Heri Santosa
Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada
Sejarah Balai Perguruan Tinggi berdasarkan Laporan Dies yang kesatu tahun 1974 tertulis “Siapakah mula-mula yang mempunyai pikiran
untuk mendirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada?”
Pada tanggal 24 Januari 1946 di Gedung S.M.T. Kotabaru, Yogyakarta diadakan pertemuan antara beberapa cerdik pandai untuk mendiskusikan kemungkinan mendirikan balai perguruan tinggi (universitas swasta) di Yogyakarta, sebagai promotor Sdr. Mr. Boediarto (ketua), Sdr. Ir. Marsito, Sdr. Prof. Dr. Prijono dan Sdr. Mr. Soenardjo. Pengurus terdiri dari Dr. Soeleiman, Dr. Boentaran, Dr. Soeharto, B.P.H. Bintoro, Prof. H. Farid Ma’ruf, Mr. Mangunjudo, K.P.H. Nototaruno, dan Prof. Ir. Rooseno.
Setelah persiapan selesai, pada tanggal 3 Maret 1946 di Gedung K.N.I. Malioboro Yogyakarta diadakan pertemuan resmi untuk mengumumkan berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dengan bagian fakultas hukum dan fakultas kesusasteraan.
Dengan demikian, pada tahun 1946 di Yogyakarta ada dua perguruan tinggi, yaitu Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dan Sekolah Tinggi Teknik (berdiri tanggal 17 Februari 1946). Sekolah Tinggi Teknik ini merupakan usaha penghidupan kembali Sekolah Tinggi Teknik Bandung, yang terpaksa ditutup karena suasana perang antara Indonesia dan tentara sekutu. Sekolah Tinggi Teknik Bandung dipimpin oleh Prof. Ir. Rooseno dan Prof. Ir. Wreksodhiningrat. Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Teknik
Bandung dapat melanjutkan pendidikannya dan menempuh ujian insinyur di Sekolah Tinggi Teknik Yogyakarta.
Tidak dapat dilupakan bahwa yang memberi dukungan besar untuk berlangsungnya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada itu adalah Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX. Setelah penyerbuan Belanda ke Yogyakarta, 19 Desember 1948, kedua perguruan tinggi di atas terpaksa ditutup. Para dosen dan mahasiswanya memilih berjuang menentang Belanda daripada melanjutkan proses belajar mengajar, namun peralatan kuliah tetap dipelihara dengan baik oleh para mahasiswa.
Pindah ke Klaten
Sejarah pendirian fakultas kedokteran bermula dari kota Klaten. Tahun 1946 Klaten terkenal sebagai kota pendidikan, di sini berdiri perguruan tinggi, antara lain Perguruan Tinggi Kedokteran (berdiri 5 Maret 1946), Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (berdiri 20 September 1946), Sekolah Tinggi Farmasi (berdiri 27 September 1946), dan Perguruan Tinggi Pertanian (berdiri 27 September 1946).
Mengapa Klaten dipilih sebagai tempat pendirian beberapa perguruan tinggi? Karena Klaten terletak di pedalaman. Kota-kota besar
seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya tidak mungkin lagi menyelenggarakan pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan ketiga kota tersebut seringkali dibom oleh tentara sekutu. Para pejuang Indonesia di tiga kota tersebut tidak tinggal diam. Mereka juga membalas menyerang sekutu sehingga ketiga kota tersebut menjadi ajang pertempuran. Alasan lainnya adalah adanya laboratorium pendukung dan lnstitut Pasteur, serta laboratorium disediakan oleh Rumah Sakit Tegalyoso. Sedangkan Institut
Jepang, 1 September 1945, dipindahkan ke Klaten. Salah seorang yang turut memindahkan institut ini adalah Prof. Dr. M. Sardjito.
Kehidupan perguruan tinggi di Klaten makin marak dengan berdirinya Fak. Kedokteran Gigi pada awal tahun 1948. Hal ini berlangsung sampai 19 Desember 1948, saat Belanda menyerbu ke dalam daerah Republik Indonesia.
Tujuh bulan sebelum penyerbuan Belanda ke Republik Indonesia, tepatnya awal Mei 1948, Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan sesungguhnya sudah mendirikan Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta. Akademi ini berdiri atas usul Kementerian Dalam Negeri, untuk mendidik calon-calon pegawai Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Penerangan.
