terbukti memiliki asosiasi dengan
peningkatan daya saing produk
sentra
C A TA TA N P E L A J A R A N
DINAMIKA SENTRA
1. Hasil kajian secara umum menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di dalam sentra meningkat secara nyata sesudah pelaksanaan perkuatan. Peningkatan aktivitas ini tercermin dari peningkatan yang nyata dari indikator-indikator kapasitas sentra seperti omzet, penggunaan tenaga kerja dan jumlah unit usaha di dalam sentra. Kendati indikator kapasitas meningkat, tetapi kajian menunjukkan bahwa indikator produktifitas sentra mengalami penurunan antar sebelum dengan sesudah perkuatan. Gejala ini diduga terjadi karena (1) perkuatan membuat Pengusaha memiliki kesempatan untuk menggunakan kapasitas menganggur dari asset usaha yang dimilikinya, tetapi peningkatan produksi ini tidak diikuti dengan kenaikan daya serap pasar yang sesuai, (2) perkuatan diberikan kebanyakan kepada sentra pada tahapan produk menurun atau (3) perkuatan diberikan kebanyakan kepada sentra pada tahapan evolusi menurun. 2. Kajian terhadap sentra yang mengalami peningkatan omzet menunjukkan
bahwa tahapan produk yang diproduksi sentra merupakan faktor yang dapat membedakan antara sentra dengan pertumbuhan omzet diatas 50% dengan sentra dibawahnya. Tampak bahwa sentra yang berada dalam tahapan produk Terbentuk/Tumbuh memiliki pertumbuhan omzet yang relatif lebih besar dibandingkan kelompok sentra dengan tahap pertumbuhan produk yang lain. 3. Faktor pembentuk sentra adalah faktor yang diduga memunculkan sebuah
sentra. Kajian menemukan bahwa faktor pembentuk sentra adalah: (1) Permintaan Lokal yang didukung oleh sumberdaya alam yang melimpah, (2) permintaan pariwisata yang diikuti permintaan ekspor, serta (3) adanya inisiatif pemerintah. Sedangkan faktor yang mengembangkan keberadaan sentra hingga saat ini adalah: (1) Pasar, yang dibentuk oleh permintaan lokal, antar daerah, ekspor, pariwisata, perusahaan manufaktur lokal dan proyek pemerintah, (2) Perilaku pengusaha di dalam sentra, yaitu: Pengaruh individu
keunggulan brand awareness yang tinggi, (4) Teknologi, yang berasal dari dukungan perguruan tinggi atau Departemen teknis terkait dan (5) Pertumbuhan penduduk, seperti munculnya angkatan kerja baru dan pernikahan.
4. Daya saing, dalam kajian ini, diukur melalui perubahan komponen/proses usaha dalam sentra yang mengarah pada kemungkinan peningkatan daya saing suatu produk. Pengaruh perkuatan terhadap daya saing produk sentra, tampak dari asosiasi antara variabel efektifitas peran BDS dengan peningkatan daya saing sentra. Analisis korespondensi menunjukkan BDS dengan efektifitas yang tinggi berada di dekat sentra dengan peningkatan daya saing yang sedang dan tinggi. Namun hubungan ini diduga dibantu oleh adanya faktor keberadaan kelompok di dalam sentra dan tahapan sentra yang difasilitasi. 5. Keberadaan kelompok menjadi penting ketika kajian menganalisis informasi
yang diperoleh dari analisis korespondensi. Hasil analisis korespondensi antara peningkatan daya saing dan bentuk kerjasama menunjukkan bahwa (1) kerjasama pemasaran adalah hal paling umum yang dilakukan oleh semua sentra yang memperoleh perkuatan. (2) Setelah itu, kerjasama dalam perolehan bahan baku adalah hal yang dekat dengan perilaku sentra dengan peningkatan daya saing Sedang. (3) Sedangkan kerjasama produksi adalah pilihan dari sentra yang pengalami peningkatan daya saing tinggi. Hasil analisis korespondensi antara peningkatan daya saing dan komponen daya saing menunjukkan (1) Sentra dengan peningkatan daya saing rendah berkorespondensi dengan peningkatan kemampuan delivery produk, (2) Sentra dengan peningkatan daya saing Sedang berkorespondensi dengan penurunan biaya produksi, (3) Sentra dengan peningkatan daya saing Tinggi berkorespondensi dengan peningkatan kualitas produk.
