• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Sebaran Suhu

Sebaran temporal suhu air laut berdasarkan kedalaman di perairan barat Sumatera pada periode Januari 1979 hingga Desember 2007 disajikan pada Gambar 15 dan 16. Pada Gambar tersebut terlihat adanya stratifikasi suhu yang jelas. Lapisan permukaan diwakili oleh isoterm 27oC, 28oC, 29oC dan 30oC.

Pada lapisan yang dibatasi isoterm tersebut suhu relatif stabil walaupun diselingi dengan beberapa fluktuasi. Lapisan termoklin batas atas diwakili oleh isoterm 26

oC, sedangkan pada lapisan termoklin batas bawah diwakili oleh isoterm 11 oC.

Pada lapisan tercampur tersebut terlihat adanya fluktuasi suhu yang cukup besar. Lapisan dalam diwakili oleh isoterm yang berada di bawah lapisan termoklin, yaitu 8 oC hingga 11 oC.

Gambar 17. Sebaran Temporal Suhu berdasarkan Kedalaman pada Januari 1979 – Desember 1984

40

Gambar 18. Sebaran Temporal Suhu berdasarkan Kedalaman a) Januari 1985 – Desember 1990 b) Januari 1991 – Desember 1996 c) Januari 1997

– Desember 2002 a)

c) b)

Gambar 19. Sebaran Temporal Suhu berdasarkan Kedalaman pada Januari 2003 – Desember 2007

Dari Gambar 17, 18 dan 19 secara umum terlihat bahwa pada saat Angin Muson Barat Laut (Desember – Maret) lapisan tercampur memiliki suhu yang relatif tinggi, begitu pula pada Musim Peralihan I (April – Mei). Pada periode Angin Muson Tenggara (Juni – Agustus) suhu lapisan tercampur terlihat menurun, dan kemudian mulai meningkat kembali pada Musim Peralihan II (September – November).

Dari Gambar 17, 18 dan 19 terlihat adanya fluktuasi naik turunnya isoterm pada lapisan termoklin. Pada periode Angin Muson Barat Laut lapisan termoklin bagian atas terlihat lebih tenggelam dibandingkan dengan pada saat Musim Peralihan I dan II. Lapisan termoklin bagian atas terangkat pada saat periode Angin Muson Tenggara sedangkan lapisan termoklin bagian bawah terlihat lebih tenggelam sehingga mengakibatkan lapisan termoklin menjadi lebih tebal. Pada periode Angin Muson Tenggara (Juni - Agustus) pada tahun 1982, 1993, 1997 dan 2006 terlihat adanya pendangkalan lapisan termoklin hingga batas atas lapisan termoklin mencapai kedalaman ± 50 meter, dan batas bawah mencapai kedalaman hingga lebih dari 150 meter.

42

Saat Angin Muson Tenggara pada tahun 1982, 1993, 1994, 1997, 2002, 2006 dan 2007 suhu pada lapisan permukaan cukup rendah. Suhu yang relatif rendah tersebut terjadi bersamaan dengan terangkatnya lapisan termoklin. Menurunnya suhu permukaan dan terangkatnya lapisan termoklin pada saat Angin Muson Tenggara diduga diakibatkan oleh adanya massa air dingin yang berasal dari upwelling dan terbawa oleh AKS. Susanto et al. (2001)

menyebutkan bahwa pada bulan Juni hingga Oktober terjadi upwelling di

perairan selatan Jawa dan barat Sumatera. Menurut Wyrtki (1961) Angin Muson Tenggara yang terjadi pada bulan Juni hingga Oktober mendesak poros AKS ke utara dan menyebarkan massa air dari proses upwelling hingga ke daerah penelitian.

Sebaran temporal suhu per kedalaman di perairan barat Sumatera ditampilkan pada Gambar 20 dan 21. Dari gambar sebaran temporal suhu per kedalaman terlihat bahwa kedalaman 5, 25 dan 55 meter merupakan lapisan tercampur, karena pada lapisan ini suhu tidak terlalu berfluktuasi. Berdasarkan gambar 17 dan 18 juga terlihat bahwa pada waktu tertentu kedalaman 55 meter memiliki fluktuasi yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa dalam waktu tertentu kedalaman 55 meter menjadi lapisan termoklin bagian atas. Hal yang sama juga ditemukan Holiludin (2009) di perairan barat Sumatera fluktuasi suhu yang cukup besar terjadi pada kedalaman 55, 75, 125, 155, dan 175 meter. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan kedalaman dari 55 hingga 175 meter merupakan lapisan termoklin. Pada kedalaman 250, 446 dan 617 meter fluktuasi yang terjadi pada lapisan sebelumnya berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan ini merupakan lapisan dalam.