Setelah berdirinya Akademi Ilmu Politik yang dipimpin oleh Prof. Djokosoetono, S.H. Beberapa pegawai Departemen Dalam Negeri yang belajar di sini, antara lain: Djumadi lsworo, Soempono Djojowadono, Irnan Soetikno, Bambang Soegeng Wardi, dan Dradjat. Akan tetapi, akademi ini tidak bertahan lama. Setelah pemberontakan PKI Madiun meletus (September 1948) akademi ini ditinggalkan oleh para mahasiswanya. Mereka ikut menumpas pemberontakan dan membangun kembali kerusakan-kerusakan yang terjadi, kemudian akademi ini terpaksa ditutup. Jika di Klaten dan Yogyakarta ada perguruan tinggi terpaksa ditutup, di Solo ada perguruan tinggi yang sudah dibuka namun terpaksa batal diresmikan, yaitu Balai Pendidikan Ahli Hukum (berdiri 1 November 1948) sebagai hasil kerjasama Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dengan Kementerian Kehakiman.
Bersamaan dengan itu, panitia pendirian perguruan tinggi swasta di Solo, yang dipimpin oleh Drs. Notonagoro, S.H., Koesoemadi, S.H., dan Hardjono, S.H., juga merencanakan pendirian Sekolah Tinggi Hukum Negeri. Panitia ini menyarankan agar Balai Pendidikan Ahli Hukum digabung saja dengan Sekolah Tinggi Hukum Negeri untuk melakukan efisiensi, dan usul tersebut diterima oleh pemerintah. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1948 yang menyebutkan bahwa Balai Pendidikan Ahli Hukum digabungkan ke dalam Sekolah Tinggi Hukum Negeri.
Menurut Prof. Dr. M. Sardjito, Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo ini akan diresmikan tanggal 28 Desember 1948. Akan tetapi, sembilan hari sebelum peresmian, Belanda sudah menyerbu ke wilayah Republik Indonesia. Apa boleh buat, perjuangan menentang Belanda menjadi prioritas. Akibatnya, sekolah tinggi ini layu sebelum menguntum dan terpaksa bubar sebelum diresmikan.
Kembali ke Yogyakarta
Tidak banyak yang ingat kapan persisnya timbul ide untuk menggabungkan beberapa perguruan tinggi perjuangan (sebutan ini, diberikan oleh Prof. Ir. Herman Johannes) tersebut di atas menjadi sebuah perguruan tinggi. Akan tetapi, menurut Prof. Dr. M. Sardjito, tanggal 20 Mei 1949, ada rapat Panitia Perguruan Tinggi, di Pendopo Kepatihan Yogyakarta. Rapat ini dipimpin oleh Prof. Dr. Soetopo, dengan anggota rapat antara lain, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Dr. M. Sardjito, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Ir. Harjono, Prof. Sugardo dan Slamet Soetikno, S.H. Salah satu hasil rapat adalah beberapa anggota
rapat menyanggupi pendirian perguruan kembali di wilayah republik, yaitu Yogyakarta. Mereka yang bersedia adalah Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Harjono dan Prof. Dr. M. Sardjito.
Kesulitan utama yang ditemui para guru besar dalam mendirikan kembali perguruan tinggi di Yogya adalah tidak adanya ruangan untuk kuliah. Beruntung Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersedia meminjamkan kraton dan beberapa gedung di sekitar kraton untuk ruang kuliah. Masalah utama pun terpecahkan, setelah itu persiapan lain pun dimatangkan.
Usaha keras para guru besar tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tanggal 1 November 1949, di Kompleks Peguruan Tinggi Kadipaten, Yogyakarta, berdiri kembali Fakultas Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Kedokteran. Pembukaan ketiga fakultas ini dihadiri oleh Bung Karno. Pada pembukaan ini, menurut Prof. Dr. M. Sardjito, diadakan sebuah renungan bagi para dosen dan mahasiswa yang telah gugur dalam peperangan melawan Belanda, yaitu: Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Ir. Notokoesoemo, Roewito, Asmono, Hardjito dan Wurjanto. Keesokan harinya, 2 November 1949, giliran Fakultas Teknik, Akademi Ilmu Politik dan beberapa fakultas yang berada di bawah naungan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang diresmikan. Kota Yogyakarta pun kembali marak dengan mahasiswa. Sebulan kemudian, tepatnya 3 Desember 1949, dibuka pula Fakultas Hukum di Yogyakarta. Fakultas ini merupakan pindahan Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo. Orang yang berjasa dalam pemindahan ini adalah Prof. Drs. Notonagoro, S.H.
