BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Gambaran Umum Konflik
1. Sejarah Peralihan Lahan
Pada awal masuknya perusahaan melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat, akan hadirnya perusahaan pabrik gula dan perkebunan tebu di daerah tersebut yang akan menggunakan lahan-lahan (pembebasan lahan) pertanian telah dikelolah oleh masyarakat sebagai sumber penghasilan dan penghidupan. Dari pengumpulan keterangan dari beberapa informan dan pengamatan terhadap dokumen-dokumen diperoleh gambaran bahwa proses sosialisasi masuknya perusahaan melibatkan unsur pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Sosialisasi tersebut disampaikan pertama kali oleh Camat Polongbangkeng Utara yakni Abdul Bahar Nyonri, BA bersama Kepala Desa Parappunganta bernama Nanrang Daeng Nai dan seorang anggota DPRD Kabupaten Takalar di sebuah mesjid di Desa Parappunganta yang sekarang menjadi lokasi pabrik gula. Pada tahun 1987 pembebasan lahan dimulai dengan membentuk panitia pembebasan lahan yang lebih dikenal sebagai panitia sembilan yang akan bertugas menangani seluruh proses pembebasan lahan.
Tabel 4.2 Panitia Pembebasan lahan di Kecamatan Polongbangkeng
Zainal Abidin Kepala Dinas Agraria
Wakil Ketua:
T.Ismail Kepala Sub Dit. Sosial
Politik Anggota.
a. Kehadiran perusahaan dan respon masyarakat
Proses sosialisasi akan hadirnya perusahaan yang akan mendirikan pabrik gula dan perkebunan tebu lebih banyak dilakukan di mesjid-mesjid dan berbagai fasilitas publik lainnya bahkan sampai di rumah-rumah warga.
Peran pemerintah dalam upaya mempermudah setiap tahapannya karena kedudukan pemerintah pada masa itu masih sangat determinan dalam
masyarakat. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah provinsi akan segera dilaksanakan oleh pemerintah yang secara struktural berada di bawahnya dan mampu menggerakkan seluruh elemen yang menjadi alat negara. Dalam proses sosialisasi akan didirikannya perusahaan gula perkebunan tebu menurut BT, bahwa:
“Dalam proses sosialisasi, pemerintah mengumumkan disetiap mesjid di seluruh Polongbangkeng Utara dan Selatan, diumumkan bahwa perusahaan pabrik gula Takalar PTPN 2425 akan masuk tetapi ganti ruginya itu bukan pembelian akan tetapi sistem sewa selama 25 tahun kedepan. Artinya kalau sudah sampai 25 tahun maka lahan itu akan dikembalikan. Kalau perusahaan ini masih membutuhkan lahan tersebut maka akan diperpanjang kontraknya kalau tidak, maka lahan tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing.
Makanya itu hari dari awal memang ada perlawanan dari pihak masyarakat karena tidak setuju dengan pembebasan itu”. (Wawancara tanggal 30 Maret 2016).
Sosialisasi yang disampaikan oleh pemerintah menerangkan bahwa lahan yang dikelolah oleh perusahaan hanya bersifat kontrak selama 25 tahun, dan akan dikembalikan setelah kontrak tersebut selesai atau dipeerpanjang ketika perusahaan masih membutuhkan lahan tersebut dengan cara membicarakan dan melakukan sewa tanah kembali. Proses sosialisasi ini juga didukung pemerintah dan berbagai instansi negara.
Menurut SU, BT, dan AI bahwa dalam proses sosialisasi kedatangan perusahaan semua elemen pemerintah mulai dari Bupati, Kecamatan, Desa hingga Dusun bahkan aparat keamanan seperti TNI dan Polri bekerja secara efektif menyampaikan kepada masyarakat di mesjid-mesjid dan berbagai fasilitas umum yang banyak kumpulan orang menyampaikan bahwa akan didirikannya perusahaan pabrik gula dan perkebunan tebu di Kabupaten
Takalar dan akan mengambil tanah masyarakat dalam bentuk kontrak selama 25 tahun.
