KUPU
SAYAP BURUNG GOLIAT
ENDEMIK SERAM
ndah dan mempesona merupakan kata yang tepat menggambarkan satwa ini. Rangkaian proses siklus hidupnya selalu ditandai perubahan ben-tuk (metamorfosis) dan penuh warna. Perubahan sempurna dan menakjubkan, yang pada akhir rangkaian proses terse-but, tercipta makhluk hidup de-ngan keunikan dan keindahan warnanya yang disebut “Kupu-kupu”.
Siklus hidup dan umur kupu-kupu berkisar antara 3 (tiga) sampai dengan 4 (empat) ming-gu. Siklus hidupnya dimulai dari telur yang kemudian berubah menjadi larva (ulat).
Selanjut-nya, larva membentuk kepom-pong (pupa) dan di akhir proses tersebut akhirnya muncul kupu-kupu/imago. Imago membutuh-kan waktu 3 (tiga) hingga 4 (em-pat) jam untuk penyempurnaan warna dan pengeringan sayap sebelum siap untuk terbang mencari makan dan pasangan hidupnya.
Melalui proses metamorfo-sis, ulat-ulat itu akan berubah menjadi kepompong sebelum akhirnya bermetamorfosis lagi menjadi kupu-kupu. Metamor-fosis merupakan rangkaian ta-hapan yang harus dillalui oleh seekor kupu-kupu sepanjang hidupnya. o.g.procus o.g.procus o.g.samson o.g.samson
I
Ornithoptera goliath procus Kingdom : Animalia Phylum : Invertebrata Class : Insecta Order : Lepidoptera Family : Cyatheaceae Genus : Ornithoptera
Spesies : Ornithoptera goliath Sub spesies : O.g procus
Terdapat 17.500 jumlah spesies kupu-kupu yang ada di dunia. Indonesia men-duduki urutan kedua di dunia dalam hal keanekaragaman jenis kupu-kupu. Total jumlah jenis kupu-kupu yang ada di Indonesia sebanyak 2.500 jenis. Sementara lebih dari 600 jenis dari jumlah tersebut terdapat di Jawa dan Bali, dan 40% nya merupakan jenis endemik (Amir dan Kahono, 2000).
Kepulauan Maluku memiliki sejumlah jenis kupu-kupu endemik dan salah sa-tunya adalah kupu-kupu sayap burung atau umum dikenal dengan Oernithoptera spp.p. (Inggris = Birdwing). Disebut kupu-kupu sayap burung karena memiliki ukuran sayap yang besar dan terbang lambat mirip burung layang-layang.
Oer-nithoptera spp.p. merupakan salah satu anggota dari famili Papilionidae dan
me-rupakan salah satu jenis makrolepidotera yang memiliki nilai estetika yang tinggi (Mastrigt dan Rosariyanto 2005), sehingga tak heran banyak orang mengagum-inya keindahannya.
Ornithoptera spp. di Indonesia hanya hidup di bagian timur negeri ini.
Spe-sies Ornithop- tera spp. yang termasuk jenis endemik di Kepulauan Maluku, k h u s u s n y a Pulau Seram, adalah Ornithoptera goliath (Indonesia =
Kupu-kupu sayap-burung; Go-liath, Inggris = Goliath Birdwing). Ornithoptera
goliath jantan secara
umum memiliki sayap dengan perpaduan war-na hitam, kuning dan hijau, dengan tubuhnya berwarna kuning, hitam dan merah. Sedang-kan pada kupu-kupu betina memiliki sayap dengan perpaduan war-na coklat, hitam, putih, dan kuning, dengan tu-buhnya berwarna sama dengan individu jantan. Perbedaannya, individu jantan memiliki sebaran warna merah yang le-bih dominan pada bagi-an thoraks. Perbedabagi-an tampilan antara jantan dan betina menunjukkan kupu-kupu termasuk ke-lompok satwa seksual dimorfisme.
Secara ukuran tubuh,
Ornithoptera goliath
beti-na relatif lebih besar diban-dingkan yang jantan. Kami pernah mendapatkan dan melakukan pengukuran panjang tubuh pada salah satu Ornithoptera goliath yang kami jumpai, dan ha-silnya kira-kira 9 cm. Untuk ukuran rentang sayap pada jantan berkisar 10.3 - 20 cm dan panjang sayap de-pan pada jantan 7 – 11 cm. Pada betinanya, ukuran rentang sayap berkisar 13.5 – 22 cm. Panjang sayap de-pan pada jantan 7 – 11 cm sedangkan pada betina 9.4 – 12.5 cm. Ornithoptera
go-liath merupakan kupu-kupu
terbesar kedua di dunia se-telah Ratu Alexandrae dari Papua Nugini.
Terdapat 5 subspe-sies Ornithoptera goliath yang berada di Indone-sia dari total 7 subspesies yang ada di dunia, yaitu
Ornithoptera goliath procus
(Seram), Ornithoptera
ath goliath (Waigeo), Ornithoptera goli-ath samson (Arfak), Ornithoptera goligoli-ath ukihidei (Yapen), dan Ornithoptera goli-ath atlas (Papua Irian Jaya).
Ornithoptera goliath procus memiliki
ciri pembeda dengan subspesies lain yaitu pada antan terdapat pembeda pada bagian sayap depan bentuk garis hitam dan pada bagian sayap belakang terdapat pembeda jumlah titik hitam, se-dangkan untuk betina terdapat pembeda pada bagian sayap belakang yaitu se-baran warna kuningnya.
