• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.4. Gerakan Feminisme

2.4.1 Sejarah Gerakan Feminisme

Gerakan feminisme ini awalnya ada di negara Eropa. Munculnya gerakan feminisme pada masyarakat Barat tidak terlepas dari sejarah masyarakat Barat

48 yang memandang rendah terhadap kedudukan perempuan, dan kekecewaan masyarakat Barat terhadap pernyataan kitab suci mereka terhadap perempuan. Pakar sejarah Barat, Philip J.Adler dalam buku “World Civilization” menggambarkan bagaimana kekejaman masyarakat Barat dalam memandang dan memperlakukan perempuan. Sampai abad ke 17, masyarakat Eropah masih memandang perempuan sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia, dan meyakini bahwa sejak awal penciptaannya, perempuan merupakan ciptaan yang tidak sempurna.

Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebua

yang menuntutdengan laki-laki.

Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan. Sekarang ini kepustakaan internasional mendefinisikannya sebagai pembedaan terhadap hak hak perempuan yang didasarkan pada kesetaraan perempuan dan laki laki.

Sifat penyebab ketidakadilan, dominasi dan subordinasi terhadap wanita, sehingga sebagai konsekuensinya adalah tuntutan terhadap kesederajatan gender. Kesederajatan gender tidak akan dapat tercapai dalam struktur institusional ideologis yang saat ini berlaku.

Feminis menitikberatkan perhatian pada analisis peranan hukum terhadap bertahannya hegemoni dikemukakan oleh feminis diharapkan dapat secara nyata diberlakukan, karena segala upaya feminis bukan hanya untuk menghiasi lembaran sejarah

49 perkembangan manusia, namun lebih kepada upaya untuk bertahan hidup. Timbulnya gerakan feminis merupakan gambaran bahwa ketentuan yang abstrak tidak dapat menyelesaikan ketidaksetaraan. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa ada konstruksi sosial, bahwa pemimpin itu adalah laki-laki. Perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan agama adalah warga kelas dua. Laki-laki mendominasi dan menjadi penentu dalam kehidupan perempuan sehingga mereka tidak memiliki kebebasan menentukan pilihan bagi dirinya sendiri. Terinternalisasi suatu pemahaman bahwa laki-laki adalah pihak penguasa sementara perempuan adalah pihak yang dikuasai dan hal ini adalah kodrat yang sejak semula menjadi hakekat manusia. Hal ini menyebabkan perempuan termarginalisasi sehingga peran, kedudukan , hak dan tanggung jawab mereka terbatas dalam lingkungan domestik.

Realitas subordinasi dalam seluruh bidang kehidupan yang dialami oleh perempuan menjadi salah satu pendorong munculnya pemikiran feminisme. Feminisme merupakan pemikiran dan teori kritis terhadap konstruksi patriarki yang melakukan dominasi terhadap perempuan. Feminisme juga dapat dimengerti sebagai ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannnya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya ( Humm (ed), 2002).

Namun feminisme tidak hanya bersoal pada pemikiran dan konsep semata. Pemikiran ini lahir dari pengalaman perempuan. Sebagai gerakan yang berawal dari akar rumput, feminism memungkin setiap perempuan untuk berpikir dengan pemikiran sendiri dan pada gilirannya pemikiran (teori atau ide) tersebut

50 melahirkan gerakan yang membebaskan perempuan dari belenggu patriarki sesuai dengan konteks yang melatar belakanginya.

