• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN TEORI

B. School Mapping

1. Sebaran Lokasi Sekolah

Sebaran sekolah di suatu wilayah terkait dengan lokasi. Haggett dalam Hargito (2009: 21) menyebutkan bahwa “teori lokasi dpaat diterapkan untuk mempelajari pola lokasi suatu fasilitas, penyebaran fasilitas dan interaksi keruangan dalam pemanfaatan fasilitas tersebut.” Keberadaan sekolah yang tepat dapat memperkuat kemampuan pelayanan terhadap siswa dan pemerataan pendidikan. Pada jenjang SMP, sekolah dibangun di suatu wilayah berdasarkan jumlah penduduk usia sekolah (13 – 15 tahun) dan daya tampung sekolah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 poin II terkait dengan Standar Sarana dan Prasarana SMP/ MTs Huruf A untu satuan pendidikan SMP menyebutkan bahwa “Satu kelompok permukiman permanen dan terpencil dengan banyak penduduk lebih dari 1.000 jiwa dilayani oleh satu SMP/ MTs dalam jarak tempuh bagi peserta didik yang berjalan kaki maksimum 6 km melalui lintasan yang tidak membahayakan”.

Letak sekolah berdasarkan sebaran lokasi sekolah dimaksudkan dengan letak sekolah yang dipertimbangkan untuk memberikan fasilitas pelayanan pendidikan di wilayah tersebut dengan memperhatikan kebutuhan penduduk sekitarnya. Dalam menentukan letak suatu sekolah, dipertimbangkan pula kuantitas penduduk sekitar daerah sebagai penikmat fasilitas pendidikan.

29

a. Kuantitas Penduduk

Kuantitas penduduk merupakan banyaknya penduduk yang bertempat tinggal di suatu wilayah. Keberadaan penduduk ini akan berpengaruh terhadap pembangunan daerah setempat. Jumlah penduduk di suatu wilayah akan terus berubah-ubah seiring berjalannya waktu yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Moh. Yasin (1981: 13) bahwa “Jumlah penduduk yang besar adalah sangat menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, tetapi sebaliknya jumlah penduduk yang sedikit mempercepat proses pembangunan ekonomi ke arah yang lebih baik”. Masih menurut Moh. Yasin (1981: 5) menjelaskan juga bahwa secara terus menerus penduduk akan dipengaruhi oleh jumlah kelahiran bayi, jumlah kematian yang terjadi pada semua usia, imigrasi masuk maupun keluar.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1987 tentang Penyerahan Prasarana Lingkungan, Utilitas Umum, dan Fasilitas Sosial Perumahan kepada Pemerintah Daerah dijelaskan secara luas mengenai tanggung jawab pemerintah daerah dalam pemenuhan kebutuhan penduduk, yaitu dalam bentuk:

1) Prasarana lingkungan, adalah kelengkapan lingkungan yang meliputi antara lain: jalan, saluran, pembuangan limbah serta saluran pembuangan air hujan.

2) Utilitas umum, adalah bangunan-bangunan yang dibutuhkan dalam area pelayanan lingkungan yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah antara lain: jaringan air bersih, jaringan listrik, jaringan gas, jaringan telepon, terminal angkutan umum, kebersihan (sampah), serta pemadam kebakaran.

3) Fasilitas sosial, adalah fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam lingkungan permukiman, antara lain: fasilitas pendidikan, kesehatan, perbelanjaan dan niaga, pemerintahan dan pelayanan umum, rekreasi kebudayaan, olah raga dan lapangan terbuka, serta pemakaman umum.

30

b. Teori Lokasi

Menurut Djojodipuro (1992: 30) teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/ kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial. Lokasi merupakan salah satu aspek dari berbagai kegiatan yang dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap keberhasilan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Hal ini selaras dengan Djojodipuro (1992: 33) yang menjelaskan bahwa dalam usaha untuk meminimumkan biaya, maka suatu perusahaan berusaha untuk memilih lokasi yang tepat. Perusahaan yang menjual dagangannya, harus mendekati konsumen yang memerlukan dagangannya. Makin dekat ia berada dengan konsumen, makin besar kemungkinan bahwa si konsumen akan membeli barang yang diperlukan daripadanya. Oleh karena itu, menentukan lokasi sehingga diperoleh biaya yang minimum sangat penting dilakukan. Masih menurut Djojodipuro (1992: 33) beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi yaitu:

1) Faktor Endowment

Fakor endowment adlaah tersedianya faktor produksi secara kualitatif maupun kuantitatif di suatu daerah yang meliputi: tanah, tenaga, dan modal.

a) Tanah

Tanah sangat menentukan untuk suatu lokasi, yaitu berupa keadaan topografi (keadaan permukaan tanah seperti bukit, jurang, sungai), struktur tanah (kandungan tanah yang dapat berpengaruh terhadap kesuburan tanah),

31

dan cuaca yang terdapat di suatu kawasan. Penggunaan lahan yang semakin dekat dengan kota harganya semakin mahal. Hal ini disebabkan karena penggunaan lahan dalam suatu kota semakin banyak, yaitu dapat dipergunakan untuk pemukiman, pasar, pendidikan, jalan, dan lain-lain yang cenderung menyita tanah.

b) Tenaga dan manajemen

Tenaga digunakan dalam produksi sebagai unsur yang langsung mengatur produksi, dapat dibedakan menjadi berbagai jenis seperti tenaga kasar, tenaga terampil, tenaga manajerial, dan pengrajin. Manajemen merupakan bentuk tenaga tersendiri. Proses pengambilan keputusan yang merupakan ciri khusus manajemen tidak terlepas dari struktur organisasi perusahaan yang bersangkutan.

c) Modal

Modal dapat berupa bangunan, mesin, dan peralatan lainnya, maupun berupa sejumlah uang atau dana. Modal diperlukan sejak perusahaan dimulai dan dipergunakan untuk membeli berbagai input, termasuk tanah sebagai lokasi perusahaan. Modal dapat diperoleh dimana saja, karena besar perusahaan merupakan jaminan dan sekaligus merupakan daya tarik bagi modal.

2) Pasar dan harga

Tujuan akhir seorang pengusaha adalah membuat keuntungan. Oleh karena itu ia harus mampu menjual barang yang dihasilkannya dengan harga yang lebih tinggi daripada biaya yang dikeluarkan. Sehingga dalam hal ini pasar menjadi

32

relevan. Luas pasar ditentukan oleh tiga unsur yaitu jumlah penduduk, pendapatan perkapita, dan distribusi pendapatan.

3) Bahan baku dan energi

Proses produksi merupakan usaha untuk mentransformasikan bahan baku ke dalam hasil akhir yang mempunyai nilai lebih tinggi. Bahan baku yang digunakan dapat merupakan bahan mentah atau barang setengah jadi. Proses produksi merupakan suatu gejala yang berkesinambungan. Oleh karena itu bahan baku yang mendukungnya juga harus mempunyai sifat yang sama.

4) Kebijaksanaan pemerintah

Pemerintah dapat menentukan lokasi pendidikan. Kebijakan ini dapat merupakan dorongan atau hambatan, dan bahkan larangan pendidikan berlokasi di tempat tertentu. Kebijakan dapat mengarah ke pengaturan lingkungan atau juga dapat atas pertimbangan pertahanan dan ekonomi. Pemerintah dapat mengusahakan dilengkapinya kawasan pendidikan dengan berbagai fasilitas.

c. Lokasi Sekolah

Penentuan lokasi secara tepat dari suatu instansi dapat memberikan berbagai keuntungan. Hal ini sesuai dengan pendapat menurut Purnomo dalam Hargito (2009: 42) bahwa “penentuan lokasi yang tepat akan memberikan sejumlah keuntungan bagi suatu badan, seperti memperkuat posisi persaingan, pengadaan bahan, kemampuan pelayanan terhadap konsumen, dan sebagainya.” Sebagai satuan pendidikan, sekolah wajib memiliki lahan yang digunakan untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 44 ayat (1)

33

menyebutkan bahwa “Lahan diperuntukkan untuk bangunan satuan pendidikan, lahan praktek, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertanaman untuk menjadikan lingkungan yang secara ekologis nyaman dan sehat”. Kemudian berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SD/ MI, SMP/ MTs, dan SMA/ MA menyebutkan ketentuan-ketentuan lahan untuk satuan pendidikan SMP/ MTs yaitu sebagai berikut.

1) Lahan untuk satuan pendidikan SMP/ MTs memenuhi ketentuan rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik seperti tabel berikut.

