• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH PEMILIKAN DAN PENGUASAAN SUMBERDAYA D

Dalam dokumen Journal Pesisir Lautan Vol1 2 (Halaman 41-43)

Trochus Niloticus: An “Endangered Invertebrate”

SEJARAH PEMILIKAN DAN PENGUASAAN SUMBERDAYA D

INDONESIA

Pada jaman penjajahan Belanda, sebahagian besar sumber daya alam adalah milik penjajah. Penjajah hanya mengakui hak milik atau hak warisan bagi masyarakat yang patuh pada penjajah atau tokoh-tokoh serta kaum bangsawan yang berkolaborasi

Belanda tidak banyak mengurus pemilikan dan penguasaan SDK, karena pada masa penjajahan baik sumber daya ikan, ekosistem mangrove dan terumbu karang maupun minyak di lepas pantai masih dipandang kurang ekonomis dan kontribusinya relatif rendah dibandingkan hasil tanaman industri dan rempah-rempah. Banyak penduduk desa pesisir yang nelayan merangkap petani, relatif bebas memanfaatkan SDK tersebut.

mempunyai hak akses memanfaatkan SDK- nya. Jadi pada masa penjajah: hak milik pribadi; milik kelompok tertentu; milik pemerintah; dan tanpa milik (open access) sudah ada.

Setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, sampai tahun 1960, maka sumber daya lahan dan kelautan secara otomatis menjadi milik Pemerintah Indonesia. Beberapa tipe pemilikan dan penguasaan milik kelompok masyarakat tertentu ataupun milik pribadi ada juga yang dialihkan menjadi milik pemerintah Indonesia, terutama milik kelompok atau orang yang berkolaborasi dengan Belanda. Pemerintah memiliki hampir semua sumber daya, seperti hutan, lahan dan ekosistem pesisir. Namun banyak perkebunan kelapa di pesisir Sulawesi Utara yang dikembangkan pada zaman Belanda, sampai pada saat ini masih dimiliki secara pribadi oleh orang Minahasa, yang mendapat warisan dari pengusaha perkebunan kelapa tersebut.

Pada masa ini, pemerintah mengeluarkan ordonansi Stb 1939. No. 442

tentang Laut Teritorial Dan Lingkungan Maritim, yang menyatakan bahwa perairan Indonesia adalah 3 mil dari titik pasang terendah dari setiap pulau. Tiga mil ini adalah laut teritorial yang dipandang sebagai bagian dari wilayah pesisir. Dengan demikian pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk menata dan mengelola SDK di perairan teritorial tersebut termasuk mengelola kegiatan perikanan, pelabuhan dan pertambangan. Berdasarkan ordonansi tersebut, nelayan tradisional dijamin secara bebas untuk menangkap ikan di perairan teritorial. Ordonansi ini tidak mengakui secara resmi konsep milik kelompok tertentu (common property) namun penduduk lokal memegang teguh dan melaksanakan hak-hak ulayat, norma sosial dan hukum adat mereka dalam mengelola SDK, seperti Sasi di Maluku, atau Ondoapi di Irian Jaya.

Setelah tahun 1960 sampai sekarang pemerintah Indonesia mengeluarkan beberapa undang-undang yang mengatur tentang pemanfaatan sumber daya alam dan

Indonesia, pasal 1 ayat 3 menyatakan bahwa perairan Indonesia adalah 12 mil dari garis pangkal (base line). Seluruh sumber daya alam mulai dari titik pasang surut terendah dari setiap pulau sampai 12 mil laut dari garis pangkal adalah milik Pemerintah Pusat. Undang-undang ini mengambil alih kewenangan pemerintah daerah yang dahulu dapat mengelola SDK selebar 3 mil laut (BPHN 1995, p.32). Kedua, UURI No. 5/1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, mengatur pemilikan dan penguasaan lahan dalam beberapa tipe seperti : i. hak milik, ii. hak guna usaha, iii. hak guna bangunan, iv. hak pakai, dan v. hak sewa. Dalam pengaturan hak tersebut, tidak ada keterkaitannya dengan hak akses pemanfaatan SDK disekitar lahannya

Setelah masa orde baru, Pemerintah Indonesia mendeklarasikan doktrin Wawasan Nusantara tahun 1973. Doktrin Wawasan Nusantara ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Doktrin wawasan nusantara menyatakan seluruh kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan politik, kesatuan sosial dan budaya, kesatuan ekonomi, dan kesatuan pertahanan/keamanan (Djalal 1996).

UURI No. 5/1974 tentang Pokok- pokok Pemerintahan di daerah, secara implisit mengurangi kewenangan Pemerintah Daerah hanya pada wilayah darat saja. Sehingga banyak Pemerintah Daerah kurang menaruh perhatian terhadap pembangunan kelautan. Pada tahun 1992, pemerintah mengeluarkan UURI No. 24/1992, tentang Tata Ruang, yang memberikan kesempatan secara implisit kepada pemerintah daerah untuk menata ruang lautnya. Akan tetapi undang-undang tata ruang laut sampai saat ini belum diterbitkan, sehingga belum ada dasar hukum bagi pemerintah daerah untuk mengatur pengelolaan SDK.

Djalal (1996) menyatakan, bahwa pada masa orde lama pemerintah tertarik dalam menata perairan Indonesia dalam rangka memperluas hak dan kewenangan untuk mengontrol perairan, mengatur kegiatan di perairan tersebut, dan untuk menciptakan identitas

memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. Selain itu 'perairan dalam' diantara pulau-pulau di Indonesia sering dilalui kapal asing sehingga memudahkan infiltrasi pihak asing dan dapat menyebabkan disintegrasi. Untuk itu di keluarkan deklarasi Djuanda 1959, yang menyatakan bahwa laut perairan dalam adalah bagian dari kedaulatan negara Republik Indonesia.

Sebagai satu kesatuan ekonomi, kekayaan sumber daya yang ada di Perairan Indonesia adalah milik pemerintah, dan sumber daya tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seluruh Indonesia. Kegiatan ekonomi yang memanfaatkan sumber daya mineral muncul dengan berkembangnya eksplorasi minyak lepas pantai. Terutama setelah harga minyak meningkat dan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pembangunan Indonesia setelah tahun 1973. Sehingga kepentingan politik pemerintah Orde Baru mendeklarasikan bahwa seluruh sumber daya, baik yang ada di darat maupun di laut adalah milik Pemerintah Pusat, dan tidak mendesentralisasikan urusan pengelolaan SDK ke daerah.

Ditilik dari pemilikan dan penguasaan sumber daya, maka secara dejure SDK yang berada di perairan Indonesia sampai batas 200 mil dari garis pangkal adalah milik Pemerintah. Pemerintah menjamin kebebasan nelayan tradisional untuk menangkap ikan di perairan tersebut sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Berdasarkan tipe pemilikan dan penguasaan seperti yang disebutkan diatas maka setelah Indonesia merdeka sampai saat ini tipe pemilikan mengalami perubahan. Tipe open access semakin berkurang, hanya ada di laut lepas. Tipe milik kelompok (commons) juga semakin berkurang karena kewenangannya tidak diakui secara hukum. Tipe milik pemerintah semakin di regulasi, sehingga wilayah pesisir yang tadinya belum diregulasi dan dikelola secara bertahap di serahkan ke investor. Tipe pemilikan pribadi/swasta semakin berkembang.

kewenangan, maka akan dikaji secara mendalam tipe pemilikan milik kelompok dibawah ini.

Dalam dokumen Journal Pesisir Lautan Vol1 2 (Halaman 41-43)