Tingkat Perubahan Daya Saing Rendah Sedang Tinggi Komponen Daya Saing Delivery Cost Quality Bentuk Kerjasama Pemasaran Bahan Baku Produksi Kelompok - Ada Ada
Pilihan untuk melakukan kerjasama pemasaran sebagai langkah awal memang merupakan hal yang penting, namun jika dilihat hasil analisis, maka BDS-P dan Koperasi pendamping sentra tidak bisa berhenti hanya di situ. Pembukaan pasar berarti membawa produk ke tingkat persaingan yang lebih besar dan kebutuhan bahan baku yang lebih banyak/beragam. Untuk itu kerjasama pemasaran harus segera diikuti dengan bentuk kerjasama bahan baku dan produksi untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan memiliki cukup banyak komponen daya saing untuk bersaing di pasar. Yang menarik adalah; Peningkatan daya saing tinggi dan bentuk kerjasama yang lebih luas hanya dicapai oleh sentra-sentra yang memiliki keberadaan kelompok di dalam sentranya.
6. Dengan demikian, hingga saat ini, faktor kunci pengembangan sentra yang dapat ditarik dari kajian ini adalah (1) Efektifitas peran BDS, (2) Keaktifan Koperasi dalam sentra, (3) Tahap Produk, (4) Tahap Sentra, (5) Bentuk Kerjasama dan (6) Keberadaan Kelompok.
7. Kajian terhadap daftar masalah yang dihadapi dalam mengembangkan daya saing sentra menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
Masalah pokok yang dihadapi dalam upaya pengembangan daya saing sentra adalah Lemahnya Koordinasi antar instansi yang terkait melaksanakan tugas perkuatan terhadap UKM (pada umumnya) dan sentra UKM fasilitasi Kementerian Koperasi dan UKM (pada khususnya).
Masalah pokok ini muncul karena (1) Proses perencanaan pembangunan, baik di Pusat dan terutama di Daerah, tidak memasukkan perspektif pengembangan sentra UKM di dalamnya, (2) Kelemahan dalam Pengawasan dan Penegakan Peraturan, (3) Lemahnya sosialisasi yang membuat pemahaman terhadap peraturan dan tujuan perkuatan sentra menjadi kurang, (3) Kualitas SDM BDS dan Koperasi yang lemah, (4) Rendahnya ketrampilan manajerial Pengusaha/Pengrajin, (5) Perilaku tidak ingin maju dan tidak mau bekerjasama, dan (7) Kestabilan politik, hukum
Tidak dimasukannya perspektif pengembangan sentra dalam perencanaan daerah dan lemahnya koordinasi membuat kebijakan Pemerintah dan Pemda menjadi, terkadang, merugikan pengusaha mikro, kecil dan menengah. Hal yang amat dirasakan dalam kunjungan kajian adalah perda retribusi yang meresahkan pengusaha dan pengembangan wilayah yang menggusur atau menghilangkan faktor keunggulan geografis yang dimiliki sentra. Hal lain yang muncul dari masalah ini adalah lambatnya reaksi Pemerintah Daerah dalam mengakomodasi dinamika wilayah dan pasar yang ada di daerahnya. Kelambatan ini kadang membuat dampak perkuatan yang telah diberikan menjadi kehilangan momentum untuk dapat “digelindingkan” lebih jauh lagi.
Kelemahan koordinasi juga tercermin dari lemahnya koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat langsung melakukan perkuatan terhadap sebuah sentra. Rendahnya koordinasi antara BDS, Koperasi penyalur, dan Instansi yang menangani UKM di daerah acap membuat perkuatan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan pengusaha di dalam sentra. Hal ini diperburuk oleh rendahnya ketrampilan manajerial dan perilaku pengusaha dalam sentra, yang tidak mendukung seperti kurang kemauan untuk maju dan tidak mau bekerja sama.
