4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Sebaran Ruang ( Spasial ) Klorofil
Sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan Selat Lombok secara umum adalah meningkat di bagian selatan antara Bali-Lombok pada saat musim Timur dan menurun pada musim Barat (Gambar 10). Peningkatan konsentrasi klorofil pada musim Timur berkaitan dengan fenomena upwelling di perairan Samudera Hindia yaitu sekitar perairan selatan Jawa - Sumbawa (Wyrtki, 1962). Fenomena upwelling yang terjadi di Samudera Hindia bagian Timur juga memberi pengaruh pada perairan Selat Lombok, karena sebagian massa air perairan Selat Lombok merupakan masukan dari massa air Samudera Hindia.
Pada musim Barat (Desember – Februari), di bulan Desember upwelling yang terjadi di selatan perairan Selat Lombok sudah berangsur menghilang namun cenderung adanya kenaikan konsentrasi di bagian utara meskipun nilainya rendah, dan utamanya terkonsentrasi di dekat pesisir pantai tenggara Bali dan pesisir pantai barat Lombok. Pada bulan Desember – Januari, nilai konsentrasi klorofil-a bulanan rata-rata tertinggi ada di stasiun 2 dan 3 yaitu berkisar antara 0,10 – 0,53 mg/m³ (Tabel 4). Tingginya konsentrasi klorofil-a di stasiun ini kemungkinan koordinat lokasinya relatif lebih dekat dengan pesisir pantai tenggara Bali dan pesisir pantai barat Lombok oleh adanya sungai-sungai besar yang membawa partikel- partikel organik dengan intensitas tinggi ke muara dekat dengan pesisir pantai di lokasi tersebut sehingga terjadi pengkayaan nutrien yang berakibat konsentrasi klorofilnya cenderung tinggi. Hal ini semakin jelas tampak dari nilai standar deviasi (SD) yang tinggi yang berarti terjadi fluktuasi yang tinggi di stasiun 2 di bulan Desember dan stasiun 3 di bulan Januari dengan nilai 0,15 (Tabel 4).
Januari Februari Maret
April Mei Juni
Juli Agustus September
Oktober November Desember
Pada musim Peralihan I (Maret – Mei), konsentrasi klorofil-a di perairan Selat Lombok masih relatif rendah di bulan Maret namun masih tampak tinggi di bagian utara Selat Lombok yaitu pada stasiun 1 dan stasiun 2 yaitu berkisar antara 0,15 -0,31 mg/m³ (Tabel 4), namun konsentrasi klorofil-a cenderung mulai meningkat di bulan April – Mei di perairan bagian selatan Selat Lombok (Gambar 10). Konsentrasi klorofil-a bulanan di semua stasiun pada musim Peralihan I berkisar antara 0,13 – 0,62 mg/m³, adapun konsentrasi pada stasiun rata-rata (Maret – Mei) umumnya berkisar antara 0,16 – 0,43 mg/m³.