Universiteit Negeri Gadjah Mada
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tanggal 16 Desember 1949 tentang Peraturan Sementara Penggabungan Perguruan Tinggi
sebuah universitas nasional yang bernama Universitas Gadjah Mada. Pada tanggal 19 Desember 1949 Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mulai menyelenggarakan perguruan tinggi negeri yang dikenal sebagai Universiteit Negeri Gadjah Mada yang berkedudukan di Yogyakarta. Universiteit Negeri Gadjah Mada ini merupakan penggabungan dari beberapa Perguruan Tinggi yang telah ada lebih dulu yaitu:
1. Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, Kedokteran Hewan, dan Fakultas pertanian yang didirikan di Klaten pada tahun 1946
2. Sekolah Tinggi Teknik di Yogyakarta yang didirikan pada tanggal 12 Februari 1946
3. Sekolah Tinggi Hukum dan Sekolah Tinggi Sastra yang didirikan oleh Yayasan Balai Perguruan Tinggi Yogyakarta Pada tanggal 3 Maret 1946
Pada saat berdirinya, menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, Universiteit Negeri Gadjah Mada memiliki enam fakultas, yaitu: (1) Fakultas Teknik (di dalamnya termasuk Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti); (2) Fakultas Kedokteran di dalamnya termasuk Bagian Farmasi, Bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Kimia, dan Ilmu Hayat; (3) Fakultas Pertanian di dalamnya ada Akademi Pertanian dan Kehutanan; (4) Fakultas Kedokteran Hewan; (5) Fakultas Hukum di dalamnya ada Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi; dan (6) Fakultas Sastra dan Filsafat di dalamnya ada Akademi Pendidikan Guru
Pada saat peresmian Universiteit Negeri Gadjah Mada, Prof. Dr. M. Sardjito ditetapkan sebagai Presiden Universiteit Negeri Gadjah Mada. Pada saat yang sama juga ditetapkan Senat Universiteit Negeri Gadjah Mada dan Dewan Kurator Universiteit Negeri Gadjah Mada. Pengurus Dewan Kurator UNGM terdiri dari Ketua Kehormatan adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua adalah Sri Paku Alam VIII, wakil ketua dan anggota. Hal ini menimbulkan pendapat bahwa ketika UGM lahir, ia memang telah siap untuk meneruskan perjuangan, yaitu meningkatkan martabat manusia Indonesia.
Universitit Negeri Gadjah Mada
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1950 Peraturan Sementara tentang Universitit Negeri Gadjah Mada pasal 1 menyebutkan:
“Universitit Negeri Gadjah Mada adalah Balai Nasional Ilmu Pengetahuan dan Kebudajaan bagi pendidikan dan pengadjaran tinggi. Universitit Negeri Gadjah Mada berkedudukan di Jogjakarta.“
Dalam pasal 5 juga disebutkan “Universitit Negeri Gadjah Mada Pada waktu sekarang terdiri atas:”
a. Fakultit Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi, ……..
b. Fakultit Hukum, Sosial dan Politik terdiri atas Bagian Hukum dan Bagian Sosial dan Politik. ……
e. Fakultit Pertanian, jang mempunjai tingkat pengadjaran Baccalaureat Ilmu Pertanian.
f. Fakultit Kedokteran Hewan, jang mempunjai tingkat pengadjaran Baccalaureat Ilmu Kedokteran Hewan.
Pada tanggal 23 Januari 1950 ditambah lagi dengan Fakultas Sastra, Pedagogik, dan Filsafat. Kemudian pada tanggal 19 Juli 1952 di Surabaya dibuka Cabang dari Fakultas Hukum, Sosial dan Politik. Cabang Surabaya ini pada bulan November 1954 dilepaskan dan dimasukkan sebagai Fakultas pada Universitas Airlangga.
