• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Balai Pelayanan Penempatan dan

Berdasarkan Undang-Undang no 39 tahun 2004 pasal 95 ayat 1 menjelaskan kedudukan dari BNP2TKI bahwa : Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga kerja Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2), merupakan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab kepada Presiden yang berkedudukan di Ibukota Negara.

Dari penjelasan Undang-Undang tersebut maka pemerintah membuat perpres no 81 tahun 2006 tentang BNP2TKI yang dalam pasal 5 ayat g mengenai Balai pelayanan, penempatan dan perlindungan Tenaga kerja Indonesia (BP3TKI). Berdasarkan wawancara dengan bapak MOHD, Agus Bustami, SE sebagai kepala BP3TKI Makassar (7 januari 2013) Menjelaskan bahwa untuk melayani masyarakat yang ingin memperoleh informasi dan mendapat penjelasan tentang kelengkapan dokumen pengajuan izin tenaga kerja, BP3TKI juga melayani mengenai pengaduan dari TKI atau pihak keluarga dari TKI. Atau dengan kata lain sebagai pihak yang mengakomodir TKI baik sebelum berangkat maupun setelah

kedatangannnya dan bagaimana perkembangan dari hasil yang telah dicapai oleh TKI.

Hal ini sesuai dengan pertimbangan dalam perpres no 81 tahun 2006 yang menjelaskan bahwa :

a. bahwa dalam rangka mewujudkan tujuan penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, perlu membentuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia sebagai lembaga pemerintah untuk melaksanakan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia secara terkoordinasi dan terintegrasi;

b. bahwa pelaksanaan penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri merupakan tanggung jawab bersama dan melibatkan instansi pemerintah terkait, sehingga Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia dalam melaksanakan kebijakan penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia beranggotakan wakil-wakil instansi terkait;

c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada huruf a, huruf b, dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 97 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri perlu menetapkan

Peraturan Presiden tentang Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia;

BNP2TKI memiliki struktur organisasi yang tercantum dalam perpres no 81 tahun 2006 pasal 5 yaitu :

a. Kepala;

b. Sekretariat Utama;

c. Deputi Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Promosi; d. Deputi Bidang Penempatan;

e. Deputi Bidang Perlindungan; f. Inspektorat;

g. Balai Pelayananan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia;

h. Pos Pelayanan.

Berdasarkan pasal 5 ayat g maka BP3TKI dibentuk yang penempatannya di provinsi atau daerah yang diperlukan, saat ini BP3TKI memiliki 29 kantor, dan tersebar di berbagai daerah provinsi. Dari 29 kantor yang di miliki maka untuk melayani wilayah Sulawesi Maluku dan Papua maka dibentuklah kantor BP3TKI di Makassar, berdasarkan wawancara dengan ibu Nurmiaty, S.Sos, MM, menjelaskan bahwa sebelum adanya Undang-Undang no 39 tahun 2004, BP3TKI Makassar masih berbentuk kantor wilayah yang berada di lingkup departemen tenaga kerja.

Dari hasil penelusuran penulis menemukan bahwa masalah Tenaga Kerja Indonesia telah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. sejak 1890 pemerintah Belanda mulai mengirim sejumlah besar kuli kontrak asal Jawa bahkan Madura, Sunda, dan Batak untuk dipekerjakan di perkebunan di Suriname dengan Tujuannya untuk mengganti tugas para budak asal Afrika yang telah dibebaskan pada 1 Juli 1863 sebagai wujud pelaksanaan politik penghapusan perbudakan sehingga para budak tersebut beralih profesi serta bebas memilih lapangan kerja yang dikehendaki.

Dampak pembebasan para budak itu membuat perkebunan di Suriname terlantar dan mengakibatkan perekonomian Suriname yang bergantung dari hasil perkebunan turun drastis. Adapun dasar pemerintah Belanda memilih TKI asal Jawa adalah rendahnya tingkat perekonomian penduduk pribumi (Jawa) akibat meletusnya Gunung Merapi dan padatnya penduduk di Pulau Jawa.

Pasca kemerdekaan pemerintah membentuk kementerian yang mengatur mengenai masalah ketenagakerjaan, pada tanggal 3 Juli 1947 menjadi tanggal bersejarah bagi lembaga Kementerian Perburuhan dalam era kemerdekaan Indonesia. Melalui Peraturan Pemerintah No 3/1947 dibentuk lembaga yang mengurus masalah perburuhan di Indonesia dengan nama Kementerian Perburuhan.

