TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Sediaan Penyembuh Luka
fase proliferasi (epitelisasi) terhambat, secara langsung proses tertutupnya luka juga akan terhambat (McLennan et al., 2008).
2.4 Ibuprofen
Gambar 3. Struktur Kimia Ibuprofen (Bushra and Aslam, 2010)
Ibuprofen atau (2RS)-1[4-(2-methyl propyl) phenyl] merupakan obat analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi golongan NSAID turunan asam propionat (Bushra and Aslam, 2010). Ibuprofen memiliki bobot molekul 206,3 g/mol, tingkat kelarutannya rendah dalam air yaitu 21mg/L (Yalkowsky and Dannenfelser, 1992), sedangkan pada etanol kelarutannya lebih tinggi yaitu 25mg/mL (Anonim, 2016). Nilai pKa yang dimiliki ibuprofen sebesar 5.3 (Bushra and Aslam, 2010), dan nilai Log-P ibuprofen sebesar 3.9. Lethal Dose (LD) ibuprofen sebesar 171mg/kg secara oral pada manusia dewasa, sedangkan pada dosis umumnya yaitu 200-400mg, effective concentration (EC50) ibuprofen yaitu 6-10µg/mL (Anonim, 2016).
Ibuprofen memiliki mekanisme ihibisi non-selektif pada COX-1 yang bertanggung jawab akan produksi prostanoid (PGs) yang mengontrol berbagai aktivitas fisiologis (vaskuler, aliran darah, lambung, dan ginjal), serta inhibisi COX-2 yang memproduksi PGE2 dalam proses inflamasi dan rasa nyeri (Rainsford, 2009). Sitokin proinflamasi TNF-α berperan pada ekspresi PGE2 yang kemudian akan menginduksi enzim MMP-9, sehingga PGE2 mampu mempengaruhi ekspresi dari enzim MMP-9. Pengaruh PGE2 terhadap ekspresi enzim MMP-9 berupa peningkatan regulasi enzim MMP-9 (Yen et al., 2016).
2.5 Sediaan Penyembuh Luka
Sediaan penyembuh luka memiliki kriteria dapat membuat lingkungan luka menjadi lembab untuk dapat memacu pertumbuhan jaringan baru pada luka. Kelembaban pada luka yang seimbang akan memfasilitasi pertumbuhan sel dan
22
proliferasi dari kolagen hingga terbentuk matriks nonseluler yang sehat (Okan et al., 2007). Sediaan penyembuh luka memiliki kemampuan ditembus oleh oksigen yang dibutuhkan oleh kulit guna respirasi dan kemampuan menyerap eksudat yang dikeluarkan oleh luka (Kataria et al., 2014).
Sediaan penyembuh luka untuk luka pada kaki (Foot Ulcers) harus memiliki kemampuan menyerap eksudat dengan absorpsi untuk menjaga kandungan kelembaban pada luka. Kemampuannya untuk menyerap eksudat dan menjaga kandungan lembab dilanjutkan dengan kemampuan untuk menjaga hidrasi jaringan tanpa membuat luka mengering. Jumlah Eksudat harus dijaga untuk mencegah pengotoran lingkungan daerah luka akibat maserasi dari jaringan (Ovington, 2007).
2.6 Hydrocolloid
Hydrocolloid merupakan salah satu sediaan untuk mengatasi luka, terdiri dari komponen koloidal (agen pembentuk gel) yang dikombinasikan dengan komponen lain dengan kegunaannya masing-masing. Penampakan dari sediaan ini bisa berupa lapisan film tipis (berbentuk lembaran) atau dalam bentuk kombinasi dengan komponen lain seperti alginat (Boateng et al., 2008). Hydrocolloid termasuk sediaan lokal yang memenuhi kriteria sebagai sediaan wound healing, yaitu kemampuan mengembang untuk menyerap eksudat, mampu ditembus oksigen, serta mampu menjaga kelembaban lingkungan luka (Kataria et al., 2014). Hydrocolloid umumnya digunakan pada luka kategori 2, namun beberapa ada yang menggunakannya pada luka kategori 3 dan 4 (Fletcher et al., 2011). Hydrocolloid dapat digunakan pada luka dengan tingkatan eksudat rendah hingga menengah, dan dapat digunakan dalam terapi luka pada kaki yang mengalami penundaan dalam proses penyembuhannya (Boateng et al., 2008).