Gambar 20. Sebaran Temporal Suhu per Kedalaman a) Januari 1979 –

Desember 1984 b) Januari 1985 – Desember 1990 c) Januari 1991

– Desember 1996 a)

b)

44

Gambar 21. Sebaran Temporal Suhu per Kedalaman a) Januari 1997 – Desember 2002 b) Januari 2003 – Desember 2007

Pada lapisan permukaan fluktuasi suhu relatif stabil, namun pada waktu tertentu lapisan ini mengalami penurunan yang cukup ekstrim. Suhu lapisan tercampur terlihat meningkat pada periode Angin Muson Barat Laut (Desember – Februari) dan Musim Peralihan, puncaknya terjadi pada Maret hingga Mei. Hal tersebut terlihat jelas pada tahun 1979, 1983, 1987, 1998, 2002, dan 2005. Suhu yang relatif meningkat pada periode Angin Muson Barat Laut ini diduga

diakibatkan oleh adanya Arus Sakal Samudera Hindia (ASH). Dalam

pergerakannya disepanjang ekuator ASH mendapatkan penyinaran matahari yang relatif tinggi dan terus menerus sehingga membawa massa air yang memiliki suhu yang relatif tinggi (Wyrtki, 1961). Pada musim peralihan pertama dan kedua terlihat suhu juga relatif tinggi, hal ini diduga akibat adanya Jet Wyrtki a)

yang berkembang pada saat Musim Peralihan (Maret – Mei dan September – November). Jet Wyrtki memiliki peran besar dalam mengakumulasikan massa air yang hangat ke perairan barat Sumatera.

Pada saat periode Angin Muson Tenggara suhu di lapisan permukaan cenderung menurun bila dibandingkan dengan musim lainnya. Menurut Wyrtki (1961), pada bulan Juli hingga Oktober poros Arus Khatulistiwa Selatan (AKS) tergeser oleh Angin Muson Tenggara hingga ke arah utara. AKS yang terdesak hingga utara tersebut mempengaruhi penyebaran massa air dingin yang berasal dari upwelling yang terjadi di perairan barat Sumatera dan di selatan Jawa serta massa air dingin dari bagian utara Australia hingga perairan barat Sumatera. Selain itu rendahnya suhu pada periode ini diakibatkan oleh udara dingin yang terbawa oleh Angin Muson Tenggara menuju ke daerah penelitian.

Pada lapisan termoklin terlihat adanya fluktuasi menipis dan menebal. Namun pada lapisan termoklin fluktuasi yang terlihat terjadi berulang setiap setengah tahunnya. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya satu bukit dan satu lembah yang terjadi setiap enam bulan (Gambar 17, 18 dan 19 serta Gambar 20 dan 21). Hal tersebut diduga terjadi karena adanya pengaruh dari arah dan kekuatan angin yang bertiup pada Angin Muson Tenggara, Angin Muson Barat Laut dan Musim Peralihan. Selain itu Jet Wyrtki yang berkembang pada musim peralihan juga mempengaruhi adanya fluktuasi setengah tahunan pada suhu di perairan barat Sumatera. Holilludin (2009) menyatakan bahwa fluktuasi setengah-tahunan suhu di perairan barat Sumatera menggambarkan variasi suhu yang terjadi selama pergantian musim, dari Musim Peralihan ke Musim Peralihan berikutnya

Selain fluktuasi setengah tahunan suhu di perairan barat Sumatera juga memiliki fluktuasi tahunan yang ditunjukkan oleh adanya perubahan pada lapisan termoklin bagian atas setiap tahunnya. Menurut Holliludin (2009) pada Muson

46

Tenggara angin bertiup kencang dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan penaikan massa air dari lapisan yang dalam ke lapisan yang lebih atas,

kemudian membuat batas atas dan batas bawah lapisan termoklin menjadi lebih dangkal.

Dokumen terkait