• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM POLIGAMI

E. Sebab-sebab Poligami

Ada beberapa sebab atau latar belakang, baik dari aspek historis, sosiolagis, biologis yang mendorong seorang suami melakukan poligami dalam kehidupan rumah tangganya yaitu:

1. Poligami dianggap sebagai sunnah Nabi

Pada dasarnya seorang laki-laki melakukan poligami ada yang beralasan sebagai sunnah Rasul namun perlu diluruskan bahwa sunnah Rasul itu hendaknya dalam bentuk ketetapan ucapan, tindakan yang mencakup seluruh aspek kehidupan beliau sebagia Nabi dan Rasul .akan tetapi poligami selalu dikaitkan dengan suunah Nabi yang begitu kuat untuk menegakan keadilan dan kedamaian dimasyarakat, namun dalam realitasnya umat Islam mempraktikannya poligami melupakan pesan

moral untuk menegakan keadilan, sehingga jauh dari sunnah Nabi malah sebaliknya melanggar sunnah. (Mulia,2004:49-50)

Bahwa Al-Quran dan Hadist memberikan petunjuk tentang dibolehkannya mengamalkan ibadah poligami, dengan persyaratan tertentu .dalil naqli yang utamanya dapat diketahui dari surat An-Nissa ayat 3 . (setiyaji,2006:64)

2. Kelemahan istri

Kadang-kadang seorang wanita tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidup suami istri, karena dia mandul sehingga tidak mempunyai keturunan, padahal tujuan yang utama dari perkawinan adalah mempunyai keturunan.Atau wanita tersebut mempunyai cacat jasmaniah dan mempunyai suatu akibat dari penyakit kronis yang dideritanya sehingga tidak bisa memikul beban sebagai istri. Dari keadaan tersebut mendorong seorang suami untuk melakukan poligami, syariah tidaklah melakukan bentuk yang ideal tetapi, menilai bahwa kesejahteraan umum lebih utama dari pada kesejahteraan perorangan, sehingga istri yang lemah sebagai sebab salah satu faktor dari suatu tindakan berpoligami (Nasution,1976:25-26).

3. Suami jatuh cinta kepada wanita lain

Sudah menjadi kebiasaan bahwa masalah cinta itu antara laki-laki dan wanita timbul karena sebab-sebab yang banyak sekali, dan mendorong mereka untuk melaksanakna pernikahan.Suatu kesalahan bahwa masalah sex yang menjadi sebab timbulnya cinta dan perkawinan.

Suasana pergaulan yang memberi kesempatan yang banyak untuk timbulnya benih-benih cinta antara laki-laki dan wanita walaupun sudah berkeluarga, karena sering bersama-sama dalam bekerja dan setiap hari bertemu lebih dekat, lebih akrab dalam pergaulannya ketimbang dengan istrinya sehingga timbul rasa cinta karena kecantikan kebaikan hatinya untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan seperti perselingkuhan dan perzinaan maka laki-laki tersebut melakukan poligami (Nasution,1976:28-29).

Tidak hanya ditempat bekerja saja seorang laki-laki terkadang melihat wanita bukan muhrimnya dimana saja yang membuat jatuh cinta dan terjadi hubungan badan dan untuk menghindari pergaulan yang haram maka istrinya merasa lebih ringan bebannya kalau suaminya bergaul dengan wanita yang halal sehingga poligami sebagai jalan keluarnya. 4. Suami benci kepada istrinya

Kehidupan seorang suami-istri tidak pernah sepi dari masalah kadang diselubungi cinta kasih namun sebaliknya juga timbul rasa benci, maka kadang penyebab dari seorang laki-laki malakukan poligami karena perasan benci kepada istrinya yang dapat dijadikan alasan, kebencian itu mungkin timbul karena tingkah lakunya yang tidak baik (Nasution,1976:31).

Dengan berpoligami sang suami tidak berniat menganiaya sang istri tetapi mempunyai tujuan agar istrinya menjadi baik merubah sikapnya atau untuk memelihara anak-anaknya dia tidak akan

menceraikan istrinya karena ia benci kepada thalaq kerena merupakan perbuatan yang dibenci Allah, maka dalam hal ini poligami dianggap menjadi perbuatan yang lebih baik dari pada menceraikan istrinya.

5. Istri yang telah diceraikan ingin kembali

Kadang-kadang seorang suami berpisah dengan istrinya karena thalaq tau dipisahkan oleh hakim. Kemudian menikah dengan yang lain, tetapi setelah pernikahan berlangsung beberapa lama suami ingin kembali dengan istrinya yang dulu dan istrinya menyetujui, karena faktor perselisihan mereka sudah berlalu maka poligami dianggap penyelesaian social yang dapat menetapkan istri yang baru tanpa perceraian dan dapat mengembalikan istri yang lama serta menjamin kesejahteraan anak untuk kembali dan mengayominya bersama-sama(Nasution,1976:34).

6. Hubungan kekeluargaan

Poligami dapat dilakukan dengan maksud memperkuat hubungan kekeluargaan, suami menikah dengan istri yang baru dengan seorang wanita yang masih famili .misalnya wanita itu janda dari kakaknya atau familinya yang masih dekat yang meninggal sedang adiknya atau salah seoarang famili dari yang meninggal itu adalah lebih baik untuk memelihara anak-anaknya dari pada orang lain.dan si adik merasa tidak enak keluar masuk kerumah janda kakaknya untuk kepentingan mengurusi memelihara anaknya untuk menghindari gunjingan orang lain yang tidak baik maka menikahi ibu mereka.Dengan poligami diharapkan agar kesejahteraan janda atau yang sakit yang tidak mempunyai suami untuk

menikah dengan familinya dapat mengurangi masalah yang dihadapi (Nasution,1976:35).

7. Menghindari perselingkuhan dan zina

Kebutuhan seks memang kadang membuat seorang laki-laki suatu kebutuhan yang wajib dipenuhi bagi yang sudah mempunyai istri, akan tetapi sebagai seorang istri tidak bisa memenuhi kewajibabnya kepada suaminya setiap saat, kerena seorang wanita ada beberapa kendala yang tidak dapat melayani suaminya dalam hal melakukan hubungan suami-istri yaitu pada waktu datang bulan atau haid, masa nifas dan sakit. Dalam kondisi yang demikian seorang suami hendaknya memahami keadaan sang istri akan tetapi ada beberapa suami yang tidak mau tahu dengan keadaan tersebut, untuk memenuhi hawa nafsunya yang tidak dapat tersalurkan dengan istrinya maka kadang mengambil jalan pintas, dan untuk menghindari perselingkuhan dan perzinaan yang diharamkan dan untuk menghindari itu sang suami melakukan poligami agar terpenuhi hasratnya dengan cara tersebut terhindar dari dosa dan sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan hukum-hukum syariat Islam dengan memilih pernikahan dibandingkan melakukan perzinaan

Dokumen terkait