KERANGKA PEMIKIRAN
3.1.2. Sebab-Sebab Kemiskinan
Persoalan kemiskinan memiliki beberapa akar permasalahan yang harus segera dituntaskan. Jika diilustrasikan, akar permasalahan tersebut sebagai berikut : karena miskin, seseorang memiliki pendapatan yang kecil. Karena pendapatan yang kecil, daya beli informasi dan pengetahuannya pastilah juga kecil. Daya beli informasi dan pengetahuan yang rendah tersebut menyebabkan produktivitas seseorang menjadi kecil. Karena produktivitas yang kecil inilah, seseorang akan kembali miskin.
Karena miskin, seseorang pasti hanya memiliki tabungan yang kecil.
Tabungan yang kecil akan membuat kepemilikan modal seseorang menjadi kecil pula. Kepemilikan modal yang kecil akan mengakibatkan produksinya rendah serta pendapatannya kecil. Karena pendapatannya kecil, ia akan jatuh miskin lagi.
Karena miskin, seseorang pasti hanya akan memiliki kemampuan konsumsi yang rendah. Kemampuan konsumsi yang rendah ini akan membuat seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan papan, sandang, dan pangannya secara layak. Hal ini juga akan berdampak pada buruknya status gizi seseorang.
Seseorang dengan status gizi yang buruk hanya akan memiliki produktivitas kerja yang buruk pula. Dari rendahnya produktivitas inilah, produksinya juga akan rendah, dan sekali lagi ia akan jatuh miskin.
Para ahli ekonomi mengasumsikan masyarakat berkeinginan untuk menghadapi masa depan dengan pendapatan. Masyarakat miskin adalah masyarakat yang tidak bisa merencanakan masa depan. Hal yang sama dapat diaplikasinan dalam bisnis dan pemerintahan.
Di negara miskin di mana masyarakat menghabiskan uang mereka untuk konsumsi hari ini dan kebutuhan yang sangat penting yang mengakibatkan nilai tabungan nasional sangat rendah. Rendahnya tabungan tersebut mengakibatkan nilai investasi yang rendah, baik investasi fisik, seperti infrastruktur, maupun investasi sumberdaya manusia. Tanpa adanya investasi, produktifitas ekonomi dan tingkat pendapatan pun akan semakin menurun. Keterkaitan persoalan tersebut yang disebut dengan Lingkaran Kemiskinan.
33
Pendapatan yang rendah
Tabungan yang rendah
Investasi yang rendah Produktifitas
yang rendah
Konsumsi yang rendah
Gambar 1. Lingkaran Kemiskinan Sumber : World Bank (2000)3
3 World Bank. 2000. Beyond Economic Growth (Meeting The Challenges of Global Development). www.worldbank.org/depweb.
34 Beberapa faktor yang dinilai sebagai sebab-sebab kemiskinan antara lain : (1) kesempatan kerja di mana seseorang itu miskin karena menganggur, sehingga tidak memperoleh penghasilan atau kalau bekerja tidak penuh, baik dalam ukuran hari, minggu, bulan maupun tahun, (2) upah gaji di bawah minimum, (3) produktivitas kerja yang rendah, (4) ketiadaan asset, (5) diskriminasi, (6) tekanan harga, dan (7) penjualan tanah (Handayani, 2001). Menurut BPS, faktor-faktor penyebab kemiskinan dapat berupa karakteristik makro, sektor, komunitas, rumahtangga dan individu.
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yakni kemiskinan alamiah dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan "buatan" terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia, hingga mereka tetap miskin. Oleh sebab itu, para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang hanya terfokus pada pertumbuhan daripada pemerataan.
Mooney, dkk (2002) menjelaskan keterkaitan antara kemiskinan dengan beberapa aspek, seperti :
1. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu kebijakan yang terbaik dalam menanggulangi kemiskinan. Jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, maka peluang dia termasuk ke dalam kategori miskin sangat kecil.
35 2. Jenis Kelamin
Perempuan lebih besar peluangnya untuk hidup dalam kemiskinan.
Fenomena tersebut sering disebut ” Feminisasi Kemiskinan”. Walaupun memiliki tingkat pendidikan yang sama dengan laki-laki, tetapi tingkat pendapatan yang diterima lebih kecil.
3. Struktur Keluarga
Hubungan antara struktur keluarga dan kemiskinan digunakan untuk menjelaskan mengapa perempuan dan anak-anak memiliki tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
4. Etnik
Diskriminasi bisa menjadi penyebab kemiskinan. Sebanyak 46 persen kemiskinan di Amerika bukan merupakan orang kulit hitam. Hal tersebut menyebabkan tingkat kemiskinannya sangat tinggi.
5. Partisipasi Angkatan Kerja
Kemiskinan disebabkan oleh pengangguran dan ketidakmampuan dalam bekerja.
3.1.3. Pendekatan Teoritis Dalam Identifikasi Kemiskinan 1. Penentuan Kemiskinan Absolut : Garis Kemiskinan
Pengukuran kemiskinan secara absolut dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain dengan konsep garis kemiskinan Sayogyo dan konsep garis kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS. Pada konsep Sayogyo dinyatakan bahwa untuk perdesaan kelompok masyarakat dikatakan miskin bila pengeluarannya kurang dari 320 Kg per kapita per tahun setara beras : miskin sekali jika pengeluaran tersebut kurang dari 240 Kg per kapita per tahun; dan paling miskin
36 bila kurang dari 180 Kg per kapita per tahun. Sedangkan untuk perkotaan, masing-masing kriteria tersebut memiliki tolak ukur 480, 360, dan 270 Kg per kapita per tahun.
2. Penentuan Kemiskinan Relatif : Gini Rasio
Gini Rasio merupakan salah satu metoda untuk melihat ketidakmerataan pendapatan. Pengukuran ketidakmerataan pendapatan dapat dibagi atas dua pendekatan, yaitu (a) pengukuran yang dilakukan pada suatu waktu tertentu untuk mengetahui ketimpangan pendapatan antar wilayah dan (b) pengukuran yang bersifat intemporal atau antar waktu. Pengukuran ini bermanfaat untuk melihat ke arah mana terjadinya perubahan distribusi pendapatan pada wilayah tertentu.
3.1.4. Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kesenjangan Pendapatan Korelasi antara pertumbuhan dan kemiskinan tidak berbeda dengan hubungan pertumbuhan dan kesenjangan. Menurut Simon Kuznets (Hipotesis Kuznets), kurva hubungan antara kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan per kapita berbentuk U terbalik (Gambar 2). Demikian juga dengan hubungan antara kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi. Hasil ini diinterpretasikan sebagai evolusi dari distribusi pendapatan dalam proses transisi dari suatu ekonomi perdesaan (rural) ke suatu ekonomi perkotaan (urban) atau ekonomi industri.
Pada awal proses pembangunan, ketimpangan dalam distribusi pendapatan naik sebagai akibat dari proses urbanisasi dan industrialisasi dan pada akhir proses pembangunan ketimpangan menurun, yakni pada sektor industri di daerah perkotaan sudah dapat menyerap sebagian besar dari tenaga kerja yang datang dari perdesaan atau pada saat pangsa pasar pertanian lebih kecil di dalam produksi dan penciptaan pendapatan.
Tingkat Kesenjangan
Periode Tingkat Pendapatan Per Kapita
Gambar 2. Hipotesis Kuznets Sumber : Tambunan, 2003