Pandangan terhadap BDS menunjukkan bahwa baru 29% BDS dapat dikategorikan sebagai aktif berperan memberikan pengaruh/perubahan kepada sentra. Masih tersisa sekitar 71% BDS yang tidak aktif merubah sentra. Hal ini diduga disebabkan oleh: Kelemahan kualitas sumber daya manusia, rendahnya pemahaman peraturan dan tujuan perkuatan, serta lemahnya pengawasan dan penegakan peraturan. Di masa depan hal ini harus ditangani karena hasil kajian menunjukkan hubungan yang nyata antara efektifitas peran BDS dengan Peningkatan daya saing produk sentra.
Pandangan kepada Koperasi penyalur dana MAP kepada sentra menunjukkan bahwa setidaknya 84% Koperasi telah secara aktif menyalurkan dana MAP kepada pengusaha di dalam sentra. Namun, dari 84% tersebut, hanya 10% yang dengan aktif turut memberikan
perubahan/perkuatan kepada sentra. Hal ini kemudian menjadi tercermin pada rendahnya asosiasi antara peran Kopersi dan peningkatan daya saing produk sentra. Namun kajian menduga bahwa Koperasi berperan penting untuk memfasilitasi masuknya proses perkuatan kepada sentra. Hal ini terlihat dari besarnya asosiasi antara keaktifan peran Koperasi dengan Jumlah perkuatan yang diterima oleh sebuah sentra.
Perkuatan yang tidak sesuai kebutuhan, lemahnya koordinasi, rendahnya ketrampilan manajerial PMKM dan rendahnya kemauan/keinginan bekerjasama telah memunculkan persaingan harga yang tidak menguntungkan antar pengusaha dalam sentra, persaingan dalam memperoleh bahan baku antar sesama pengusaha di dalam sentra dan persaingan antar sentra di pintu gerbang ekspor utama produk kerajinan seperti di Jogja dan Bali. Munculnya persaingan antar sesama pengusaha di dalam sentra ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar tidak secepat pertumbuhan produksi yang dipacu oleh perkuatan yang diberikan. Persaingan ini memang diharapkan akan menemukan keseimbangannya melalui mekanisme pasar, namun hal ini telah menunjukkan bahwa perencanaan perkuatan dalam lingkup daerah, yang perlu didukung oleh upaya perencanaan dan koordinasi perkuatan dalam lingkup nasional.
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
Beberapa masalah lingkungan yang dihadapi dalam perkuatan sentra adalah (1) “hambatan” pelestarian lingkungan dan (2) daya dukung lingkungan alam. Hampir seluruh sentra yang bergerak di bidang kayu pada saat ini menghadapi hambatan perolehan bahan baku karena upaya pelestarian hutan yang dilakukan oleh Pemerintah. Di tahun 2004, pasokan kayu sempat terhenti karena pemasok tidak mungkin melakukan penebangan liar. Pada saat ini, harga kayu bahan baku produk sentra telah naik sekitar 30% karena pungutan retribusi kayu, baik retribusi resmi maupun yang tidak. Upaya pelestarian ini memang diperlukan dan itu
tahun-tahun mendatang akan ada banyak sentra pengguna bahan baku kayu yang akan mati.
Masalah daya dukung lingkungan mulai tampak di sentra kerajinan bambu dan mendong/purun yang berkembang pesat seperti di Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Kalimantan Selatan. Pada saat ini pengrajin bambu dan purun/mendong di daerah tersebut mulai merasakan kelangkaan bahan baku. Untuk itu, pengrajin di Jawa Barat, yang menghadapi kelangkaan paling parah, mulai mengganti bahan purun/mendong dengan bahan lain seperti kain dan serat eceng gondok.
Contoh daya dukung lingkungan yang lain terjadi di Sulawesi Selatan. Sebagai sentra beras, masalah utama mereka adalah menyusutnya lahan produktif penanaman beras karena dialihkan untuk hunian atau area komersial lainnya. Beberapa sentra di DKI Jakarta dan Jawa Barat juga harus kehilangan sebagian sentranya atau kehilangan keunggulan sentranya karena pembangunan wilayah yang dihadapinya. Sentra kerajinan bambu dan mendong di Rajapolah misalnya, harus mengalami penurunan penjualan harian sebesar 40% karena pembangunan jalan lintas telah mengalihkan arus kendaraan antar kota-antar propinsi dari kecamatan Rajapolah. Sentra kompor di Jakarta (tidak di cover dalam kajian ini) yang harus kehilangan area sentra karena pembangunan proyek pemukiman, dan lain-lain.
