• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secara bertahap, dengan pendampingan dan dukungan teknis dan dana, World Vision

mempercayakan pelaksanaan program-program pelayanannya untuk dijalankan oleh Wahana Visi Indonesia atau WVI.

Jika pada dekade 1980-an pelayanan Wolrd Vision di Indonesia masih berupa program Family Development (FD) dan Community Development (CD) pada 20 provinsi di Indonesia, memasuki dekade 1990-an World Vision dipercaya melaksanakan dua program goverment to goverment yakni di bidang peningkatan kesehatan dasar masyarakat Women and Their Children’s Health (WATCH) di Pegunungan Tengah, Papua serta Sanggau Child Survival Project (SCSP) di Sanggau, Kalimantan Barat. Dua proyek ini mampu membuat terobosan dalam meningkatkan ketahanan dan kualitas hidup anak dan ibu.

Dokter Sukwan Handali, dokter teladan nasional yang pernah mengabdi di Tiom, Lanny Jaya menjadi pimpinan lapangan program WATCH. Ia dibantu oleh Saptono Joko Priyadi, Susana Srini, Martha Kombong, dan staf lainnya. Semua staf adalah orang Indonesia. Dua program ini menjadi semacam “latihan” bagi staf Indonesia untuk menunjukkan kemampuannya mengadatapsi dan menjalankan pendampingan teknis yang dilakukan oleh World Vision.

Pada sisi lain, kemajuan ekonomi pada era 1980-1990 ikut membantu pamor Indonesia di mata dunia. Lahir kelas menengah baru yang jumlahnya mencapai puluhan juta orang. Hidup mereka berkecukupan. Tidak sangat kaya, namun tidak miskin.

Dalam konteks perkembangan ekonomi dan kelas menengah Indonesia ini pula, mulai dipikirkan agar masyarakat Indonesia dilibatkan dalam mendukung program pengentasan kemiskinan.

Kelompok ini diarahkan untuk membantu pengentasan kemiskinan di daerah-daerah yang masih sangat tertinggal dengan menjadi pendonor atau sponsor lokal.

Program sponsor lokal untuk anak memang sedang digencarkan dan menjadi bagian dari kebijakan World Vision secara global. Negara-negara yang mulai maju perekonomiannya didorong melakukan kebijakan sponsorship di dalam negerinya sendiri. Indonesia termasuk negara yang dinilai ekonominya mulai maju pada waktu itu.

Langkah awalnya adalah para staf World Vision dan keluarga diajak menjadi sponsor lokal. Mereka diminta menyumbang Rp30 ribu setiap bulan untuk setiap anak. Jika dirasa berat, dua-tiga staf bergabung menanggung seorang anak.

Sebagai proyek percontohan, para staf mensponsori 100 orang anak di Kampung Patriot Merauke, Papua. Ternyata banyak staf dan keluarga yang tergerak hatinya untuk menyumbang. Dana yang terkumpul dipakai untuk menopang pendidikan dan perbaikan gizi 100 anak tersebut. Inisiatif ini di kemudian hari memberi inspirasi bagi pimpin WVI untuk menawarkan program sponsor anak secara lebih luas yakni kepada masyarakat Indonesia.

WVI mengelola hasil pengumpulan dana dari para sponsor lokal ini. Sebab sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia, seperti sudah disebutkan di atas, non-governmental organization (NGO) asing tidak boleh melakukan kegiatan pengumpulan dana di Indonesia.

Jumlah dana santunan yang masih kecil membuat program sponsor lokal ini masih dilaksanakan dalam lingkup yang kecil pula. Setelah Kampung Patriot di Merauke, satu wilayah dibuka lagi yakni di distrik Pantai Kasuari, Merauke.

Pantai Kasuari dalam sejarah sponsor lokal yang dikelola WVI telah menjadi ikon.

Wilayah ini menjadi simbol kebangkitan yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia bisa berbagi dengan mereka yang lemah dan marjinal.

Pantai Kasuari menurut James Tumbuan berangkat dari minus. “Pantai Kasuari berangkat dari minus. Tetapi sekarang kita sudah melihat buah-buahnya. Berapa banyak di antara mereka yang sudah bisa membaca? Berapa banyak yang sudah menjadi pegawai pemerintah? Memang kalau dibandingkan dengan daerah lain mereka masih tertinggal, tetapi dari minus ke positif itu pencapaian yang luar biasa. Itu karena World Vision dan WVI pernah berada di sana,” kata direktur nasional World Vision Indonesia periode 1997-2006 itu.

