• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEBATANG PISANG SUSU

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 53-61)

pus. Kalau bukan kita berempat punya ritual nonton

mid-night setiap Sabtu, kayaknya aku nggak akan ketemu kamu

di mana-mana lagi. Sibuk, ya?”

Keenan menebarkan pandangannya ke sekitar, mengang-kat bahu sekilas. “Saya di kampus hanya seperlunya aja. Nggak terlalu suka nongkrong-nongkrong.”

Kugy ingin berceletuk: pantas saja. Hampir setiap hari ia melewati Fakultas Ekonomi, tempat Keenan berkuliah. Dan hampir setiap hari ia melongok untuk melihat keberadaan ransel merah marun bertuliskan huruf “K” itu. Kugy bahkan sempat curiga jangan-jangan Keenan sebetulnya kuliah lewat jalur Universitas Terbuka.

“Kalau makan siang di kampus—masih berminat?” tanya Kugy.

“Tergantung siapa yang ngajak.”

Kugy menggelengkan kepala, “Jawaban yang salah. Harus-nya: tergantung siapa yang bayar.”

“Jadi, saya bakal ditraktir, nih?”

“Ada satu tempat makan yang wajib dijajal. Jangan ngaku anak kampus deh kalau belum pernah ke sana ....”

“Enak banget, ya?” “Bukan. Murah banget.”

“Oh. Pantesan nraktir ...,” gumam Keenan sambil menge-keh pelan.

Warung nasi dengan dinding bambu itu tampak padat. Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan pras-manan. Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang tergantung di pintu: “Warteg Pemadam Kelaparan”.

Mereka lalu duduk di pojok dekat jendela, bersebelahan dengan pisang susu yang digantung bertumpuk.

Keenan sungguhan terpana melihat nasi yang meng-gunung sampai nyaris tumpah dari pinggiran piring Kugy. “Kecil-kecil makannya banyak juga, ya,” komentarnya.

“Menurut survei: selain narik becak dan gali kubur, pe-kerjaan mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan kalori tinggi,” sahut Kugy, lalu mencabut dua pisang susu yang bergantung di sebelah kepalanya.

Keenan menatap adegan itu dengan decak kagum. “Kamu memang makhluk penuh kejutan.”

“Oh! Aku masih punya kejutan lain. Sebentar ...,” Kugy merogoh kantong depan ranselnya, “ ... ta-daaa!”

“Handphone?” Keenan memicingkan mata.

“Baru!” Kugy tertawa lebar, “Hasil keringat sendiri! Cer- penku dimuat. Honornya cukup buat beli HP baru dan trak-tir kamu makan siang sekarang.”

“Wah, kejutan baru lagi. Selamat, ya,” Keenan menyalami Kugy, “mau baca cerpennya, dong.”

Kugy tampak gelagapan. Mendadak ia merasa gugup. Se-sungguhnya, salah satu alasan ia sering lewat-lewat fakultas Keenan adalah untuk memberikan majalah yang memuat cerpennya, yang sudah ia siapkan di dalam ranselnya dan ia bawa setiap hari. Kugy lalu membongkar tasnya dan me-nyerahkan majalah yang sudah agak ringsek itu. “Ini, aku sudah siapkan satu untuk kamu.”

Keenan menerimanya dengan mata berbinar. “Kugy Karmachameleon ... jadi penulis betulan. Hebat.”

Kugy tergelak, “Aku memang sudah mengusulkan ke mamaku untuk ganti nama jadi Karma. Tapi belum ada tang-gapan.”

“Saya boleh kasih tahu kamu sesuatu? Menurut saya, kamu penulis yang sangat bagus.”

Muka Kugy memerah. “Baca aja belum, kok bisa bilang bagus ....”

“Saya bukan ngomongin cerpen kamu, tapi dongeng-dongeng kamu.”

Mendadak Kugy merasa mati gaya. Mati langkah. Ia ter-sadar, satu hal langka telah terjadi: dirinya salah tingkah. Benar-benar tidak tahu harus merespons apa. Akhirnya Kugy mencomot satu lagi pisang susu. Mengunyahnya lahap.

“Kamu terakhir makan kapan, sih? Lapar berat, ya?” “Aku suka lukisan-lukisan kamu.”

“Memangnya kamu udah lihat?”

“Belum. Justru itu. Belum lihat aja suka, apalagi kalau udah lihat,” Kugy terkekeh sendiri. Ia merasa wajahnya se-makin panas, dan omongannya sese-makin ngaco.

