• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Beton Segar

2.2.2. Segregasi

Segregasi adalah kecenderungan butir-butir kasar untuk lepas dari campuran beton.

Ada dua tipe pemisahan agregat yaitu pemisahan partikel berat ke dasar beton segar atau pemisahan agregat kasar dari campuran beton karena penggetaran yang salah.

Faktor-faktor penyebab segregasi antara lain:

1. Campuran yang kurus atau kurang semen 2. Campuran yang terlalu banyak air

3. Ukuran agregat maksimum lebih dari 40mm

4. Permukaan butir agregat kasar; semakin kasar permukaan butir agregat, semakin mudah terjadi segregasi

5. Jumlah agregat halus sedikit

Segregasi berakibat kurang baik terhadap beton setelah mengeras. Cara untuk mengurangi kecenderungan pemisahan agregat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Adukan beton jangan dijatuhkan dengan ketinggian terlalu tinggi.

2. Penggunaan air sesuai dengan syarat.

3. Cara mengangkut, penuangan maupun pemadatan harus mengikuti cara- cara yang betul.

4. Ukuran agregat sesuai dengan syarat 2.2.3 Pemisahan Air (Bleeding)

Bleeding adalah Kecenderungan air untuk naik ke permukaan pada beton sesudah dicampur tapi belum mengalami pengikatan. Air yang naik ini membawa semen dan butir-butir halus pasir, yang pada saat beton mengeras nantinya akan membentuk selaput (laitance). Bleeding ini dipengaruhi oleh :

1. Susunan butir agregat

Jika komposisinya sesuai, kemungkinan untuk terjadinya bleeding kecil.

2. Banyaknya air

Semakin banyak air berarti semakin besar pula kemungkinan terjadinya bleeding.

3. Kecepatan hidrasi

Semakin cepat beton mengeras, semakin kecil kemungkinan terjadinya bleeding.

4. Proses Pemadatan

Pemadatan yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya bleeding

Bleeding dapat menyebabkan kelemahan, porositas dan keawetan yang kurang.

Kantung-kantung air terjadi di bawah agregat kasar atau di bawah tulangan, yang menimbulkan daerah-daerah lemah dan mereduksi ikatan-ikatan. Jika air menguap sangat cepat akan terjadi retakan-retakan plastis.

Bleeding dapat direduksi dengan : 1. Memberi lebih banyak semen

2. Menggunakan air seminimal mungkin 3. Menggunakan butir halus/pasir lebih banyak

4. Memasukan sedikit udara dalam adukan untuk beton khusus 2.3 Beton Keras ( Hardened Concrete )

Perilaku mekanik beton keras merupakan kemampuan beton di dalam memikul beban pada struktur bangunan. Kinerja beton keras yang baik ditunjukkan oleh kuat tekan beton yang tinggi, kuat tarik yang lebih baik, perilaku yang lebih daktail, kekedapan air dan udara, ketahanan terhadap sulfat dan klorida, penyusutan rendah dan keawetan jangka panjang.

2.3.1 Kekuatan Tekan Beton (f’c)

Kekuatan tekan adalah kemampuan beton untuk menerima gaya tekan persatuan luas. Kuat tekan beton mengidentifikasikan mutu dari sebuah struktur.

Semakin tinggi tingkat kekuatan struktur yang dikehendaki, semakin tinggi pula mutu beton yang dihasilkan.

Kekuatan tekan benda uji beton dihitung dengan rumus :

f c’ = ...(1)

dengan : fc’ : Kekuatan tekan beton (kg/cm2)

P : Beban tekan (kg)

A : luas permukaan benda uji (cm2) Standar deviasi dihitung berdasarkan rumus :

S = (

) ...(2) dengan: S : deviasi standar (kg/cm2 )

σ’b: Kekuatan masing – masing benda uji (kg/cm2 ) σ’bm : Kekuatan Beton rata –rata ( kg/cm2 )

N :Jumlah Total Benda Uji hasil pemeriksaan

Nilai kuat tekan beton beragam sesuai dengan umurnya dan biasanya nilai kuat tekan beton ditentukan pada waktu beton mencapai umur 28 hari setelah pengecoran.

