• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebaran lumba-lumba berdasarkan jenis dan jumlah

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2.2. Sebaran lumba-lumba berdasarkan jenis dan jumlah

Berdasarkan Gambar 14 dapat terlihat bahwa lumba-lumba jenis Tursiops

truncatus memiliki penyebaran yang paling luas diantara lumba-lumba jenis lainnya.

Jumlah individu terbanyak yang dijumpai adalah 19 individu di sekitar Pulau Kelapa, Pulau Opak, dan Pulau Kaliage Besar. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan perairan Kepulauan Seribu merupakan kondisi habitat yang cocok untuk lumba-lumba jenis ini. Menurut Rice (1998), lumba-lumba-lumba-lumba hidung botol (Tursiops

truncatus) memiliki daerah sebaran yang sangat luas meliputi perairan tropis dan

temperate. Lumba-lumba jenis ini juga dijumpai di perairan dangkal dekat pantai dan di daerah lepas pantai. Di perairan dekat pantai, lumba-lumba hidung botol banyak dijumpai di perairan dengan kedalaman kurang dari 20 m. Di perairan lepas pantai, lumba-lumba ini banyak dijumpai di perairan dengan kedalaman lebih dari 200 m (www.nmfs.noaa.gov).

Lumba-lumba yang penyebarannya paling sempit yaitu jenis paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens). Lumba-lumba jenis ini hanya dijumpai di sekitar perairan Pulau Payung dan Pulau Pari dengan jumlah 12 individu (Lampiran 2). Kedalaman perairan di sekitar Pulau Payung dan Pulau Pari adalah 60 – 80 m (Deny Wahyudi 2010; komunikasi pribadi). Menurut Carwardine 1995, paus pembunuh palsu menyukai perairan hangat dengan kedalaman perairan yang berkisar antara 38 – 3000 m.

4.2.3. Komposisi lumba-lumba berdasarkan hari perjumpaan

Pada Gambar 15 terlihat bahwa jumlah lumba-lumba yang paling banyak ditemukan adalah pada tanggal 25 Mei 2010. Pada tanggal tersebut cuaca yang teramati adalah cerah, permukaan airnya tidak berombak, dan airnya jernih. Hal ini merupakan kondisi yang sesuai bagi lumba-lumba. Pada tanggal 26 – 27 Mei 2010, 24 Juni 2010, 28 Juni 2010, dan 3 Juli 2010, hanya lumba-lumba jenis Tursiop

truncatus yang dijumpai. Pada tanggal-tanggal tersebut keadaan cuacanya tidak

38

besar, sehingga lumba-lumba yang dijumpai kurang beragam (Lampiran 5). Pada tanggal 19 Mei 2010, jenis yang dijumpai hanya satu yaitu Pseudorca crassidens sebanyak 12 individu.

Pada tanggal 23 Juni 2010, lumba-lumba yang ditemukan hanya 4 ekor dan semuanya tidak teridentifikasi. Hal ini disebabkan pada tanggal tersebut terjadi gelombang yang cukup besar dan angin bertiup cukup kencang, sehingga pengidentifikasian jenis sulit untuk dilakukan. Pada tanggal 10 Mei 2010 sampai tanggal 27 Mei 2010, jenis lumba-lumba yang dijumpai lebih beragam dibandingkan tanggal 23 Juni 2010 sampai 3 Juli 2010. Hal ini diduga disebabkan oleh pengaruh musim. Noor (2003) menyatakan bahwa keadaan angin di Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi oleh angin monsoon yang secara garis besar dapat dibagi menjadi Angin Musim Barat (Desember-Maret) dan Angin Musim Timur (Juni-September). Musim Pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan Oktober-November. Pada Musim Pancaroba, gelombang yang terbentuk tidak terlalu besar dan angin yang bertiup tidak terlalu kencang. Pada Musim Timur, gelombang yang terbentuk cukup besar dan angin bertiup cukup kencang. Kondisi ini diduga menyebabkan keragaman jenis lumba-lumba dan jumlahnya menurun pada Musim Timur.

4.2.4. Indeks Individu

Berdasarkan Gambar 16, dapat dilihat bahwa Pseudorca crassidens memiliki nilai indeks tertinggi, yaitu 12 individu per hari perjumpaan. Jenis lumba-lumba dengan nilai indeks terendah adalah jenis Delphinus delphis dengan nilai indeks sebesar 4 individu per hari perjumpaan. Calf (bayi lumba-lumba) memiliki nilai indeks terendah, yaitu 2 individu per hari perjumpaan.

