HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskriptif Objek Penelitian
2. Secara Administrasi geografis Kabupaten Bantaeng
Kabupaten Bantaeng terdiri dari 8 kecamatan dengan 67 kelurahan/desa. Secara geografis, Kabupaten Bantaeng terdiri dari 3 kecamatan tepi pantai ( Kecamatan Bissappu, Bantaeng dan Pa’jukukang), dan
5 kecamatan bukan pantai (Kecamatan Uluere, Sinoa, Gantarangkeke, Tompobulu, dan Eremerasa) dengan perincian 17 desa/kelurahan pantai dan 50 desa/kelurahan bukan pantai .
Table 2
Posisi Geografis Kabupaten Bantaeng Menurut Kecamatan
Kecamatan Bujur Lintang Ketinggian
(mdpl) Bissappu 119054’47’’ BT 05032’54’’ LS 25 – 100 m Uluere 119054’47’’ BT 05026’46’’ LS 500 – 1000 m Sinoa 119055’39’’ BT 05030’10’’ LS 100 – 500 m Bantaeng 119056’58’’ BT 05032’37’’ LS 25 – 100 m Eremerasa 119058’45’’ BT 05031’07’’ LS 500 – 1000 m Tompobulu 120002’26’’ BT 05027’08’’ LS 500 – 1000 m Pa’jukukang 120001’08’’ BT 05033’30’’ LS 25 – 100 m Gantarangkeke 120002’19’’ BT 05030’01’’ LS 300 – 500 m 3. Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Bantaeng pada tahun 2018 adalah sekitar 186.612 jiwa yang terdiri dari 96.731 perempuan dan 89.881 laki-laki yang tersebar di 8 kecamatan yang ada di Kabupaten dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,56 persen dari tahun 2017. Berikut ini adalah proyeksi penduduk Kabupaten Bantaeng tahun 2018 menurut kecamatan:
Table 3
Proyeksi Penduduk Kabupaten Bantaeng menurut Kecamatan, Tahun 2018
No Kecamatan Penduduk 1 Bissappu 32.663 2 Uluere 11.419 3 Sinoa 12.491 4 Bantaeng 38.776 5 Eremerasa 19.660 6 Tompobulu 24.201 7 Pajukukang 30.643 8 Gantarangkeke 16.757 Total 186.612
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantaeng
Berdasarkan table diatas, penduduk paling banyak terkosentrasi di Kecamatan Bantaeng dan Kecamatan Bissappu yaitu sebanyak 38.776 jiwa dan 32.663 jiwa. Sedangkan kecamatan Uluere merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit yaitu sebesar 11.416 jiwa atau 6.12 persen dari jumlah penduduk Kabupaten Bantaeng.
Dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Bantaeng pada tahun 2017 sebesar 185.581 jiwa, penduduk Bantaeng mengalami peningkatan sebanyak 1.031 jiwa pada tahun 2018. Banyaknya jumlah penduduk ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Kabupaten Bantaeng untuk dapat menyejahterakan kehidupan masyarakat. Jumlah penduduk yang semakin bertambah dan memiliki kualitas yang baik adalah asset yang sangat bermanfaat dalam mendorong laju perekonomian. Penyediaan sarana dan prasarana mendukung seperti sarana kesehatan, pendidikan, dan perekonomian harus ditingkatkan untuk dapat mencapai penduduk yang berkualitas dengan mempertimbangkan konsentrasi penduduk disetiap wilayah.
Dampak keberhasilan pembangunan kependudukan diantaranya terlihat pada komposisi penduduk menurut jenis kelamin (sex ratio) dan angka ketergantungan (dependency ratio). Sex ratio didefenisikan sebagai perbandingan jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk perempuan.
Pada tahun 2018 rasio jenis kelamin di Kabupaten Bantaeng menunjukkan angka dibawah 100 yaitu 93. Artinya jumlah penduduk perempuan di Kabupaten Bantaeng 7 persen lebih banyak dari penduduk laki-laki, dengan kata lain untuk setiap 100 penduduk wanita terdapat 93 penduduk laki-laki. Lebih banyaknya jumlah penduduk perempuan dibandingkan laki-laki ini diduga salah satu penyebabnya karena penduduk laki-laki banyak yang bekerja untuk mencari nafkah dan menetap di luar daerah, seperti Kota Makassar dan sekitarnya, namun tidak mengesampingkan bahwa jumlah kelahiran lebih dominan jenis kelamin perempuan.