Kekuatan tekan beton diwakili oleh tegangan tekan maksimum fc’ dengan satuan N/mm2 atau Mpa dan juga memakai satuan kg/cm2 . Kekuatan tekan beton merupakan sifat yang paling penting dari beton keras. Berdasarkan kuat tekannya beton dapat dibagi menjadi beberapa jenis (lihat tabel 2.1)

Tabel 2.1 Beberapa jenis beton menurut kuat tekannya (Kardiyono, 2007)

Jenis Beton Kuat Tekan(Mpa)

Beton Sederhana (Plain Concrete) Sampai 10 Mpa Beton Normal (Beton Biasa) 15-30 Mpa

Beton Pra Tegang 30-40 Mpa

Beton kuat tekan tinggi 40-80 Mpa

Beton kuat tekan sangat tinggi >80 Mpa

Gambar 2.5 Model benda uji silinder beton

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan tekan beton. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan tekan beton yaitu :

1. Faktor air semen

Faktor air semen ialah perbandingan berat antara air dan semen portland di dalam campuran adukan beton. Secara umum semakin rendah nilai faktor air semen semakin tinggi kuat tekan betonnya, namun kenyataannya pada suatu nilai faktor air semen tertentu semakin rendah nilai faktor air semen kuat tekan betonnya semakin rendah pula. Hal ini karena jika faktor air semen terlalu rendah menyebabkan kesulitan dalam pengerjaan, yaitu kesulitan dalam pelaksanaan pemadatan yang pada akhirnya menyebabkan mutu beton menurun. Dengan demikian ada suatu nilai faktor air semen tertentu (optimum) yang menghasilkan kuat tekan beton maksimum. Duff dan Abrams (1919) meneliti hubungan antara faktor air semen dengan kekuatan beton pada umur 28 hari dengan uji silinder yang dapat dilihat pada gambar 2.6

15 cm 15 cm

30 cm

Gambar 2.6 Hubungan antara faktor air semen dengan kekuatan beton selama masa perkembangannya (Tri Mulyono ,2003)

2. Kepadatan

Kepadatan adukan beton sangat mempengaruhi kuat tekan betonnya setelah mengeras. Kekuatan beton berkurang jika kepadatan beton berkurang. Beton yang kurang padat berarti berisi rongga sehingga kuat tekannya berkurang, Untuk mengatasi kesulitan pemadatan adukan beton dapat dilakukan dengan cara pemadatan dengan alat getar (vibrator) atau dengan memberi bahan kimia tambahan (chemical admixture) yang besifat mengencerkan adukan beton sehingga lebih mudah dipadatkan

3. Umur beton

Kekuatan tekan beton akan bertambah dengan naiknya umur beton. Laju kenaikan kuat tekan beton mula-mula cepat, lama-lama laju kenaikan itu semakin lambat, dan laju kenaikan tersebut menjadi relatif sangat kecil setelah berumur 28 hari (Gambar 2.7). Oleh karena itu, standar kuat tekan beton adalah kuat tekan beton pada umur 28 hari. Umumnya pada umur 7 hari kuat tekan mencapai 65% dan pada umur 14 hari mencapai 88% - 90% dari kuat tekan umur 28 hari.

Tabel 2.2 Perkiraan kuat tekan beton pada berbagai umur (Tri Mulyono 2003) Umur beton (hari) 3 7 14 21 28 90 365

PC Type 1 0.40 0.65 0.88 0.95 1.0 - -

Gambar 2.7 Hubungan antara umur beton dan kuat tekan beton (Istimawan, 1999) 4. Jumlah semen

Jika faktor air semen sama (slump berubah), beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tertinggi sebagaimana tampak pada Gambar 2.9. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit berarti jumlah air juga sedikit sehingga adukan beton sulit dipadatkan yang mengakibatkan kuat tekan beton rendah. Namun jika jumlah semen berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori yang mengakibatkan kuat tekan beton rendah. Jika nilai slump sama (fas berubah), beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi.