Selama musim Timur (Juni – Agustus), sebaran klorofil-a pada bulan Juli-Agustus di setiap stasiun pengamatan menunjukkan bahwa pusat konsentrasi klorofil-a tinggi dan mengalami penyebaran di perairan Selat Lombok bagian selatan (Gambar 10). Berdasarkan sebaran klorofil-a setiap stasiun pengamatan yang berada di Selat Lombok sepanjang periode Juni - Agustus diperoleh konsentrasi klorofil-a rata-rata di stasiun 1 sebesar 0,19 – 0,27 mg/m³ (rerata 0,22 – 0,23 mg/³m) dan berturut-turut di stasiun 2 - 4 yaitu antara 0,17 – 0,28 mg/m³ (rerata 0,2 mg/m³); 0,23 – 0,47 mg/m³ (rerata 0,30 – 0,36 mg/m³); 0,32 – 0,71mg/m³ (rerata 0,44 – 0,54 mg/m³). Pada stasiun rata-rata konsentrasi klorofil-a mempunyai kisaran di musim timur antara 0,23 – 0,42 mg/m³. Sepanjang bulan Juli, sebaran klorofil-a berkisaran antara 0,19 – 0,61 mg/m³ dengan konsentrasi tertinggi berada pada stasiun 3 dan 4. Pada stasiun 3 klorofil-a berkisar antara 0,27 – 0,36 mg/m³ dengan nilai rerata 0,30 mg/m³ sedangkan di stasiun 4 klorofil-a berkisar antara 0,34 – 0,61 mg/m³ dengan nilai rerata 0,45 mg/m³. Pada bulan Agustus di perairan selatan Selat Lombok, klorofil-a terlihat terus mengalami peningkatan konsentrasi (Gambar 10). Sebaran klorofil-a pada bulan Agustus berada pada kisaran 0,20 – 0,71 mg/m³ dengan konsentrasi rata-rata tertinggi berada pada stasiun 3 dan 4. Pada stasiun 3, klorofil-a berkisar antara 0,27 – 0,47 mg/m³ dengan nilai rerata 0,36 mg/m³ dan di stasiun 4 berkisar antara 0,38 – 0,71 mg/m³ dengan nilai rerata 0,54 mg/m³ (Tabel 4). Dalam gambar 10, tampak jelas terjadinya peningkatan konsentrasi klorofil-a di bagian selatan Selat Lombok ke arah timur, dan puncak konsentrasi klorofil-a tertinggi pada musim Timur terjadi di bulan Agustus.
Tabel 4. Klorofil rata-rata bulanan pada bulan Januari – Desember di setiap stasiun pengamatan
Stasiun Nilai Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
1 Maks 0.31 0.35 0.30 0.31 0.33 0.27 0.25 0.24 0.22 0.23 0.38 0.23 Min 0.20 0.16 0.16 0.15 0.17 0.19 0.19 0.20 0.18 0.15 0.16 0.14 Rerata 0.25 0.25 0.20 0.21 0.21 0.23 0.22 0.22 0.20 0.19 0.24 0.18 S.deviasi 0.05 0.07 0.05 0.06 0.05 0.03 0.03 0.02 0.02 0.02 0.09 0.03 2 Maks 0.48 0.30 0.31 0.36 0.32 0.21 0.29 0.26 0.22 0.22 0.29 0.52 Min 0.16 0.16 0.15 0.15 0.16 0.18 0.19 0.18 0.18 0.15 0.14 0.11 Rerata 0.26 0.24 0.19 0.23 0.22 0.20 0.22 0.21 0.20 0.19 0.21 0.27 S.deviasi 0.11 0.05 0.05 0.09 0.05 0.01 0.03 0.02 0.02 0.02 0.05 0.15 3 Maks 0.53 0.40 0.48 0.42 0.45 0.43 0.36 0.47 0.39 0.71 0.96 0.41 Min 0.11 0.20 0.21 0.26 0.22 0.23 0.27 0.27 0.27 0.28 0.19 0.15 Rerata 0.34 0.30 0.30 0.32 0.31 0.31 0.30 0.36 0.32 0.48 0.40 0.26 S.deviasi 0.15 0.07 0.09 0.07 0.08 0.07 0.03 0.07 0.04 0.17 0.27 0.08 4 Maks 0.30 0.36 0.38 0.62 0.49 0.61 0.61 0.71 0.72 0.42 0.86 0.39 Min 0.13 0.13 0.13 0.19 0.25 0.32 0.34 0.38 0.34 0.30 0.09 0.12 Rerata 0.21 0.23 0.24 0.42 0.36 0.44 0.45 0.54 0.52 0.35 0.33 0.19 S.deviasi 0.06 0.09 0.10 0.19 0.08 0.10 0.08 0.11 0.15 0.05 0.26 0.09 Rata-rata Maks 0.40 0.35 0.36 0.43 0.40 0.38 0.38 0.42 0.39 0.39 0.62 0.39 Min 0.15 0.16 0.16 0.19 0.20 0.23 0.25 0.26 0.24 0.22 0.14 0.13 Rerata 0.27 0.26 0.23 0.30 0.28 0.29 0.30 0.34 0.31 0.30 0.29 0.23 S.deviasi 0.09 0.07 0.07 0.10 0.07 0.05 0.04 0.06 0.05 0.07 0.16 0.09