Dapat kita pahami bahwa keterlibatan pemerintah dan berbagai parat dalam proses sosialisasi memberikan pengaruh penting dalam peralihan lahan tersebut. Dalam teori konflik kita memahami bahwa kehadiran aparat-aparat dalam proses tersebut menandakan adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat. Selain itu, teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda dimana otoritas yang bherbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan. Kita juga tentu memahami dalam fase tersebut, kedudukan pemerintah (Orde Baru) rezim Soeharto masih sangat dominan dan determinan. Kedudukan aparat militer menjadi sosok yang menakutkan dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tentu membuat masyarakat semakin tertekan dalam pengambilan setiap keputusan dimana setumpuk kepentingan yang didukung oleh pemerintah dan aparat-aparat pada saat itu dalam menyokong pembangunan di masa orde baru.
Seperti halnya yang dijelaskan SU bahwa:
“Waktu itu kan pemerintah sangat kuat artinya masyarakat tidak boleh banyak menuntut. Walaupun disana-sini ada juga yang melakukan protes akan tetapi mereka mampu menggagalkan karena masyarakat masih sangat loyal kepada pemerintah, masyarakat masih sangat takut terhadap pemerintah, dan pemerintah masih sangat berwibawa saat itu. Jadi wewenangnya masih sangat kuat”. (wawancara tanggal 01 April 2016).
Keterlibatan berbagai elemen pemerintahan dalam menyampaikan kepada masyarakat terkait permintaan dari pemerintah dan perusahaan agar
masyarakat mau menyerahkan tanahnya untuk dijadikan lahan perkebunan tebu dan perusahaan gula mampu mengantisipasi perlawanan dan penolakan masyarakat pada saat sosialisasi.
Dari keterangan informan di atas, memang menyatakan besarnya keterlibatan pemerintah, seperti aparat TNI dan Polisi pada masa pembebasan lahan tersebut. Salah satu oknum TNI yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat pada masa itu melakukan pengancaman terhadap masyarakat dalam proses sosialisasi yang dilaksanakan di mesjid-mesjid.
Dia menenkankan kepada masyarakat untuk menyerahkan tanahnya dengan alasan pembangunan, seperti yang dikemukakan BT bahwa:
Ada salah satu tokoh yang paling disegani di Takalar malah di Sulawesi Selatan. Dia orang Makassar, Karaeng Polongbangkeng. Itu paling ditakuti di sini. Dia yang memberitahu kepada masyarakat bahwa bukan pembelian tetapi hanya sewa selama 25 tahun kedepan kontrak. Karena banyak masyarakat yang tidak setuju jadi perusahaan ini bekerja sama dengan Kolonel Sibali”
Lebih lanjut dia memberikan keterangan bahwa
“Dalam proses sosialisasi, ceramah dari Kolonel Sibali pada saat itu, dia mengatakan bahwa siapa saja yang tidak mau menerima ganti rugi akan dianggap menghambat pembangunan, sementara masyarakat yang menghambat pembangunan artinya tergolong sebagai PKI, jadi bagi orang yang takut terhadap ancaman itu akhirnya menerima, dan orang-orang yang menolak atau tidak mau maka dijemput oleh polisi dengan tentara.”
Semasa Indonesia dibawah rezim Orde Baru, kita menyaksikan banyak sekali kasus dimana berbagai jenis hak yang diberikan tersebut berada di atas tanah yang dikuasai penduduk semenjak turun- temurun. Konsekuensi dari pemberian berbagai jenis hak ini adalah
terjadinya pemusatan kepenguasaan atas tanah yang luas. Sisi lain dari pemusatan ini adalah terlepasnya akses dan kontrol banyak penduduka atas tanah yang dikuasai sebelumnya. Dalam proses pengalihan akses dan kontrol penduduk ke pihak lain, dipenuhi dengan barbagai metode yang digunakan institusi politik otoritarian, seperti instrumen hukum negara, manipulasi, dan kekerasan (G. Wiradi dalam Barid Hardiyanto 2005: 7).
Penyampaian yang dilakukan oleh oknum TNI tersebut menjadi satu bentuk intimidasi-intimidasi yang dirasakan masyaraka selama proses sosialisasi kedatangan perusahaan gula dan perkebunan tebu yang akan mengelolah lahan yang pada saat itu dikelolah dan dikuasai oleh masyarakat.
