BAB V : Pembahasan dan analisis data, bab ini mendeskripsikan sistem
A. Tinjauan tentang Pondok Pesantren 1. Pengertian Pondok Pesantren
2. Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren
Kajian tentang pesantren di Indonesia sudah cukup banyak. Para peneliti tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri pun tidak kalah minat mereka untuk meneliti pesantren. Tentu ada daya tarik pesantren sehingga sampai hari ini tetap saja banyak para peneliti yang terjun untuk mengkaji pesantren. Dalam pembahasan penelitian ini daya tarik pesantren akan ditampakkan dari aspek penerapan modernisasi di sebuah lembaga pendidikan Islam, pesantren, yang notabene-nya lebih terkenal dengan lembaga pendidikan
34Muzamil Qomar, Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2005), h. 1.
35Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), h. 24.
tradisional dan tertinggal.
Kehadiran pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan Islam sudah cukup lama, boleh dikatakan hampir bersamaan tuanya dengan Islam di Indonesia. Esensi pesantren telah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia. Masyarakat Jawa kuno telah mengenal lembaga pendidikan yang mirip dengan pesantren yang diberi nama dengan pawiyatan. Di lembaga ini guru, yang disebut Ki Hajar, hidup dan tinggal bersama muridnya, yang disebut cantrik, dan hubungan mereka amat akrab bagaikan orang tua dan anaknya. Di sini lah terjadi proses pendidikan, di mana guru mentransferkan ilmu dan nilai-nilai kehidupan kepada cantriknya. Sistem pendidikan pawiyatan ini mirip dengan sistem pesantren sekarang. Dengan demikian boleh jadi sistem pesantren mengambil sistem pawiyatan. Selanjutnya di kalangan agamawan Hindu dan Budha dilakukan pendidikan pada guru-guru agama-nya. Dalam mencetak para pendetanya mereka memakai semacam sistem pesantren juga.37
Secara historis, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dikembangkan secara indigenaus oleh masyarakat Indonesia. Karena sebenarnya pesantren merupakan produk budaya masyarakat Indonesia yang sadar sepenuhnya akan pentingnya arti sebuah pendidikan bagi orang pribumi yang tumbuh secara natural. Nurcholis Madjid mengatakan bahwa dari segi historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keIslaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenaus).38 Pesantren juga dianggap sebagai
satu-37Haidar Putra Daulay, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Rineka CIpta, 2009), cet. 1, h. 123.
38Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Dian Rakyat, tt), h. 3.
satunya sistem pendidikan di Indonesia yang menganut sistem tradisional39 (konservatif). Sebagaimana dikatakan Ulil Abshar Abdalah bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang mewarisi tradisi intelektual tradisional.40Asumsi ini mengukuhkan bahwa pesantren dengan segala infrastrukturnya merupakan lembaga pendidikan yang masih menjunjung tinggi tradisi dan budaya otentik bangsa. Terlepas dari mana tradisi dan sistem tersebut diadopsi, tidak akan mempengaruhi pola yang unik (khas) yang telah mengakar serta hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.41
Menurut sejarahnya, terdapat dua versi pendapat tentang akar berdirinya pondok pesantren di Indonesia. Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam itu sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai dengan terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan zikir dan wirid-wirid tertentu. Pemimpin tarekat itu disebut kyai, yang mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk melaksanakan suluk selama empat puluh hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama sesame anggota tarekat dalam sebuah masjid untuk melakukan ibadah-ibadah di bawah bimbingan kyai.
39Pengertian tradisional dalam arti bahwa lembaga ini hidup sejak ratusan tahun yang lalu dan telah menjadi bagian dari kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia, dan telah
mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perjalanan umat, bukan tradisional dalam arti tetap tanpa mengalami penyesuaian.
40Ulil Abshar Abdalah, Humanisasi Kitab Kuning: Refleksi dan Kritik atas Tradisi Intelektual Pesantren, dalam Marzuki Wahid, dkk (Edit.), Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 287.
Untuk keperluan sulun ini lah para kyai menyediakan ruangan-ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak yang biasanya berada di kanan/kiri masjid. Di samping mengajarkan amalan-amalan tarekat, para pengikut diajarkan kitab-kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Aktivitas yang dilakukan oleh para pengikut ini kemudian disebut pengajian. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren.
Kedua, pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambilalihan dari sistem pesantren yang diadakan orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negeri ini yang dijadikan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu dan tempat pembinaan kader-kader penyebar Hindu. Tradisi penghormatan murid kepada guru yang pola hubungan antara keduanya tidak didasarkan kepada hal-hal yang difatnya materi juga bersumber dari tradisi Hindu. Fakta lain yang menunjukkan bahwa pesantren bukan berakar dari tradisi Islam adalah tidak ditemukannya lembaga pesantren di Negara-negara Islam lainnya, sementara lembaga yang serupa dengan pesantren banyak ditemukan di dalam masyarakat Hindu dan Budha, seperti India, Myanmar, dan Thailand.42
Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaannya dan perkembangannya setelah abad ke-16. Karya-karya Jawa klasik seperti Serat Cabolek dan Serat Cemtini mengungkapkan bahwa sejak permulaan abad ke-16 di
42Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993), Cet. 1, Jil. 4., h. 100.
Indonesia telah banyak dijumpai pesantren yang besar yang mangajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fikih, teologi, dan tasawuf, dan menjadi pusat-pusat penyiaran Islam. Berdasarkan data Departemen Agama tahun 1984/1985, jumlah pesantren di Indonesia pada abad ke-16 sebanyak 613 buah, tetapi tidak diketahui tahun berapa pesantren-pesantren itu didirikan.43 Pada masa-masa berikutnya lembaga pesantren berkembang terus dalam segi kuantitas dan kualitas. Data Departemen Agama menunjukkan perkembangan pondok pesantren begitu luar biasa. Secara kuantitatif, pada tahun 2008 tercatat jumlah pesantren di Indonesia mencapai 21.521 buah yang terdiri dari Salafiyah 8.001 (37%), Asy’ariyah 3.881 (18%) dan kombinasi 9.639 (45%) dengan satri lebih dari 3.818.469 orang yang terdiri dari santri laki-laki 2.063.954 (54%) dan santri perempuan 1.754.515 (46%).44