Pada Musim Peralihan II (September – November) di perairan selatan Selat Lombok, peningkatan konsentrasi klorofil-a mengalami puncaknya pada sampai bulan November (Gambar 10). Pada bulan September, sebaran klorofil-a bulanan rata-rata di stasiun 1 berkisar antara 0,18 – 0,22 mg/m³, stasiun 2 berkisar antara 0,18 – 0,22, stasiun 3 berada pada kisaran 0,27 – 0,39 mg/m³, stasiun 4 berada pada kisaran 0,34 – 0,72 mg/m³ (Tabel 4). Pada bulan November, klorofil bulanan rata-rata di perairan selatan Selat Lombok berada pada kisaran 0,14 – 0,95 mg/m³, untuk stasiun 1 pada kisaran 0,15 – 038 mg/m³, stasiun 2 pada kisaran 0,14 – 0,28, pada stasiun 3 pada kisaran 0,18 – 0,95 mg/m³ dan pada stasiun 4 berada pada kisaran 0,09 – 0,86. Berdasarkan analisa sebaran klorofil pada stasiun pengamatan 1 - 4, secara umum di perairan utara Selat Lombok memiliki konsentrasi yang lebih rendah dari perairan selatan Selat Lombok (Gambar 10).
Januari Februari Maret
April Mei Juni
Juli Agustus September
Oktober November Desember
Gambar 11. Kontur standar deviasi (SD) klorofil bulanan rata-rata dari Tahun 2002 – 2009.
Secara umum dapat dijelaskan bahwa selama musim Barat (Desember – Maret), sebaran klorofil-a di perairan sekitar selat Lombok cenderung homogen dan rendah berkisar antara 0,10 – 0,53 mg/m³. Pada bulan Juni – November, sebaran horisontal klorofil-a pada permukaan laut memperlihatkan perubahan pola sebaran bila dibandingkan dengan musim barat dan awal peralihan I, khususnya di selatan perairan Selat Lombok. Pada daerah selatan perairan Selat Lombok terjadi peningkatan konsentrasi klorofil-a baik di perairan sekitar pantai maupun di perairan lepas pantai selama musim timur dan peralihan II. Meningkatnya konsentrasi klorofil-a dan meluasnya daerah sebaran klorofil-a dengan konsentrasi tinggi mempunyai hubungan yang erat dengan peningkatan konsentrasi nutrien terutama konsentrasi nitrat dan menurunnya suhu permukaan laut di perairan Selat Lombok ini selama musim Timur. Karakteristik perairan ini menunjukkan bahwa perairan di selatan Selat Lombok terajadi fenomena fisik massa air yang memicu terjadinya peningkatan konsentrasi klorofil-a pada permukaan perairan.
Pada bulan Desember terjadi penurunan konsentrasi dan luasan daerah sebaran konsentrasi klorofil-a, penurunan konsentrasi dan luasan daerah sebaran dari klorofil-a ini berlanjut sampai dengan bulan Maret (awal peralihan I). Namun di beberapa tempat khususnya di perairan dekat pantai barat Lombok dan sebagian tenggara Bali tampak adanya peningkatan konsentrasi klorofil-a namun sifatnya hanya lokal, hal ini disebabkan oleh adanya sungai-sungai besar yang membawa air bermuara disitu membawa partikel organik yang banyak sehingga terjadi peningkatan konsentrasi nutrien di wilyah tersebut, peningkatan konsentrasi nutrien ini mempunyai hubungan yang erat dengan tingginya konsentrasi klorofil-a di daerah itu.