“Kalau gitu, habis makan siang, kita ke tempat saya, yuk. Saya mau kasih lihat lukisan-lukisan saya.”

Kugy mengangguk. Ada senyum spontan yang tak bisa ia tahan. Mendadak ia mensyukuri celetukan asalnya tadi. Men-dadak ia ingin cepat-cepat menuntaskan makan siang ini.

Tempat kos Keenan terletak agak jauh dari kampus mereka. Sebuah rumah peninggalan zaman Belanda yang dikelilingi pepohonan rindang. Berbeda dengan tempat kos Kugy dan Noni yang padat, tempat kos Keenan hanya diisi oleh be-berapa orang saja. Kamar-kamarnya berukuran luas dengan langit-langit yang tinggi.

Napas Kugy seketika tertahan ketika pintu besar itu ter-buka dan Keenan menyalakan sakelar lampu. Rel-rel kawat bersaling silang di bawah plafon dengan lampu-lampu halo-gen kecil yang bergantungan menerangi beberapa spot tem-pat lukisan-lukisan Keenan yang terpaku di dinding atau didirikan begitu saja di atas lantai. Kamar dengan ubin abu-abu itu tampak lengang karena tidak banyak perabot. Hanya

satu tempat tidur, lemari pakaian kecil yang di atasnya di-letakkan sebuah mini compo, dan meja belajar besar tempat alat-alat gambar Keenan berjajar rapi.

“Nan ..., harusnya kamu bukan kuliah Manajemen, tapi Seni Rupa ...,” gumam Kugy sambil pelan-pelan melangkah masuk, “dan ini lebih pantas disebut galeri ketimbang kamar kos ....”

Keenan membawa Kugy berkeliling melihat lukisan-lukisan-nya, seperti orang pameran. “Ini judulnya: Sunset from the

Rooftop ... ini judulnya: Heart of Bliss ... yang ini: The Shady Morning ... yang ini: Silent Confession ... dan ini ....”

“Yang ini yang paling aneh,” potong Kugy, menunjuk lu-kisan yang hanya seperti gradasi warna dan garis-garis halus seperti larik-larik kapas. “Yang lain ada gambar orangnya semua. Cuma ini yang nggak ada.”

“Tebak judulnya apa.”

“Gila, itu sih mission impossible, namanya. Mana mung-kin ketebak.”

“Lukisan yang satu ini jangan dipikir, tapi harus dirasa. Apa perasaan yang muncul ketika kamu lihat lukisan ini? Itulah judulnya.”

Kugy menatap lukisan itu lekat-lekat. Lalu ia memejam-kan mata. Lama. Lantas terdengar napasnya mengembus, dan setengah berbisik ia mengucap, “Bebas.”

Giliran Keenan yang terpaku. Perlahan, ia membalik lu-kisan yang berdiri di lantai itu, dan menunjuk judul yang tertera di baliknya.

Kugy melongo. “Freedom?”

“Sumpah ... saya sama sekali nggak sangka kamu bisa menebak setepat itu,” Keenan garuk-garuk kepala, “ini ke-betulan yang aneh.”

Kugy menggeleng, “Aku nggak percaya kebetulan. Ini

pasti karena kita dulunya sama-sama utusan Neptunus. Wak-tu itu, kita dibekali telepati. Cuma, sebelum dikirim ke Bumi, kita dibikin amnesia. Supaya seru,” katanya mantap.

Keenan manggut-manggut. “Bisa jadi. Boleh juga teori-nya.”

“Ehm, tapi untuk pertanyaan yang satu ini aku nggak mau menggunakan kemampuan telepati,” Kugy nyengir, “se-betulnya ini gambar apa, ya?”

“Lukisan ini menggambarkan sudut pandang seekor bu-rung di angkasa saat terbang. Dia tidak melihat batas apa-apa, tidak melihat perintang apa-apa-apa, tidak terikat oleh Bumi. Bebas. Total.”

Pandangan Kugy yang tadi melekat pada lukisan perlahan beralih pada Keenan, ia seperti tergerak untuk menanyakan sesuatu. “Boleh tahu kapan kamu melukisnya?”

“Waktu tahu saya lolos UMPTN.”

“Kamu ... sebetulnya ... terpaksa kuliah di sini, ya?” ucap Kugy hati-hati. Tidak yakin apakah pertanyaan itu pantas diajukan, tapi mulutnya seperti tak bisa ditahan.

