sebesar 31,10 persen. Besarnya selisih capaian APM SMA ini mengindikasikan adanya ketimpangan pendidikan antar Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
2.2.2.2 Kesehatan
Beberapa indikator yang digunakan untuk mengambarkan kondisi kesejahteraan sosial masyarakat antara lain angka kelangsungan hidup bayi (AKHB), usia harapan hidup, dan jumlah balita yang mengalami kasus gizi buruk.
2.2.2.2.1. Angka Kelangsungan Hidup Bayi
Angka kelangsungan hidup bayi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah, terutama di sektor kesehatan. Angka kelangsungan hidup bayi (AKHB) merupakan cermin ukuran dari angka kematian bayi yang dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 1 tahun dengan jumlah kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu. Secara matematis AKHB = (1-angka kematian bayi). Angka kematian bayi merupakan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam kurun waktu setahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Angka kelangsungan hidup bayi dilihat dari data kematian Per 1000 kelahiran hidup sekitar 974 pada tahun 2012. Data tersebut memberikan makna bahwa dari 1000 kelahiran hidup terdapat 974 bayi yang mencapai usia 1 tahun. Sementara angka kematian bayi tahun 2012 diproyeksikan menurun menjadi 25,95 Per 1000 kelahiran hidup. Dengan demikian angka kelangsungan hidup bayi berbanding terbalik dengan angka kematian bayi. Semakin rendah angka kematian bayi, maka semakin besar peluang kelangsungan hidup bayi. Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran terus menurun. Angka harapan hidup makin meningkat, dan persentase balita dengan kasus gizi buruk terus menyusut.
Angka kematian bayi perlu terus ditekan, karena merupakan indikator penting di bidang kesehatan, hal ini menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Angka kematian bayi di Jawa Timur terus menurun, yaitu hingga 28,31 per 1.000 kelahiran.
BAB II - 66
Tabel 2.45
Angka Kematian Bayi (AKB) dan Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Di Jawa Timur Tahun 2009 – 2012
No. Indikator 2009 2010 2011 2012*)
1. Angka Kematian Bayi (AKB) 31,41 29,29 29,24 25,95
2. Angka Kelangsungan Hidup
Bayi (AKHB) 968,59 970,71 970,76 974,05
Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur, Keterangan : *) Angka Sementara
2.2.2.2.2. Angka Usia Harapan Hidup
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya
Idealnya Angka Harapan Hidup dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat Tabel Kematian. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan baik maka untuk menghitung Angka Harapan Hidup digunakan cara tidak langsung dengan program Mortpak Lite.
Dari hasil penghitungan yang dilakukan oleh BPS RI dengan metode tidak langsung, rata-rata AHH di Jawa Timur selama empat tahun terakhir (2009 – 2012) menunjukkan trend meningkat yaitu dari 69,15 (2009) menjadi 70,09 (2012).
BAB II - 67
Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur
Pada umumnya kabupaten-kabupaten di wilayah “tapal kuda” seperti Kabupaten Sampang, Probolinggo, Bondowoso, Jember, Sumenep, Bangkalan, Pamekasan, Situbondo, dan Pasuruan memiliki usia harapan hidup yang terendah dibandingkan dengan daerah “kulonan” (Jawa Timur bagian barat). AHH pada wilayah “Tapal Kuda” berkisar pada angka 64 hingga 66 tahun untuk perempuan dan 60 hingga 63 tahun untuk laki-laki. Wilayah yang memiliki usia harapan hidup yang cukup tinggi adalah Kabupaten Tulungagung, Kota Mojokerto, Kabupaten Pacitan, Kota Blitar dengan 74 - 75 tahun untuk perempuan dan 71,56 tahun untuk laki-laki.
