• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Flight Information Region (FIR)

2.2 Flight Information Region (FIR)

2.2.1 Sejarah Flight Information Region (FIR)

Ruang udara tidak terlepas dari dunia penerbangan. Perkembangan dari dunia penerbangan sendiri diawali pada tahun 1784. Dimana Lenoir, seorang pembesar Polisi dari Paris melarang penerbangan dengan balon udara tanpa izin.

Kemudian pada tahun 1819 Count d’Angles, kepala Polisi wilayah Seine, mengharuskan balon udara dilengkapi dengan parasut dan melarang

57 A.Dirman. 2014. UNCLOS 1982 dan ICAO 1947 Dalam Pengaturan Ruang Udara. Jurnal Ilmiah Hukum Dirgantara – Fakultas Hukum Universitas Suryadarma. Vol.4. No.2. Diakses pada tanggal 20 Juni 2020.

hal.9.

percobaan dengan balon udara selama musim panen.58 Selanjutnya dunia penerbangan semakin berkembang pesat pada abad ke-19 di negara bagian North Caroline, Amerika Serikat. Manusia pertama kali berhasil terbang dengan wahana bermotor yang lebih berat dari udara, tepatnya pesawat udara yang dirancang oleh Wright bersaudara. Kejadian bersejarah tersebut menjadi awal perkembangan ruang udara sebagai sumber daya alam yang mulai diperhatikan.59

Pada tahun 1910 telah dipikirkan masalah-masalah penggunaan pesawat udara yang meliputi masalah hukum dan teknik maupun operasional seperti keselamatan penerbangan, hubungan radio, pendaftaran pesawat udara, kelaikan, daerah terlarang, statistic, tukar-menukar informasi teknik penerbangan, izin penerbangan, larangan membawa bahan berbahaya, peralatan radio, foto, dan sebaginya. Masalah ruang udara diatas wilayah daratan dan perairan suatu negara berdaulat yang digunakan untuk penerbangan, mulai dibahas resmi dalam Konferensi Paris yang berlangsung dari 10 Mei hingga 29 Juni 191060.

Latar belakang Konferensi Paris 1910 ini adalah banyaknya penerbangan yang berlangsung di Eropa tanpa memperhatikan kedaulatan negara dibawahnya (negara kolong), karena pada saat itu belum ada pengaturannya. Balon bebas tinggal landas dari satu negara dan mendarat di negara lain tanpa adanya izin dari negara yang bersangkutan akan membahayakan, apalagi pesawat udara dapat digunakan untuk mengangkut militer, yang dianggap dapat mengancam keamanan nasional negara dibawahnya.61 Tetapi konferensi yang dilakukan di Paris 1910 tidak berhasil mencapai pemecahan yang bulat tentang pelaksaan penyelesaian masalah yang mendesak mengenai pengaturan ruang udara diatas wilayahnya, karena perlu diadakan pertemuan antarnegara.

Saat berakhirnya Perang Dunia I dibuatlah perjanjian internasional mengenai penerbangan, yaitu Convention Relating to the Regulation of Aerial Navigation, di Paris 13 Oktober 1919 atau yang lebih dikenal dengan Konvensi Paris 1919 yang mengatur secara khusus tentang tata cara, status, ruang udara dunia dengan Protocol Paris pada 1 Mei 1920. Konvensi ini ditandantangani oleh

58 E. Suherman. 1983. Hukum Udara Indonesia & Internasional. Bandung: Alumni hal.104.

59 E. Saefullah Wiradipradja. 1990. Tinjauan Singkat atas Berbagai Perjanjian Internasional di Bidang Hukum Udara,. Bandung: Lisan. hal.1.

60 H.K.Martono dan Amad Sudirjo. 2012. Op.Cit. hal. 11.

61 Ibid

27 negara yang terdiri dari negara-negara sekutu, beberapa Republik di Amerika Latin dan negara lainnya.

Prinsip utama konvensi ini adalah ruang udara mengikuti status yuridik dari bumi yang berada dibawahnya. Pada Konvensi Paris 1919 ini dengan jelas menerima kedaulatan nasional sebuah negara. Pada pasal 1 merupakan pasal utama berkenaan dengan kedaultan yang berbunyi :

”The High Contracting Parties recognize that every power has complete and ekslusif sovereignty over the airspace above its territory. For the purpose of the present convention, the territory of a state shall be understood as including the national territory, both that of the mother country and of the colonies, and the territorial waters adjacent thereto”.

Pencantuman prinsip kedaulatan atas wilayah udara diatas daratan dan perairan sesuai penugasan Komisi Navigasi Penerbangan Internasional.62 Namun sistem Konvensi Paris 1919 ini belum berjalan lancar. Kebebasan navigasi udara kenyataannya bukan merupakan pengakuan atas suatu rezim yang objektif tetapi sebagai hasil suatu konsesi konvensional yang diberikan atas dasar resiporitas semata kepada negara-negara penandatangan Konvensi.63 Dengan adanya Konvensi Paris 1919 ini justru menjadi ancaman bagi keamanan nasional (national security), semangat feodalisme, serta diskriminatif.