Pada tahun 1952 Fakultas Hukum, Sosial dan Politik ditambah dengan jurusan Ekonomi, sehingga menjadi Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik (HESP). Bulan September 1952 Fakultas Pertanian ditambah dengan Bagian Kehutanan, sehingga Fakultas ini menjadi Fakultas Pertanian dan Kehutanan.
Universitas Gadjah Mada
Setelah beberapa kali mengalami perubahan nama dari universiteit, universitit akhirnya pada tahun 1955 berubah menjadi universitas dan sejak saat itu kata “negeri” pada Universitit Negeri Gadjah Mada dihilangkan sehingga menjadi Universitas Gadjah Mada. Hal tersebut sesuai dengan Penjelasan Undang-undang Republik Indonesia No. 10 tahun 1955:
“…Dengan Undang-undang ini ditetapkan pula, bahwa Universiteit Van Indonesie dan universitit Negeri Gadjah Mada diubah namanya dalam Bahasa Indonesia menjadi Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada, yang terjadi atas beberapa Fakultas. Selanjutnya bagi segala peraturan dan ketentuan istilah dan nama resmi untuk mengganti kata universiteit ialah “universitas” dan “fakultas”.”
Perubahan – perubahan yang agak besar terjadi sejak bulan September 1955 yaitu:
1. Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi menjadi Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi.
2. Bagian Bakaloreat Biologi dari Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi menjadi Fakultas Biologi.
3. Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Poilitik berkembang menjadi 3 Fakultas, yaitu: Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Sosial dan Politik.
4. Tingkat Pengajaran Bakaloreat Ilmu Pasti dan Bakaloreat Ilmu Alam dari Bagian Sipil Fakultas Teknik dijadikan Fakultas Ilmu Pasti dan Alam
5. Pada tahun 1955 Fakultas Sastra, Pedagogik dan Filsafat berkembang menjadi 3 Fakultas yaitu: Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Fakultas Filsafat, dan Fakultas Pendidikan. Fakultas Pendidikan mempunyai 2 bagian yaitu: Bagian Pendidikan dan Bagian Pendidikan Jasmani. Untuk memberikan pendidikan umum yang kuat bagi semua fakultas, didirikan juga Fakultas Umum, dan digabung dengan Fakultas Filsafat menjadi Gabungan Fakultas Umum dan Fakultas Filsafat.
Pada tahun 1961 Fakultas Filsafat dibubarkan dan tahun 1962 Fakultas Umum juga dibubarkan. Tahun 1973 didirikan Biro
yang semula menjadi tugas Gabungan Fakultas Umum dan Fakultas Filsafat.
6. Fakultas Kedokteran Hewan namanya diubah menjadi Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Tahun 1960 Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi berkembang menjadi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Kemudian pada tahun 1962 Bagian Pendidikan Jasmani dari Fakultas Ilmu Pendidikan ditingkatkan menjadi Fakultas Pendidikan Jasmani. Fakultas ini diserahkan kepada Departemen Olah Raga pada tahun 1963 dan menjadi Sekolah Tinggi Olah Raga (STO). Tahun 1963 Bagian Kehutanan dari Fakultas Pertanian digabung ditingkatkan menjadi Fakultas Kehutanan dan Jurusan Teknologi Pertanian. Tahun itu juga Jurusan Geografi pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan ditingkatkan menjadi Fakultas Geografi. Tahun 1961 salah satu Jurusan FIP bersama dengan B I dan B II ditingkatkan menjadi IKIP. Tahun 1964 berdirilah IKIP sebagai integrasi FKIP, FIP, dan IPG. Jurusan Psikologi dari FIP lalu menjadi Bagian Psikologi, yang kemudian pada tanggal 8 Januari 1965 menjadi Fakultas Psikologi. Tanggal 18 Agustus 1967 Fakultas Filsafat didirikan, dan pada tahun 1969 Biro Penyelenggaraan Kuliah-kuliah Khusus dimasukkan kedalam Fakultas Filsafat sebagai Biro Penyelenggaraan Kuliah-kuliah Agama. Tahun 1969 Fakultas yang ke-18 lahir, yaitu Fakultas Peternakan yang merupakan peningkatan Bagian Peternakan dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan.
