• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagi pekerja sebaiknya melakukan relaksasi mata Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia relaksasi mata dapat dilakukan dengan tiga cara

yaitu mengedipkan mata setiap 4 detik, memejamkan dan memutar bola mata ke segala arah, melakukan visual scanning dengan cara memusatkan pandangan pada objek – objek yang berada sangat jauh. Relaksasi mata bertujuan agar mata tidak selalu dalam keadaan berakomodasi maksimal secara terus menerus yang dapat mengakibatkan stress pada otot – otot mata sehingga menimbulkan kelelahan mata

Daftar Pustaka

Ananda, N.S., & Dinata, I.M.K. (2015). Hubungan intensitas pencahayaan dengan keluhan subjektif kelelahan mata pada mahasiswa semester II program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Tahun 2015. E-Jurnal Medika Udayana, 4(7), 1-10. Diakses dari https://ojs.-unud.-ac.id/index.php/eum/article/view/15096.

Annisa, R. (2011). Kelelahan mata pada pekerja bagian sortir daun tembakau di kebun klambir V PTPN II Tahun 2011 (Skripsi, Universitas Sumatera Uta-ra). Diakses dari http://repository.usu.ac.id.

Guyton, A.C. (1995). Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit (Edisi Revisi).

Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Hidayat, A.A. (2010). Metode penelitian kesehatan paradigma kuantitatif.

Surabaya : Health Book Publishing.

Hijriani, R. (2018). Faktor yang berhubungan dengan kelelahan mata pada pekerja pengguna komputer di PT. Angkasa Pura II Padang Tahun 2018 (Skripsi, Universitas Sumatera Utara). Diakses dari http://repository.-usu.ac.id.

Ilyas, S. (2008). Penuntun ilmu penyakit mata (Edisi Ketiga). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ilyas, S & Sri, R. Y. (2015). Ilmu penyakit mata (Edisi Kelima). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

International Labor Organization, (2018). Meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Pekerja Muda. Diakses dari http://www.oit.org/wcmsp5/-groups/ public/---asia/---ro-bangkok/---ilojakarta/documents/publication/

wcms_6-27174.pdf.

Iridiastadi, H & Yassierli, (2017). Ergonomi suatu pengantar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Kartika, D. (2016). Hubungan intensitas pencahayaan dengan keluhan kelelahan mata karyawan pengguna komputer di satuan kerja penataan bangunan dan lingkungan Provinsi Sumatera Utara (Skripsi, Universitas Sumatera Utara). Diakses dari http://repository.usu.ac.id.

Kuswana, W. S., (2014). Ergonomi dan K3 kesehatan keselamatan kerja, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Larasati, N. (2017). Faktor risiko kelelahan mata pada pengrajin emas di Desa Gesang Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang (Skripsi, Universitas Jember).Diakses dari http://repository.unej.ac.id

57

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Pakpahan, M. S. P. (2018). Intensitas pencahayaan dengan keluhan kelelahan mata pengguna komputer di balai gakkum LHK wilayah sumatera Tahun 2018 (Skripsi, Universitas Sumatera Utara). Diakses dari http://reposi-tori.usu.ac.id.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.

Pheasant, S. (1991). Ergonomics, work and health. London, Inggris : Macmillan Press.

Puha, T. N, Joy. R dan Paul, K. (2014). Hubungan antara intensitas pencahayaan dengan kelelahan mata pada pekerja penjahit sektor usaha informal di kompleks gedung presiden pasar 45 Kota Manado. E – Jurnal Ilmiah Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2(6), 1-6. Diakses dari http://fkm.un-srat.ac.id.

Ramdan, I. M. (2013). Higiene industri. Diakses dari https://www.scribd.- com/document/394121726/89168-131036-Buku-Higene-Industri-Iwan-M-Ramdan.

Saryono & Mekar, D. A. (2013). Metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam bidang kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Setiawan, A., Tarwoto, & Wartonah. (2009). Fisiologi tubuh manusia untuk mahasiswa kebidanan. Jakarta : CV. Trans Info Media.

Soeripto, M. (2008). Higiene industri. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Standar Nasional Indonesia. (2001). Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan. SNI 03-6575-2001. Diakses dari (Edisi Kedua). Jakarta : CV Sagung Seto.