Secara umum sejarah dan perkembangan feminisme di bagi dalam tiga gelombang utama (Arivia, 2003). Gelombang feminisme awal dimulai sejak tahun 1800-an dan berkaitan dengan terjadinya revolusi Prancis, 1789. Feminis gelombang ini menyibukkan diri sebagaiaktivis pergerakan perempuan. Pada tahun1700-an di Eropa, segala kemungkinan yang berkaitan dengan semangat, penemuan dan ide-ide pembaruan terbuka lebar termasuk dalam diskusi-diskusi kebebasan. Pada waktu itu muncul gerakan perempuan dan salah satu puncaknya terjadi pada tahun1960-an ketika di Prancis berlangsung Konferensi Komisi Persamaan Hak Kesempatan Kerja. Perempuan kurang puas dengan jalannya konferensi yang tidak memberi kesempatan bagi penyampaian ide-ide baru. Kemudian gelombang kedua muncul dan berkembang pada awal tahun 1960-an yang ditandai dengan beranjaknya gerakan feminis dari aktivitas yang bersifat praktis menuju aktivitas yang bersifat teoritis-sistematis. Pada gelombang ini muncul kesadaran bahwa penting untuk melihat factor yang menyebabkan penindasan kepada perempuan. Gelombang ini juga memfokuskan diri pada persoalan-persoalan yang mengarah kepada pemikiran bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki. Sedangkan gelombang terakhir sangat dipengaruhi oleh pemikiran postmodernisme yang memfokuskan diri kepada alternative bagi yang termarginaslisasi.

Ketiga gelombang besar feminis di atas kemudian melahirkan keragaman pemikiran feminis. Teori feminis modern bertolak dari pertanyaan

51 2. Mengapa situasi perempuan seperti sekarang ini?

3. Bagaimana perempuan dapat merubah dan memperbaiki dunia sosial? 4. Bagaimana dengan perbedaan di antara perempuan ?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini menghasilkan variasi teori feminis (Ritzer dan Goodman, 2008). Ada delapan arus utama pemikiran tersebut: Feminisme Liberal merupakan pemikiran feminisme yang berkeinginan untuk membebaskan perempuan dari peran gender yang digunakan sebagai alasan atau pembenaran untuk memberikan tempat yang lebih rendah atau tidak memberikan tempat sama sekali bagi perempuan. Feminisme Radikal muncul ketika seksualitas perempuan, khususnya perempuan Barat dieksploitasi. Feminisme Marxis dan Sosialis memberikan pemikiran mengenai pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Feminisme Psikoanalisis dan Gender mempertanyakan kembali suatu pemikiran yang berhubungan dengan subordinasi perempuan dan menganalisa mengapa masyarakat menerima pemikiran tersebut. Feminisme Eksistensialis merupakan feminisme yang memotori merebaknya feminisme sebagai suatu wacana atau gerakan. Feminisme Postmodern memperbincangkan akar dari pengabaian terhadap perempuan yang diassosiasikan dengan tubuh. Pemikiran feminisme yang terakhir adalah Feminisme Multikultural dan Global, serta Ekofeminisme yang lahir karena adanya kesadaran bahwa posisi subordinat perempuan tidak semata-mata karena seorang perempuan adalah perempuan, melainkan juga karena ia adalah perempuan dengan ras, kelas, agama, atau latar belakang tertentu. Kedelapan arus utama pemikiran feminisme tersebut lahir dari pengalaman yang berbeda namun menuju suatu gerakan yang sama yakni perjuangan bagi kebebasan perempuan dari dominasi patriarki (Tong, 2006).

52 2.4.2. Teologi Feminis: Teologi yang Membebaskan Perempuan

Gerakan perjuangan pembebasan perempuan tidak hanya di dunia sekuler namun juga di dalam gereja. Gerakan feminisme melahirkan munculnya teologi feminis. Teologi feminis adalah teologi perempuan yang tidak rela memahami perempuan sebagai obyek melainkan sebagai subyek yang sedang mencari sejarah dari jati dirinya sendiri. Teologi feminis dalam arti modern mulai berkembang di Amerika dengan radikal. Penggagas teologia feminisn ini adalah Mary Daly (1973) dan dikembangkan dalam tradisi Kristen oleh teolog-teolog perempuan lainnya. Teolog-teolog perempuan terus membawa ide-ide mengenai keadilan dan kesetaraan bagi perempuan dalam gereja. Pada tahun1948 dalam salah satu pertemuan World Council of Churches (WCC) di Amsterdam, Kathleen Bliss dan Olive Wyon menulis dan menyampaikan sebuah laporan yang berkaitan denga kehidupan dan pekerjaan perempuan dalam gereja. Sejak saat itu peran perempuan dalam gereja menjadi salah satu agenda dalam pertemuan-pertemuan WCC (Paterson, 1999:4). Pada tahun 1987 diperkenalkan sebuah Ecumenical Decade –Churches in Solidaritas with Woman yang berlangsung dari tahun 1988-1998. Dekade tersebut dimaksudkan untuk membangun kesadaran dan kesempatan bagi perempuan dalam kehidupan bergereja baik secara lokal, nasional dan regional maupun internasional. Dekade ini memberi pengaruh positif bagi gerakan teolog feminis di seluruh dunia.