Hydrocolloid akan membentuk formasi seperti gel saat kontak langsung dengan eksudat luka, sehingga penyerapan eksudat luka terjadi akibat adanya formasi hidrofilik gel (Thu et al., 2012).Interaksi antara hydrocolloid bagian dalam dengan eksudat luka yang tereksresi, menghasilkan proses gelasi dari hydrocolloid yang kemudian membentuk gel yang mengandung massa dan berwarna kekuningan. Terbentuknya gel yang memiliki massa tersebut memiliki peran penuh dalam menjaga kelembaban dari lingkungan luka. Gel yang terbentuk memenuhi
23
bagian luka yang terbuka, sehingga apabila hydrocolloid dilepaskan tidak akan terjadi kerusakan kembali pada luka karena gel akan tetap melindungi luka terbuka (Shai and Maibach, 2005).
Hydrocolloid matrix dapat digunakan selama 3-5 hari saat diaplikasikan pada luka, selama waktu tersebut hydrocolloid kurang lebih sudah menyerap eksudat sebanyak 70%. Permukaan kulit sebelum diaplikasian sediaan harus dalam kondisi bersih dan kering (Edwards et al., 2013). Berikut merupakan kelebihan dan kekurangan dari hydrocolloid matrix:
Tabel 5. Kelebihan & Kekurangan Hydrocolloid Matrix (Edwards et al., 2013)
Kelebihan Kekurangan
Bersifat waterproof dan dapat digunakan saat mandi.
Dalam penggunaannya harus
diperhatikan khusus, karena mampu mendorong pertumbuhan bakteri Mampu menyerap eksudat Penggunaanya hati-hati karena
langsung pada luka terbuka Gel yang terbentuk saat menyentuh
luka akan menjaga kelembaban daerah luka, yang akan mendukung pembentukan formasi jaringan baru
Penyimpanannya sukar untuk menjaga kestabilan sediaan
Mampu mengurangi rasa nyeri Terkadang menimbulkan bau yang kurang nyaman.
2.7 Polimer (Polivinyl pyrrolidone)
Polimer merupakan suatu kesatuan bentuk dari molekul kecil (monomer) yang menyatu dengan molekul kecil lainnya (molekul yang sama ataupun berbeda). Monomer tertentu akan mengalami proses polimerisasi untuk kemudian menyatu, sehingga dihasilkan bentuk molekul yang lebih besar berupa polimer. Polimer dapat membentuk cross-linked dengan polimer lain ataupun dengan polimer sendiri (monomer berbeda), yang menyebabkan gerak polimer yang terbatas, rigid, dan dapat mengembang dengan baik. Kemampuan pengembangan polimer dapat dikendalikan dengan adanya pelarut yang masuk diantara monomer untuk mengurangi cross-linked dengan monomer tetangga (Sinko, 2006).
Pada hydrocolloid, polimer yang digunakan bersifat hidrofilik dan memiliki rantai polimer yang panjang. Sifat tersebut menjadikan polimer pada hydrocolloid
24
memiliki banyak fungsi (pelarut, stabilizer, dan mengatur pelepasan obat), salah satunya yang paling penting yaitu sebagai pembentuk gel (Sinko, 2006). Semua komposisi termasuk polimer pada bentuk hydrocolloid matrix merupakan komponen larut air (Olorunsola and Adedokun, 2014).
Polyvinyl pyrrolidone (PVP) atau Povidone memiliki struktur kimia sebagai berikut:
Gambar 2. Struktur Kimia Polyvinyl Pyrrolidone (Kadajji and Betageri, 2011)
PVP termasuk eksipien (polimer) memiliki kelarutan yang baik dalam air serta memiliki rentang bobot molekul 40.000 hingga 360.000 (Kadajji and Betageri, 2011). Salah satu contoh pembentukan crosslinking PVP yang mudah terjadi, yaitu pada medium larutan air dengan bantuan sinar UV (Zhang et al., 2013). Berikut bentuk crosslinking yang terjadi:
Pada umumnya, PVP dapat mampu membawa obat dengan baik pada rentang konsentrasi 10-25% (Rowe et al., 2009). Dipilihnya PVP dikarenakan dalam penggunaanya sebagai polimer hidrofilik, PVP akan menciptakan suatu koloidal dalam bentuk suspensi, yang mana merupakan kondisi tiap partikel solid terpisah (terdispersi) pada medium hidrofilik, dan tentunya PVP mencegah partikel menyatu agar homogenitas tetap terjaga (Kadajji and Betageri, 2011). Selain itu, PVP juga termasuk polimer yang bersifat non-toksik dan memiliki