Selanjutnya untuk dapat melihat gambaran tentang fenomena dan membuktikan adanya upwelling pada suatu daerah , dapat dilihat dari sebaran vertikal suhunya, dengan lapisan termoklin sebagai acuan. Sebaran vertikal suhu berupa penggambaran kontur suhu permukaan bulanan rata-rata dan standar deviasinya pada tiap-tiap stasiun dan kedalaman masing-masing, dengan menggunakan titik contoh tiap kedalaman 5 m, 55 m, 115 m 155 m, 195m dan 250 m yang diasumsikan mewakili area lapisan tercampur (mix layer), lapisan termoklin dan lapisan perairan dalam (deep sea). Secara umum lapisan termoklin
di perairan Indonesia berada pada kedalaman 100 – 300 m dengan kisaran suhu antara 9 – 26 °C (Soegiarto dan Birowo, 1975), dan menurut Hani (2006), menyebutkan bahwa lapisan termoklin di Selat Lombok berada pada kisaran kedalaman 75 – 200 m. Perairan selat lombok adalah perairan yang menjadi lintasan Arlindo, lintasan ini merupakan bagian dari lintasan massa air termoklin antar samudera pada lintang rendah dan memainkan peranan penting dalam sirkulasi termohalin global. Ilahude dan Gordon (1996), menyatakan bahwa sumber utama massa air Arlindo adalah massa air termoklin yang berasal dari Samudera Pasifik bagian utara.
Pada musim Barat (Desember – Februari), kondisi suhu perairan memperlihatkan massa air yang cenderung lebih hangat dengan kisaran antara 28,92 - 30,47 °C di permukaan laut dan pada kedalaman 250 m berkisar antara 9,10 – 13,44 °C (Gambar 12), suhu perairan yang hangat ini masih terus berlanjut sampai masa peralihan I di bulan April yang berkisar antara 29,37 – 30,26 °C di permukaan dan kisaran 9,39 – 13,55 °C di kedalaman 250 m. Pada akhir periode peralihan I, di bulan Mei suhu permukaan cenderung sudah mulai menurun yaitu pada kisaran 29,14 – 29,79 °C. Rata-rata kedalaman dari lapisan termoklin yaitu berada pada 70 m hingga 200 dengan ketebalan rata-rata sekitar130 m. Pada periode ini terjadi fluktuasi suhu yang tinggi yang terjadi di lapisan termoklin yang dimulai pada bulan November – Januari (Gambar 12), fluktuasi yang paling tinggi di berada di bulan Desember dengan lokasi di selatan Selat Lombok tepatnya pada stasiun 3 dan 4 sekitar bujur 115.75 °BT dan lintang 8.5 °LS - 9.5 °LS di lapisan termoklin. Fluktuasi yang tinggi diakibatkan oleh adanya dinamika yang terjadi di daerah itu.
Pada musim barat, angin muson Barat Laut yang mengarah ke Tenggara sangat kuat bergerak dan membawa sejumlah massa air laut permukaan yang hangat bertemu dengan arus Arlindo masuk ke perairan Selat Lombok dari utara ke selatan mengarah ke Samudera Hindia. Terjadi proses percampuran massa air di lapisan termoklin, kondisi batimetri dibagian selatan Selat Lombok di sekitar stasiun 3 dan 4 koordinat 8 - 9° LS yang terdapat punggung laut (sill) menyebabkan terjadinya fluktuasi yang sangat tinggi pada daerah itu, oleh karena
arus dalam yang bergerak terhalang oleh siil yang meyerupai dinding (Gambar 13), sehingga terjadi proses percampuran massa air.
Pada musim peralihan I (Maret – Mei), memasuki masa transisi angin Barat Laut cenderung lemah di permukaan namun Arlindo masih kuat bergerak di kolom perairan ke arah selatan menuju Samudera Hindia, sehingga fluktuasi suhu di lapisan termoklin perairan selatan Selat Lombok terlihat relatif masih kuat namun cenderung mulai melemah, tetapi pada bulan Mei angin muson Tenggara sudah mulai menguat membawa arus dingin di selatan perairan lombok dan sebagian masuk melewati Selat Lombok dengan intensitas yang tinggi.