Berdasarkan Gambar 17 dapat dilihat bahwa lumba-lumba banyak ditemukan di sekitar perairan Pulau Kelapa, Pulau Opak, dan Pulau Kaliage Besar dengan nilai indeks sebesar 25 individu per hari pengamatan. Selat antara Pulau Panggang dan Pulau Pramuka memiliki nilai indeks terendah, yaitu 4 individu per hari perjumpaan. Nilai indeks yang bervariasi menunjukkan bahwa pada masing-masing lokasi dijumpai lumba-lumba dengan jumlah dan jenis yang berbeda. Hal ini diduga disebabkan oleh perbedaan jalur migrasi dari masing-masing jenis lumba-lumba. Perbedaan jalur migrasi ini juga disebabkan oleh faktor-faktor seperti ketersediaan

makanan, kondisi habitat, perbedaan tingkah laku dan keberadaan pemangsa. Menurut Shane et al. (1986) in Hansen (1990), struktur habitat dan akitivitas pergerakan sangat berpengaruh pada keberadaan grup lumba-lumba yang lebih besar dan kemunculan lumba-lumba di suatu perairan.

4.2.5. Komposisi lumba-lumba berdasarkan selang waktu perjumpaan

Berdasarkan Gambar 18, dapat dilihat bahwa jumlah lumba-lumba yang ditemukan paling banyak berada pada selang waktu 09.01 – 12.00 WIB, sedangkan lumba-lumba yang ditemukan paling sedikit berada pada selang kelas 15.01 – 18.00 WIB. Pada selang waktu 09.01 – 12.00 WIB, cahaya yang dibutuhkan oleh lumba-lumba untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti travelling dan mencari makan sudah optimal. Pada intensitas cahaya yang optimal, lumba-lumba dapat dengan mudah mencari mangsa.

Lammers et al. (2001) in Siahaninenia (2008) mengatakan bahwa perjumpaan dengan Spinner dolphin lebih banyak terjadi pada pagi hari dibandingkan pada sore hari. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Siahaninenia (2008) di Pantai Lovina, Bali, yang menyatakan bahwa kemunculan jumlah lumba-lumba terbanyak terjadi pada pukul 09.00 – 11.00 WIB. Cahaya pada sore hari sudah tidak optimal, sehingga lumba-lumba yang dijumpai pada selang kelas 15.01 – 18.00 WIB jumlahnya sedikit.

Hal berbeda dikemukakan oleh Setiawan (2004) yang mengatakan bahwa di wilayah perairan Taman Nasional Komodo, Cetacea lebih banyak terdistribusi pada sore hari yaitu pukul 15.30 – 18.00. Cetacea terlihat menuju ke satu tempat pada sore hari. Hal ini diduga berkaitan dengan kebiasaan Cetacea yang mencari makan pada waktu pagi hari dan siang hari, namun menjelang sore hari mereka menuju ke suatu tempat untuk beristirahat.

4.2.6. Komposisi lumba-lumba berdasarkan jenis

Lumba-lumba yang paling banyak dijumpai adalah dari jenis Tursiops

truncatus. Hal ini diduga dikarenakan memiliki daerah penyebaran yang luas, seperti

yang dikatakan oleh Rice (1998) bahwa lumba-lumba hidung botol (Tursiops

40

Siahaninenia 2008, lumba-lumba hidung botol ditemukan di seluruh dunia pada perairan tropis dan sub tropis, inshore dan offshore. Corkeron (1990) menyatakan bahwa lumba-lumba hidung botol biasanya terdapat diantara nearshore dan offshore, serta menghabiskan 92% waktunya pada kedalaman kurang dari 32 m dan berada pada 1 km dari pantai. Hal tersebut sesuai dengan keadaan saat pengamatan, dimana lumba-lumba hidung botol sering ditemukan di perairan dengan kedalaman 30 – 60 m dan tidak jauh dari garis pantai (Deny Wahyudi; komunikasi pribadi).