Tabel 2.46
Angka Harapan Hidup (AHH) Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Timur Tahun 2009 – 2012
Kode Kabupaten/Kota (Tahun)
2009 2010 2011 2012 3501 Pacitan 71.04 71.26 71.48 71.69 3502 Ponorogo 69.62 69.93 70.24 70.55 3503 Trenggalek 71.36 71.62 71.87 72.13 3504 Tulungagung 71.23 71.48 71.72 71.95 3505 Blitar 70.66 70.88 71.09 71.30 3506 Kediri 69.42 69.66 69.90 70.15 3507 Malang 68.70 68.96 69.23 69.50 3508 Lumajang 66.87 67.17 67.46 67.75 71.2 71.64 71.84 72.09 67.2 67.66 67.88 68.19 69.15 69.6 69.81 70.09 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 2009 2010 2011 2012 Gambar 2.30
Angka Harapan Hidup Penduduk Jawa Timur Tahun 2009-2012
BAB II - 68
Kode Kabupaten/Kota (Tahun)
2009 2010 2011 2012 3509 Jember 62.66 62.84 63.03 63.21 3510 Banyuwangi 67.18 67.58 67.98 68.38 3511 Bondowoso 62.92 63.23 63.54 63.85 3512 Situbondo 63.02 63.19 63.36 63.52 3513 Probolinggo 60.85 61.13 61.42 61.70 3514 Pasuruan 63.70 64.01 64.31 64.61 3515 Sidoarjo 70.31 70.55 70.79 71.03 3516 Mojokerto 69.97 70.19 70.42 70.64 3517 Jombang 69.99 70.09 70.18 70.28 3518 Nganjuk 68.67 68.89 69.11 69.33 3519 Madiun 68.72 68.90 69.07 69.25 3520 Magetan 70.93 71.17 71.41 71.66 3521 Ngawi 69.58 69.91 70.24 70.57 3522 Bojonegoro 67.01 67.15 67.28 67.42 3523 Tuban 67.56 67.78 68.00 68.21 3524 Lamongan 68.02 68.20 68.37 68.55 3525 Gresik 70.73 70.98 71.22 71.47 3526 Bangkalan 63.16 63.32 63.48 63.65 3527 Sampang 62.34 63.00 63.49 63.98 3528 Pamekasan 63.59 63.99 64.39 64.79 3529 Sumenep 64.53 64.71 64.89 65.07 3571 Kota Kediri 70.18 70.41 70.64 70.86 3572 Kota Blitar 71.95 72.23 72.51 72.80 3573 Kota Malang 69.96 70.32 70.68 70.97 3574 Kota Probolinggo 69.83 70.17 70.52 70.86 3575 Kota Pasuruan 66.33 66.37 66.41 66.46 3576 Kota Mojokerto 71.35 71.56 71.78 72.00 3577 Kota Madiun 70.81 71.01 71.22 71.42 3578 Kota Surabaya 70.71 71.01 71.27 71.53 3579 Kota Batu 69.16 69.44 69.72 70.00
Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur
2.2.2.2.3. Persentase Balita Gizi Buruk
Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk.
BAB II - 69
Sumber : Survei Prevalensi Gizi 2010-2012
Persentase balita gizi buruk di Jawa Timur terus mengalami penurunan, dari 4,80 persen tahun 2007 (Riskesdas, 2007) kemudian berdasarkan hasil survei gizi balita di Jawa Timur tahun 2010 persentasenya menjadi 4,06 persen dan pada tahun 2011 menjadi 3,88 persen. Kemudian dari hasil survei gizi balita di Jawa Timur tahun 2012, persentase balita bergizi buruk menjadi 2,30 persen. Hal ini dimungkinkan karena adanya pencanangan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG) tahun 2011-2015 oleh Pemprov Jawa Timur yang sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang berkeadilan yang terfokus pada penurunan kemiskinan dan kelaparan.