Pada masa awal Orde Baru Kementerian Perburuhan diganti dengan Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi sampai

berakhirnya Kabinet Pembangunan III. Mulai Kabinet Pembangunan IV berubah menjadi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sementara Koperasi membentuk Kementeriannya sendiri, Selanjutnya dapat dikatakan, pada masa kemerdekaan Indonesia hingga akhir 1960-an, penempatan Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri belum melibatkan pemerintah, namun dilakukan secara orang perorang, kekerabatan, dan bersifat tradisonal.

Penempatan TKI yang didasarkan pada kebijakan pemerintah Indonesia baru terjadi pada 1970 yang dilaksanakan oleh Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No 4/1970 melalui Program Antarkerja Antardaerah (AKAD) dan Antarkerja Antarnegara (AKAN), dan sejak itu pula penempatan TKI ke luar negeri melibatkan pihak swasta (perusahaan pengerah jasa TKI atau pelaksana penempatan TKI swasta). Program AKAN ditangani oleh pejabat kepala seksi setingkat eselon IV dan bertanggung jawab langsung kepada Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penggunaan (Bina Guna), Program/Seksi akan membentuk Divisi atau Satuan Tugas Timur Tengah dan Satuan Tugas Asia Pasifik.

Di daerah pada tingkat provinsi/Kanwil, kegiatan penempatan TKI dilaksanakan oleh "Balai AKAN.", Pada 1994 Pusat AKAN dibubarkan dan fungsinya diganti Direktorat Ekspor Jasa TKI (eselon II) di bawah Direktorat Jenderal Binapenta. Namun pada 1999 Direktorat Ekspor Jasa TKI diubah menjadi Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri

(PTKLN), Dalam upaya meningkatan kualitas penempatan dan keamanan perlindungan TKI telah dibentuk pula Badan Koordinasi Penempatan TKI (BKPTKI) pada 16 April 1999 melalui Keppres No 29/1999 yang keanggotannya terdiri 9 instansi terkait lintas sektoral pelayanan TKI untuk meningkatkan program penempatan dan perlindungan tenaga kerja luar negeri sesuai lingkup tugas masing-masing.

Pada tahun 2001 Direktorat Jenderal Binapenta dibubarkan dan diganti Direktorat Jenderal Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) sekaligus membubarkan Direktorat PTKLN, Direktorat Jenderal PPTKLN pun membentuk struktur Direktorat Sosialisasi dan Penempatan untuk pelayanan penempatan TKI ke luar negeri. Sejak kehadiran Direktorat Jenderal PPTKLN, pelayanan penempatan TKI di tingkat provinsi/kanwil dijalankan oleh BP2TKI (Balai Pelayanan dan Penempatan TKI).

Selanjutnya pada tahun 2004 lahir Undang-undang No 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, yang pada pasal 94 ayat (1) dan (2) mengamanatkan pembentukan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Kemudian disusul dengan lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) No 81/2006 tentang Pembentukan BNP2TKI yang struktur operasional kerjanya melibatkan unsur-unsur instansi pemerintah pusat terkait pelayanan TKI, antara lain Kemenlu, Kemenhub,

Kemenakertrans, Kepolisian, Kemensos, Kemendiknas, Kemenkes, Imigrasi (Kemenhukam), Sesneg, dan lain-lain.

Kehadiran BNP2TKI ini maka segala urusan kegiatan penempatan dan perlindungan TKI berada dalam otoritas BNP2TKI, yang dikoordinasi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi namun tanggung jawab tugasnya kepada presiden. Akibat kehadiran BNP2TKI pula, keberadaan Direktorat Jenderal PPTKLN otomatis bubar berikut Direktorat PPTKLN karena fungsinya telah beralih ke BNP2TKI.

Dari pembahasan diatas maka saat ini tugas mengenai TKI di lakukan oleh BNP2TKI, dan untuk kelancaran pelayanan didaerah maka dibentuklah kantor pelayanan dengan nama Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI).

Sebagaimana maksud dan tujuannya maka untuk wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua maka BP3TKI ditempatkan dimakassar di bentuk sebagai tempat perwakilan dari BNP2TKI, menurut Bapak Mohd. Agus Bustami, SE. BP3TKI untuk Indonesia wilayah timur tidak selain di Makassar disebabkan oleh kurangnya permintaan baik itu dari masyarakat di luar sul-sel atau dari negara dan perusahaan luar negeri.

Itulah BP3TKI bukan berbentuk sebagai badan namun dinamakan Balai yang keputusan masih mengikuti keputusan dari BNP2TKI. Sebagai contoh jika ada permintaan dari perusahaan luar negeri maka harus melalui BNP2TKI dulu lalu di teruskan ke BP3TKI.

2. Visi dan Misi Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan

Dokumen terkait