IMAMIYAH, HAZAIRIN, DAN HUKUM KEWARISAN ISLAM NASIONAL
B. Ahli Waris Perspektif Fikih Imamiyah
2. Sebab-Sebab Pewarisan dan Tingkatan Ahli Waris
Sebab-sebab pewarisan dalam hukum kewarisan Imamiyah serupa dengan hukum kewarisan Ahl al-Sunnah, yaitu adanya hubungan kekerabatan, perkawinan, dan memerdekakan budak. Tetapi, dalam hal hubungan kekerabatan (hubungan darah) dalam hukum kewarisan Imamiyah berbeda dengan Ahl al-Sunnah, perbedaan tersebut terletak pada tingkatan ahli waris yang didasarkan pada Surah al-´Ahzâb (33): 6 yaitu:
ِه َّللٱ ِبَٰتِك يِف ٖضأعَبِب ٰىَلأوَأ أمُهُضأعَب ِماَحأرَ ألۡٱ ْاىُلْوُأَو
Artinya: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah (ulul al-arham) satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) didalam kitab allah.”
Ayat di atas (menurut Imamiyah) menunjukan bahwa orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat itu lebih berhak dibanding kerabat-kerabat yang lain yang lebih jauh.6 Sehingga meyebabkan tingkatan ahli waris yang tinggi derajatnya mengalangi derajat yang lebih rendah seperti anak perempuan menghalani saudara laki-laki pewaris, adapun tingkatan ahli waris dalam fikih Imamiyah dibedakan kepada tiga tingkatan yaitu:
5 Al- Yasa Abubakar, Ahli Waris Sepertalian Darah : Kajian Perbandingan Terhadap Penalaran Hazirin dan Penalaran Fiqih Mazhab, (Jakarta: INIS, 1998), h.181-182.
6 Muhammad Abu Zahrah, al-Mirâts ʽinda Jaʽfari. Penerjemah: Muhammad Alkaf, Hukum Waris: Menurut Imam Ja‟far Shadiq. (Jakarta: Lentera, 2001). h. 561.
a) Kedua orang tua dan anak
Kedua orang tua adalah ayah dan ibu, sedangkan anak adalah anak laki-laki dan perempuan beserta keturunan dari anak laki-laki dan anak perempuan, ketentuan tersebut berbeda dengan fikih Ahl al-Sunnah yang menganggap keturunan dari anak perempuan bukan termasuk ahli waris inti dan ia tergolong kepada zawi al-arhâm.
Menurut fikih Imamiyah, ahli waris peringkat yang lebih tinggi dari mereka menghalangi peringkat yang lebih rendah seperti, apabila pewaris meninggalkan ahli waris yaitu: anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak laki-laki, maka kedua cucu dari anak laki-laki terhalang oleh anak perempuan, dan anak perempuan tersebut mendapatkan 1/2 + sisa.7 Sementara apabila pewaris meninggalkan cucu laki-laki dan cucu perempuan dari dua jalur anak laki dan anak perempuan maka bagian dari anak laki-laki (2/3) dan perempuan (1/3) diberikan kepada cucu laki-laki-laki-laki dan perempuan dari kedua jalur anak laki-laki dan perempuan, dengan ketentuan laki-laki mendapat 2 dan perempuan mendapat 1.8
b) Kakek-Nenek dan Saudara
Kakek-Nenek dan Saudara dalam hukum kewarisan Imamiyah merupakan ahli waris tingkat kedua, mereka tidak dapat mewarisi selama masih ada ahli waris tingkat pertama. Misalnya saudara perempuan sekandung tidak mewarisi selama masih ada anak perempuan atau keturunan dari anak perempuan, karena para ulama´ Imamiyah menolak hadis Ibnu Masuʽud tentang pemberian bagi saudara perempuan sekandung, hadis Ibnu abbas tentang ʻasabah dan tidak menganggap sistem zawi al-arhâm. 9
7 Muhammad Abu Zuhrah, Hukum Waris: Menurut Imam Ja‟far Shadiq. h. 129-130.
8 Muhammad Abu Zuhrah, Hukum Waris: Menurut Imam Ja‟far Shadiq. h. 162
9 Al- Yasa Abubakar, Ahli Waris Sepertalian Darah. h. 127.
1) Kakek dan Nenek
Pada tingkat ini kakek dan nenek dalam sistem kewarisan Imamiyah berbeda dengan sistem kewarisan Ahl al-Sunnah, dalam sistem kewarisan Ahl al-Sunnah kakek adalah bapaknya ayah, sedangkan bapaknya ibu tidak termasuk kakek, sementara dalam fikih Imamiyah kakek dari pihak ibu juga termasuk ahli waris (kakek).