1. Fakultas Hukum, 19 Desember 1949 2. Fakultas Kedokteran, 19 Desember 1949 3. Fakultas Kedokteran Hewan, 19 Desember 1949 4. Fakultas Pertanian, 19 Desember 1949
5. Fakultas Teknik, 19 Desember 1949
6. Fakultas Sastra dan Kebudayaan, 23 Januari 1951 7. Fakultas Biologi, 19 September 1955
8. Fakultas Ekonomi, 19 September 1955 9. Fakultas Farmasi, 19 September 1955
10. Fakultas Ilmu Pasti dan Alam, 19 September 1955 11. Fakultas Sosial dan Politik, 19 September 1955 12. Fakultas Kedokteran Gigi, 29 Desember 1960 13. Fakultas Kehutanan, 17 Agustus 1963 14. Fakultas Geografi, 1 September 1963
15. Fakultas Teknologi Pertanian, 19 September 1963 16. Fakultas Psikologi, 8 Januari 1965
17. Fakultas Filsafat, 18 Agustus 1967 18. Fakultas Peternakan, 10 November 1969 Pimpinan UGM sejak 1949 sampai sekarang:
1. Prof. Dr. Sardjito (1949 – 1962) 2. Prof. Ir. H. Johannes (1962 – 1966) 3. Drg. Nasir Alwi (1966 – 1967)
4. Drs. Soepojo Padmodipoetro, M.A. (1967 – 1968) 5. Drs. Soeroso H. Prawirohardjo, M.A. (1968 – 1973) 6. Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, M.A. (1973 – 1981) 7. Prof. Dr. Teuku Jacob MD (1981 – 1985)
8. Prof. Dr. Koesnadi Hardjosoemantri, S.H., M.I. (1986 – 1990) 9. Prof. Dr. Mochamad Adnan, M. Sc. (1990 – 1994)
11. Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A. (1998 – 2002) 12. Prof. Dr. Sofian Effendi, M. PIA. (2002 – 2007) 13. Prof. Ir. Sudjarwadi, M. Eng., Ph.D. (2007 – 2012) 14. Prof. Dr. Pratikno, M. Soc. Sc. (2012 – 2017)
Dari rentetan riwayat perjuangan mendirikan UGM di atas, dapat disimpulkan bahwa pendirian UGM merupakan salah satu usaha untuk meneruskan perjuangan. Hal ini perlu menjadi pegangan bagi seluruh sivitas akademika UGM .
Referensi:
1. Undang-undang No. 10 tahun 1955 tentang Pengubahan Nama Universiteit, Universitet, Universitit, Faculteit, Facultet, dan Facultit menjadi universitas dan Fakultas
2. Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1949 tentang Peraturan tentang Penggabungan Perguruan Tinggi menjadi Universiteit
3. Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1950 tentang Peraturan Sementara Tentang Universitit Negeri Gadjah Mada
4. Separatum “Riwajat Perdjuangan Mendirikan Universitas Gadjah Mada dan Sekedar Tentang Perguruan Tinggi lain di Indonesia " oleh Prof. Dr. M. Sardjito, dan Addendum "Perdjuangan Universitas Gadjah Mada dan Perguruan Tinggi Lain Dalam Revolusi Fisik"oleh Prof. Ir. Herman Johannes
5. Buku Kenangan Seperempat Abad Univervitas Gadjah Mada 11 yang diredakturi oleh Drs. H. Nangtjik dan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949
6. Berita Kagama Okt, Nov, Des 1980 Th. III No. 6, 7, 8 tentang Sejarah Singkat Universitas Gadjah Mada
7. Berita Kagama No. 1, 2 Th. VIII 1985 tentang Sejarah Singkat Universitas Gadjah Mada
Judul : Menyingkap Pemikiran Prof. Dr. Sardjito Penulis : Arwan Tuti Artha Edisi : -
Cetakan : Pertama, Desember 2006 Penerbit : Universitas Gadjah Mada Tahun : 2006
ISBN : 979-15575-0-0
Halaman : 124 , disertai dengan album kenangan