Keenan menatap Kugy balik, tebersit senyum getir di wajahnya. “Nggak matching,” ujarnya pendek, “antara minat, cita-cita, dan keinginan orangtua. Harus membuktikan bah- wa saya bisa mandiri lewat melukis, sementara kesempatan- nya tidak pernah dikasih.” Ia lalu mengangkat bahu, “Mung-kin harus dengan cara yang kamu bilang dulu. Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.”

Ingatan Kugy kembali ke momen di kamar kosnya dulu. Barulah ia mengerti, sesungguhnya waktu itu Keenan mem-bicarakan dirinya sendiri. Dan kesunyian yang sama kembali hadir di antara mereka.

“Dan ... karena kamu sudah berhasil menebak judul lu-kisan ini, saya mau kasih hadiah.” Air muka Keenan kembali menghangat.

“Nggak percaya kalau kita bisa telepati, ya? Aku tuh bu-kan nebak, tauk ... tapi ...” celotehan Kugy tahu-tahu berhenti. Di hadapannya terbentang lembar pertama buku sketsa yang dibuka Keenan. Perlahan, Kugy meraih buku itu. Membuka lembar demi lembar. “Ini ...?”

Keenan menunjuk satu per satu sketsa tersebut. “Pa-ngeran Lobak ... Peri Seledri ... Wortelina ... Nyi Kunyit ... Joni Gorong ... Hopa-Hopi ... dan ini lembah tempat mereka tinggal ...” dengan asyik Keenan menjelaskan. Setetes air tiba-tiba jatuh di lembar sketsanya. Keenan kontan terdiam dan mendongak, mendapatkan Kugy yang sudah berlinangan air mata.

“Aduh. Maaf. Gambarnya kena, ya? Sori ...,” Kugy sibuk menyeka air mata di pipinya.

“Nggak pa-pa, nggak masalah, kok. Justru ... kamu nggak pa-pa?” tanya Keenan khawatir.

Kugy terisak, antara tertawa dan menangis. “Hi-hi. Aku cengeng, ya? Tapi ... seumur hidup belum pernah ada yang membuatkan ilustrasi buat dongengku ... bagus banget lagi ... aku ... nggak tahu harus ngomong apa ....”

Keenan tersenyum. “Cerita kamu yang bagus. Inspiratif. Makanya saya tergerak untuk bikin sketsa.”

“Ini ... boleh aku pinjam dulu?” Kugy mendekap buku itu di dadanya dengan penuh harap.

“Buku itu buat kamu, Gy. Ambil aja.”

Tak ada yang bisa menahan Kugy untuk memeluk Keenan, tidak juga dirinya sendiri. Pelukan spontan itu ha-nya berlangsung dua detik karena Kugy langsung beringsut mundur dengan muka merah padam. “Makasih ...,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Keduanya diam bergeming, antara rikuh dan tak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya Kugy memecah ke-kakuan itu dengan merogoh saku celananya.

“Untuk sementara ... aku cuma bisa kasih kamu ini.” Keenan menerima benda yang disodorkan Kugy. Sebatang pisang susu yang dibawa dari Pemadam Kelaparan. “Oke. Saya anggap kita impas,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Fiat kuning itu berdesakan dengan mobil-mobil lain yang menyusuri Jalan Dago pada malam Minggu. Kugy dan Keenan di bangku belakang. Eko mengemudi, di sampingnya ada Noni yang tengah bertelepon dengan seseorang.

Noni mematikan ponselnya dengan lega. “Guys, Mas Itok berhasil dapat empat tiket, barisan agak depan, sih. Tapi lumayan daripada lu manyun.”

“Sebagai geng midnight yang profesional, kita memang harus punya koneksi kayak Mas Itok. Hidup Mas Itok!” seru Eko.

“Hiduuup!” Terdengar Kugy menyahut patriotik dari bela-kang.

Sepuluh menit kemudian, mobil itu memasuki parkiran Bandung Indah Plaza. Dan keempatnya pun langsung ber-gegas ke lantai paling atas.

Seorang pria kurus berkacamata menyambut mereka, Mas Itok, penjaga toko kaset langganan Eko yang suka me-nyambi menjadi pengantre tiket bioskop buat mereka. “Ini buat Mas Eko sama Mbak Noni,” ia menyerahkan dua tiket, “nah, ini buat Mas Keenan dan pacarnya ....”

6.

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 53-61)