Suptandar, J. P, Artini, K. R, Sri, P. A, & Hartanti, R. (2007). Sistem pencahayaan pada desain interior. Jakarta : Universitas Trisakti.

Tarwaka, Solichul, H. B., & Lilik, S. (2004). Ergonomi untuk keselamatan, kesehatan kerja dan produktivitas. Surakarta : UNIBA PRESS.

Wahyuni, S. E & Bina, K. (2014). Analisis faktor intensitas penerangan lokal terhadap kelelahan mata di industri pembuatan sepatu “x” Kota Semarang.

E-Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2(6), 1-6. Diakses dari http://ejournal-s1.-undip.ac.id/index.php/jkm.

Widayana, I. G & Wiratmaja, I. G. (2014). Kesehatan dan keselamatan kerja.

Yogyakarta : Graha Ilmu.

Wiyanti, N & Tri, M. (2015). Hubungan intensitas penerangan dengan kelelahan mata pada pengrajin batik tulis. E-Jurnal UNAIR, 4(2), 1-11. Diakses dari https://e-journal.unair.ac.id.

Lampiran 1. Surat Izin Survei Pendahuluan

Lampiran 2. Surat Permohonan Izin Penelitian

61

Lampiran 3. Surat Selesai Penelitian

Lampiran 4. Hasil Pengukuran

63

Lampiran 5. Denah Ruang Kerja dan Intensitas Pencahayaan Bagian Auto Pembentukan

Bagian forged

Keterangan :

: Meja kerja (pekerjaan manual)

: Mesin kerja (ditambah pencahayaan setempat) : Lampu ruangan yang hidup

: Ventilasi ruangan : Arah posisi kerja

65

KIP : Kategori Intensitas Pencahayaan (1. ≥ 300 lux ; 2. < 300 lux) KM : Kelelahan Mata

KKM : Kategori Kelelahan Mata (1. ≥ 38 Hz ; 2. < 38 Hz)

Lampiran 7. Output

1. Jenis Kelamin

JK

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid <3 2 13.3 13.3 13.3

>=3 13 86.7 86.7 100.0

Total 15 100.0 100.0

67

4. Kategori Intensitas Pencahayaan Ruang Auto Pembentukan

KIP

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Buruk<300 9 100.0 100.0 100.0

5. Kategori Intensitas Pencahayaan Ruang Forged

KIP

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Baik>=300 2 33.3 33.3 33.3

Buruk<300 4 66.7 66.7 100.0

Total 6 100.0 100.0

6. Kategori Intensitas Pencahayaan Ruang Auto Pembentukan dan Forged

KIP

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Baik>=300 2 13.3 13.3 13.3

Buruk<300 13 86.7 86.7 100.0

Total 15 100.0 100.0

7. Kategori Kelelahan Mata pada Pekerja Auto Pembentukan

KKM

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak Lelah>=38 1 11.1 11.1 11.1

Lelah<38 8 88.9 88.9 100.0

Total 9 100.0 100.0

8. Kategori Kelelahan Mata pada Pekerja Forged

KKM

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak lelah>=38 2 33.3 33.3 33.3

Lelah<38 4 66.7 66.7 100.0

Total 6 100.0 100.0

9. Kategori Kelelahan Mata pada Pekerja Auto Pembentukan dan Forged

KKM

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Lelah<38 12 80.0 80.0 80.0

Tidak Lelah>=38 3 20.0 20.0 100.0

Total 15 100.0 100.0

5. Hubungan Intensitas Pencahayaan dengan Kelelahan Mata

KIP * KKM Crosstabulation

69

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig.

(1-sided)

Pearson Chi-Square 9.231a 1 .002

Continuity Correctionb 4.363 1 .037

Likelihood Ratio 7.961 1 .005

Fisher's Exact Test .029 .029

Linear-by-Linear Association 8.615 1 .003

N of Valid Cases 15

a. 3 cells (75,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,40.

b. Computed only for a 2x2 table

Lampiran 8. Dokumentasi

Gambar 1. Ruang auto pembentukan

Gambar 2. Ruang forged

71

Gambar 3. Multifunction environment meter krisbow 4 in 1 KW06-291

Gambar 4. Pengukuran intensitas pencahayaan lokal

Gambar 5. Flicker fusion

Gambar 6. Pengukuran kelelahan mata pada pekerja

Dokumen terkait