Hal ini menunjukkan perlunya memasukkan perspektif pembangunan sentra UKM dalam perencanaan wilayah kabupaten/kota dan kebijakan pelestarian dan daya dukung lingkungan.
P E N G I N T E G R A S I A N K E B I J A K A N P E N G E M B A N G A N S E N T R A K L A S T E R U K M
Berdasarkan catatan pelajaran tersebut diatas, maka pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia pada masa mendatang perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Memasyarakatkan visi pengembangan sentra klaster UKM kepada para stakeholder di Indonesia
2. Meningkatkan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksanaannya oleh para stakeholder di Indonesia.
3. Meningkatkan koordinasi program pengembangan sentra klaster UKM antar instansi pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.
4. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
5. Meningkatkan peran serta pemerintah propinsi, kabupaten/kota dalam program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
6. Meningkatkan konsistensi kebijakan pengembangan sentra klaster UKM. Jika suatu program gagal dalam implementasinya, perlu dievaluasi dan dicarikan jalan keluarnya yang konsisten dengan visi pengembangan sentra klaster, dan bukan hanya dihentikan program yang gagal dan selanjutnya diganti dengan program yang lain. Ketidak-konsistenan menerapkan kebijakan ini menjadikan masyarakat bingung, apatis dan sulit berperan aktif dalam program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
7. Mengembangkan sistem pemantauan dan evaluasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
8. Meningkatkan peran serta Kementerian Koperasi dalam penyusunan dan pelaksanaan program pendidikan nasional, khususnya yang berkenan dengan pengajaran materi kewirausahaan dan ketrampilan hidup kepada generasi muda.
Koordinasi menjadi kunci utama untuk mengintegrasikan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia pada masa mendatang, serta pembagian peran di kalangan stakeholder. Berikut ini beberapa langkah koordinasi dan pembagian
1) Kementerian Koperasi dan UKM perlu mengambil posisi sebagai koordinator program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia, karena telah secara nyata mengembangkan 920 sentra UKM di Indonesia (sampai dengan tahun 2003). Untuk itu, Kementerian Koperasi dan UKM memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan kebijakan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia
b. Mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia
c. Mengkoordinasikan penganggaran dan pembiayaan kegiatan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia
d. Mengkoordinasikan bantuan teknis dan dukungan kelembagaan untuk pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
e. Mengkoordinasikan proses pemantauan dan evaluasi program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia
f. Mengkoordinasikan dan memfasilitasi forum lintas pelaku pengembangan sentra klaster tingkat nasional.
g. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
2) Departemen Perindustrian dan Perdagangan memiliki fungsi sebagai berikut: a. Mengkoordinasikan dan memfasilitasi informasi pasar internasional dan
pasar domestik untuk berbagai komoditas yang dihasilkan sentra klaster UKM di Indonesia.
b. Mengkoordinasikan dukungan teknis untuk sentra industri kecil di Indonesia.
c. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
d. Mengkoordinasikan upaya peningkatan kualitas dan desain produk yang dihasilkan oleh sentra klaster UKM
e. Mengkoodinasikan pengidentifikasian, pemantauan dan evaluasi perkembangan sentra klaster industri kecil dan rumah tangga di Indonesia. 3) Departemen Pertanian memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis untuk sentra klaster UKM pertanian b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan
pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berbasis pertanian, peternakan, dan hortikultura.
c. Mengkoordinasikan pengidentifikasian, pemantauan dan evaluasi perkembangan sentra klaster UKM yang berbasis pertanian, peternakan, dan hortikultura
4) Departemen Kelautan dan Perikanan memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis untuk sentra klaster UKM yang berbasis kelauatan dan perikanan.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berbasis berbasis kelautan dan perikanan.