Gambar 2.8 Pengaruh jumlah semen terhadap kuat tekan beton pada faktor air semen yang sama ( Kardiyono,1998)

5.Sifat agregat

Sifat agregat yang paling berpengaruh terhadap kekuatan beton ialah kekasaran permukaan dan ukuran maksimumnya. Permukaan yang halus pada kerikil dan kasar pada batu pecah berpengaruh pada lekatan dan besar \ tegangan saat retak retak beton mulai terbentuk. Oleh karena itu kekasaran permukaan ini berpengaruh terhadap bentuk kurva tegangan-regangan tekan dan terhadap kekuatan betonnya yang terlihat pada Gambar 2.10. Akan tetapi bila adukan beton nilai slump nya sama besar, pengaruh tersebut tidak tampak karena agregat yang permukaannya halus memerlukan air lebih sedikit, berarti fas nya rendah yang menghasilkan kuat tekan beton lebih tinggi.

Gambar 2.9 Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton ( Mindess, 1981) Pada pemakaian ukuran butir agregat lebih besar memerlukan jumlah pasta lebih sedikit, berarti pori-pori betonnya juga sedikit sehingga kuat tekannya lebih tinggi. Tetapi daya lekat antara permukaan agregat dan pastanya kurang kuat sehingga kuat tekan betonnya menjadi rendah. Oleh karena itu pada beton kuat tekan tinggi dianjurkan memakai agregat dengan ukuran besar butir maksimum 20 mm.

2.3.2 Kuat tarik beton

Salah satu kelemahan beton adalah mempunyai kuat tarik yang sangat kecil dibandingkan dengan kuat tekannya yaitu 10%–15% f’c. Kuat tarik beton berpengaruh terhadap kemampuan beton di dalam mengatasi retak awal sebelum dibebani. Pengujian terhadap Kekuatan tarik beton dapat dilakukan dengan cara:

1. Pengujian tarik langsung,untuk menguji tarik langsung pada spesimen silinder maupun prisma dilakukan dengan menempelkan benda uji pada suatu pelat besi

dengan lem epoxy. Tepi benda uji harus digergaji dengan gerinda intan untuk menghilangkan pengaruh pengecoran atau vibrasi. Beban kecepatan 0,005 MPa/detik sampai runtuh.

2. Pengujian tarik belah (pengujian tarik beton tak langsung) dengan menggunakan

“Split cylinder test”. Dengan membelah silinder beton terjadi pengalihan tegangan tarik melalui bidang tempat kedudukan salah satu silinder dan silinder beton tersebut terbelah sepanjang diameter yang dibebaninya. Tegangan tarik tidak langsung dihitung dengan persamaan :

T= ...(3)

Dimana : T = kuat tarik beton (MPa) P = beban hancur (N)

l = panjang spesimen (mm) d = diameter spesimen (mm) 2.4 Bahan Penyusun Beton

2.4.1 Semen

Semen merupakan bahan ikat yang penting dalam beton. Jika ditambah air, semen akan menjadi pasta semen. Fungsi utama semen adalah sebagai perekat butir-butir agregat hingga membentuk suatu massa padat dan mengisi rongga-rongga udara diantara butiran agregat

2.4.1.1 Semen Portland

Berdasarkan SNI 15-2009-2014, Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling terak (clinker) yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik yang umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium silikat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama denga bahan utamanya

2.4.1.2 Jenis –Jenis Semen Portland

Jenis/tipe semen yang digunakan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kuat tekan beton yang akan dihasilkan, dalam ini perlu diketahui tipe semen yang telah terstandararisasi di Indonesia. Menurut SNI 15-2009-2014, semen Portland dibagi menjadi 5(lima) tipe, yaitu :

Tipe I

Ordinary Portland Cement (OPC), semen tipe ini tidak memerlukan persyaratan khusus seperti jenis-jenis lainnya.