Buku Menyingkap Pemikiran Prof. Dr. Sardjito yang ditulis oleh Arwan Tuti Artha, terdiri dari 7 bagian mengenai sosok dan pemikiran Prof. Dr. Sardjito. Bagian pertama: “Kesederhanaan Lelaki Bernama Sardjito”. Prof Sardjito mempunyai semboyan dalam Bahasa Belanda yaitu “Door het
geven wordt men rijk” yang artinya “dengan memberi seseorang menjadi
kaya”. Sardjito lulus menjadi dokter dari School tot Opleiding voor Indische
Artsen (STOVIA) Jakarta dengan nilai terbaik tahun 1915. Penelitian
pertama Sardjito tentang penyakit influenza (1918-1919). Tahun 1923 Sardjito menyelesaikan disertasi berjudul Immunisatie Tegen Bacillaire
Dysenterie door Middel van de Bacteriophaag Anti–Dysenterie Shiga-Kruse,
di Universitas Leiden. Tahun 1931 Sardjito memperdalam pengetahuan mengenai laboratorium di Jerman. Sardjito bersama GHR Koenigswald (ahli paleoanthropologi) menerbitkan publikasi ilmiah tentang rhinoscleroma dan bilharziasis dalam masyarakat megalitik. Tahun 1950, Sardjito
aglutinasi baru penyakit hepatitis. Tahun 1956, Sardjito dan R. Soebakti meneliti cara pemeriksaan serum pada sakit treponematoses. Sardjito juga memiliki pemikiran dalam bidang pendidikan, karena Sardjito pernah menjadi Presiden Universiteit pertama UGM. Sardjito menginginkan agar pendidikan bisa dinikmati oleh rakyat, tidak boleh ada diskriminasi. Sardjito wafat pada 5 Mei 1970, karena penyakit flu berat. Penghargaan yang pernah diterima oleh Sardjito: Sardjito mendapat penghargaan istimewa (1951), “Bintang Gerilya” atas jasa-jasanya dalam perjuangan gerilya (1958), mendapat dua penghargaan “Bintang Maha Putera dari Pemerintah RI, dan Bintang Kehormatan Keilmuan dari Pemerintah Uni Sovyet (1960), memperoleh dua penghargaan yaitu bintang “Satyalencana” Peringatan Perjuangan Kemerdekaan dan “Satyalencana Karya Satya” (1961), menjadi anggota MPRS (1967), dan menjadi anggota DPA (1968).
Bagian kedua: “Menikahi Soekaemi, Menemukan Obat Sakit Batu Ginjal“. Sardjito menemukan obat sakit batu ginjal, karena istrinya Soekaemi menderita sakit ginjal yang tergolong sangat kronis. Sardjito berusaha menemukan obat penawarnya dan mencari daun-daun yang berkhasiat sebagai obat (daun kumis kucing dan meniran). Pada 6 Februari 1957, Sardjito meneliti daun Strobilantus, yang bermanfaat/ mempunyai kandungan untuk menghancurkan batu ginjal atau batu kencing. Dengan bantuan dari Prof. Ir. Gembong Tjitrosoepomo, ternyata daun tersebut bukan daun Strobilantus melainkan Sonchus Arvensis L. Daun itulah yang kemudian dikembangkan menjadi Calcusol yang berkhasiat sangat hebat dalam menghancurkan endapan-endapan batu ginjal. Selain daun tempuyung, ada buah pare, yang secara klinis mampu menurunkan kadar
tempuyung juga berkhasiat untuk mengurangi rasa pegal di pinggang dan sakit anyang-anyangen (dysuria). Hasil penelitian Sardjito juga bisa dikembangkan untuk mengurangi kadar kolesterol total, Low Density
Lipoprotein dan trigleserida, serta untuk meningkatkan High Density Lipoprotein dan hasil pengembangan ini dikenal dengan calterol.
Pengembangan lain yaitu obat untuk melancarkan haid dan mengurangi rasa sakit, obat itu dikenal dengan calhaid.