Dalam keadaan tertekan akhirnya banyak masyarakat yang menyerahkan tanahnya dan berharap dikembalikan setelah kontrak selama 25 tahun seperti keterangan AI terkait pidato atau ceramah yang disampaikan di mesjid-mesjid oleh Kolonel Sibali pada masa sosialisasi:
“Kolonel sibali mendatangi semua masjid, kantor kepala desa, mengumumkan kepada semua masyarakat, katanya bahwa PTPN tidak membeli, hanya kontrak selama 25 tahun, selesai 25 tahun, kalau dia (PTPN) masih mau melanjutkan maka akan dikontrak kembali, nah makanya ini yang dituntut masyarakat karena sudah lebih 25 tahun sejak kontrak awal, tapi buktinya tidak ada. Kalau kita meminta bukti-bukti itu kepada Kolonel sibali, dia cabut pistolnya dan bilang ini buktinya sambil putar-putar pistolnya. Dia juga merupakan orang yang disegani pada saat di lapangan, karena dia raja Polongbangkeng.” (Wawancara tanggal, 01 April 2016).
Selain itu dalam proses sosialisasi juga meyampaikan agar
masyarakat menyerahkan uang sebesar 5000 rupiah untuk biaya pengukuran lahan yang akan dibebaskan. Seperti yang di kemukakan oleh BT, bahwa:
“Pada saat perusahaan melakukan pengukuran semua masyarakat diberi tahu bahwa, akan adanya pabrik gula yang masuk dan melakukan pembebasan lahan sehingga akan dilakukan pengukuran di lahan-lahan yang dimaksud, tetapi setiap orang harus membayar 5000 per hektar untuk pendaftaran, jadi biarpun kita memiliki lahan kalau kita tidak mendaftar pada saat itu, maka lahan kita tidak akan terdaftar dalam buku ukur, akan tetapi lahan kita tetap diambil tanpa diberikan ganti rugi”, (Wawancara tanggal, 02 April 2016)
Atas alasan pembayaran sewa tanah yang akan dibayarkan oleh perusahaan maka pertama kali yang harus dilakukan adalah melakukan pengukuran atas wilayah yang dikuasai masyarakat, namun besaran biaya pendaftaran pengukuran lahan tidak pernah dibicarakan
bersama masyarakat sebelum penetapannya. Hal demikian juga dijelaskan oleh AI, bahwa:
“Pemerintah desa mengumumkan kepada masyarakat bahwa akan mengadakan pendaftaran kepemilikan tanah dengan membayar 5000 rupiah perhektar, baru dia mengatakan bahwa ada perusahaan yang akan masuk untuk mengontrak lahan-lahan tersebut selama 25 tahun, jadi siapa yang tidak membayar pendaftaran kepemilikan tanah berarti dia tidak memiliki tanah dan tidak akan mendapat ganti rugi.” (Wawancara tanggal, 03 April 2016)
Atas dasar pengumuman yang disampaikan oleh pemerintah, banyak yang menganggap penyampaian tersebut dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat karena masyarakat pemilik lahan bisa saja kehilangan lahannya ketika tidak mampu membayar biaya pengukuran yang telah ditetapkan secara sepihak, sehingga banyak masyarakat yang kemudian berupaya semampunya untuk memenuhi persyaratan tersebut,
beberapa diantara masyarakat terpaksa harus menjual ternak dan berbagai barang-barang yang dimiliki.
Hal serupa dijelaskan oleh BT bahwa peralihan lahan yang dimulai dengan pengukuran lahan-lahan milik masyarakat memiliki banyak permasalahan, dimana masyarakat diharuskan membayar Rp. 5.000 untuk pengukuran lahan. (Wawancara, 08 Agustus 2016)
Pada perkembangannya kemudian sangat banyak masyarakat yang menerima biaya sewa tanah yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat, bahkan ada masyarakat yang tidak mendapatkan biaya sewa tanah sama sekali karena tidak mampu memenuhi syarat pembayaran, namun hal yang tidak diperkirakan oleh masyarakat bahwa ada beberapa orang yang tidak bertempat tinggal dan tidak memiliki lahan di daerah tersebut namun mendapatkan biaya sewa hanya karena dia mampu membayar biaya pengukuran lahan. Hak kepemilikan tanah dikalahkan oleh biaya yang menjadi syaratnya Biaya administrasi pengukuran lahan yang dibebankan kepada masyarakat menjadi salah satu hal yang menjadi persoalan selama proses pembebasan lahan. Namun karena otoritas yanng dimiliki oleh pemerintah dan berbagai aparat terus mengancam kedudukan masyarakat yang mencoba menyuarakan penolakan atas proses tersebut, dan alasan yang lainnya bahwa mereka takut kehilangan tanah begitu saja tanpa mendapatkan biaya sewa.