Selanjutnya, pembentukan FIR tidak terlepas dari sejarah pembentukan awalnya yang berasal dari pengendalian lalu lintas udara atau Air Traffic Control (ATC). Seperti yang dikemukakan Kresno, dalam tulisannya mengenai Flight Information Region,64 sebagai berikut:

a) Tahun 1929, Archie W. League (Amerika Serikat), mendorong gerobaknya ke lapangan terbang Lambert, St. Louis City. Gerobaknya berisi dua bendera (merah dan kotak-kotak). Kegiatan yang dilakukan Archie pada saat itu melambai-lambaikan bendera sebagai tanda atau aba-aba yang diberikan kepada setiap pesawat udara baik yang akan berangkat terbang ataupun mendarat.

Kegiatan tersebut memang tidak efisien untuk mengatur lalu lintas udara, namun

62 Ibid. hal.29.

63 Boer Mauna. 2001. Op.Cit. hal.384.

64 Kresno Buntoro. 2006. Flight Information Region. Majalah Forum Hukum Vol. 3 No. 2.

tetap berguna mengingat pada waktu itu tidak banyak pesawat udara yang terbang di atas wilayah ruang udara tersebut

b) Tahun 1930, pertama kali dibangun menara pengendalian lalu lintas udara (Airport Control Tower) yang layak di Cleveland, Amerika Serikat. Tower tersebut dilengkapi dengan lampu isyarat dan radio dua arah yang berguna untuk mengendalikan lalu lintas udara.

c) Tahun 1938 Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan Undang-Undang tentang Penerbangan Sipil. Semua petugas ATC harus memiliki sertifikat atau izin dari pemerintah dan selain itu juga dalam ketentuan tersebut mensyaratkan. Dimana hal itu mengharuskan semua penerbang untuk memperhatikan semua petunjuk yang dikeluarkan oleh petugas ATC. Namun petugas ATC saat itu kesulitan untuk menentukan secara pasti posisi terbang suatu pesawat udara yang berada dalam pemantauannya.

d) Tahun 1946 mulai ditemukannya pertama kali peralatan radar yang digunakan dalam navigasi penerbangan dan merupakan salah satu faktor utama terciptanya FIR di seluruh wilayah udara di dunia. Peralatan radar yang pertama digunakan untuk keperluan penerbangan sipil dipasang di Bandara Indianapolis, Amerika Serikat.

e) Tahun 1956 diperlukannya pengendalian lalu lintas udara yang memadai di seluruh penjuru dunia dan dibentuknya FIR secara merata pada wilayah udara di setiap negara, sebagai tempat yang dapat memberikan pelayanan jasa pengendalian lalu lintas bagi semua pesawat udara yang akan terbang melintasi berbagai wilayah udara di suatu negara.

Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, Presiden Amerika Serikat Roosevelt mengundang sekutu-sekutunya untuk mengadakan Konferensi Penerbangan Sipil Internasional di Chicago pada 1944. Hingga pada tanggal 7 Desember 1944 setelah melalui perdebatan yang cukup panjang akhirnya konsep Inggris diterima oleh Konferensi ini, yang terdiri dari instrument yaitu: konvensi penerbangan sipil internasional, persetujuan internasional.

Terdapat empat prinsip dalam Konvensi Chicago 1944, yaitu:

Pertama, kedaulataan (sovereignty), yang menyatakan bahwa negara-negara peserta Konvensi Chicago 1944 mengakui bahwa setiap negara-negara di dunia

rnemiliki kedaulatan penuh dan eksklusif atas ruang udara yang berada di atas wilayah kekuasaannya.

Kedua, wilayah (territory), yang menyatakan bahwa untuk keperluan Konvensi Chicago 1944, wilayah kekuasaan suatu negara adalah wilayah daratan dan lautan yang berbatasan dengannya yang berada di bawah kedaulatan,

perlindungan, atau mandat dari negara tersebut.

Ketiga, pesawat sipil dan pemerintah (civil and state aircraft). Dalam hal ini, terbagi menjadi empat poin, yaitu: a) Konvensi Chicago 1944 banyak berlaku bagi pesawat terbang sipil dan tidak berlaku bagi pesawat terbang milik pemerintah suatu negara; b) Pesawat yang digunakan untuk keperluan militer, pabean, dan layanan kepolisian dianggap sebagai pesawat terbang milik pemerintah; c) Tidak ada pesawat terbang milik Pemerintah suatu negara yang boleh melewati wilayah udara negara lain atau mendarat di negara tersebut tanpa izin melalui perjanjian khusus, atau sebaliknya, dan dilaksanakan sesuai prosedur yang diperjanjikand) Negara-negara peserta berusaha ketika membuat peraturan mengenai penerbangan sipil untuk membuat peraturan yang mengutakan keselamatan navigasi dari penerbangan sipil.

