• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perlindungan Hak Cipta Di Indonesia

Dalam dokumen Thesis Airlangga Surya N. (Halaman 92-97)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3. Sejarah Perlindungan Hak Cipta Di Indonesia

Secara historis, sejarah perlindungan Hak Cipta modern, dalam bentuk yuridis formal berupa peraturan perundang- undangan barulah dikenal pada masa-masa akhir penjajahan Kolonial Belanda. Tidak tertutup kemungkinan bahwa perlindungan Hak Cipta sejatinya telah ada jauh sebelumnya yakni pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara. Hal tersebut mengingat tingginya tingkat peradaban dan kebudayaan Nusantara pada masa silam yang ditunjukkan dari peninggalan- peninggalan sejarah yang masih dapat ditemui saat ini. Semakin tinggi tingkat peradaban dan kebudayaan suatu bangsa, semakin tinggi pula penghormatan yang diberikan kepada hak- hak asasi manusia, sekalipun bentuk penghormatan tersebut belum dituangkan secara yuridis formal sebagaimana peraturan perundang-undangan yang dikenal dewasa ini.

Pada tahun 1912, Kerajaan Belanda menerbitkan

Auteurswet 1912 Stb. No. 600 Tahun 1912 yang berdasarkan

asas konkordansi turut berlaku di Indonesia yang pada masa itu merupakan daerah jajahan Belanda. Tidak lama setelah pemberlakukan Auteurswet 1912, Kerajaan Belanda pada 1 April 1913 mengikatkan diri pada Bern Convention 1886. Melalui

Staatsblad No. 797 Tahun 1914, Indonesia yang masih bernama

78

Sama halnya ketika Bern Convention mengalami revisi di Roma pada tahun 1928, revisi tersebut turut berlaku di Indonesia melalui Staatsblad No. 325 Tahun 1931. Pada masa Kolonial Belanda inilah untuk pertama kalinya secara formal Indonesia mengenal perlindungan Hak Cipta dan terikat dalam konvensi internasional Hak Cipta.114

Berbeda dengan pada masa Kolonial Belanda, pada masa pendudukan Bala Tentara Jepang, tidak dikenal bentuk-bentuk perlindungan Hak Cipta apapun yang menonjol. Sekalipun berdasarkan Pasal 3 Osamu Sirei No. 1, untuk mencegah kekosongan hukum maka semua badan-badan pemerintah, kekuasaan hukum, dan undang-undang dari pemerintah Kolonial Belanda tetap diakui sah untuk sementara waktu, asalkan tidak bertentangan dengan aturan Pemerintah Militer. 115 Tidak nampaknya bentuk-bentuk perlindungan Hak Cipta secara jelas agaknya merupakan suatu hal yang wajar mengingat singkatnya masa pendudukan Bala Tentara Jepang yang hanya sekitar tiga setengah tahun. Dapat dikatakan perlindungan Hak Cipta berada dalam kedudukan status-quo.

Tahun 1945 berakhirlah masa pendudukan Bala Tentara Jepang yang secara yuridis ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

114

Lihat: Eddy Damian, op.cit., hal. 144, lihat juga: Budi Santoso, op.cit., hal. 64. 115

Dengan proklamasi kemerdekaan inilah secara formal dimulailah Sistem Hukum Nasional berdasarkan UUD RI 1945. Dalam upaya untuk mengatasi terjadinya kekosongan hukum maka dilakukanlah suatu terobosan hukum melalui Pasal II Aturan Peralihan UUD RI 1945 yang menetapkan bahwa: “Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.” Berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan inilah aturan- aturan hukum peninggalan Kolonial Belanda berlaku kembali termasuk Auteurswet 1912 yang diterjemahkan menjadi UU Hak Pengarang.

Auteurswet 1912 atau UU Hak Pengarang secara yuridis

tetap berlaku pada masa berlakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS) tahun 1949-1950 dan Undang- Undang Dasar Sementara 1950 (UUDS 1950) tahun 1950-1959 melalui aturan peralihan yakni Pasal 192 Konstitusi RIS dan Pasal 142 UUDS 1950. UU Hak Pengarang tersebut berlaku kembali ketika Indonesia kembali pada UUD RI 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan masih terus berlaku hingga tahun 1982. Dengan demikian tercatat dalam sejarah perlindungan Hak Cipta di Indonesia bahwa UU Hak Pengarang pernah berlaku dalam tiga masa konstitusi dan melewati pasang surut perjalanan negara Indonesia sejak masa awal

80

kemerdekaan, orde lama, hingga orde baru. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa pada tahun 1958, Indonesia memutuskan untuk keluar dari Bern Convention.

Pada tahun 1982 pemerintah akhirnya menerbitkan Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Undang- undang tersebut diundangkan dengan maksud untuk mendorong serta melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil kebudayaan di bidang karya ilmu, seni, dan sastra, serta di dalam rangka mempercepat pertumbuhan kecerdasan kehidupan bangsa.116 Keberhasilan pemerintahan orde baru dalam membenahi bidang perekonomian meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia pada dekade 1980. Dengan meningkatnya kesejahteraan, meningkat pula daya beli masyarakat yang berarti bahwa pasar tumbuh dengan pesat. Tumbuhnya pasar domestik tersebut ternyata memancing berbagai bentuk pembajakan karya cipta seperti buku, kaset audio, video, dsb.117 Maraknya pembajakan selain dipicu oleh pertumbuhan pasar, juga merupakan andil dari lemahnya Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 dalam memberikan perlindungan Hak Cipta. Dikarenakan tekanan dunia internasional yang begitu kuat atas kondisi pembajakan yang begitu kritis maka tahun 1987 pemerintah kembali menerbitkan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987 tentang

116

Lihat: Konsiderans dan bagian Umum Penjelasan Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.

117

Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.118

Dalam perkembangannya, diratifikasinya WTO Agreement melalui Undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization oleh pemerintah Indonesia membawa pengaruh terhadap sistem perlindungan Hak Cipta. Hal tersebut sebagai konsekuensi yuridis kedudukan TRIPs Agreement sebagai bagian yang tak terpisahkan dari WTO Agreement sehingga harus diimplementasikan dalam sistem perlindungan Hak Kekayaan Intelektual, khususnya Hak Cipta di Indonesia. Dalam rangka melakukan penyesuaian terhadap WTO - TRIPs Agreement yang akan segera berlaku secara definitive mulai tanggal 1 Januari 2000, maka pada tahun 1997 pemerintah kembali melakukan perubahan atas undang-undang Hak Cipta dengan menerbitkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah Dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987. Pada tahun yang sama Indonesia kembali bergabung sebagai anggota Bern Convention dengan ratifikasi konvensi tersebut melalui Keputusan Presiden No. 18 Tahun 1997 tentang Pengesahan Bern Convention for the Protection of

118

82

Literary and Artistic Works. Lima tahun kemudian, pemerintah

kembali menerbitkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Undang-undang ini disusun dan diterbitkan dalam rangka penyesuaian dengan ketentuan TRIPs dan WIPO Copyright Treaty.

Dalam dokumen Thesis Airlangga Surya N. (Halaman 92-97)

Dokumen terkait