• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DESKRIPSI PROFIL YAYASAN HAJI MUHAMMAD CHENG

C. Sejarah Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia

56

15. H. Muliawan (Li Neng Yun) 16. Oei Tjing Yen (Huang Jin Yuan) 17. Ong, Andy Suyanto (Wang Qing An) 18. Permadi Suharto (Liu Jia Hao) 19. Puji Harsono

20. Rahmat Azis

21. Rachmat Kurnia Ruswadinata 22. Roestiono, Drs. (Cai Chun Ji) 23. Soeharto, H.

24. Sukotjo Iwan (Yu Chang Zhao)

25. Suyanto Wijaya/ Yan Widjaja (Gu Long Yan) 26. Titin Sandranaja, Hj. (Xu Gui Zhen)

27. Tommy (Liu Shao Wen)

28. Ir. Tony Hartono Bagio MT MM (Wang Xian Bao) 29. Trisno Admodjo, H. (Chen Zhi Teng)

30. (Alm) Wahyuda Gowantara, H. (Wu Guo Hua) 31. (Alm) Akhmad Alie Sadikin (Liao Zhao Qing) 32. Ketua DPD PITI se-Jawa Timur (21 DPD)

C. Sejarah Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia

Berbicara mengenai Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo, tentu tidak bisa terlepas dari keberadaan masjidnya, yang merupakan pusat kegiatan dan program dari yayasan. Masjid Muhammad Cheng Hoo dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan mana muslim Tionghoa. Bangunan dari masjid ini pun bernuansa etnik dan antik sehingga terlihat unik dan berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya. Salah satu hal yang membuat masjid-masjid ini terlihat unik adalah pengaplikasian warna hijau, merah dan kuning yang merupakan warna khas arsitektur Tiongkok.124

Atas gagasan dari HMY. Bambang Sujanto dan para pengurus PITI, 15 Oktober 2001 dimulailah pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Dalam

124 Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo, Sekilas Tentang Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya (cetakan ke-8) (Surabaya: t.p., t.t.), 7.

57

upacara peletakan batu pertama dalam pembangunan masjid tersebut, selain dihadiri oleh sejumlah tokoh Tionghoa seperti Liem Ou Yen (Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya), Bintoro Tanjung (Presiden komisaris PT Gudang Garam Tbk), dan masih banyak lagi, hadir pula sejumlah tokoh masyarakat Jawa Timur, seperti HRP. Moch Noer dan Mayjend. Pol. (Purn). Drs. H. Sumarsono, SH., MBA, tidak ketinggalan juga sejumlah pengurus PITI dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indoneisa.125

Masjid yang terletak di Jalan Gading 2 Surabaya ini terinspirasi dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Selanjutnya desain arsitekturnya dikembangkan oleh Ir. Aziz Johan, yang juga merupakan angota PITI Bojonegoro, yang didukung oleh sejumlah tim teknis serta jajaran pengurus PITI Jatim dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.126 Pembangunan masjid akhirnya selesai dengan menelan biaya sebesar Rp 3.300.000.000, dengan luas lahan 3.070 m². Adapun status kepemilikan dari tanah ini awalnya atas nama H. M. Trisnoadi Tantiono dan H.M.Y Bambang Sujanto, yang mana keduanya telah menerbitkan surat pernyataan bahwa kepemilikan tanah tersebut adalah milik Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.127

Pembangunan Masjid Cheng Hoo akhirnya selesai dan diresmikan oleh Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, MA pada tanggal 28 Mei 2003, yang sekaligus bertepatan dengan milad PITI atau Pembina Iman Tauhid

125 Ibid., 3. 126 Ibid. 127 Ibid.

58

Islam. Dalam peresmian tersebut, hadir pula Atase Kebudayaan Kedutaan Besar RRC di Indonesia dan Vice Consultant Kedutaan Besat USA di Indonesia. Selain itu, hadir pula para tokoh Jawa Timur seperti Gubernur Jawa Timur, yaitu H. Imam Utomo, Ketua NU Jawa Timur yaitu Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si, Ketua Muhammadiyah Jawa Timur ketika itu yaitu Prof. Dr. H. Fasichul Lisan, Apt., juga mantan Gubernur Jawa Timur, yaitu H.R.P. Moch Noer dan HM. Basofi Sudirman yang bertindak sebagai penasihat dan pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.128

