Secant pile atau bisa juga dikenal dengan istilah retaining wall pile
beruntun adalah jenis dinding penahan tanah yang jarak antar pilenya berdempetan dan saling bersinggungan satu sama lain yang bergua untuk mendapatkan daya tanah terhadap tekanan tanah (tekanan lateral).
Dua jenis pile yang digunakan memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda. Hal ini dikarenakan kedua jenis pile ini memiliki fungsi yang tidak sama. Salah satu pilenya menggunakan tulangan (Secondary pile) dan yang satunya tanpa menggunakan tulangan (Primary pile). Secondary pile ini berfungsi sebagai elemen struktural yang memberikan kapasitas lentur sistem secant pile. Sedangkan primary pile berfungsi sebagai penutup galian dan pengendap.
Gambar 2.12 Primary pile dan Secondary pile saling menempel satu sama lain untuk
membentuk dinding
Dalam lapangan secant pile digunakan untuk menghindari agar tanah dan material lainya tidak mengalami penurunan atau longsor, juga agar untuk menjaga kestabilan dan daya dukung dari tanah di sekitar pondasi ini. Untuk mengetahui kestabilan dari tanah di sekitar secant pile dapat dilakukan dengan cara pengukuran. Adapun alat ukur yang digunakan untuk mengukur atau mengikat pondasi secant pile dengan tanah adalah angkuar yang dipasang dengan sudut kemiringan tertentu kedalam tanah..
Gambar 2.13 Plan Koordinat Secant Pile dan Bore Pile pada Underpass Karanglo
Gambar 2.15 Koordinat Titik Primary Pile (kanan)
Gambar 2.17 Koordinat Titik Secondary Pile (kanan)
Gambar 2.18 Koordinat Titik Bore Pile (tengah)
Perhitungan daya dukung tiang didasarkan pada dua hal, yaitu tahanan ujung tiang (end bearing capacity) dan tahanan gesekan tiang (Friction bearing
capacity).
Qu = Qp + Qs ...(2.78)
dengan :
Qu = kapasitas tiang ultimate (maksimal), Qp = kapasitas ujung tiang,
a. Kontrol Kedalaman Dinding Berdasarkan Hydrodynamic
Kedalaman yang aman terhadap Hydrodynamic adalah konstruksi dinding yang aman pada saat proses penggalian, sehingga nanti arah aliran air tanagh tidak akan menjadi masalah yang serius dan penggalian akan dapat dilakukan.
i (gradien hidrolis) x SF < icr (gradien hidrolis kritis) iexit x 1.2 < icritical
x 1.2 < ………(2.79)
dengan,
= Perbedaan tinggi muka air tanah dengan dredge line Dc = Kedalaman aman berdasarkan hydrodynamic
= Berat jenis efektif tanah
w = Berat jenis air
b. Kontrol terhadap Uplift
Adanya beban uplift dan air tanah mengakibatkan konstruksi terkena bahaya beban angkat keatas. Untuk itu dilakukan anallisa antara kesetimbangan beban dengan uplift, sebagai berikut ini :
Fu = w.hw.A………...………...….(2.80)
SF =
> 1,2………...…...…...(2.81)
dengan,
Fu = gaya uplift
w = berat jenis air hw = tinggi air A = luas plat
c. Metode Pengerjaan Secant Pile 1. Penentuan titik pengeboran
Penentuan titik pengrboran ini dilakukan dengan cara menggunakan alat
theodolite / water pass dengan mengacu gambar kerja yang telah disetujui.
diperoleh hasil yang maksimal. Setelah titik-titik galian pondasi didapat, maka proses penggalian dapat dimulai.
2. Pengeboran dengan Auger
Pengeboran pertama di gunakan auger sebagai mata bor dan soilmec sebagai mesinnya. Urutan pengeboran dilakukan mulai dari titik 1, 3, 5, dan seterus nya (spasi 1 primary pile). Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadi nya kelongsoran. Kemudian setelah primary pile 1, 3, 5 telah dicor, kemudian pengeboran dilanjutkan ke primary pile 2, 4, 6 dan seterusnya.
3. Pemasangan casing
Setelah proses pengeboran selesai barulah akan dilakukan pengecoran, tetapi sebelum dilakukan nya pengecoran terlebih dahulu dipasang casing dan dilanjutkan dengan pemasangan pipa tremi kedalam lobang bor. 4. Pengeboran dan pengambilan tanah dengan Bucket Bor
Setelah pengeboran telah mencapai kedalaman yang ditentukan kemudian mata bor yang di gunakan pun di ganti dengan mata bor Bucket, Bucket yaitu untuk membuang tanah atau lumpur di dasar lubang.
5. Pemindahan tanah hasil ke permukaan
Tanah hasil pengeboran di letakan di sekitar lobang bor sebelum nanti di angkut menggunakan truck untuk di keluarkan dari area proyek.
6. Memasukan keranjang besi yang sudah dirakit hanya untuk secondary pile Pengangkatan tulangan baja serta untuk memasukkan nya kedalam lobang bor di gunakan bantuan alat berat berupa excavator dan crane, di gantungkan saling penyanggah di tiap ujung tulangan besi, lalu di dekatkan ke lobang lobang bor lalu di masukan secara vertikal.Setelah ujung tulangan di masukan kedalam lobang bor lalu bagian atas nya di gantungkan pada casing supaya dapat di lakukan penyambungan untuk tulangan selanjutnya. Tulangan selanjutnya kembali di angkat seperti tulangan pertama lalu di lakukanlah penyambungan, penyambungan di lakukan menggunakan mesin las listrik. Jarak antara tiap sambungan tulangan pertama dan tulangan selanjutnya adalah kurang lebih 1 meter.
7. Pengecoran primary pile
Setelah proses pengeboran selesai barulah akan dilakukan pengecoran
primary pile, tetapi sebelum dilakukan nya pengecoran terlebih dahulu
dipasang casing dan dilanjutkan dengan pemasangan pipa tremi kedalam lobang bor.
8. Pengecoran Secondary pile
Setelah proses pemasangan tulangan baja maka proses selanjutnya adalah pengecoran beton dengan mutu beton K-350. Proses ini pun sama seperti pengecoran pada primary pile mulai dari pemasangan casing, pemasangan pipa tremi dan pengambilan sample beton baru kemudian dilakukan pengecoran beton kedalam lobang bor.
9. Pencabutan casing dan pipa tremi
Pada saat lobang bor sudah terisi penuh oleh beton maka pipa tremi dan casing harus di angkat keluar. Setelah peroses pengecoran secondary pile selesai maka terbentuklah pondasi secant pile
d. Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan:
1. Penggunaan secant pile tidak membutuhkan area yang luas untuk membuat konstruksi dan menahan rembesan air.
2. Dapat diterapkan pada tanah dengan kondisi sulit atau level muka air yang tinggi.
Kekurangan :
1. Waktu pengerjaaan lebih lama karena pengecoran dinding banyak. 2. Pelaksanaan pemasangan yang tidak presisi akan membuat bentuk
secant pile tidak rata.
2.8 Tekanan Tanah Aktif dan Pasif