Dilihat sebesarannya menurut kecamatan, bahwa kecamatan yang memiliki sex ratio paling tinggi adalah Kecamatan Uluere yaitu sebesar 97, sedangkan Kecamatan Tompobulu merupakan kecamatan dengan nilai sex ratio terendah yaitu sebesar 89. Selain sex ratio, pengelompokkan penduduk berdasarkan umur produktif dan tidak produktif juga sangat penting. Semakin banyak penduduk usia produktif yang berpendidikan berarti semakin mampu suatu daerah mengembangkan aktivitas ekonominya. Indikator yang biasa digunakan adalah indikator dependency ratio yang menggambarkan total rasio ketergantungan penduduk usia tidak produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan
kelompok umur 65 tahun keatas) bagi penduduk usia penduduk usia produktif (kelompok umur 15-64 tahun).
Indikator ini merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur dampak keberhasilan pembangunan kependudukan disuatu daerah. Pembangunan di bidang kependudukan dikatakan berhasil jika nilai dependency ratio-nya rendah. Semakin rendah nilai dependency ratio berarti semakin rendah angka beban ketergantungan, karena semakin kecil angka beban ketergantungan akan memberikan kesempatan bagi penduduk usia produktif untuk meningkatkan kualitas dirinya.
4. Sejarah Terbentuknya Kabupaten Bantaeng
Sejarah terbentuknya kabupaten Bantaeng berawal dari nama “Bantayan” yang kemudian diganti dengan “Bhontain” dan terakhir terganti nama menjadi “Bantaeng” berdasarkan keputusan DPRD-GR Kabupaten Bantaeng Nomor 1/Kpts/DPRD-GR/I/1962 tanggal 22 januari 1962. Bantaeng memiliki makna yakni tempat pembantaian hewan dan sapi/kerbau dimasalalu untuk menyambut dan menjamu utusan Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit ketika memperluas wilayahnya ke bagian timur Nusantara sekitar abad ke XII dan XIII.
Bantaeng merupakan kabupaten yang dikenal dengan julukan “Butta Toa”, oleh sebab itu Bantaeng memiliki latar belakang sejarah yang sudah diketahui dimana telah terbentuk sejak tanggal 7 Desember 1254 sesuai dengan hasil keputusan Musyawarah Besar Kerukunan Keluarga Bantaeng (KKB) yang diselenggarakan pada tanggal 24 Juli 1999, dimana sesuai pertimbangan, saran dan alasan para narasumber, pakar dan ahli sejarah serta tokoh pemuka
masyarakat yang berasal dari Bantaeng maupun tokoh yang masih mempunyai keterkaitan moral dengan Kabupaten Bantaeng. Berdasarkan penulusuran sejarah dan budaya, baik pada awal masa pemerintahan Kerajaan, masa pemerintahan Hindia Belanda, masa pemerintahan awal kemerdekaan hingga terbentuknya Kabupaten Daerah Tingkat II Bantaeng Berdasarkan Undang-Undang No. 29 tahun 1959 sampai sekarang.
Masa Terbentuknya Kabupaten Bantaeng Daerah TK. II Bantaeng Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959.
Berdasarkan Undang-Undang nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah-daerah tingkat II di Sulawesi, maka status Bhontain sebagai daerah Afdeeling berakhir dan selanjutnya menjadi Kabupaten Daerah Tingkat I Bonthain berubah menjadi Bantaeng dengan alasan nama itu tidak sesuai dengan alasan kemerdekaan, karena nama Bonthain berbau ciptaan belanda. Perlu diketahui bahwa Drs. H. Azikin Sulthan M.Si adalah sebagai Bupati Kepala Daerah pertama pada era reformasi hingga memasuki berlakunya undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang merubah status sebagai pemerintah daerah otonomi. Maka tanggal 25 Juni 208 terjadi sejarah baru di daerah Bantaeng yakni diberlakukannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dimana dilaksanakan pemilihan pemimpin Pemerintah oleh rakyat tanpa terwakili DPRD maka pada saat itulah hanya empat pasangan putra terbaik dipilih rakyat yang diusung oleh sejumlah partai yang duduk di parlemen sebagai wakil rakyat telah menempatkan yakni:
a. Drs. H. Syahan Solthan, M.Si
b. DR. Ir. HM.Nurdin Abdullah, M.Agr c. Ir. H. Arfandi Idris, S. H
d. H. Ibrahim Solthan, S.Sos
Namun dalam pelaksanaan pesta Demokrasi Rakyat Bantaeng yang ditentukan 127 ribu suara rakyat dengan tingkat persentasi sebesar 46 persen, maka dengan secara otomatis DR. Ir. HM. Nurdin Abdullah, M.Agr. adalah terpilih sebagai pemimpin Bantaeng periode 2008 sampai tahun 2013.