Upaya tim pembebasan lahan terus dilanjutkan dengan berbagai macam cara, baik yang bersifat sosialisasi yang berupaya
menyakinkan masyarakat maupun memaksa, agar masyarakat mau melepaskan tanahnya untuk dikontrak oleh perusahaan selama 25 tahun, namun ketika proses itu berlangsung surat Keputusan Bupati KDH Tk. II yang saat itu dijabat oleh KOL. M. Suaib Pasang telah diterbitkan. Isi SK Bupati Takalar tersebut pada pokoknya menjelaskan bahwa memberi izin kepada PT. MADU BARU untuk pembangunan pabrik gula dan pengelolaan lahan perkebunan tebu di atas lahan yang terletak di Polongbangkeng Utara dan Polongbangkeng Selatan dan menetapkan secara sepihak nilai ganti rugi untuk tanah-tanah yang telah dilakukan pengukuran.
b. Penolakan masyarakat
Meski SK pembebasan lahan telah di terbitkan oleh pemerintah, akan tetapi penolakan dan perlawanan masyarakat terhadap upaya pembebasan lahan terus berlanjut, seperti yang di kemukakan oleh HM, bahwa:
“Penolakan dari dulu sudah dilakukan oleh masyarakat, apa lagi itukan ditolak oleh masyarakat juga karena tidak sesuai dengan harga yang diharapkan oleh masyarakat dengan harga yang ditetapkan pemerintah kepada masyarakat, sangat murah, bahkan pembayarannya hanya berkisar antara 10%-35% dari total lahan yang dikuasai”(Wawancara tanggal 02 April 2016).
Penjelasan berbeda tentang terbitnya SK pembayaran ganti rugi lahan dari BT yang mengemukakan, bahwa:
“Terbitnya SK pembayaran yang dikeluarkan oleh bupati dengan tidak ada kesepakatan dari masyarakat tentang besaran biaya ganti rugi”, (Wawancara tanggal, 2 mei 2014).
Salah satu alasan penolakan yang dilakukan oleh masyarakat pada
saat sosialisasi adalah besaran nilai sewa yang ditetapkan sepihak oleh pemerintah dan perusahaan tidak sesuai dengan harga yang diinginkan oleh masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa besaran biaya tersebut sangat tidak sesuai dengan tanah yang akan disewa selama 25 tahun dan juga banyak lahan-lahan masyarakat yang tidak di bayarkan biaya sewanya namun tetap diklaim oleh pihak perusahaan.
Sehingga meskipun SK pembebasan lahan tersebut keluar dan pihak perusahaan mulai melakukan pengukuran terhadap lahan yang akan dibebaskan masyarakat juga tetap melakukan proses perlawanan.
Proses pembebasan itu sendiri menuai banyak kritikan dan penolakan dari masyarakat akibat banyaknya persoalan yang memberatkan bagi masyarakat, seperti informasi yang diberikan oleh BT, yang juga terlibat dalam proses pengukuran pada saat itu sebagai pengamanan dan juru bicara bahwa:
“Masalah pengukuran yang dilaksanakan pada tahun 1980, dan saya terlibat di dalamnya, karena juru ukurnya orang timur dan dia tidak bisa berbahasa makassar, jadi pada saat itu kepala desa Ko’mara perintahkan saya untuk mendampingi, yang menjadi persoalan pada saat itu karena masyarakat pemilik lahan tidak diikut sertakan untuk menunjukkan batas-batas lahannya”, (Wawancara tanggal, 3 april 2016)”.
BT dan NB menceritakan bahwa proses pengukuran terhadap lahan-lahan pada saat itu yang dalam prosesnya tidak melibatkan pemilik lahan secara langsung, sehingga menyisakan berbagai macam persoalan. Pihak yang melakukan pengukuran atas lahan tersebut tidak mengikutkan pemilik lahan untuk menunjukkan batas batas lahan yang dia
miliki, sehingga pengukuran tersebut mendapat banyak kritikan dari pemilik lahan, disisi lain pengukuran tersebut mendapatkan interfensi dari pemerintah ditingkat provinsi bahwa proses itu harus diselesaikan dalam jangka waktu tiga bulan. Proses pengukuran tersebut telah menyebabkan banyaknya masyarakat yang lahanya tidak sesuai, atau bahkan kehilangan lahan karena tidak terdaftar dalam buku ukur yang dihasilkan oleh tim pengukur lahan, sehingga menyisakan berbagai macam persoalan seperti yang diungkapkan di atas, hal demikian juga semakin dikuatkan dengan penyataan AI, bahwa:
“Proses pengukuran itu dilakukan hanya dalam waktu 3 bulan, metode pengukurannya juga secara hamparan, hasil pengukuran secara hamparan itu yang menjadi pegangan oleh kepala desa, kepala dusun dan petugas pembebasan lahan lainnya, jadi kepala desa memberikan tugas kepala dusun untuk mengetahui nama- nama orang yang tanahnya masuk dalam satu hamparan tersebut, tidak ada pengukuran pasti pembagian lahan hanya perkiraan saja yang menjadi dasar menentukan besaran dan luasan lahan milik setiap warga, sehingga kepala dusun saja yang memperkirakan batas batas tanah milik masyarakatnya. Makanya tidak sesuai itu gambar dengan batas-batas tanah milik masyarakat.” (Wawancara tanggal, 3 April 2016).