Tipe II

Moderate Portland Cement, Penggunaan semen tipe ini untuk beton yang tahan terhadap sulfat sedang dan mempunyai panas hidrasi sedang.

Tipe III

High Early Strenght Cement, semen untuk beton dengan kekuatan awal tinggi (Cepat Mengeras).

Tipe IV

Low Heat of Hydration Cement, semen untuk beton yang memerlukan panas hidrasi rendah, kekuatan awal rendah.

Tipe V

High Sulphate Resistance Cement, semen untuk beton yang tahan terhadap kadar sulfat tinggi

2.4.1.3. Bahan Penyusun Semen Portland

Bahan utama pembentuk semen portland adalah kapur(CaO), silica(SiO3), alumina(Al2O3), sedikit magnesium(MgO), dan terkadang alkali. Untuk mengontrol komposisinya terkadang ditambahkan oksida besi, sedangkan gipsum(CaSO4.2H2O) ditambahkan untuk mengatur waktu ikat semen. (Tri Mulyono, 2004)

Komposisi senyawa utama dan senyawa pembentuk dalam semen portland dapat dilihat pada tabel 2.2 dan 2.3 berikut ini.

Tabel 2.3 Komposisi Senyawa Utama Semen Portland (Tri Mulyono, 2003)

Nama Kimia Rumus Kimia Notasi Persen Berat

Trikalsium Silikat 3CaO. SiO2 C3S 55

Dikalsium Silikat 2CaO. SiO2 C2S 18

Trikalsium Aluminat 3CaO. Al2O3 C3A 10

Tetrakalsium Aluminoferit 4CaO. Al2O3. Fe2O3 C4AF 8

Gipsum CaSO4.2H2O C8H2 6

Tabel 2.4 Komposisi Senyawa pembentuk semen Portland (Tri Mulyono, 2003)

Oksida Notasi Nama Senyawa Persen Berat

CaO C Kapur 64.67

SiO2 S Silika 21.03

Al2O3 A Alumina 6.16

Fe2O3 F Oksida Besi 2.58

MgO M Magnesia 2.62

K2O3 K Alkali 0.61

Na2O N Alkali 1.34

SO3 S Sulfur Trioksida 2.03

CO2 C Karbon Dioksida -

H2O H Air -

2.4.2 Agregat

Agregat adalah bahan-bahan campuran beton yang saling diikat oleh perekat semen (CUR 2, 1993). Kandungan agregat dalam campuran beton biasanya tinggi berkisar antara 60%-70% dari volume beton. Agregat harus berdegradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen dan rapat

2.4.2.1 Agregat Kasar

Agregat kasar adalah agregat dengan ukuran butir lebih besar dari 5 mm. Agregat harus mempunyai gradasi yang baik, artinya harus terdiri dari butiran yang beragam besarnya, sehingga dapat mengisi rongga-rongga akibat ukuran yang besar, sehingga akan mengurangi penggunaan semen atau penggunaan semen yang minimal.

Persyaratan yang harus dipenuhi agar agregat kasar dapat digunakan pada campuran beton adalah sebagai berikut :

a. Susunan Butiran (gradasi)

Agregat kasar harus mempunyai susunan butiran dalam batas-batas seperti yang terlihat pada tabel berikut

Tabel 2.5 Batas Batas susunan butiran agregat kasar (ASTM,1991) Ukuran Lubang Ayakan(mm) Persentase Lolos Kumulatif(%)

38,1 95-100

19,1 35-70

9,52 10-30

4,,75 0-5

b. Agregat kasar yang digunakan untuk pembuatan beton dan akan mengalami basah dan lembab terus menerus atau yang akan berhubungan dengan tanah basah, tidak boleh mengandung bahan yang reaktih terhadapt alkali dalam semen, yang jumlahnya cukup dapat menimbulkan pemuaian yang berlebihan di dalam mortar atau beton. Agregat yang reaktif terhadap alkali dapat dipakai untuk pembuatan beton dengan semen yang kadar alkalinya tidak lebih dari 0,06% atau dengan penambahan bahan yang dapat mencegah terjadinya pemuaian.

