• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Konseptualisasi Media Massa

5. Segmentasi Pembaca

Harian Umum Republika juga memilik target pembaca antara lain adalah

beragama Islam dan agama lain, memiliki golongan professional, manajer, ekskutif,

pelajar, dan pengusaha, dengan mengambil pasar berskala nasional. Pembaca Harian

Umum Republika untuk golongan muda pria umur 20-29 tahun kisaran 31% dan

untuk umur 30-39 tahun sekitar 39%. Kemudian untuk golongan muda wanita umur

20-39 tahun sekitar 21% dan untuk umur 30-39 tahun 22%.31

30

Republika, 19 November 2012, h. 4

31

Mengutip dari Skripsi Fauziah Mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, “Analisis Wacana Pemberitaan Kekerasan Tenaga Kerja Wanita Indonesia di Harian Umum Republika (Edisis 22 November-25 November 2010), h. 62

54 A. Konteks Kasus

Kasus korupsi Nazaruddin ini sangat mengejutkan banyak pihak. Dan untuk

menyelesaikan kasus ini pun sesungguhnya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Pernah muncul dipermukaan bahwa untuk menyelesaikan kasus yang melibatkan

mantan bendahara umum Partai Demokrat ini membutuhkan waktu seratus tahun.

Awal mula kasus ini adalah dari tertangkapnya Sesmenpora (Sekretaris

Menteri Pemuda dan Olahraga) Wafid Muaharram, bos PT Duta Graha Indah M El

Idris, dan seorang perantara Mindo Rosalina. Ketiganya ditangkap atas dugaan

penyuapan terkait proyek Wisma Atlet SEA Games 2011. Pengacara Rosalina,

Kamarudin Simanjuntak menyatakan kliennya sebagai bawahan Nazarudin.

Pernyataan ini terus bergulir di media massa dan menimbulkan dugaan keterlibatan

beberapa elit partai tersebut.

Tentu saja Nazaruddin menolak pernyataan dari pengacara Rosalina tersebut.

Nazaruddin membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan Partai

Demokrat. Pemberitaan tersebut bergulir di media massa tentang kerterkaitannya

Nazarudin dengan kasus penyuapan tersebut memaksa Dewan Kehormatan Partai

Demokrat memecat Nazaruddin dari jabatan Bendahara Umum. Pada tanggal 24 Mei

2011 KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menerbitkan surat larangan bepergian ke

luar negeri terhadap Nazaruddin. Namun, Nazaruddin telah terbang ke Singapura

dengan alasan berobat, bersamaan waktunya dengan pengumuman pemecatan dirinya

Inilah awal mula pelarian Nazaruddin di luar negeri. Pada 10 Juni 2011 Partai

Demokrat membentuk tim yang terdiri atas Sutan Bhatoegana, Jafar Hafsah dan

Jhonny Allen Marbun. Tim berhasil menemui Nazaruddin di Singapura, namun gagal

membawa pulang Nazaruddin ke tanah air. Keberadaan Nazaruddin di Singapura

karena sedang berobat dan dalam keadaan sakit berdasarkan keterangan pers yang

dilakukan Partai Demokrat.

Selama pelariannya di luar negeri, Nazaruddin selalu membeberkan

keterlibatan beberapa kader Partai Demokrat kepada para wartawan melalui

blackberry messanger. Sampai pada akhirnya tanggal 14 Agustus 2011 Nazarudin

berhasil dibawa pulang dari persembunyiannya di Cartagena, Kolombia.

Bagi Harian Republika korupsi sudah mendarah daging di negeri ini. Disetiap

instansi pemerintahan di negeri ini sudah ada dugaan kasus korupsinya. Maka dari itu

Republika ingin bergerak bersama masyarakat untuk melawan tindak pidana korupsi.

Dalam kasus korupsi ini Republika mengedepankan dirinya sebagai musuh bersama

terhadap korupsi. Seperti apa yng diungkapkan oleh Wakil Redaktur Pelaksana

Harian Umum Republika, Syahrudin El-Fikri:

Karena kita melihat korupsi ini sudah mendarah daging di negeri ini di setiap instansi di setiap tempat sudah ada tindak korupsi, maka mau tidak mau maka kita ingin bersama semua elemen masyarakat untuk menyatakan sebagai musuh bersama

bagi korupsi apapun bentuknya.1

1

Wawancara pribadi dengan Wakil Redaktur Pelaksana Harian Umum Republika Syahrudin El-Fikri, Jakarta, 19 Oktober 2012

Bagi Harian Republika korupsi merupakan salah satu kejahatan luar biasa

yang dapat mengakibatkan kepada Negara dan masyarakat. Masa depan anak

bangsa pun akan terganggu dengan semakin merebaknya kasus korupsi.

Republika berharap agar setiap Undang-undang yang mengatur tentang kasus korupsi dapat berlaku bagi siapapun yang melakukannya. Republika juga mendorong agar lembaga pemerintahan seperti eksekutif, yudikatif, dan legislatif mendorong

bersama-sama agar korupsi itu segera diberantas.2

Kasus dugaan korupsi yang melibatkan Mantan Bendahara Umum Partai

Demokrat M Nazaruddin, dipandang Republika sebagai bagian dari efek mahalnya

demokrasi langsung yang ada di negeri ini.

Siapapun calon yang berhasil lolos dalam pemilihan umum maka dia akan segera memikirkan bagaimana cara mengembalikkan modalnya selama kampanye kembali utuh. Kasus ini sudah seperti gunung es di negeri ini. Hal ini dipandang Republika karena memang ada sistem yang membuat mereka melakukan tindakan yang tidak jujur. 3

Republika dalam mengembangkan kasus Nazaruddin ini yang hampir

selalu ada “nyanyian-nyanyian” dari Nazaruddin yang mengatakan bahwa dalam kasusnya ini tidak hanya dia yang terlibat, masih ada sejumlah kader Partai

Demokrat yang ikut terlibat dalam kasus ini. Republika dalam menanggapi hal

tersebut mau tidak mau mencari sumber yang valid dalam membuat berita. Bagi

Republika jika ada informasi yang berkembang dalam kasus ini, maka Republika

harus mengkrosceknya kepada oknum-oknum yang bersangkutan.4

2

Wawancara pribadi dengan Wakil Redaktur Pelaksana Harian Umum Republika Syahrudin El-Fikri, Jakarta, 19 Oktober 2012

3

Wawancara pribadi dengan Wakil Redaktur Pelaksana Harian Umum Republika Syahrudin El-Fikri, Jakarta, 19 Oktober 2012

4

Wawancara pribadi dengan Wakil Redaktur Pelaksana Harian Umum Republika Syahrudin El-Fikri, Jakarta, 19 Oktober 2012

Dalam memandang betapa lamanya Nazaruddin berhasil kabur dari kejaran

KPK dan Kepolisian, Republika memandangnya sebagai ada titik lemah dari

lembaga penegakan hukum. Kita sudah banyak melihat, orang-orang yang telah

terindikasi kasus korupsi, dia masih bisa saja keluar dari negeri ini dengan alasan

berobat. Inilah yang mejadi titik lemah dalam pemberantasan suatu kasus korupsi

menurut Republika.

Seharusnya jika seseorang sudah terindikasi terlibat dalam suatu kasus korupsi, ada pencegahan lebih awal agar yang bersangkutan tidak kabur ke luar negeri. Kelemahan-kelemahan seperti inilah yang harus cepat diperhatikan oleh para aparat

pemerintah dan KPK.5

Dokumen terkait