Bearzi (2005) menyatakan bahwa distribusi dari lumba-lumba hidung botol di Teluk Santa Monica, California sebagian besar berada 500 m dari pantai. Hal ini disebabkan oleh perbedaan batimetri dan oseanografi antara pantai dan lepas pantai. Berbeda dengan kondisi pada California Utara dimana lumba-lumba hidung botol banyak dijumpai pada 1 km dari pantai dengan kedalaman 10 dan 30 m, namun memiliki perbedaan yang menyolok antara pantai dan lepas pantai. Lumba-lumba hidung botol bisa beradaptasi di perairan yang berbeda dengan habitatnya dan bisa berasosiasi dengan komunitas cetacea lainnya.

Jenis lumba-lumba yang paling sedikit dijumpai adalah Delphinus delphis. Menurut Fiona et al. 2007 in www.icwoffice.org, Common dolphin lebih sering terlihat di offshore dengan continental shelf yang sempit. Di Mercury Bay, New Zealand, pergerakan secara geografis dari Delphinus delphis dipengaruhi oleh musim. Lumba-lumba ini banyak dijumpai di daerah inshore pada musim semi, sedangkan pada musim panas dan musim gugur, lumba-lumba ini lebih banyak dijumpai di daerah offshore (Neumann & Orams 2005).

Stenella longirostris sering ditemukan berasosiasi dengan Tursiops truncatus.

Lumba-lumba paruh panjang ini sering terlihat membentuk bergerombol dalam jumlah besar pada jarak ratusan mil dari pantai dengan kondisi perairan yang dangkal, thermocline yang tajam, dan variasi terhadap suhu permukaan rendah (Perrin 1998). Sedangkan Pseudorca crassidens hanya ditemukan satu kali dan tidak berasosiasi dengan jenis lain. Keberadaan paus pembunuh palsu di daerah inshore lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan mengikuti pergerakan arus air laut yang hangat (Stacey et al. 2004).

Pada saat pengamatan ditemukan juga calf. Keberadaan calf dapat mengindikasikan bahwa Kepulauan Seribu merupakan daerah nursery ground bagi

lumba-lumba. Menurut Evans (1987) in Setiawan (2004), Cetacea biasanya diasuh sang induk di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama. Setiawan (2004) juga mengatakan bahwa lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) memiliki kecenderungan membesarkan anaknya di daerah selat dan pulau-pulau.

4.2.7. Pengamatan tingkah laku lumba-lumba di permukaan secara visual

Tingkah laku lumba-lumba sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekologi, seperti musim, kedalaman perairan, pasang surut, dan aktivitas manusia. Lumba-lumba dapat merespon berbagai perubahan ekologi yang mungkin tidak bisa diprediksi dan berbeda-beda di setiap lokasi dimana lumba-lumba diteliti (Burgess 2006). Tingkah laku lumba-lumba yang berhasil teramati selama penelitian adalah

aerial, feeding, travelling, lobtailing, dan breaching. Namun, tidak semua tingkah

laku tersebut dapat terekam oleh alat dokumentasi. Tingkah laku aerial dilakukan oleh lumba-lumba sebagai salah satu bentuk komunikasi agar tidak tersesat. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian kelompoknya jika mereka terpisah. Pada saat pengamatan, jenis lumba yang melakukan gerakan aerial adalah lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus).

Tingkah laku lobtailing merupakan gerakan mengangkat ekornya ke permukaan air, lalu memukul-mukul ekor ke permukaan air. Aktivitas ini diduga sebagai bentuk komunikasi dengan lumba-lumba lain. Menurut Herzing (2000) in Lusseau (2006), lumba-lumba melakukan gerakan lobtailing untuk menarik perhatian individu lain dalam satu kelompok. Selain itu, tingkah laku lobtailing juga merupakan salah satu kegiatan pemangsaan, dimana lumba-lumba melakukan tingkah laku tersebut untuk melemahkan ikan-ikan yang menjadi mangsanya agar mudah untuk dimakan. Tingkah laku breaching dilakukan sebagai bentuk unjuk kekuatan dalam intraspesies atau hanya sekedar kesenangan (Lusseau 2006). Tingkah laku ini juga sering dilakukan oleh lumba-lumba untuk melemahkan

schooling ikan agar mudah dimakan (Carwardine 1995).