c. Agregat kasar harus terdiri dari butiran yang keras dan tidak berpori atau tidak akan pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca.

d. Kadar lumpur atau bagian yang lebih kecil dari 75 mikron (ayakan no.200), tidak boleh melebihi 1% (terhadap berat kering). Apabila kadar lumpur melebihi 1% maka agregat harus dicuci.

e. Kekerasan butiran agregat diperiksa dengan bejana Rudellof dengan beban penguji 20 ton dimana harus dipenuhi syarat berikut:

Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 - 19,1 mm lebih dari 24% berat.

Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19,1 - 30 mm lebih dari 22% berat.

f. Kekerasan butiran agregat kasar jika diperiksa dengan mesin Los Angeles dimana tingkat kehilangan berat lebih kecil dari 50%.

g. Daya serap agregat kasar terhadap air tidak lebih dari 1% jika digunakan untuk menyusun beton mutu tinggi.

2.4.2.2 Agregat Halus

Agregat halus adalah agregat berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihailkan oleh alat-alat pemecah batu, dan mempunyai ukuran butir terbesar 5 mm atau lolos saringan no.4 dan tertahan pada saringan no.200.

Agregat halus yang digunakan pada campuran beton harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

a. Susunan Butiran ( Gradasi )

Modulus kehalusan (fineness modulus), menurut hasil penelitian (larrard, 1990) menunjukan bahwa pasir dengan modulus kehalusan 2,5 s/d 3,0 pada umumnya akan menghasilkan beton mutu tinggi (dengan fas yang rendah) yang mempunyai kuat tekan dan workability yang optimal. Agregat halus yang digunakan harus mempunyai gradasi yang baik, karena akan mengisi ruang-ruang kosong yang tidak dapat diisi oleh material lain sehingga menghasilkan beton yang padat disamping untuk mengurangi penyusutan. Analisa saringan akan memperlihatkan jenis dari agregat halus tersebut. Melalui analisa saringan maka akan diperoleh angka Fine Modulus. Melalui Fine Modulus ini dapat digolongkan 3 jenis pasir yaitu :

Pasir Kasar : 2.9 < FM < 3.2 Pasir Sedang : 2.6 < FM < 2.9 Pasir Halus : 2.2 < FM < 2.6

Selain itu ada juga batasan gradasi untuk agregat halus, sesuai dengan ASTM C 33 – 74 a. Batasan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.6 Batas batas gradasi agregat halus (ASTM,1991)

Ukuran Saringan ASTM Persentase berat yang lolos pada tiap saringan no.200 ), tidak boleh melebihi 5 % ( ternadap berat kering ). Apabila kadar Lumpur melampaui 5 % maka agragat harus dicuci.

c. Kadar Liat tidak boleh melebihi 1 % ( terhadap berat kering )

d. Agregat halus harus bebas dari pengotoran zat organic yang akan merugikan beton, atau kadar organic jika diuji di laboratorium tidak menghasilkan warna yang lebih tua dari standart percobaan Abrams – Harder dengan batas standarnya pada acuan No 3.

e. Agregat halus yang digunakan untuk pembuatan beton dan akan mengalami basah dan lembab terus menerus atau yang berhubungan dengan tanah basah, tidak boleh mengandung bahan yang bersifat reaktif terhadap alkali dalam semen, yang jumlahnya cukup dapat menimbulkan pemuaian yang berlebihan

di dalam mortar atau beton dengan semen kadar alkalinya tidak lebih dari 0,60%

atau dengan penambahan yang bahannya dapat mencegah pemuaian.

f. Sifat kekal (keawetan) diuji dengan larutan garam sulfat :

Jika dipakai Natrium – Sulfat, bagian yang hancur maksimum 10 %.

