• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Singkat Berdirinya Yayasan Sayap Ibu

BAB IV GAMBARAN UMUM ORGANISASI

A. Sejarah Singkat Berdirinya Yayasan Sayap Ibu

Yayasan Sayap Ibu adalah sebuah nama yang diambil dari bahasa Belanda “onder moeder’s vleugels”, yang menggambarkan sayap induk ayam, dimana induk ayam menaungi anak – anaknya ketika bahaya mendekat. Dibawah naungan sayap tersebut induk ayam memberikan kehangatan dan kenyamanan kepada anak – anaknya. Yayasan Sayap Ibu berdiri pada tahun 1955, saat itu ibu Sulistina yang tinggal bersama suaminya dirumah Dinas Sosial yang berada di Jalan Barito II No. 55 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pada saat itu Bung Tomo menjabat sebagai Menteri Sosial, Ibu Sulistina adalah istri yang senantiasa mendampingi dan membantu Bung Tomo. Tinggal di rumah Dinas Sosial setiap hari ia mendapati sebuah pemandangan yang miris didepan rumahnya. Setiap hari ia melihat para ibu – ibu yang berdagang dijalanan tersebut membawa anak – anaknya yang masih sangat kecil dan rentan terkena penyakit untuk berjualan. Dengan kondisi mereka mengikuti ibunya dari pagi hingga sore hari.

Melihat kondisi tersebut ibu Sulistina dan Bung Tomo tergerak hatinya untuk membuk rumahnya bagi anak – anak tersebut. Ia memulai sebuah langkah kecil untuk menolong para ibu – ibu dengan membuka rumahnya untuk menitipkan anak – anak mereka dirumahnya, untuk menunggu hingga ibu mereka selesai berdagang. Di rumah itu ia memberikan waktunya untuk menjaga, mendidik, dan mengayomi anak – anak tersebut. Dari sana akhirnya Ibu Sulistina mengetahui

bahwa banyak dari anak – anak tersebut tidak diharapkan keberadaanya, mereka tidak diharapkan karena berbagai hal. Mulai dari factor ekonomi keluarga yang sangat minim, ketidakadaan tanggung jawab seorang ayah, bahkan sampai ada yang benar – benar tidak memiliki figur seorang ayah. Awalnya anak – anak tersebut diantar pada pagi hari, kemudian akan dijemput pada sore harinya.

Namun semakin hari semakin banyak yang dibiarkan untuk menginap dirumah dinas tersebut. Dan banyak dari anak – anak yang ditipkan akhirnya tidak pernah diambil lagi. Keberadaan orang tuanya pun tidak pernah diketahui lagi dimana. Pada waktu itu Ibu Sulistina Sutomo bersama Ibu-Ibu yang tinggal di Jalan Jenggala II Kebayoran Baru dan sekelompok yang ikut English Conversation merasa sangat prihatin atas keadaan anak-anak tersebut. Semenjak saat itu akhirnya ibu Sulistina memutuskan untuk mengasuh mereka dalam naungan sebuah yayasan. Ia menghimpun ibu – ibu yang tergerak untuk merawat anak – anak, mengambil bagian dalam mengelola yayasan tersebut bersama – sama. Satu persatu ibu datang untuk merawat anak – anak, dan azas dalam yayasan yang ia bangun adalah kekeluargaan dan juga kasih sayang.

Pada tanggal 25 Mei 1955 Yayasan Sayap Ibu resmi didirikan oleh Ibu Sulistina Sutomo, Ibu Arifien, Ibu Gerland Sunario dan Ibu Sukardi di Jakarta dengan maksud dan tujuan untuk menolong anak-anak bayi yang tidak ada yang memelihara, anak-anak bayi yang orang tuanya tidak mampu untuk memeliharanya. Peresmian Yayasan Sayap Ibu dihadiri oleh para wartawan, diliput juga oleh RRI dan diresmikan oleh Menteri Sosial. Untuk pertama kalinya pada tahun 1955 sesuai

Akta Nomor 67 tanggal 25 Mei 1955 telah terbentuk Kepengurusan Yayasan Sayap Ibu sebagai berikut:

Ketua : Nyonya Sulistina Sutomo

Wakil Ketua : Nyonya Arifien

Penulis : Nona Jusna Sair

Bendahari : Nyonya Gerland Sunario

Pembantu : Nyonya Sukardi dan Nyonya Lumungan

Tahun 1978 bersama ibu Sarwanto, ibu Haryono Danusastro (ketua Badan Kerja Sama Panti Asuhan DIY), ibu Mulyoprawito, dan ibu Gondhosuhargo mendirikan Yayasan Sayap Ibu cabang Yogyakarta. Yayasan berdiri dengan mendapatkan bantuan dari seorang dermawan Bapak KRT Sindhudiningrat. Beliau meminjamkan pavilion kerjanya untuk dijadikan Kantor dan Panti Perawaratan Yayasan Sayap Ibu Cabang Yogyakarta.Karyawan pertama Yayasan Sayap Ibu di Yogya adalah saudari Marwati, sebagai tenaga administrasi, dan saudari Menik, sebagai pekerja sosial. Kedua karyawan tersebut hingga kini masih setia mengabdi di Yayasan sayap Ibu melalui suka dan dukanya. Mereka juga dibantu oleh Relawan Sosial Aktif yaitu saudara Sugeng Wiyono.

Kantor Yayasan Sayap Ibu Pusat pindah ke Yogyakarta terhitung sejak tanggal 1 April 2004. Kepindahan Kantor Pusat YSI ke Yogyakarta antara lain disebabkan karena begitu dibutuhkannya sosok ibu Utaryo untuk memimpin Yayasan Sayap Ibu. Diceritakan oleh ibu Tjipto, Pengurus YSI Cabang Jakarta, bahwa Ibu Nas meminta ibu Utaryo supaya memegang kepemimpinan Yayasan

Sayap Ibu Pusat. Karena Bu Utaryo berdomisili di Yogyakarta maka Kantor Pusat dipindahkan ke Yogyakarta. Ibu Utaryo yang pada saat itu tengah menjabat sebagai Ketua Umum YSI Cabang Yogyakarta, harus merangkap jabatan sebagai Ketua Umum YSI Pusat. Sampai akhirnya dipilih Ketua Umum Yayasan Sayap Ibu Cabang Yogyakarta yang baru.

Ibu Utaryo mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak yayasan hingga saat ini. Berbagai aktifitas beliau jalankan untuk kepentingan anak-anak. Selain pelayanan panti, dibuat juga aktifitas kegiatan pelayanan non panti yang bekerja sama dengan PKK dan Organisasi Aisyiah. Mulai saat itu pengangkatan anak (adopsi) , yang dilakukan oleh WNI maupun WNA mulai dilaksanakan melalui pengadilan negeri Sleman. Atas petunjuk bu Nas, maka adopsi oleh WNA terbanyak dilakukan oleh keluarga dari Australia bekerja sama dengan ASIAC. Gregg Redde dan tuan Tony Keenan Warga Negara Australia dikirimkan oleh Organisasi di Australia, ASIAC untuk membantu YSI Cabang Yogyakarta. Khususnya dalam hal Pengangkatan Anak untuk keluarga-keluarga Australia.

Yayasan Sayap Ibu Cabang Yogyakarta dengan bantuan masyarakat telah dapat membangun Panti Perawatan di Yogyakarta di daerah Condongcatur. Tempatnya berada ditengah-tengah sawah, berbatasan dengan sungai. Kian hari semakin banyak bayi-bayi asuhan di Yayasan Sayap Ibu, dirasakan perlu adanya perluasan bangunan serta penambahan fasilitas pelayanan lain-lainnya. Untuk membangun itu semua dibutuhkan dana yang sangat besar. Pada tahun 1978 itu Unity Service Cooperation (USC) Canada, yang didirikan oleh nona DR.Lotta Hitschmanova, yang kemudian akrab dipanggil nona Lotta, menjalin hubungan

kerjasama dengan Departemen Sosial Indonesia dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Indonesia ( DNIKS), yang saat itu ketuanya dijabat oleh bu Nas.

Gambar 4.1. Panti I YSI Cabang DIY

Sumber : data diperioleh dari YSI cabang DIY

Dokumen terkait