Keadaan dan penggunaan bangunan fisik adalah sebagai berikut :
1. Bangunan Fisik Nomor 66
Satu bangunan fisik terdiri dari satu bangunan sensus yang seluruhnya digunakan untuk tempat tinggal oleh rumah tangga Pak David.
2. Bangunan Fisik Nomor 67
Satu bangunan fisik terdiri dari satu bangunan sensus, ditempati oleh keluarga Ibu Oneng yang mengelola salon.
SUPAS05 40 Buku 1 3. Bangunan Fisik Nomor 68
Satu bangunan fisik terdiri dari satu bangunan sensus, digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal penjaga kantor.
4. Bangunan Fisik Nomor 69
Satu bangunan fisik terdiri dari dua bangunan sensus, yang digunakan untuk tempat tinggal Pak Hendra, yang lain dipakai sebagai toko kelontong.
SUPAS05 41 Buku 1 5. Bangunan Fisik Nomor 70
Satu bangunan fisik terdiri dari satu bangunan sensus, digunakan sebagai kantor kelurahan.
6. Bangunan Fisik Nomor 71
Suatu bangunan fisik terdiri dari lima bangunan sensus. Bangunan sensus nomor 81 s.d 83 masing-masing
ditempati oleh rumah tangga Bambang, Suparman, Rahmat. Bangunan sensus nomor 84 dihuni oleh dua rumah tangga yaitu Dewi dan Lita. Sedang bangunan sensus Nomor 85 dihuni rumah tangga Yeni.
SUPAS05 42 Buku 1 7. Bangunan Fisik Nomor 72
Dalam satu pekarangan milik Pak Azis terdapat satu bangunan induk, WC/K.mandi dan garasi yang terpisah. Jadi ada satu bangunan fisik, dan satu bangunan sensus yang digunakan sebagai tempat tinggal.
8. Bangunan Fisik Nomor 76 dan Nomor 77
SUPAS05 43 Buku 1 Kolom (6): Nama Kepala Rumah Tangga
Kepala rumah tangga adalah salah seorang dari anggota rumah tangga yang bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan sehari-hari di rumah tangga atau orang yang dianggap/ditunjuk misalnya karena dituakan sebagai kepala rumah tangga.
Isikan nama kepala rumah tangga dengan huruf kapital yang jelas agar mudah dibaca. Jangan menggunakan lebih dari satu baris, bila perlu sebagian nama disingkat. Untuk rumah tangga khusus yang terdiri dari orang-orang indekos, tulis nama “orang yang mewakili” sebagai kepala rumah tangga. Untuk rumah tangga khusus lain seperti panti asuhan tulis nama panti tersebut sehingga jelas penggunaannya. Untuk bangunan sensus bukan tempat tinggal tuliskan penggunaan bangunan sensus tersebut, misalnya: Toko Buku Gramedia, Toko Mini, SDN 06, Masjid Al-Rasyid, Gereja GPIB, atau Kantor Kehutanan. Untuk bangunan sensus campuran, misalnya: Dedy (Penjahit), Oneng (Salon), atau Jono (Warung). Untuk rumah yang tidak di huni tulis: “rumah kosong”.
Jika bangunan bukan tempat tinggal, isian Kolom (5) dan Kolom (7) s.d Kolom (14) harus dikosongkan. Penulisan nama pada Kolom (6) harus mencerminkan penggunaan bangunan tersebut.
Penjelasan:
Kepala rumah tangga yang mempunyai tempat tinggal lebih dari satu, hanya dicatat di salah satu tempat tinggalnya di mana ia berada paling lama. Khusus untuk kepala rumah tangga yang mempunyai kegiatan/usaha di tempat lain dan pulang ke rumah istri dan anak-anaknya secara berkala (setiap minggu, setiap bulan, setiap 3
Untuk menghindari adanya lewat cacah atau cacah ganda dalam pencatatan art, khususnya krt, maka kepada setiap rumah tangga perlu ditanyakan:
a. Apakah krt mempunyai tempat tinggal lain selain disini,
b. Apakah ada art yang bertempat tinggal di rumah/bangunan tempat tinggal lain yang masih di dalam satu blok sensus.
SUPAS05 44 Buku 1 bulan) tetapi kurang dari 6 bulan, tetap dicatat sebagai kepala rumah tangga (krt) di rumah istri dan anak-anaknya.
Kolom (7): Jenis Rumah Tangga
Tuliskan angka satu (1) untuk rumah tangga biasa. Jika rumah tangga tergolong rumah tangga khusus, maka tuliskan tanda strip (-). Pada baris bangunan sensus yang bukan tempat tinggal tidak perlu diisi apapun. Cara pengisian yang demikian mempermudah penjumlahan setiap halaman untuk mengisi Baris A (Jumlah halaman ini). Untuk rumah tangga khusus, isian hanya sampai dengan Kolom (10).
Kolom (8) s.d Kolom (10): Banyaknya Anggota Rumah Tangga (ART)
Isikan banyaknya anggota rumah tangga, termasuk kepala rumah tangga, menurut jenis kelamin. Kolom (8) untuk laki-laki (L), Kolom (9) untuk perempuan (P), dan Kolom (10) untuk jumlah laki dan perempuan (L+P). Jika tidak ada ART laki-laki, tuliskan tanda strip (-) pada Kolom (8). Demikian juga jika tidak ada ART perempuan, tuliskan tanda strip (-) pada Kolom (9). Keterangan ini akan digunakan untuk menghitung jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan akan dipakai sebagai dasar penentuan penimbang data karakteristik.
Untuk mendapatkan keterangan banyaknya anggota rumah tangga, tanyakan: “Siapa saja yang biasanya tinggal dan makan di rumah tangga ini, laki-laki dan perempuan, termasuk anak yang masih bayi, orang tua yang tinggal bersama, orang lain ataupun pembantu yang bertempat tinggal di sini?” Pencacah harus ikut menghitung orang-orang yang disebutkan responden. Dianjurkan agar menggunakan lembar coretan/catatan agar penghitungannya cermat. Sebelum mencatat pada daftar, konfirmasikan sekali lagi kepada responden dengan mengatakan: “Jadi, anggota rumah tangga ini adalah (SEBUT JUMLAH) laki-laki dan (SEBUT JUMLAH)
BARIS RUMAH TANGGA KHUSUS, HANYA DIISI KOLOM