Bagian ketiga: “Menjadi Presiden Universiteit pada Usia Senjakala”. Pada masa kemerdekaan sulit untuk menemukan sosok yang tepat untuk mendirikan dan mengembangkan perguruan tinggi. Sardjito membangun pendidikan di awal perjalanan Republik Indonesia dengan bantuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (selaku Dewan Kurator UNGM) yang meminjamkan gedung Kasultanan Yogyakarta yaitu Gedung Siti Hinggil dan Pagelaran untuk tempat kuliah. Pengabdian Sardjito sewaktu menjabat sebagai rektor tahun 1949-1961. Sardjito juga memikirkan sebuah tempat untuk mendidik para calon dokter yaitu sekolah dibawah Kementrian Kesehatan. Sesuai rencana sekolah tersebut dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta dengan cara menyelundupkan buku-buku dengan kereta api (1946). Sardjito memiliki gagasan mendirikan untuk mendidik calon-calon dokter, ahli kesehatan yang menemukan relevansinya selanjutnya Sardjito menghubungi Kepala RS Tegalyoso Klaten. Atas inisiatif Sardjito tersebut Kementrian Kesehatan mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran Bagian Klinis di Solo tanggal 4 Maret 1946 dan Perguruan Tinggi Kedokteran Bagian Pra-klinis tanggal 5 Maret 1946 di Klaten. Sardjito juga mengundang dosen-dosen dari luar negeri untuk memberi kuliah. Pemikiran Sardjito
bersifat nasional. Peran Sardjito di forum internasional antara lain: menjadi Ketua Delegasi Indonesia ke Kongres Unesco di Paris dan Kongres Palang Merah Internasionasl di Lisabon, Portugal (1951), menjadi Ketua Delegasi Indonesia ke Pacific Congress di Manila Filipina (1953), sebagai wakil RI di Kongres Ilmu pengetahuan di Pakistan (1954), sebagai wakil Indonesia ke
South East Asia Conference di Yangoon, Birma (1955), dan sebagai wakil
Indonesia di Konferensi Internasional tentang Penyakit Kulit dan Kelamin di Washington DC, AS (1956).
Bagian keempat: “Pemikiran ke Depan Bidang Pendidikan dan Implementasi Penelitian”. Prof. Dr. M. Sardjito, tahun 1915 sudah mempraktikan ilmunya di Rumah sakit Jakarta. Tahun 1946, Sardjito mendirikan Sekolah Perkumpulan Kaum Teknik Bagian Biologi, SMI, Fakultas Kedokteran Preklinik dan Institut Pasteur, sekaligus menjadi kepala institut. Selain itu, Sardjito turut aktif memberikan bantuan pembentukan Universitas Hasanuddin (Ujung Pandang), Universitas Airlangga (Surabaya), Universitas Brawijaya (Malang), dan Universitas Andalas (Sumatera Barat). Prinsip Sardjito “di mana bumi dipijak disitulah pengembangan dan kemajuan dipikirkan” baik ketika menjadi Presiden UGM maupun sebagai Rektor UII. Pemikiran Sardjito mengenai pendidikan selama sekitar 30 tahun menjadi sumber untuk merumuskan sistem pendidikan pemerintah Orde Baru RI. Melalui bahasa Sardjito dalam memimpin UGM diperoleh sifat-sifat positif universitas yakni mewujudkan suatu lembaga masyarakat dan kerohanian tri tunggal, lembaga ilmu pengetahuan, lembaga kebudayaan, dan lembaga pendidikan dan pengajaran. Selain itu menalurikan dan meyampaikan ilmu pengetahuan
umum (dibuka 5 Mei 1959). Pemikiran pembaharuan progresif Sardjito adalah memberikan gelar doktor honoris causa (HC) kepada para tokoh yang memiliki jasa sangat besar dan luar biasa bagi bangsa dan negara, termasuk jasanya bagi dunia ilmu pengetahuan. Hal ini belum pernah dilakukan oleh universitas lain di Indonesia. UGM memberikan gelar doktor HC kepada: Ir. Soekarno (bidang ilmu hukum, 1951), dan Ki Hadjar Dewantara (bidang ilmu kebudayaan, 1956). Semasa Belanda penggunaan bahasa masih campur aduk, misalnya terdapat buku-buku dengan bahasa Belanda, ceramah menggunakan bahasa Belanda, percakapan sehari-hari belum menggunakan bahasa Indonesia meskipun telah dicetuskan Sumpah Pemuda tahun 1928. Hal itu menjadi pemikiran Sardjito untuk menggunakan bahasa persatuan sebagai pengantar perkuliahan yang baik. Oleh karena itu, Sardjito mengemukakan kepada Kementerian Pendidikan,