Dari keterangan informan diperoleh gambaran bahwa proses pengukuran hingga pembebasan lahan tersebut memiliki waktu yang sangat singkat, karena adanya desakan percepatan dari pemerintah provinsi dan juga ancaman dari perusahaan yang akan memindahkan proyek tersebut ke daerah lain ketika proses pembebasan lahan itu tidak segera diselesaikan, sehingga pemerintah kabupaten Takalar sampai ditingkat dusun mengupayakan berbagai cara untuk segera menyelesaikan proses pengukuran dan pembebasan lahan. Hal demikian
telah menjadi salah satu alasan sehingga pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengukuran dan pembebasan lahan tidak mendiskusikan masalah tersebut bersama rakyat.
Pengukuran terhadap lahan ditentukan sepihak dengan tidak melibatkan pemilik lahan pada saat pengukuran dilakukan di atas lahan milik mereka, hingga berdampak pada berbagai macam persoalan seperti besaran biaya ganti rugi, ukuran luas lahan yang tidak sesuai bahkan ada dari beberapa masyarakat yang kehilangan tanahnya atau tidak mendapatkan biaya sewa.
Selain persoalan pengukuran, pembebasan lahan, kepemilikan, dan ganti rugi yang tidak sesuai dengan keingin masyarakat serta banyaknya masyarakat yang tidak diakui hak kepemilikannya, hal yang lain disampaikan oleh SU, bahwa:
“Ada banyak faktor yang menyebabkan masyarakat menolak menyerahkan tanahnya, pertama persoalan adat, dia tidak mau kehilangan tanah atau menyerahkan tanahnya karena itu adalah sumber kehidupannya, kemudian dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki skill, dia tidak memiliki ketermpilan apa-apa yang bisa diandalkan untuk mengerjakan pekerjaan lainnya kecuali bertani, nah bagaimana dia bisa bertani kalau dia tidak punya tanah, nah itu alasan mengapa dia tidak mau menyerahkan tanahnya.
Alasan yang lain juga karena merek amemiliki banyak anggota dalam satu keluarga, artinya kalau dia tidak punya tanah, apa lagi yang bisa di wariskan kepada anak-anaknya”. (Wawancara tanggal 03 April 2016)
Berbagai persoalan di atas yang diberikan oleh informan merupakan alasan yang menjadi dasar bagi masyarakat untuk menolak menyerahkan tanahnya meskipun perusahaan melakukan berbagai upaya agar keinginan membebaskan lahan itu bisa tercapai. Seperti penjelasan HM pada saat
wawancra tanggal 05 April 2016, bahwa:
“Masyarakat merespon dengan melawan pembebasan lahan yang dilakukan pada saat itu, karena pada saat itu pembebasan timbul ketidak adilan, sehingga pemerintah pada saat itu selalu mengancam masyarakat bahkan menuduh kalau kau tidak mau serahkan tanahmu, kamu akan menghambat pembangunan ataukah dianggap PKI, jadi pada saat itu masyarakat terpaksa memberikan tanahnya dari pada kita dianggap PKI maka kita akan di usir keluar, karena PKI pada waktu itu musuhnya pemerintah”.