Pada musim Timur (Juni – Agustus) angin Muson Tenggara semakin meningkat, suhu perairan Selat Lombok mulai mendingin dengan kisaran suhu di permukaan antara 26,77 °C – 29,16 dan kisaran suhu di kedalaman 250 m berkisar antara 9,63 – 13,71 °C, sampai bulan Agustus suhu perairan semakin dominan menjadi lebih dingin berkisar antara 26,77 – 27,68 °C di permukaan dan berkisar antara 9,74 – 13,42 °C di kedalaman 250m. Respon terhadap bertiupnya angin muson tenggara yang mengakibatkan suhu permukaan rendah dan ketebalan lapisan permukaan perairan di perairan dekat pantai menjadi berkurang, akibatnya lapisan termoklin menjadi lebih dangkal sehinggga terjadi penipisan lapisan tercampur.
Isoterm 10,5 – 12 °C yang bergeser ke arah permukaan pada musim Timur mengindikasikan bahwa massa air dari lapisan dalam juga ikut terangkat ke atas permukaan laut selama terjadinya penaikan massa air khususnya terjadi di bagian selatan perairan Selat Lombok di koordinat namun tidak terjadi di bagian utara Selat Lombok (Gambar 12). Hal ini merupakan indikasi terjadinya upwelling di selatan perairan Selat Lombok, yang selanjutnya diikuti oleh meningkatnya konsentrasi klorofil permukaan laut dan nutrien. Adapun data-data suhu perkedalaman untuk setiap stasiun dari bulan Januari – Desember dapat dilihat dalam lampiran 7.
Gambar 12. Kontur suhu vertikal bulan Januari – Desember Januari Februari Juli Agustus Maret April September Oktober November Mei Desember Juni
Gambar 13. Kontur standar deviasi suhu vetikal bulan Januari – Desember Januari Februari Juli Agustus Maret April September Oktober November Mei Desember Juni
Pada musim peralihan II (September – November), masih kuatnya angin Muson Tenggara menyebabkan suhu perairan Selat Lombok masih tampak dingin sampai dengan bulan Oktober dengan kisaran suhu permukaan antara 27,91 – 28,84 °C dan di kedalaman 250m berkisar 9,82 – 12,11 °C. Pada bulan November angin Muson Tenggara mulai melemah dan sebaliknya angin Muson Barat kekuatannya mulai meningkat, terjadi perubahan suhu perairan di Selat Lombok yang juga menampakkan tanda-tanda semakin menghangat pada semua stasiun pengamatan 1 – 4 kisaran suhu permukaan permukaan berturut turut antara 29,12 – 29.66 °C; 29.08 – 29,62 °C; 29,10 – 29,62 °C; dan 29,12 – 29,75 °C dan di kedalaman 250m suhu juga menunjukkan sedikit menghangat di setiap stasiun pengamatan, pada stasiun 1 berkisar antara 12,63 – 13,21 °C, dan di stasiun 2-4 masing-masing berkisar antara 11,73 – 12,57 °C; 10,75 – 11,89 °C dan 10,24 – 11,40 °C. Nilai SD juga cukup tinggi yaitu berkisar antara 0,20 – 1,90 hal ini menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi dengan fluktuasi tertinggi di stasiun 3 dan 4 di kedalamaman 155 – 195m dengan nilai SD di stasiun 3 berkisar antara 1,31 – 1,85 dan di stasiun 4 antara 1,33 – 90. Lapisan termoklin tampak menebal dan arus muson Barat mulai tampak meningkat dari utara ke selatan perairan Selat Lombok yang menimbulkan fluktuasi yang relatif tinggi (Gambar 13).