Tabel 2. Rasio Minimum Luas Lahan terhadap Peserta Didik

No rombongan Banyak belajar

Rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik (m2/ peserta didik)

Bangunan satu

lantai Bangunan dua lantai Bangunan tiga lantai

1 3 22,9 - - 2 4 – 6 16,0 8,5 - 3 7 – 9 13,8 7,5 5,1 4 10 – 12 12,8 6,8 4,7 5 13 – 15 12,2 6,6 4,5 6 16 -18 11,9 6,3 4,3 7 19 – 21 11,6 6,2 4,3 8 22 -24 11,4 6,1 4,3

2) Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lahan juga memenuhi ketentuan luas minimum seperti tabel berikut.

34

Tabel 3. Luas Minimum Lahan

No rombongan Banyak belajar

Luas minimum lahan (m2) Bangunan satu

lantai Bangunan dua lantai Bangunan tiga lantai

1 3 1440 - - 2 4 – 6 1840 1310 - 3 7 – 9 2300 1380 1260 4 10 – 12 2770 1500 1310 5 13 – 15 3300 1780 1340 6 16 -18 3870 2100 1450 7 19 – 21 4340 2320 1600 8 22 -24 4870 2600 1780

3) Luas lahan yang dimaksud pada angka 1 dan 2 di atas adalah luas lahan yang dapat digunakan secara efektif untuk membangun prasarana sekolah berupa bangunan gedung dan tempat bermain/berolahraga.

4) Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat.

5) Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada di dalam garis sempadan sungai dan jalur kereta api.

6) Lahan terhindar dari gangguan-gangguan berikut.

a) Pencemaran air, sesuai dengan PP RI No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air.

b) Kebisingan, sesuai dengan Kepmen Negara KLH nomor 94/MENKLH/1992 tcntang Baku Mutu Kebisingan.

c) Pencemaran udara, sesuai dengan Kepmen Negara KLH Nomor 02/MENKLH/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan.

35

7) Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota atau rencana lain yang lebih rinci dan mengikat, dan mendapat izin pemanfaatan tanah dari Pemerintah Daerah setempat.

8) Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20 tahun.

Lokasi sekolah merupakan pelayanan pendidikan untuk masyarakat untuk memberikan kemudahan dalam jangkauan pelayanan, kenyamanan, dan keamanan. Lokasi sekolah yang tepat, dapat memberikan kontribusi terhadap pemerataan pendidikan dengan memberikan akses yang mudah.

d. Aksesibilitas

Letak sekolah di suatu daerah yang merupakan fasilitas pendidikan akan berpengaruh terhadap aksesibilitas pendidikan tersebut. Letak sekolah menjadi salah satu faktor pemerataan kesempatan pendidikan. Menurut Black dalam Tamin (2000: 23) aksesibilitas adalah konsep yang menggabungkan sistem pengaturan tata guna lahan secara geografis dengan sistem jaringan transportasi yang menghubungkannya. Dapat diartikan juga suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan mudah atau susahnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi. Aksesibilitas menunjukkan pergerakan dari suatu tempat ke tempat lain. Aksesibilitas dalam memperoleh pendidikan diartikan dengan pergerakan atau

36

kegiatan yang dilakukan dari satu tempat ke tempat lain untuk memperoleh pendidikan itu sendiri.

Menurut Katarina Tomasevski dalam Jayadi Damanik (2005: 22-24) mengemukakan bahwa berbagai institusi dan program pendidikan harus dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Aksesibilitas mempunyai tiga dimensi karakter umum, yakni:

1) Tanpa diskriminasi: pendidikan harus dapat diakses oleh semua orang. Terutama kelompok-kelompok yang paling rentan, secara hukum dan factual, dan tanpa diskriminasi terhadap kawasan yang dilarang di manapun.

2) Aksesibilitas fisik: pendidikan harus secara fisik aman dan terjangkau. 3) Aksesibilitas ekonomi: biaya pendidikan harus terjangkau oleh semua

orang. Dimensi aksesibilitas ini tunduk pada pasal 13 ayat (2) dalam kaitannya dengan pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Pendidikan dasar harus bebas biaya bagi semua orang dan Negara harus secara progresif memperkenalkan pendidikan menengah dan tinggi yang bebas biaya.

Dokumen terkait