BAB II - 70
No. Kabupaten/Kota Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih Jumlah
01 Ka b. Pa ci ta n 5.06 87.34 7.59 100.00
02 Ka b. Ponorogo 1.18 7.06 88.23 3.53 100.00
03 Ka b. Trengga l ek 1.25 7.5 88.75 2.5 100.00
04 Ka b. Tul unga gung 1.27 11.39 84.81 2.53 100.00
05 Ka b. Bl i ta r 3.33 11.11 76.67 8.89 100.00 06 Ka b. Kedi ri 7.29 16.67 73.96 2.08 100.00 07 Ka b. Ma l a ng 0.85 10.26 84.62 4.27 100.00 08 Ka b. Luma ja ng 3.61 19.28 69.88 7.23 100.00 09 Ka b. Jember 3.54 17.7 71.68 7.08 100.00 10 Ka b. Ba nyuwa ngi 5.1 20.41 73.47 1.02 100.00 11 Ka b. Bondowos o 6.25 25 65.00 3.75 100.00 12 Ka b. Si tubondo 7.79 24.68 62.34 5.19 100.00 13 Ka b. Probol i nggo 11.49 25.29 63.22 100.00 14 Ka b. Pa s urua n 8.79 25.27 60.45 5.49 100.00 15 Ka b. Si doa rjo 2.97 9.9 80.20 6.93 100.00 16 Ka b. Mojokerto 2.35 7.06 85.88 4.71 100.00 17 Ka b. Jomba ng 2.17 18.48 76.09 3.26 100.00 18 Ka b. Nga njuk 4.76 13.1 80.95 1.19 100.00 19 Ka b. Ma di un 1.32 18.42 76.31 3.95 100.00 20 Ka b. Ma geta n 2.35 14.12 74.12 9.41 100.00 21 Ka b. Nga wi 4.6 11.49 77.01 6.9 100.00 22 Ka b. Bojonegoro 4.6 17.24 78.20 1.15 100.00 23 Ka b. Tuba n 3.41 19.32 73.74 3.41 100.00 24 Ka b. La monga n 3.53 20 76.43 2.35 100.00 25 Ka b. Gres i k 1.22 12.2 75.65 8.54 100.00 26 Ka b. Ba ngka l a n 3.61 27.71 67.47 4.82 100.00 27 Ka b. Sa mpa ng 25.32 72.15 2.53 100.00 28 Ka b. Pa meka s a n 15 76.36 100.00 29 Ka b. Sumenep 8.64 23.46 68.67 3.7 100.00 71 Kota Kedi ri 4.17 11.11 75.19 6.94 100.00 72 Kota Bl i ta r 6.76 5.41 87.93 5.41 100.00 73 Kota Ma l a ng 1.25 10 79.40 3.75 100.00
74 Kota Probol i nggo 6.85 13.7 79.56 2.74 100.00
75 Kota Pa s urua n 4 16 81.33 2.67 100.00 76 Kota Mojokerto 10.14 84.06 5.8 100.00 77 Kota Ma di un 7.04 82.88 8.45 100.00 78 Kota Sura ba ya 1.63 15.45 69.84 11.38 100.00 79 Kota Ba tu 3.33 14.44 79.78 2.22 100.00 35 Jawa Timur 3.56 15.41 76.39 4.64 100.00 Tabel 2.47
Persentase balita Menurut Status Gizi Tahun 2012
BAB II - 71
2.2.2.3 Ketenagakerjaan
2.2.2.3.1. Rasio Penduduk Yang Bekerja
Gambaran situasi ketenagakerjaan secara Nasional dapat diperoleh dari Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan secara triwulanan sejak tahun 2011. Data ketenagakerjaan per triwulanan pada umumnya dapat menjelaskan kondisi ketenagakerjaan yang bersifat musiman. Hal ini dikarenakan sebagian besar tenaga kerja di Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya masih bertumpu pada sektor Pertanian yang banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim.
Pada triwulan ketiga 2012, situasi ketenagakerjaan di Jawa Timur masih relatif membaik meskipun hubungan industrial antara pengusaha dan buruh belum harmonis, terutama dengan adanya tuntutan buruh yang terkait dengan penentuan upah minimum kabupaten/kota (UMK), upah minimum sektoral (UMS) dan penghapusan sistem outsourching. Jumlah pekerja di Jawa Timur pada Agustus 2012 tercatat sebanyak 19,081 juta orang atau meningkat 141.655 orang dibandingkan Agustus 2011. Sementara jumlah angkatan kerja di Jawa Timur mengalami peningkatan 139.672 orang yaitu dari 19,761 juta orang tahun 2011 menjadi 19,901 juta orang pada tahun 2012. Sedangkan kondisi tahun 2013 (Februari), jumlah angkatan kerja mencapai 20.095 juta orang dengan jumlah pekerja sebanyak 19.291. Dengan demikian peningkatan jumlah pekerja menjadi tidak signifikan jika dibandingkan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja. Hal ini dapat menggambarkan bahwa kompetisi diantara angkatan kerja semakin ketat.
Gambar 2.32
Perkembangan Jumlah Angkatan Kerja dan dan Pekerja di Jawa Timur Tahun 2009 – 2013 (Jutaan Orang)
BAB II - 72
Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, dapat menyerap pertambahan angkatan kerja. Dalam ilmu ekonomi, kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian, keterampilan dan bakatnya masing-masing. Kesempatan Kerja (demand for labour) adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja). Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja. Rasio penduduk yang bekerja pada tahun 2012 sebesar 95,88 persen yang berarti bahwa dari 100 orang jumlah angkatan kerja, terdapat 96 orang diantaranya terserap dalam lapangan pekerjaan yang tersedia. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 0,04 persen poin dibandingkan tahun 2011.