Teologi Feminis di Asia secara terorganisir dimulai pad tahun 1970-an. Teologia feminis Asia dimulai ketika perempuan Asia berkumpul mendiskusikan Alkitab dan iman mereka dalam konteks realitas Asia dan pengalaman mereka sendiri. Konteks subordinasi perempuan Asia adalah dipandang sebagai pelengkap

53 laki-laki, kurang berhak atas warisan, kedudukannya lemah, dibeli oleh suami dengan mas kawin, dibayar murah dan patuh pada sektor industry modern, kesehatan tidak dilindungi dan diperjualbelikan sebagai pelacur. Sementara itu, konteks masyarakat yang mendominasi mereka adalah multikultural dan multireligius serta terjajah dan miskin. Dalam konteks seperti inilah lahir kesadaran akan kebebasan dari belenggu diminasi sosial, budaya, dan agama yang patriarki. Dalam konteks ini pula, Kwok Pui-I (2000), menawarkan hermeneutik feminis Asia yang dipraktekkan dalam kehidupan bergereja, rekonstruksi atas konsep Allah dalam konteks keagamaan yang pluralistik di Asia, dan pengkajian ulang atas pemahaman gereja atas Kristus dan penyelamatan dari dosa.

Di Indonesia, Marianna Katoppo, seorang teolog feminis, mengingatkan bahwa wajah setiap orang yang menderita karena ketidakadilan dan penindasan adalah wajah Kristus yang disalibkan. Perempuan adalah yang dipaksa untuk bungkam karena sistem, ajaran dan tradisi dalam gereja yang mengkondisikan hal yang demikian. Walaupun mayoritas warga jemaat yang menghadiri seluruh kegiatan gerejawi adalah perempuan, namun representasi laki-laki dalam organisasi resmi (pengambil keputusan) didominasi oleh laki-laki, khususnya dalam gereja Katholik (Elizabeth, 1984). Dari buku Hasil-hasil Pertemuan Raya Wanita Gereja Pra Sidang Raya PGI XIV PGI tahun 2004 di Kinasih dicatat dan didiskusian berbagai diskriminasi dan kekerasaan yang masih terus dialami oleh perempuan dan anak-anak sebagai kaum yang kehidupan didominasi oleh budaya yang patriarki (lihat Hasil-hasil Pertemuan Raya Wanita Gereja Pra Sidang Raya PGI XIV PGI, 2004).

54 Mengamati perkembangan gerakan feminisme dan studi gender di Indonesia ada harapan yang menjanjikan akan adanya perubahan kedudukan perempuan untuk lebih sejajar dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan. Kesadaran yang universal dan perubahan pandangan terhadap peranan perempuan menjadi isu yang mendunia di setiap negara. Perubahan perilaku sosial secara global timbul karena adanya kesadaran kesetaraan laki-laki dan perempuan. Isu mengenai kesadaran gender bergema di seluruh dunia. Kesempatan bagi kaum perempuan terbuka lebar.

Perubahan masyarakat yang dicita-citakan oleh gerakan perempuan adalah masyarakat yang bebas dari penindasan, bebas dari ketidakadilan. Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa perempuan berbeda dari laki-laki, mengapa memperjuangkan kesamaan. Yang ditolak bukan perbedaan, melainkan ketidakadilan. Yang diperjuangkan bukan kesamaan, melainkan kesetaraan. Cita-cita gerakan perempuan adalah komunitas yang egalitarian, komunitas yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, mengusahakan pembebasan untuk semua orang. Tanpa pembebasan kaum perempuan, tidak ada pembebasan bagi semua.

Dokumen terkait