Jika dipakai Magnesium – Sulfat, bagiam yang hancur maksimum 15%.

2.4.2.3 Jenis Agregat Berdasarkan Bentuk

Bentuk agregat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya dipengaruhi oleh proses geologi batuan yang terbentuk secara alamiah. Klasifikasi agregat berdasarkan bentuknya adalah sebagai berikut :

1. Agregat bulat

Agregat ini terbentuk karena terjadinya pengikisan oleh air atau keseluruhannya terbentuk karena pengeseran. Rongga udaranya minimum 33%, sehingga rasio luas permukaannya kecil. Beton yang dihasilkan dari agregat ini kurang cocok untuk struktur yang menekankan pada kekuatan, sebab ikatan antar agregat kurang kuat.

2. Agregat bulat sebagian atau tidak teratur

Agregat ini secara alamiah berbentuk tidak teratur. Sebagian terbentuk karena pergeseran sehingga permukaan atau sudut – sudutnya berbentuk bulat. Rongga udara pada agregat ini lebih tinggi, sekitar 35%-38%, sehingga membutuhkan lebih banyak pasta semen agar mudah dikerjakan. Beton yang dihasilkan dari agregat ini belum cukup baik untuk beton mutu tinggi, karena ikatan antara agregat belum cukup baik (masih kurang kuat)

3. Agregat bersudut

Agregat ini mempunyai sudut – sudut yang tampak jelas, yang terbentuk di tempat – tempat perpotongan bidang – bidang dengan permukaan kasar. Rongga udara pada agregat ini sekitar 38% - 40%, sehingga membutuhkan lebih banyak lagi pasta semen agar mudah dikerjakan. Beton yang dihasilkan dari agregat ini cocok untuk struktur yang menekankan pada kekuatan karena ikatan antar agregatnya baik (kuat).

3. Agregat panjang

Agregat ini panjangnya jauh lebih besar dari pada lebarnya dan lebarnya jauh lebih besar dari pada tebalnya. Agregat ini disebut panjang jika ukuran terbesarnya lebih dari 9/5 dari ukuran rata – rata. Ukuran rata – rata ialah ukuran ayakan yang meloloskan dan menahan butiran agregat. Sebagai contoh, agregat dengan ukuran rata – rata 15 mm akan lolos ayakan 19 mm dan tertahan oleh ayakan 10 mm. Agregat ini dinamakan panjang jika ukuran terkecil butirannya lebih kecil dari 27 mm (9/5 x 15 mm). Agregat jenis ini akan berpengaruh buruk pada mutu beton yang akan dibuat.

Kekuatan tekan beton yang dihasilkan agregat ini adalah buruk.

4. Agregat pipih

Agregat disebut pipih jika perbandingan tebal agregat terhadap ukuran – ukuran lebar dan tebalnya lebih kecil. Agregat pipih sama dengan agregat panjang, tidak baik untuk campuran beton mutu tinggi. Dinamakan pipih jika ukuran terkecilnya kurang dari 3/5 ukuran rata – ratanya.

6. Agregat pipih dan panjang

Pada agregat ini mempunyai panjang yang jauh lebih besar daripada lebarnya. Sedangkan lebarnya jauh lebih besar dari tebalnya

2.4.2.4 Jenis Agregat Berdasarkan Tekstur Permukaan

Permukaan agregat yang kasar akan menghasilkan ikatan yang lebih baik jika dibandingkan dengan permukaan agregat yang licin. Jenis agregat berdasarkan tekstur permukaannya dapat dibedakan sebagai berikut

1. Agregat Kasar

Agregat ini dapat terdiri dari batuan berbutir halus atau kasar yang mengandung bahan – bahan berkristal yang tidak dapat terlihat dengan jelas melalui pemeriksaan visual.

2. Agregat Berbutir (granular)

Pecahan agregat jenis ini memiliki bentuk bulat dan seragam.