Dalam hal struktur bangunan dan desain interior, masjid berukuran 21x11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11x9 meter ini memiliki arti khusus yang sarat makna. Di sisi kiri dan kanan bangunan utama tersebut terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Panjang 11 meter pada bangunan utama Masjid ini menandakan bahwa Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter, sedangkan lebar 9 meter pada bangunan utama ini diambil dari keberadaan Walisongo yang menyiarkan Islam di tanah Jawa. Sedangkan arsitektur masjid yang menyerupai klenteng ini untuk menunjukkan identitas sebagai muslim Tionghoa di Indonesia, sekaligus sebagai pengingat leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama Budha. Adapun bagian atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (pat kwa), diambil dari filosofis angka 8 dalam Bahasa Tionghoa yang berarti keberuntungan.129 Selain itu, segi 8 ini juga menyerupai bentuk jaring laba-laba

128 Ibid., 4. 129 Ibid.

59

yang mana punya sejarah tersendiri dalam perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Saat Nabi Muhammad dikejar oleh Kaum Kafir Quraish, Nabi masuk ke dalam Gua Tsur dan memohon perlindungan Allah SWT. Saat situasi sudah aman, Nabi kemudian keluar dari gua tanpa merusak rumah laba-laba tersebut, yang mana ini dapat dimaknai sebagai nilai Islam yang damai, tidak merusak dan mengganggu makhluk Allah yang lain.130

Selain kombinasi warna masjid dan bentuk bangunan yang unik karena identik dengan bangunan Tionghoa, bagian depan bangunan utama dari masjid ini, yang biasanya digunakan oleh imam untuk memimpin sholat dan khotbah juga cukup unik, karena dibentuk seperti pintu gereja. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi Umat Nasrani. Selain itu, pihak Yayasan Majid Cheng Hoo juga ingin menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan umat beragama yang lain.131

Selain itu, ada juga salah satu spot masjid yang seringkali menjadi pusat perhatian pengunjung masjid dan wisatawan, yaitu pada sisi kanan masjid yang terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya untuk mengarungi Samudra Hindia. Relief ini mengandung pesan bahwasannya Orang Tionghoa masuk Islam bukanlah hal yang aneh atau luar biasa, kerena pada

130 Ibid., 5. 131 Ibid.

60

600 tahun yang lalu terdapat seorang laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo yang turut mensyiarkan Islam di Indonesia.132

Dalam awal ide pembangunannya, sempat ada dialog diantara pengurus, yaitu apakah untuk pembinaan muslim Tionghoa harus dengan membangun masjid, karena ada pilihan lain, seperti gedung atau balai pertemuan atau sekretariat sebagai tempat pengajian. Akan tetapi akhirnya diputuskan untuk membangun masjid. Hal ini disebabkan, masjid dapat berfungsi, selain sebagai tempat ibadah dan tempat sujud pada Allah, juga dapat berfungsi sebagai tempat berkumpul, bertukar pikiran, menyampaikan permasalahan yang dihadapi muslim keturunan Tionghoa dalam kehidupan sehari, terutama masalah keseharian seperti menyangkut keluarga yang berbeda pandangan dalam menilai Islam sebagai keyakinan yang baru mereka anut. Di samping itu, masjid juga merupakan tempat berkumpulnya semua jamaah tanpa memandang perbedaan kedudukan, warna kulit dan status sosial maupun ekonomi. Setelah sepakat membangun masjid, kemudian barulah dicari lokasi pembangunannya, yang mana memiliki kriteria strategis, mudah dijangkau dan berada di wilayah tengah kota Surabaya.133