Menurut Würsig (1986) in Burgess (2006), famili Delphinidae memiliki startegi dalam mencari makan, baik dengan melakukan serangan secara individual maupun menyerang secara berkelompok. Lumba-lumba tidak selalu mencari makan di sekitar karang. Pada saat pengamatan, terdapat beberapa pod (kumpulan)

lumba-42

lumba yang melakukan aktifitas mencari makan di daerah yang jauh dari gugusan karang. Pada daerah yang jauh dari gugusan karang tersebut dijumpai schooling ikan tongkol beberapa kali, sehingga dapat diduga bahwa ikan tongkol juga merupakan makanan bagi lumba-lumba.

Salah satu tingkah laku feeding terlihat pada pod paus pembunuh palsu. False

Killer Whale (Pseudorca crassidens) bergerombol kemudian berenang mendekati

dan mengelilingi schooling ikan tongkol. Pada saat itu, terlihat salah satu individu

False Killer Whale (Pseudorca crassidens) melemparkan ikan tongkol ke udara

dengan menggunakan ekornya. Hal tersebut dinamakan fish kicking atau menendang ikan, yang merupakan cara makan yang paling unik. Lumba-lumba menggunakan ujung atau batang ekornya untuk menendang ikan yang berada di dekat permukaan air ke udara. Fish kicking biasanya dilakukan oleh seekor lumba-lumba yang berenang ke arah schooling ikan.

Pada lumba-lumba jenis lainnya, Bottlenose dolphin (Tursiops truncatus),

Common dolphin (Delphinus delphis), dan Spinner dolphin (Stenella longirostris),

mereka sering ditemukan di daerah sekitar karang. Mereka sesekali muncul ke permukaan, lalu menyelam kembali di pinggir karang. Berdasarkan hal tersebut dapat diduga bahwa lumba-lumba tersebut sedang melakukan aktifitas feeding rush, karena di daerah karang tersebut dijumpai ikan-ikan seperti teri, cumi-cumi, dan ikan-ikan kecil lainnya. Feeding rush merupakan salah satu bentuk mencari makan dengan cara menyerbu sekumpulan ikan di sekitar perairan karang, seperti yang teramati di sekitar perairan Karang Baronang, Karang Lebar, Karang Congkak.

Menurut Amir et al. (2004), isi perut dari lumba-lumba jenis Tursiops adancus yang tidak sengaja tertangkap oleh gillnet di Zanzibar, Tanzania kurang lebih terdapat 50 spesies bony fish dan tiga spesies cumi-cumi. Lima spesies ikan diantaranya adalah Uroconger lepturus, Synaphobranchus kaupii, Apogon

apogonides, Lethrinus crocineus, dan Lutjanus fulvus, dan tiga spesies cumi-cumi

diantaranya adalah Sepioteuthis lessoniana, Sepia latimanus, dan Loligo duvauceli. Berdasarkan persentase jumlah dan berat yang dominan, Uroconger lepturus merupakan makanan utama bagi lumba-lumba dewasa (sudah mengalami kematangan organ reproduksi), sedangkan Apogon apogonides merupakan makanan utama bagi lumba-lumba yang masih kecil (belum mengalami kematangan organ

reproduksi). Hasil penelitian tersebut secara umum menggambarkan bahwa lumba-lumba jenis Tursiops adancus yang ditemukan di Pantai Zanzibar hanya memakan chepalopoda dan ikan-ikan berukuran kecil hingga sedang yang berada di zona neritik. Ekologi dan tingkah laku dari ikan-ikan yang dimangsa oleh Tursiops

aduncus mengindikasikan bahwa lumba-lumba tersebut lebih banyak makan di

sekitar karang atau di perairan dengan substrat yang halus, dan dekat pantai.

Tingkah laku travelling dilakukan oleh lumba-lumba untuk bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, maupun untuk mencari makan secara bergerombol (Karczmarski & Cockcroft 1999 in Karczmarski et al. 2000). Bearzi (2005) menyatakan bahwa tingkah laku yang sering dilakukan oleh Bottlenose dolphin di Teluk Santa Monica Bay, California adalah travelling dengan kecepatan rata-rata 4,3 km/hari. Tingkah laku travelling ini dilakukan oleh semua jenis lumba-lumba yang dijumpai. Berdasarkan hal tersebut dapat diduga bahwa kawasan perairan Kepulauan Seribu merupakan salah satu jalur migrasi lumba-lumba.

Dokumen terkait