Kabupaten Bantaeng sebagian besar penduduknya petani, maka wajar bila Bantaeng sangat mengandalkan sektor pertanian. Masuk dalam pengembangan Karaeng Lompo sebab memang jenis tanaman sayur-sayurannya sudah berkembang pesat selama ini. Kentang adalah salah satu tanaman holtikultura yang paling menonjol. Selain kentang holtikultura lainnya seperti kool, wortel maupun buah-buahan seperti pisang dan mangga.
4. Potensi Wilayah Kabupaten Bantaeng
a. Potensi Ekonomi
Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat dan timur sepanjang 21,5 kilometer yang cukup potensial untuk perkembangan perikanan dan rumput laut.
Kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Bantaeng menghasilkan keragaman hayati dan hewani yang dapat bernilai ekonomis. Dengan kondisi alam yang sangat cocok dengan berbagai jenis hewan dan tanaman memberikan peluang daerah Bantaeng untuk dikembangkan menjadi sentra produksi beberapa
komoditas unggulan, sehingga Bantaeng bisa menjadi sentra penghasil benih dan bibit unggul.
Beberapa komoditi yang sudah berhasil dikembangkan adalah tanaman pangan yaitu padi, jagung, talas, ubi kayu, kacang hijau, dan kacang tanah. Khusus untuk tanaman talas, daerah ini akan menjadi penghasil bibit tanaman talas dan akan disuplai ke daerah lain yang membutuhkan. Sedangkan untuk tanaman sayuran yang telah dikembangkan seperti kol, kentang,wortel, labu siam, bawang merah dan petai, menjadikan Kabupaten Bantaeng menjadi menyuplai komoditi inidi kawasan Sulawesi Selatan. Tanaman buah-buahan yang sudah berhasil dikembangkan seperti manga, strawberry dan apel. Pengembangan budidaya tanaman apel dan stroberry di daerah ini menjadi pemicu banyaknya wisatawan local yang berkunjung ke Bantaeng. Di bidang peternakan, selain ayam di daerah ini cocok dikembangkan ternak sapi, kuda dan kambing. Di bidang perkebunan iklim sebagian besar wilayah kabupaten Bantaeng cocok untuk tanaman kakao, kapuk, kopi, cengkeh, dan kelapa.
Di bidang perikanan khususnya budidaya rumput laut daerah ini berhasil merubah perekonomian masyarakat pesisir yang identik dengan masyarakat berpenghasilan rendah menjadi masyarakat yang berpenghasilan rendah menjadi masyarakat yang berpenghasilan memadai. Selain itu, telah dikembangkan budidaya ikan air tawar yang kedepannya Kabupaten Bantaeng akan menjadi Kabupaten produsen bibit ikan air tawar.
b. Potensi Pariwisata
Kabupaten Bantaeng kaya dengan potensi objek wisata baik wisata alam maupun wisata budaya dan merupakansalah satu sumber pendapatan ekonomi Kabupaten Bantaeng, beberapa diantaranya adalah:
1. Objek Wisata Alam
a. Permandian Alam Eremerasa
Permandian ini terletak di desa Kampala Kecamatan Eremerasa yang berjarak 16 km dari ibu kota Kabupaten Bantaeng atau sekitar 30 menit dengan perjalanan mobil.
b. Air Terjun Bissappu
Letaknya di Desa Bontosalluang Kecamatan Bissappu, jaraknya sekitar 5 km dari ibu kota Kabupaten Bantaeng melewati tanjakan yang berkelol-kelok. c. Pantai Pasir Putih Korong Batu
Letaknya tidak jauh dari jalan raya. Pantai ini berada di Desa Baruga, Kecamatan Pa’jukukang yang letaknya tidak jauh dari perbatasan Bantaeng-Bulukumba, jaraknya sekitar 18 km dari ibu kota Kabupaten Bantaeng
d. Pantai Seruni
Letaknya di Kelurahan Tappanjeng Kabupaten Bantaeng. Berada dalam kota Kabupaten Bantaeng, perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh sekitar 5 menit melewati jalan poros.
e. Wisata Agro
Terdiri dari kawasan holtikultura (lading wortel, kentang, lading kol, bawang merah) dan kawasan perkebunan (kebun kopi, cengkeh, durian, apel, rambutan, langsat, manggis, dan strowbery).
a. Desa Wisata Bonto Lojong
Merupakan salah satu desa destinasi pariwisata di Kabupaten Bantaeng yang perlu perhatian dari pihak pemerintah. Desa ini berpotensi sebagai desa wisata, letaknya di Kecamatan Uluere, 21 km dari ibukota kabupaten. Dengan kondisi jalan yang sudah di aspal hotmix, memungkinkan desa ini bisa pula melalui empat rute yang berbeda.