Pemerintah, aparat kepolisian, dan militer dalam melakukan berbagai macam cara pendekatan terhadap masyarakat yang menolak menyerahkan lahannya dan tidak mau menerima ganti rugi, seperti yang di kemukakan oleh HM, bahwa:
“Ada masyarakat yang tidak mau menerima ganti rugi itu dipaksa untuk menerima, pada saat itu masyarakat yang tidak mau menyerahkan tanahnya dan menolak ganti rugi selalu bersembunyi bahkan meninggalkan kampung. Selama dia masih ada di kampung maka akan dicari terus oleh juru bayar PTPN, termasuk kepala dusun, RT, dan dikawal oleh polisi. Contohnya orang tua saya yang tidak mau menerima ganti rugi, pada siang hari yang biasanya pembebasan lahan menempatkan penolakan masyarakat hanya sekedar penghalang bagi keinginan yang dipaksakan oleh pemilik otoritas, otoritas tersebut memberi legitimasi kepada orang atau kelompok untuk memaksakan kehendaknya kepada pihak lain walaupun ada penolakan melalui perlawanan. Faktor otoritas merupakan hal yang sangat sulit
dielakkan oleh masyarakat ketika hendak menyampaikan penolakan terhadap pembebasan lahan tersebut, kelompok masyarakat yang tetap tidak terima atas pembebasan lahan dan tidak bersedia menerima ganti rugi membuat masyarakat mendapatkan teror. Sehingga ada masyarakat yang menerima intimidasi seperti yang dijelaskan oleh AI bahwa pada malam hari sering kali ada oknum yang melakukan teror dengan bersembunyi dikolong rumah dan menembakkan senjata kearah lantai rumah meskipun tidak mengenai anggota keluarga yang berada diatas rumah tersebut. Selain itu, orang tua dari AI pada saat tersebut bersembunyi di kebun setiap kali pihak TNI mendatangi rumahnya, namun dia ditangkap setelah tiga bulan diincar, kemudian dibawa ke kantor penerimaan biaya sewa dan dipaksa untuk memberikan tanda tangan (jempol) oleh oknum TNI. Setelah proses penandatanganan itu selesai dia kemudian diberikan amplop yang bertuliskan jumlah dana ganti rugi, akan tetapi setelah tiba dirumahnya dan membuka amplop tersebut ternyata jumlah yang tertulis disampul amplop tersebut tidak sesuai dengan jumlah dana yang ada didalamnya.
Situasi ini telah menjadi teror bagi masyarakat dan kehilangan lahan selalu menjadi ancaman. Sementara itu kedudukan pemerintah pada saat itu tidak memberikan solusi bagi masyarakat, pemerintah justru lebih banyak mengambil langkah yang mendukung pelepasan lahan tersebut dari masyarakat menjadi milik perusahaan, seperti yang dijelaskan HM, bahwa:
“Tidak ada tanggapannya, tidak ada tanggapan positif sebenarnya dari pemerintah, karena pada saat itukan pemerintah juga memaksa masyarakat untuk menerimah ganti rugi hanya sebagian masyarakat tidak mau, tidak mau karena kalau tanahnya sudah diambil tidak ada lagi penghidupan keluarganya, karena penduduk rata rata hanya petani.” (wawancara tanggal 05 April 2016).
Tekanan itu terus dirasakan oleh masyarakat hingga akhirnya banyak masyarakat yang terpaksa menyerahkan tanahnya karena ketakutan dengan keterlibatan aparat negara seperti yang dinyatakan oleh BT, bahwa:
“Pada akhirnya masyarakat terpaksamenyerahkan tanahnya, karena proses pembebasan lahan pada saat itu menggunakan alat Negara, dia pake polisi dengan tentara.” (Wawancara tanggal 05 April 2016).
Meski sebagian besar masyarakat telah menyerahkan tanahnya dengan harapan akan dikembalikan setelah 25 tahun, akan tetapi masih ada kelompok masyarakat yang tidak mau merelakan tanahnya, sehingga mereka mencoba upaya yang lain, mereka mulai melakukan pengaduan kepada lembaga-lembaga tinggi negara dalam upaya mengambil kembali lahan yang secara berangsur dikuasai oleh perusahaan.
Setelah pembebasan lahan yang dilakukan oleh perusahaan, dari beberapa informan menjelaskan bahwa setelah proses pembebasan lahan dan berbagai upaya yang masyarakat lakukan dalam mempertahankan tanah memutuskan untuk menunggu hingga 25 tahun kemudian mengacu pada kesepakatan yang mereka pahami pada saat sosialisasi dan pembayaran ganti rugi lahan atau kontrak tanah, selain itu masyarakat juga
mengupayakan pengusutan terhadap berbagai kejanggalan pada saat
mengupayakan pengusutan terhadap berbagai kejanggalan pada saat