BAB II TINJAUAN TEORITIS ...................................................................... 9-32
B. Sejarah Arah Kiblat
Ka‟bah adalah tempat peribadatan paling terkenal dalam Islam, biasa disebut dengan Baitullah. Ka‟bah merupakan bangunan yang dibuat dari batu-batu (granit) Makkah yang kemudian dibangun menjadi bangunan yang berbentuk kubus dengan tinggi kurang lebih16 meter, panjang 13 meter dan lebar 11 meter.
12Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis (Cet.III; Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2017),h.
19.
13A. Frangky Soleiman, Problematika Arah Kiblat (Jurnal Ilmiah: Al-Syari’ah,2016), h.1
14Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam (Jilid III, Cet. I; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997) ,h. 94.
15Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1992), h.563.
16Mochtar Effendy, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang: Penerbit Universitas Sriwijaya, 2001), h. 49.
Ka‟bah mulai tercatat dalam sejarah saat pembangunan kembali 40 abad silam yaitu abad ke- 19 STU pada era Nabi Ibrahim a.s., yang sebelumnya telah runtuh saat terjadi banjir bandang pada era Nabi Nuh a.s., dan hanya menyisakan gundukan tanah kemerahan di tengah lembah Mekah berdekatan dengan mata air Zamzam. Dengan kekuasaan Allah swt, datang sebentuk awan putih persegi berdiam tepat diatas tempat Ka‟bah tersebut, sehingga Nabi Ibrahim a.s., dapat membuat pola bangunan Ka‟bah mengikuti bentuk dan bayangan awan tersebut untuk membuat fondasinya.17
Batu-batu yang dijadikan bangunan Ka‟bah saat itu diambil dari bukit Sinai, al-judi, Hira, Olivet dan Lebanon. Nabi Adam as dianggap sebagai peletak dasar bangunan Ka‟bah di Bumi karena menurut Yaqut al-Hamawi yaitu seorang ahli sejarah di Irak menyatakan bahwa bangunan Ka‟bah berada di lokasi kemah Nabi Adam as setelah diturunkn Allah swt dari surga ke bumi. Setelah Nabi Adam wafat, bangunan itu diangkat ke langit.18 Lokasi itu kemudian diagungkan dan disucikan oleh umat para nabi dari masa kemasa dan digunakan untuk membangun sebuah rumah ibadah. Bangunan ini merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun berdasarkan ayat dalam QS al-Imran/3:96.
Terjemahnya:
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”19
17Muh. Ma‟rufin Sudibyo, Sang Nabi pun Berputar (Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya) (Solo: Tinta Medina, 2011), h. 2.
18Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012), h. 26.
19Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 62.
Setelah membantah orang-orang Yahudi yang mengancam ummat islam yang berkiblat ke Mekkah padahal Nabi Ibrahim as mempunyai keterlibatan dalam pembangunan kiblat itu, maka dijelaskan dalam ayat ini kedudukan ka‟bah tersebut, apalagi orang-orang Yahudi menduga bahwa Bait al-Maqdis, yakni kiblat mereka lebih utama dari ka‟bah. Allah swt membantah dugaan itu dengan menggunakan redaksi penegasan yaitu: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah bagi manusia ialah yang di Bakkah yang diberkahi, yakni yang banyak dan mantap kebajikan duniawi dan ukhrawi yang dapat diraih melalui kehadirannya, dan menjadi petunjuk bagi semua manusia termasuk bagi Bani Israil, bahkan orang-orang sebelum dan sesudah masa mereka.
Bait adalah rumah, rumah yang dimaksud disini adalah tempat dan sarana beribadah, bukan dalam artian bangunan tempat tinggal pertama. Kata Bakkah ada yang memahamainya sebagai tempat melaksanakan thawaf di mana terdapat ka‟bah. Kata ini terambil dari akar kata bahasa Arab yang berarti ramai dan berkerumun. Makna ini sangat sesuai dengan keadaan kota Mekkah khususnya ka‟bah apalagi pada musim haji bahkan diluar musim haji tersebut. Adapun Makah, maka ia menunjuk ke kota yang berada di Saudi Arabia itu secara keseluruhan yaitu kota Haram. Dengan demikian, Bakkah terdapat di kota Mekkah. Ada juga yang memahami kata “Bakkah” dalam arti kota Mekkah.
Penjelasan tafsir Al-Misbah tentang ayat diatas menegaskan bahwa rumah peribadatan pertama untuk manusia adalah Ka‟bah. Ini memberi isyarat bahwa ia telah ada sejak manusia menginjakkan kaki di bumi. Manusia memiliki rasa cemas dan harapan. Ini mengantar dia untuk melakukan hubungan dengan Yang Maha Kuasa. Naluri ini menghiasi manusia sejak kehadirannya di bumi ini.