3. Agregat licin/halus (glassy)

Agregat jenis ini lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan dengan agregat dengan permukaan kasar. Agregat licin terbentuk akibat dari pengikisan oleh air, atau akibat patahnya batuan (rocks) berbutir halus atau batuan yang berlapis – lapis. Dari hasil penelitian, kekasaran agregat akan menambah kekuatan gesekan antara pasta semen dengan permukaaan butir agregat sehingga beton yang menggunakan agregat ini cenderung mutunya akan lebih rendah.

3. Kristalin (cristalline)

Agregat jenis ini mengandung kristal – kristal. Tampak dengan jelas melalui pemeriksaan visual.

4. Berbentuk sarang labah (honeycombs)

Agregat ini tampak dengan jelas pori – porinya dan rongga – rongganya.

Melalui pemeriksaan visual kita dapat melihat lubang – lubang pada batuannya

2.4.3 Air

Air merupakan bahan dasar pembuat beton yang sangat penting. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen, serta sebagai bahan pelumas antar butir-butir agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Kandungan air yang rendah menyebabkan beton sulit dikerjakan dan dipadatkan. Dengan rendahnya kadar air menyebabkan beton akan sulit dikerjakan(sulit mengalir) dan sebaliknya apabila kadungan air tinggi menyebabkan kekuatan beton yang rencah. Selain daripada itu, kelebihan air akan menyebabkan semen bergerak kepermukaan adukan beton segar yang baru di cetak(bleeding), dan kemudian menyebabkan lapisan tipis yang dikenal dengan laitance(selaput tipis). Laitance ini akan mengurangi daya lekat antara lapisan beton dan bidang sambung antar beton akan lemah.

Hal lain yang harus diperhatikan selain jumlah air adalah kualitas air. Karena kotoran yang ada di dalamnya dapat menyebabkan kekuatan beton dan daya tah annya berkurang. Pengaruhnya terhadap beton antara lain waktu ikat beton dan kekuatan beton setelah mengeras.

Syarat air yang dapat digunakan dalam pencampuran beton adalah sebagai berikut:

1. Tidak mengandung klorida

2. Tidak mengandung senyawa sulfat 3. Tidak mengandung lumpur

4. Tidak mengandung garam

Air yang mengandung banyak kotoran akan mengganggu proses pengerasan atau kekuatan beton. Hal yang dapat disebabkan apabila terdapat kotoran dalam air :

1. Gangguan pada kekuatan dan ketahanan 2. Gangguan pada hidrasi dan pengikatan

3. Korosi pada tulangan baja maupan kehancuran beton 4. Perubahan volume yang dapat menyebabkan keretakan 5. Bercak-bercak pada permukaan beton.

2.4.4 Bahan Tambahan 2.4.4.1 Umum

Bahan tambah (admixture) adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam campuran beton pada saat atau selama pencampuran beton berlangsung. Fungsi dari bahan ini adalah untuk mengubah sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu , atau untuk menghemat biaya.

Admixture atau bahan tambah yang didefinisikan dalam Standard definition of terminology Relating to Concrete and Concrete Aggregates (ASTM C.125-1995:61) dan dalam Cement and Concrete Terminology (ACI SP-19) adalah sebagai material selain air, agergat dan semen hidrolik yang dicampurkan dalam beton atau mortar yang ditambahkan sebelum atau selama pengadukan berlangsung. Tujuan dari pemberian bahan tambah adalah untuk memodifikasi sifat dan karakteristik dari beton misalnya untuk dapat degan mudah dikerjakan, menambah kuat tekan, mempercepat pengerasan, dan hal lainnya.

Bahan tambah biasanya diberikan dalam jumlah yang sedikit, dan harus dalam pengawasan yang ketat agar ridak terlalu berlebihan.

Bahan tambah biasanya diberikan dalam jumlah yang sedikit, dan harus dalam pengawasan yang ketat agar ridak terlalu berlebihan.

Dokumen terkait