Tabel 2.48
Rasio Penduduk Yang Bekerja Menurut kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2012
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012 (1) (2) (3) (4) (5) Kabupaten 01 Pacitan 97.09 106.51 118.85 84.02 02 Ponorogo 90.29 106.96 100.42 91.25 03 Trenggalek 94.90 101.45 104.04 86.64 04 Tulungagung 95.53 104.34 101.28 91.50 05 Blitar 93.51 100.12 98.20 90.66 06 Kediri 89.08 96.05 92.85 95.40 07 Malang 97.16 94.96 92.61 94.65 08 Lumajang 94.25 105.56 88.84 99.32 09 Jember 94.95 102.50 93.54 102.87 10 Banyuwangi 95.53 98.73 97.07 90.41 11 Bondowoso 91.95 96.29 101.37 94.85 12 Situbondo 95.55 100.23 98.72 95.61 13 Probolinggo 93.74 97.57 103.77 88.43 14 Pasuruan 93.94 95.50 95.84 94.37
BAB II - 73 Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012 (1) (2) (3) (4) (5) 15 Sidoarjo 88.90 82.19 90.05 99.56 16 Mojokerto 92.29 94.85 95.54 95.15 17 Jombang 92.57 106.45 93.31 98.68 18 Nganjuk 91.81 107.34 89.27 98.94 19 Madiun 94.18 95.05 91.28 96.32 20 Magetan 92.07 97.44 111.75 91.65 21 Ngawi 85.86 105.34 94.88 103.13 22 Bojonegoro 94.52 103.23 91.81 97.69 23 Tuban 92.54 96.19 96.11 101.03 24 Lamongan 94.51 103.82 90.51 98.28 25 Gresik 92.38 93.98 88.51 104.98 26 Bangkalan 87.83 104.16 93.89 91.54 27 Sampang 93.71 105.68 103.75 84.73 28 Pamekasan 94.04 104.79 105.77 84.57 29 Sumenep 96.61 99.46 102.97 87.69 Kota 71 Kediri 92.16 92.01 89.01 95.90 72 Blitar 90.18 96.57 90.92 99.48 73 Malang 86.59 95.37 83.90 97.84 74 Probolinggo 88.07 126.81 74.17 87.02 75 Pasuruan 84.14 102.11 81.38 95.37 76 Mojokerto 87.00 91.01 90.13 91.48 77 Madiun 86.63 87.85 87.78 102.31 78 Surabaya 91.13 93.79 84.44 98.56 79 Batu 86.23 97.89 93.13 92.94 Jawa Timur 92.84 98.86 94.62 95.16
Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur, Sakernas dan Susenas Tahun 2008-2012
2.2.3.Fokus Seni Budaya dan Olah Raga
Pembangunan seni dan Budaya pada dasarnya ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negative budaya global.
BAB II - 74
Pembangunan seni dan budaya ditujukan untuk memperkuat jati diri masyarakat seperti solidaritas social, rasa kekeluargaan, semangat gotong royong, penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa daerah. Melalui pengembangan seni dan budaya daerah diharapkan dapat mempertahankan serta mengembangkan potensi kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat.
Urusan seni, budaya dan olahraga tidak menujukkan gejala yang mengkhawatirkan. Semua masih berjalan dalam koridor yang tepat. Hanya perlu dijaga tren positif dan pengoptimalan segala potensi yang dipunyai Jawa Timur dalam konteks seni-budaya maupun olahraga, sehingga Pemerintah Jawa Timur perlu terus meningkatkan penyediaan ruang bagi tumbuh berkembangnya bidang seni dan Olah Raga, antara lain fasilitas olahraga, dan sanggar-sanggar seni bangi masyarakat.
2.2.3.1 Kebudayaan
2.2.3.1.1. Jumlah Grup Kesenian
Seni merupakan suatu karya yang dibuat atau diciptakan dengan kecakapan yang luar biasa sehingga merupakan sesuatu yang elok atau indah. Kebutuhan akan seni budaya merupakan kebutuhan manusia yang lebih tinggi diantara urutan kebutuhan lainnya. Seni budaya berkaitan langsung dengan kesejahteraan, keindahan, kebijaksanaan, ketentraman, dan pada puncaknya merupakan proses evolusi manusia untuk makin dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, seni budaya akan berkembang apabila masyarakat makmur dan sejahtera.