b. Wisata Outbond Loka c. Taman Bunga Mini Shofram d. Areal Persawahan
e. Areal Penanaman Rumput Laut
f. Kawasan Mancing
2. Objek Wisata Budaya, diantaranya: a. Rumah Adat Balla Lompoa Letta b. Lantebung
c. Lembang d. Bassia
e. Kawasan Adat Gantarangkeke Gua Batu Ejayya f. Pangngangreang Tudea
g. Masjid Tua Taqwa Tompong h. Makam Datuk Pakkalimbung i. Makam Tau Tetea ri Je’ne j. Makam Pra Islam
l. Komplek Pekuburan Belanda m. Pesta Adat Pajukukang n. Pesta Adat Gantarangkeke o. Atraksi Pepeka
p. Hari Jadi Bantaeng
Potensi Kabupaten Bantaeng memiliki luas lahan mencapai 0,63% dari luas Sulawesi selatan, dan masih memiliki potensi alam untuk dikembangkan lebih lanjut serta lahan yang dimiliki saat ini ± 39.583 Ha. Selain itu Bantaeng juga memiliki hutan produksi dengan luas lahan 1.262 Ha dan hutan lindung 2.773 Ha. Secara keseluruhan luas wilayah hutan yang berada di Kabupaten Bantaeng sebesar 6.222 Ha. Pengembangan potensi Kabupaten Bantaeng memiliki beberapa sektor yang dapat meningkatkan kualitas dari daerah Kabupaten Bantaeng diantaranya adalah:
1. Sektor Pertanian
Sektor pertanian merupakan potensi kabupaten Bantaeng yang memiliki komoditi unggul seperti jagung, kentang, wortel, pisang dan ubi jalar.
2. Sektor Perkebunan
Sektor perkebunan merupakan potensi Kabupaten Bantaeng yang memiliki komoditi unggul seperti kakao, kopi, cengkeh, jambu mete, jarak, kapuk, kemiri, pala, dan tembakau.
Sektor perikanan memiliki potensi dengan komiditi yang unggul seperti perikanan tangkap, budidaya kolam, budidaya laut, budidaya tambak dan rumput laut.
4. Sektor Industri
Sektor industri merupakan potensi Kabupaten Bantaeng yang berpeluang adanya peningkatan dimasa mendatang, namun untuk sektor industry memerlukan dana investor yang lebih besar agar bisa
memberikan dampak positif, dan meningkatkan pendapatan
masyarakat serta peluang kerja memberikan peluang kerja. 5. Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata merupakan potensi Kabupaten Bantaeng yang berkembang pesat karena adanya peningkatan pengunjung dari beberapa daerah dikarenakan Kabupaten Bantaeng adalah daerah tempat peninggalan-peninggalan sejarah. Setelah beberapa tempat wisata yang telah direnovasi seperti Eremerasa, Taman Mini Showfram, pantai marina, air terjun bissappu tak heran jika mencuri perhatian masyarakat untuk berkunjung.
B. Geografis Kantor Kelurahan Bonto Manai Kecamatan Bissappu
Kabupaten Bantaeng
Kelurahan Bonto Manai Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng memiliki tempat strategis yang berada di wilayah Panaikang tepatnya jalan poros Bantaeng-Jeneponto. Letak Kelurahan berada di tengah-tengah pemukiman warga. Kelurahan Bonto Manai memiliki luas lahan 3,37 km. Kelurahan Bonto Manai
Kecamatan Bissappu merupakan induk dari beberapa Desa dan Lurah yang berada di Kecamatan Bissappu. Kelurahan Bontomanai Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng merupakan kelurahan yang berada di lingkungan pertanian masyarakat.
C. Keadaan Demografi Kelurahan Bontomanai Kecamatan Bissappu
Kabupaten Bantaeng 1) Jumlah Penduduk
Dari data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Bonto Manai Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng mempunyai penduduk sebesar 3163 jiwa. Dengan rincian laki-laki sebesar 1618 jiwa, dan perempuan sebesar 1545 jiwa, serta jumlah kepala keluarga sebesar 940 jiwa. Adapun untuk lebih jelasnya sebagaimana yang tertera dalam table dibawah ini.
Table 4
Jumlah Penduduk Kelurahan Bonto Manai Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Keterangan
1 Laki-laki 1618
2 Perempuan 1545
Jumlah 3163
Sumber: Kelurahan Bonto Manai