Selanjutnya dalam fikih Ahl al-Sunnah “nenek” diakui keberadaannya melalui jalur ayah dan ibu, ia memperoleh 1/6 bagian selama ayah dan ibu tidak ada (untuk nenek dari ayah) dan selama ibu tidak ada (untuk nenek dari jalur ibu). Sementara dalam sistem kewarisan Imamiyah nenek adalah mereka yang dipertalikan melalui ayah dan ibu.Untuk tata cara pembagian waris kakek dan nenek adalah sebagai berikut:
(a) Kakek dan nenek dari jalur ayah: kakek mendapat 2/3 sementara nenek mendapat 1/3 (2:1).
(b) Kakek dan nenek dari jalur ibu: Kakek dan nenek mendapat 1/3+raad dengan pembagian kakek mendapat 1 bagian dan nenek mendapat 1 bagian.
(c) Kakek dan nenek dari kedua jalur bertemu: Kakek dan nenek dari jalur ayah mendapat „asabah dan kakek dan nenek dari jalur ibu mendapat 1/3, dengan ketentuan kakek dan nenek dari jalur ayah mendapat 2:1 dan kakek dan nenek dari jalur ibu mendapat 1:1.10
(d) Kakek dari jalur ayah dan kakek dari jalur Ibu: kakek dari jalur ayah mendapatkan 2/3 dan kakek dari jalur ibu mendapat 1/3.
10 Muhammad Abu Zuhrah, Hukum Waris: Menurut Imam Ja‟far Shadiq. h. 186-187.
Ketentuan ini berlaku pula pada kewarisan nenek dari ayah dan ibu.11
2) Saudara
Saudara dalam fikih Imamiyah adalah saudara sekandung, seayah, dan seibu baik laki-laki atau perempuan, mereka menerima harta waris selama tidak ada ahli waris pada tingkat pertama (orang tua dan keturunan pewaris). Dalam sistem kewarisan Imamiyah, saudara yang dapat menhijab nuqsan ibu adalah:
(a) Saudara sekandung dan seayah, sedangkan saudara seibu tidak dapat meng-hijab nuqsan ibu.
(b) Ibu ter-hijab nuqsan apabila saudara laki-laki paling sedikit dua orang dan saudara perempuan paling sedikit empat.
(c) Menyaratkan adanya ayah apabila saudara menghijab nuqsan ibu.12
c) Keturunan Kakek dan Nenek (Paman/Bibi Serta Keturunannya)
Dalam Kewarisan Imamiyah, Paman adalah saudara laki-laki ayah/ibu (ʻamm/khal), atau saudara laki-laki kakek/nenek (ʻam akhi jad atau khal akhi jadah) dan Bibi adalah saudara perempuan ayah/ibu (ʻamah/khalah), mereka mewarisi harta pewaris apabila tidak ada ahli waris tingkat yang lebih tinggi.
C. Ahli Waris Perspektif Hazairin 1. Biografi Hazairin
Prof. Dr. Hazairin, S.H., lahir di Bukit Tinggi, 28 Oktober 1906 dan meninggal di Jakarta, 11 Desember 1975. Beliau merupakan putra tunggal dari seorang ayah kelahiran Bengkulu dan ibu kelahiran Bukit Tinggi. Pendidikan formalnya dimulai di HIS di Bengkulu tamat 1920, dilanjutkan dengan MULO
11 Muhammad Jawad Mughniyah, al-Fiqh „alȃ al-Mazȃhib al-Khamsah. Penerjemah:
Masykur A.B et.all, Fiqih Lima Mazhab: Ja´fari, Hanafi, Maliki, Syafi´i, Hambali, (Jakarta: Lentera, 1999), h. 628.
12 Muhammad Abu Zuhrah, Hukum Waris: Menurut Imam Ja‟far Shadiq.h.145-146.
di Padang tamat 1926, kemudaian AMS di Bandung tamat tahun 1927 dan akhirnya memasuki RHS Jakarta tamat tahun 1935 dan memperoleh gelar doktor pada tahun 1936 pada lembaga yang sama. Menurut pihak keluarga, pendidikan agama dan Bahasa Arab diperoleh dari kakeknya, yang menjadi pemuka agama (manti) di daerah dan setelah itu dilanjutkan dengan belajar sendiri. Pihak keluarga mengatakan bahwa Hazairin menguasai enam bahasa asing, Belanda, Inggris, dan Perancis secara aktif serta Arab, Jerman dan Latin secara Pasif.13
Karier keilmuannya dimulai sebagai asisten dosen di RHS, segera setelah dia menyelesaikan pendidikannya (1935-1938). Kegiatan ini terhenti karena dia ditugaskan menjadi pegawai pengadilan di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan tahun 1938-1942. Setelah kemerdekaan, beliau memegang beberapa jabatan politik, bahkan pernah menjadi Menteri Dalam Negeri (1953-1954, berhenti karena meletakkan jabatannya, Kabinet Ali Sastromidjojo). Sedang dalam bidang pendidikan dan keilmuan, beliau diangkat sebagai dosen dan akhirnya Guru Besar Hukum Islam dan Hukum Adat di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan berbagai perguruan tinggi lainnya.14