c. Mengkoordinasikan pengidentifikasian, pemantauan dan evaluasi perkembangan sentra klaster UKM yang berbasis kelautan dan perikanan. 5) Departemen Kehutanan memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis untuk sentra klaster UKM yang berbasis kehutanan dan perkebunan.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berbasis kehutanan dan perkebunan.
c. Mengkoordinasikan pengidentifikasian, pemantauan dan evaluasi perkembangan sentra klaster UKM yang berbasis kehutanan dan
d. Merencanakan alternatif tatalaksana perolehan bahan baku yang mendukung perkembangan sentra UKM yang berbasis kehutanan namun tetap dalam kerangka pelestarian sumber daya hutan Indonesia.
6) Departemen Tenaga Kerja memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan kebutuhan pasar tenaga kerja dalam sentra UKM. b. Mengkoordinasikan bantuan teknis pengembangan tenaga kerja dalam
sentra klaster UKM dan peningkatan kapasitas BDS-P.
c. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berkaitan dengan penyediaan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan sentra klaster UKM.
d. Bersama-sama dengan Departemen Pendidikan Nasional mengembangkan strategi pendidikan nasional untuk meningkatkan kualitas ketrampilan hidup (life skill) angkatan kerja nasional.
7) Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan pengembangan sarana dan parasarana untuk pengembangan sentra klaster UKM.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan prasarana dan tata ruang pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia. c. Memberikan perspektif pembangunan wilayah yang mendukung
pembangunan sentra yang telah ada di suatu kabupaten/kota. 8) Departemen Perhubungan memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis pengembangan transportasi lalulintas barang dari dan ke sentra klaster UKM.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berkaitan dengan penyedian transportasi yang dibutuhkan sentra klaster UKM.
9) Departemen Dalam Negeri memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan peran serta pemerintah propinsi, kabupaten/kota dalam pengembangan sentra klaster UKM di daerahnya.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
c. Mengkoordinasikan pengidentifikasian, pemantauan dan evaluasi peran serta pemerintah propinsi, kabupaten/ kota dalam pengembangan sentra klaster di Indonesia.
d. Mengkoordinasikan pencapaian stabilitas kemanan dalam negeri yang kondusif bagi kunjungan wisatawan dan arus transaksi barang hasil produk sentra UKM.
10) Kementerian Riset dan Teknologi memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis pengembangan teknologi tepat guna dan mendesiminasikan ke sentra klaster UKM.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berkaitan dengan penerapan teknologi tepat guna yang dibutuhkan sentra klaster UKM.
c. Mengkoordinasikan pengidentifikasian, pemantauan dan evaluasi penerapan teknologi tepat guna untuk sentra klaster UKM di Indonesia. 11) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan pengembangan sentra klaster UKM sebagai kawasan pariwisata.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berkaitan dengan upaya pengembangan sentra klaster UKM sebagai kawasan wisata.
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis pengembangan jaringan informasi pembangunan sentra klaster UKM di Indonesia.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berkaitan dengan sosialisasi pemasyarakatan pengembangan sentra klaster UKM. 13) Kementerian BUMN memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis dari BUMN untuk pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berkaitan program PUKK.
14) Kementerian Lingkungan Hidup memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan kebijakan lingkungan hidup dalam pengembangan sentra klaster UKM.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia terutama yang berkaitan dengan penerapan kebijakan lingkungan hidup.
15) Kementerian Pemberdayaan Wanita memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan bantuan teknis pemberdayaan wanita dalam sentra klaster UKM.
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan dukungan pemberdayaan wanita dalam pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
c. Mengkoordinasikan pengidentifikasian, pemantauan dan evaluasi pemberdayaan wanita dalam sentra klaster UKM di Indonesia.
16) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memiliki fungsi sebagai berikut: a. Mengkoordinasikan program pembangunan nasional yang pro
b. Mengkoordinasikan prioritas program pengembangan sentra klaster UKM sebagai program pembangunan prioritas yang berkelanjutan.
17) Bank Indonesia memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan kebijakan perbankan yang mendorong perbankan untuk membuka akses kepada UKM di dalam sentra klaster UKM.
b. Mengkoordinasikan pengembangan kapasitas BDS-P untuk memberikan layanan kepada sentra klaster UKM dalam mengakses pinjaman dari perbankan secara profesional.