Gema sponsorship lokal mulai terdengar hingga ke kota-kota lain seperti Bandung dan Surabaya. Para staf WVI terus melakukan presentasi agar program ini tersosialisasi kepada lebih banyak orang. Pendekatan pribadi juga dilakukan.

Pada dasarnya WVI tidak datang dan meminta dana untuk membantu anak-anak kurang mampu. Tetapi mengajak sponsor untuk ikut ambil bagian dalam kerja besar yang sedang dilakukan WVI.

“Pendekatan kami dari sejak awal tidak sekedar meminta dana, tetapi mengajak warga untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada anak dan masyarakat, termasuk sponsorhip,” kata Ruddy Koesnadi, Ketua Pembina (board) WVI periode 2015-2019 dan anggota board World Vision International periode 2010-2019.

Banyak cara ditempuh untuk menggalang sponsor yang lebih banyak. Bermula dari pagelaran Gema Pantai Kasuari, para artis sebagai figur yang dikenal publik mulai diajak ambil bagian sebagai Hope Ambassador. Mereka mewakili WVI membagi visi

dan harapan untuk membangun kehidupan anak lebih baik. Atau lebih tepatnya berpromosi tentang pentingnya masyarakat ambil bagian dalam pengentasan kemiskinan anak-anak di daerah tertinggal. Beberapa selebriti, pengusaha dan figur publik seperti Sidney Mohede, Becky Tumewu, Erwin Parengkuan, Monita Tahalea, Hanna Carol, Dewi Makes, Fransisca Tjong, dan Imelda Fransisca menjadi Hope Ambassador.

Sementara artis dan figur publik lainnya seperti Henny Purwonegoro, Tika Panggabean, Edrick Candra, Ari Wibowo, Novita Anggie, Edo Kondologit, Katon Bagaskara, Ricky Jo, Rio Febrian, dan Delon menjadi sponsor anak dan mengisi acara penggalangan dana yang dilakukan WVI.

Pada periode 2005-2009 jangkauan sponsor lokal semakin diperluas oleh karena tanggapan positif dari para pendonor lokal. Wilayah pelayanan baru di Singkawang dan Sambas di Kalimantan Barat, Halmahera Utara di Maluku Utara, Maro di Merauke, Papua serta Sikka di Flores, NTT dibuka atas pembiayaan oleh sponsor lokal. Untuk wilayah Sikka, Sambas dan Halmahera Utara, pembiayaan tidak hanya dilakukan oleh sponsor lokal bersama dengan support offices.

Program FD dan CD (yang juga dikenal sebagai Pelayanan Kesejahteraan Anak atau Propeka dan Program Kesejahteraan Keluarga dan Anak atau Prokeska) dinilai kurang efektif lagi untuk memerangi kemiskinan secara lebih menyeluruh. World Vision mengadopsi pendekatan pengembangan masyarakat berdasarkan wilayah (Area Development Program/ADP). Model pendampingan ini dilakukan oleh World Vision secara global. Skala jangkauan pendekatan ADP lebih luas dibandingkan dengan Propeka dan Prokeska. Jangka waktunya pun lebih panjang, yakni antara 10-15 tahun, dan bila perlu bisa diperpanjang beberapa tahun lagi.

Metode ini dirasa cocok, sebab seluruh program diarahkan untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan mereka. Program-program yang dilakukan World Vision adalah peningkatan pendidikan, kesehatan, prasarana dasar, pengorganisasian masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi.

Perbandingan sederhananya adalah sebagai berikut: Jika dalam Propeka dan Prokeska, anak-anak sponsor hanya berkisar 100-300 orang yang mendapatkan manfaatnya, maka pada pendekatan baru, anak yang terkena dampak program antara 1.000-4.000 dalam sebuah ADP. Jika hanya maksimal empat desa yang dijangkau dalam program terdahulu, maka dalam sistem ADP, tiga distrik bisa dijangkau sekaligus. Berarti puluhan desa bisa tercakup di dalamnya.

Sistem ADP ini juga disertai staf yang secara intensif mendampingi masyarakat dalam proses pemberdayaan. Mereka tinggal di lapangan. Melebur dalam kehidupan masyarakat. Program-program dilakukan dengan pendekatan pengembangan wilayah secara komprehensif. Artinya, program diarahkan agar berkelanjutan dan menumbuhkan kemandirian bagi masyarakat yang dilayani.

Semenjak World Vision Indonesia dipercaya menangani