Keempat, penyalahgunaan penerbangan sipil (misuse of civil aviation), yang menyatakan bahwa negara-negara peserta setuju untuk tidak menggunakan penerbangan sipil untuk tujuan lain yang tidak sesuai dengan yang terjadi dalam Konvensi Chicago 1944.65

Konvensi Chicago 1944 yang menyatakan kedaulatan negara di udara complete and exckusive mengandung arti yang sangat “loud and clear” bahwa tidak ada jalur lalu lintas damai di wilayah udara negara. Pengertian ini pada dasarnya mengandung arti bahwa setiap pesawat terbang yang melintas di wilayah udara kedaulatan sebuah negara diwajibkan untuk memperoleh izin terlebih dahulu. Dalam Konvensi Chicago terdapat beberapa kandungan yang terdiri dari aspek ekonomi penerbangan internasional, aspek teknis dan operasional, kedaulatan atas wilayah udara, pendaftaran dan kebangsaan pesawat udara, pencarian dan pertolongan pesawat udara (SAR), dokumen penerbangan dan organisasi penerbangan sipil internasional.

65 Ni Putu Anggraeni. 2009. Convention on International Civil Aviation. Indonesian Journal of International Law. Vol. 6. No.4. hal. 565-566. Diakses 28 Februari 2020.

Flight Information Region (FIR) merupakan bagian dari pengaturan penerbangan dan masalah penerbangan yang tidak terbatas pada satu negara, dalam artian bahwa dunia penerbangan akan bersinggungan antara satu negara dengan negara lain, sehingga agar mencapai keselamatan dalam penerbangan perlu adanya pengaturan terhadap lalu lintas atau navigasi penerbangan, dan hal tersebut berlaku secara internasional. FIR dibentuk untuk membagi wilayah udara yang bertujuan untuk menjamin keamanan dan keselamatan penerbangan yang ditetapkan negara-negara yang tergabung dalam ICAO, baik untuk wilayah udara nasional maupun internasional.

FIR dibedakan menjadi dua pembagian, pelayanan bagi penerbangan yang terdapat sampai pada lapisan 20.000 kaki (feet) itu dimaksud dengan FIR, sedangkan untuk ketinggian di atasnya yang melebihi dari 20.000 kaki hingga ketinggian tak terhingga merupakan Upper Flight Information Region (UIR).

Pembedaan antara FIR dan UIR hanya didasari pada kemampuan daya jelajah ketinggian dari pesawat terbang yang berbeda-beda. Penjelasan tersebut hanya menunjukkan ketinggian (altitute) dari FIR dan bukan merupakan batas dari wilayah nasional suatu negara66.

Pembentukan FIR sendiri merupakan salah satu perwujudan dari pelayanan navigasi penerbangan berskala internasional sebagaimana diatur dalam Annex 11 dari Konvensi Chicago 1944 tentang Air Traffic Service (ATS).

Selanjutnya dalam Air Traffic Services (ATS) berisikan tentang

“A generic term meaning variously flight information services, alerting services, air traffic advisory, air traffic control service (area control service, approach control service or aerodome control service).”

Dalam bagian umum ketentuan ini menjelaskan bahwa setiap negara anggota-anggota ICAO wajib menentukan bagian-bagian dari wilayah udaranya tempat pemberian pelayanan lalu lintas udara untuk kepentingan keselamatan.67

Dalam dunia penerbangan, negara akan selalu bersinggungan dengan negara lain. FIR dapat terbentuk karena adanya sejarah panjang perkembangan penerbangan. Pengaturan terhadap lalu lintas atau navigasi penerbangan diadakan

66 Frans Likadja. 1987. Masalah Lintas di Ruang Udara. Jakarta : Bina Cipta, Jakarta. hal. 28.

67 Nurfitriyanti A. Analisis Terhadap Upaya Kesiapan Indonesia Dalam Mengambil Alih Flight Information Region (FIR) Singapura Di Atas Wilayah Kepulauan Riau dan Natuna. Skrpsi Program Hukum Internasional.

Makasar : Universitas Hassanudin. hal.30

untuk mencapai keselamatan dalam penerbangan. Pelayanan yang diberikan Air Traffic Service (ATS) berupa Flight Information Service (FIS) yang didalamnya termasuk pemberian masukan dan informasi yang berguna dalam pelaksanaan penerbangan seperti prakiraan cuaca, aktifitas dari gunung berapi atau asap yang berasal dari gunung berapi, serta informasi mengenai unsur yang terdapat dalam udara apakah mengandung bahan radio aktif berbahaya atau dan sebagainya.

2.2.2 Pendelegasian Flight Information Region (FIR) di Natuna kepada

Dokumen terkait