Telur kupu-kupu Ornithoptera
go-liath berbentuk bulat, hijau kekuningan
dengan ukuran ± 3mm. Pada ulatnya, tubuh Ornithoptera goliath memiliki duri daging. Pada seluruh ulat Papilionodae mempunyai organ “Osmoterium” yang terdapat pada protoraks. Organ osme-terium ini berhubungan dengan kalenjar bau sehingga apabila ulat mengalami gangguan secara otomatis osmoteri-um akan terjulur dan dibarengi dengan semprotan bau wangi khas. Pupa/ke-pompong ditopang oleh benang sutera dengan kepala menghadap ke atas dan ujung belakang menempel pada sub-strat dengan bantalan sutera. Masa pu-pasi berkisar antara 10-15 hari.
Kupu-kupu Ornithoptera goliath sering hinggap di tumbuhan berbu-nga seperti soka (Ixora coccine) dan pagoda (Clerodendrum japonicum) untuk menghisap nektar bunga se-bagai sumber pakannya. Kupu-kupu berbeda jenis dari satu marga yang sama dapat memiliki tingkat kekera-batan yang berbeda dengan tanaman inang. Ada jenis kupu-kupu tertentu yang dapat meletakkan telurnya di beberapa jenis tanaman, tetapi ada pula yang hanya meletakkan telur di jenis tanaman tertentu. Kupu-kupu
Ornithoptera goliath hanya dapat
me-letakkan telurnya di daun pohon
Aris-tholochia tagala (Aristolochiaceae),
karena daun itulah yang hanya dapat dimakan ulat yang menetas dari telur.
Ornithoptera goliath procus da-pat dijumpai di kawasan Taman Nasi-onal Manusela di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Wahai (sebelah utara kawasan) te-patnya di daerah Masihulan-Saleman dan sekitarnya. Sedangkan di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II (bagian selatan kawasan), kupu-kupu ini dapat dijumpai di daerah Pilli-ana dan sekitarnya.
Di kawasan Taman Nasional Manusela, Ornithoptera goliath procus dapat di-jumpai pada ketinggian 40 – 891 m dpl. Ornithoptera goliath procus biasanya teramati ketika hinggap pada pohon G sedang menghisap nektar bunga. Belum banyak informasi mengenai pola perilaku, waktu dan masa setiap fase metamorp-hosis Ornithoptera goliath procus karenakan belum banyaknya penelitian khusus pada jenis endemik ini. Populasi Ornithoptera goliath procus belum diketahui jum-lahnya karena proses eksplorasi yang dilakukan baru sebatas pada identifikasi jenis dan lokasi perjumpaan.
Kupu-kupu Ornithoptera goliath memiliki nilai penting diantaranya nilai
eko-logi, konservasi, pendidikan, estetika dan konservasi, sehingga kupu-kupu sayap burung goliath termasuk jenis yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan masuk Appendix II CITES. Salah satu faktor kupu-kupu sa-yap burung goliath menjadi sangat rentan punah, karena ulat Ornithoptera
goli-ath hanya dapat memakan daun pohon Aristholochia tagala (Aristolochiaceae).
Dengan demikian tanaman inang ulat menjadi pembatas laju perkembangbiakan
Ornithoptera goliath karena bergantung dengan ketersediaan tanaman inangnya.
Selain itu, perburuan terhadap kupu-kupu juga menjadi faktor pengurangan po-pulasi kupu-kupu. Pada masa lalu, banyak masyarakat yang melakukan aktivitas perburuan dikarenakan dorongan faktor ekonomi. Kupu-kupu merupakan serang-ga yang memiliki nilai jual yang tinggi khususnya kupu-kupu Ornithoptera goliath yang memiliki keindahan warna dan keunikan ukuran sebagai salah satu kupu-kupu terbesar.
Salah satu upaya yang dilakukan dari Taman Nasional Manusela untuk mengurangi ancaman punahnya kupu-kupu yaitu dengan memberikan program bantuan sarana prasarana pengembangbiakan kupu-kupu pada kelompok ma-syarakat Negeri Saleman. Ini merupakan bagian dari upaya konservasi berbasis pemberdayaan masyarakat dengan melakukan percepatan pengembangbiakan kupu-kupu dan merubah nilai jual kupu-kupu yang tadinya diburu untuk dikolek-si, menjadi obyek/atraksi khas di destinasi wisata dan pendidikan. Unit pengem-bangbiakan seperti ini, dapat menjadi tempat konservasi semi alami dan pusat data dan informasi mengenai kupu-kupu. Keberadaan kupu-kupu dapat menjadi pollinator dan bioindikator lingkungan. Kepunahan jenis tertentu dapat mengindi-kasikan ada sesuatu yang hilang dalam ekosistem.
Achmad A. 2002. Habitat dan Pola Sebaran Kupu-Kupu Jenis Komersil di Hutan Wisata Bantimurung. Majalah Ilmiah Flora dan Fauna. Bantimurung-Sulawesi Selatan.
Amir, Mohammad dan Siti, Kahono. 2000. Kupu (Lepidoptera). Dalam: Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Bagian Barat. JICA. Jakarta.
Mastrigt Van H, Rosariyanto E. 2005. Buku Panduan Lapangan : Kupu-kupu untuk wilayah Mamberamo sampai Pegunungan Cyclops., Consevation International-Indonesia Pro-gram. Jakarta.
Noerdjito, Woro .A dan Pudji Aswari. 2003. Metode Survei dan Pemantauan Populasi Sat-wa Seri Keempat Kupu-Kupu Papilionidae. LIPI. Bogor.
Suhara. 2009. Ornithoptera goliath Si Cantik dari Papua. Jurusan Pendidikan Biologi, FMI-PA-UPI. Bandung.