Pengembangan kebudayaan di Jawa Timur pada dasarnya merupakan upaya dalam rangka mewujudkan jati diri dan karakter bangsa yang tangguh, berbudi luhur, toleran dan beraklaq mulia. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai dan keragaman budaya, revitalisasi dan pelestarian seni budaya. Berdasarkan data dari dinas/instansi terkait bahwa jumlah kelompok/group kesenian pada tahun 2011 sebanyak 3.733 group dan meningkat menjadi 3.795 group pada tahun 2012.
2.2.3.1.2. Jumlah Gedung
Gedung budaya dan seni adalah sebuah tempat atau bangunan yang mempunyai fungsi sebagai arena atau ajang pertunjukan kebolehan, bakat dalam bidang seni dan budaya bangsa. Contoh budaya bangsa seperti tari remo, lukisan atau seni–seni yang lainnya. Berdasarkan data dari dinas terkait jumlah gedung/ sarana penyelenggara kesenian di Jawa Timur berjumlah 1260 gedung pada tahun 2011 dan tidak mengalami perubahan pada tahun 2012.
BAB II - 75
2.2.3.2 Pemuda dan Olah Raga
2.2.3.2.1. Jumlah klub olah raga
Pengertian klub olah raga adalah perkumpulan yang menyelenggarakan kegiatan di bidang olahraga bagi para anggotanya guna peningkatan prestasi maupun dengan tujuan lain yaitu menjaga kesehatan. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya berolahraga baik untuk prestasi maupun menjaga kesehatan, maka klub-klub olahraga pun semakin diminati, terutama di daerah perkotaan. Selain itu, keberadaan klub-klub olahraga memberikan kontribusi peningkatan prestasi olah raga regional dan nasional baik yang bersifat amatir maupun profesional. Oleh karena itu jika prestasi olahraga semakin baik maka semakin harum dan terpandang suatu daerah/negara, hal ini juga menjadi salah satu indikator keberhasilan pimpinan daerah/Negara tersebut. Beberapa klub olahraga yang kini banyak diminati antara lain klub sepak bola, bulu tangkis, bola volley, bola basket, bersepeda, futsal, dan lain-lain.
Berdasarkan data dari Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Kabupaten/Kota Se Jawa Timur terdapat 7.171 klub olahraga di tahun 2011 yang terdiri dari klub sepak bola, bulu tangkis, bola volley, bola basket dan lainnya. Pada tahun 2012 jumlah klub olah raga meningkat menjadi 7.864 klub. Jumlah klub terbanyak baik tahun 2011 dan 2012 adalah klub bola volley. Sedangkan yang mengalami kenaikan terbesar adalah cabang olah raga sepak bola naik 260 klub.
2.2.3.2.2. Jumlah gedung olah raga
Sekarang ini, kegiatan olahraga bukan saja untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, tetapi juga merupakan salah satu hiburan bagi para peminat olahraga sekaligus mempererat hubungan sosialisasi masyarakat dengan lingkungan sekitarnya. Dengan berkembangnya dunia olahraga, maka semakin banyak peminat olahraga dan muncul klub-klub olahraga, sehingga memacu diadakannya kompetisi olahraga.
Untuk memenuhi kebutuhan akan sarana latihan dan pertandingan olahraga maka perlu adanya sarana gedung yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam jenis olahraga. Walaupun banyak juga olahraga yang bisa dilakukan di luar gedung, akan tetapi keberadaan gedung olahraga jelas-jelas sangat dibutuhkan untuk mendukung berlangsungnya kegiatan olahraga. Gedung olahraga terutama diperuntukkan bagi olahraga yang sudah sangat umum dan digemari oleh masyarakat, seperti badminton, bola basket, bola voli, tenis meja, dan futsal yang saat ini sedang meningkat penggemarnya.
BAB II - 76
Berdasarkan data yang dihimpun dari dinas/instansi terkait Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota pada tahun 2011 jumlah gedung olah raga sebanyak 179, kolam renang 118, stadion 41 dan lapangan sepak bola sebanyak 1.283, sedangkan pada tahun 2012 sebanyak 192 gedung olah raga, kolam renang 135, stadion 41 dan lapangan sepak bola sebanyak 1.598. Dari data diatas dari tahun 2011 ke tahun 2012 yang mengalami kenaikan signifikan adalah lapangan sepak bola naik 315, kenaikan ini sudah biasa karena cabang olah raga sepak bola merupakan ikon masyarakat baik di daerah perdesaan maupun perkotaan, bahkan olah raga terpopuler di dunia.