18) Badan Pusat Statistik memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan pengumpulan dan penyajian data statistik sentra klaster UKM di Indonesia
b. Merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan kegiatan sensus dan survei perkembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
19) Pemerintah Propinsi memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengkoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pengembangan sentra klaster UKM di wilayahnya.
b. Mengalokasikan dana APBD yang memadai untuk pemeliharaan dan pengembangan sentra klaster UKM di wilayahnya.
c. Mengkoordinasikan bantuan teknis kepada pemerintah kabupaten/ kota untuk pengembangan sentra klaster UKM di wilayahnya.
d. Menyusun kinerja sentra klaster UKM di wilayahnya dan melaporkan kepada instansi terkait.
e. Memfasilitasi asosiasi BDS sebagai BDS fasilitator di wilayahnya dan mengembangkan forum pengembangan sentra klaster tingkat propinsi. 20) Pemerintah Kabupaten/ Kota memiliki fungsi sebagai berikut:
b. Mengalokasikan dana APBD yang memadai untuk pemeliharaan dan pengembangan sentra klaster UKM di wilayahnya.
c. Mengkoordinasikan bantuan teknis kepada sentra klaster UKM di wilayahnya.
d. Menyusun kinerja sentra klaster UKM di wilayahnya dan melaporkan kepada instansi terkait.
e. Memfasilitasi forum pengembangan sentra klaster tingkat kabupaten/ kota.
21) Asosiasi BDS Indonesia memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengembangkan kapasitas BDS-P anggotanya untuk melayani sentra klaster UKM binaannya.
b. Mengembangkan sistem informasi yang mudah diakses oleh anggotanya. c. Mengkoordinasikan pengumpulan data sentra, kinerja BDS-P dan
pengelolaan MAP, serta memberikan masukan kebijakan kepada pemerintah untuk pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia. d. Mitra kerja bagi pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah
kabupaten/ kota untuk pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
K E B I J A K A N P E N G E M B A N G A N S E N T R A - K L A S T E R U K M PA DA M A S A M E N DA TA N G
Disamping memperhatikan butir-butir tersebut diatas, Kementerian Koperasi dan UKM sendiri secara umum perlu memperbaiki beberapa kebijakan pengembangan UKM yang dilakukannya. Beberapa penyempurnaan yang diperlukan untuk pengembangan sentra UKM antara lain:
1. Sosialisasi program pengembangan sentra-klaster UKM perlu lebih luas dan intensif, dan jika diperlukan melalui media massa. Hal ini untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi program, serta pelibatan masyarakat dalam program pengembangan sentra klaster UKM di Indonesia.
Sosialisasi juga harus menyentuh kalangan aparat Pemerintahan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Kabupaten/Kota dalam rangka memasukkan perspektif pembangunan sentra UKM dalam perencanaan pembangunan daerah.
2. Pengembangan ‘forum pengembangan sentra klaster UKM’ tingkat propinsi atau kabupaten/ kota untuk memantau dan sekaligus sebagai wahana peningkatan kapasitas UKM, BDS-P dan pengelola MAP.
3. Pengembangan BDS fasilitator pada tingkat propinsi atau memberdayakan asosiasi BDS Indonesia sebagai BDS fasilitator untuk meningkatkan jaringan kerja BDS-P dan meningkatkan kapasistasnya dalam melayani UKM disentra binaannya.
4. Pengembangan sistem pelaporan, pemantauan dan evaluasi secara berkala yang efektif. Instansi yang membidangi Koperasi dan UKM kabupaten/ Kota/ Propinsi yang menerima laporan berkala diwajibkan memberikan umpan balik kepada pengurus sentra, BDS-P dan koperasi pengelola MAP.
5. Penyusunan data dan statistik perkembangan program sentra klaster UKM di Indonesia secara berkala, dan dipublikasikan secara luas kepada masyarakat sebagai bagian dari keterbukaan dan akuntabilitas program.
Abdullah, Piter, dkk. 2002. Daya Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indonesia.