Karena itu, sejak itu pula ia berdo‟a dan berhubungan dengan Tuhan. Itu sebabnya, William James- pakar psikologi agama menuliskan bahwa tidak
mustahil anda masuk ke satu tempat di mana terdapat sekelompok orang, dan anda tidak menemukan teater atau pasar, tetapi tidak mungkin anda tidak menemukan satu tempat di mana manusia dalam masyarakat itu mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.20
Ayat tersebut merupakan jawaban bagi Bani Israil yang keberatan bahwa mereka berkata, “ mengapa umat Islam menjadikan Ka‟bah sebagai kiblat mereka, bukannya Yerusalem yang telah dibangun 1500 tahun sebelum Masehi oleh Sulaiman. Ka‟bah telah ada sejak hari pertama di bumi, dan ia merupakan rumah yang pertama, yakni didirikan lebih dahulu dibandingkan dengan semua tempat ibadah manapun. Ka‟bah telah ada sejak masa nabi Adam dan ia (Ka‟bah) jauh lebih dahulu daripada semua tempat ibadah yang lain.21
Saat proses pembangunan, Nabi Ismail. As menerima sebuah batu hitam yang disebut dengan Hajar Aswad dari Malaikat Jibril di Jabal Qubais, lalu meletakkannya di sudut tenggara bangunan yang berbentuk kubus yang dalam bahasa arab disebut muka’ab yang kemudian disebut dengan Ka‟bah. Ketika itu, Ka‟bah belum memiliki pintu dan belum ditutupi kain. Orang pertama yang membuat pintu Ka‟bah dan menutupinya dengan kain adalah Raja Tubba’ dari Dinasti Himyar di Najran daerah Yaman.
Setelah Nabi Ismail as wafat, pemeliharaan Ka‟bah dipegang oleh keturunannya yaitu Bani Jurhum lalu Bani Khuza’ah. Selanjutnya pemeliharaan Ka‟bah dipegang oleh kabilah-kabilah Quraisy penerus garis keturunan Nabi Ismail as. Menjelang kedatangan Islam, Ka‟bah dipelihara oleh Abdul Muthalib kakek dari Nabi Muhammad saw. Ka‟bah di masa ini, sebagaimana halnya di
20M. Quraish Shihab, “Tafsir Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an” (Cet.I; Jakarta: Lentera Hati, 2000), h. 147-149.
21Allamah Kamal Faqih, Tafsir Nurul Qur’an (Cet.II; Jakarta: Al-Huda, 2006), h. 277.
masa sebelumnya yang menarik perhatian orang-orang. Abrahah yang pada saat itu menjadi gubernur Najran, memerintahkan penduduknya yaitu Bani Abdul Madan yang beragama Nasrani untuk membangun tempat peribadatan yang berbentuk seperti Ka‟bah untuk menyainyinya. Bangunan itu disebut Bi‟ah yang dikenal dengan Ka‟bah Najran dan kemudian diagungkan oleh penduduk Najran dan dipelihara oleh para uskup.
Ka‟bah sebagai bangunan pusaka purbakala semakin rapuh dimakan waktu, sehingga banyak bagian-bagian temboknya yang retak dan bengkok. Selain itu Makkah juga pernah dilanda banjir hingga menggenangi Ka‟bah dan meretakkan dinding-dinding Ka‟bah yang memang sudah rusak. Pada saat itu orang-orang Quraisy merenovasi bangunan Ka‟bah untuk memelihara kedudukannya sebagai tempat suci. Dalam renovasi ini pememimpin-pemimpin kabilah dan para pemuka masyarakat Quraisy dengan membagi sudut-sudut Ka‟bah menjadi empat bagian, tiap kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali. Ketika sampai di tahap peletakan Hajar Aswad mereka berselisih tentang siapa yang akan meletakkannya. Kemudian pilihan mereka jatuh ketangan seseorang yang dikenal sebagai al-Amiin yang jujur atau terpercaya yaitu Muhammad bin Abdullah yang kemudian menjadi Rasulullah saw.22
Sebelumnya pada masa Nabi Muhammad saw perintah sholat itu menghadap ke Baitul Maqdis yang ada di Palestina. Namun Rasulullah saw tetap menghadap ke Ka‟bah dengan cara mengambil posisi di sebelah selatan Ka‟bah.
Maka selain menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, beliau juga tetap menghadap ke Ka‟bah. Namun ketika beliau hijrah ke kota Madinah, beliau berfikir bahwa mustahil melaksanakan salat dengan menghadap ke dua tempat
22Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis (Cet.III; Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2017), h. 28.
yang berlawanan. Kemudian Rasulullah saw sering menengadahkan wajahnya kelangit berharap turunnya wahyu untuk menghadapkan salatnya ke Ka‟bah hingga akhirnya turunlah ayat Allah yang memerintahkan agar Rasulullah saw salat menghadap ke Ka‟bah.
C. Dasar Hukum Arah Kiblat