BAB II PROFIL DINAS PENDAPATAN DAERAH PROVINSI SUMATERA
2.5 Rencana Kegiatan Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
Keberadaan Dispendasu selama ini merupakan bukti nyata kemampuan organisasi dalam mendukung terselenggaranya Pemerintahan dan Pembangunan. Peningkatan Penerimaan Pendapatan Daerah dapat terwujud dengan adanya semangat kerja dan disiplin pegawai/petugas yang tinggi serta profesional.
Berdasarkan pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan sesuai dengan otonomi yang diberikan, maka daerah diberikan hak untuk mengurus rumah tangganya sendiri dan sebagai konsekuensinya daerah diberikan sumber-sumber keuangan yang cukup. Untuk mengelola sumber-sumber tersebut maka dibentuklah dinas-dinas dimana salah satunya adalah Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai penyelenggara sebagian kewenangan pemerintahan maupun tugas dekonsentrasi di bidang pendapatan daerah, Dipendasu memiliki peranan yang sangat strategis yakni :
“sebagai pengelola utama sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang digunakan mendanai belanja Provinsi Sumatera Utara, dengan berpedoman pada prinsip akuntabilitas, transparansi, efisien dan efektif”. Dengan peran yang strategis ini. Dispenda dituntut untuk :
1. Mampu meningkatkan PAD secara terus menerus khususnya penerimaan dari Pajak Daerah dan Retribusi Jasa Ketatausahaan.
2. Mampu mewujudkan Pelayanan Prima (exelent servive) dalam pelaksanakan administrasi Pajak Daerah dan Retribusi.
3. Mampu mengoptimalkan kewenangan di bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang telah diberikan.
4. Mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola pajak.
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Anggaran
Anggaran memegang peranan penting bagi setiap organisasi dalam pencapaian tujuannya termasuk di Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara. Oleh karena itu, setiap individu yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan instansi terlebih dahulu harus memahami betul apa itu anggaran (budget).
Menurut Amin (2002:1) anggaran adalah ungkapan keuangan dari program kerja untuk mencapai sasaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Menurut Darsono dan Purwanti (2008:2) anggaran adalah rencana tentang kegiatan perusahaan yang mencakup berbagai kegiatan operasional yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain sebagai pedoman untuk mencapai tujuan dan sasaran suatu organisasi. Pada umumnya disusun secara tertulis.
Menurut Munandar (2001:3) definisi anggaran adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit atau kesatuan moneter yang berlaku untuk jangka waktu yang akan datang. Menurut Welsch (2000:5) anggaran juga dapat diartikan sebagai istilah perencanaan untuk pengendalian laba menyeluruh sebagai suatu anggaran sistematis dan formal untuk perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian tanggung jawab manajemen.
Dari beberapa pengertian anggaran yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa anggaran merupakan rencana kerja sistematis yang dinilai dengan uang yang dibuat dalam bentuk angka-angka serta disusun dalam beberapa periode tertentu yang dipakai sebagai alat perencanaan, pengkoordinasian yang terpadu dan pengendalian tanggung jawab manajemen melalui proses tertentu.
3.2 Manfaat Anggaran
Peranan anggaran tidak dapat dilepaskan dari kegiatan organisasi karena anggaran mempunyai beberapa manfaat yang besar bagi organisasi tersebut. Menurut Darsono dan Purwanti (2008:9) kegunaan anggaran ialah untuk perencanaan dan pengendalian, evaluasi kinerja dan untuk mengarahkan perilaku manajer dan karyawan.
Beberapa manfaat anggaran menurut Darsono dan Purwanti (2008:10) dalam proses manajemen organisasi, antara lain :
1. Di bidang perencanaan :
a. Membantu manajemen meneliti dan mempelajari segala masalah yang berkaitan dengan aktifitas yang akan dilaksanakan.
b. Membantu mengarahkan seluruh sumber daya yang ada di perusahaan dalam menentukan arah atau aktifitas yang paling menguntungkan.
c. Membantu arah atau menunjang kebijaksanaan perusahaan.
d. Membantu manajemen memilih tujuan perusahaan.
e. Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia.
2. Di bidang pengendalian :
a. Membantu mengawasi kegiatan dan pengeluaran.
b. Membantu mencegah pemborosan.
c. Membantu menetapkan standar baru.
3.3 Jenis-jenis Anggaran
Menurut Nafarin (2004:22) anggaran dapat dikelompokkan dari beberapa sudut pandang, sebagai berikut :
1. Menurut dasar penyusunan, anggaran terdiri dari :
a. Anggaran tetap (fixed budget), adalah anggaran yang dibuat untuk satu tingkat satu kegiatan selama jangka waktu tertentu, dimana pada tingkat kegiatan tersebut direncanakan pendapatan dan biaya.
Anggaran ini tidak memungkinkan adanya penyesuaian oleh karena sudah tetap.
b. Anggaran variabel (flexible budget), adalah anggaran yang dibuat berdasarkan pada tingkat kegiatan. Prinsip dari anggaran ini adalah bahwa untuk setiap tingkat kegiatan harus terdapat norma-norma untuk kegiatan yang dikeluarkan. Norma-norma ini merupakan patokan dari pengeluaran-pengeluaran yang seharusnya pada masing-masing tingkat kegiatan tersebut. Penyusunan anggaran ini dilakukan dengan memperhatikan biaya tetap dan biaya variabel.
2. Menurut cara penyusunan, anggaran terdiri dari :
a. Anggaran periodik, yaitu anggaran yang disusun untuk satu periode tertentu, umumnya satu tahun yang disusun setiap akhir periode anggaran.
b. Anggaran kontiniu, yaitu anggaran yang dibuat untuk memperbaiki anggaran yang telah dibuat.
3. Menurut jangka waktu, anggaran terdiri dari :
a. Anggaran jangka pendek (anggaran taktis), yaitu anggaran yang dibuat dengan jangka waktu paling lama satu tahun. Anggaran ini untuk keperluan modal kerja.
b. Anggaran jangka panjang (anggaran strategis), yaitu anggaran yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Anggara ini biasanya untuk keperluan investasi barang modal atau disebut juga anggaran modal (capital budget). Anggaran jangka panjang tidak harus berupa anggaran modal. Anggaran ini diperlukan sebagai dasar penyusunan anggaran jangka pendek.
4. Menurut bidangnya, anggaran terdiri dari anggaran operasional dan keuangan. Kedua anggaran ini bila dipadukan disebut anggaran induk (master budget). Anggaran tidak merupakan konsolidasi rencana keseluruhan perusahaan untuk jangka pendek, biasanya disusun atas dasar tahunan. Anggaran tahunan dipecah lagi menjadi anggaran triwulan. Anggaran triwulan dipecah lagi menjadi anggaran bulanan.
a. Anggaran biaya operasional, adalah anggaran untuk menyusun anggaran laporan laba rugi. Anggaran ini terdiri dari anggaran penjualan, anggaran biaya pabrik, anggaran beban usaha.
b. Anggaran keuangan, adalah anggaran untuk menyusun anggaran neraca. Anggaran keuangan terdiri dari anggaran kas, anggaran piutang, anggaran persediaan, anggaran utang, dan anggaran neraca.
5. Menurut kemampuan didalam penyusunan anggaran, terdiri dari : a. Anggaran komperhensif, merupakan rangkaian dari berbagai
macam anggaran yang disusun secara lengkap. Anggaran komperhensif merupakan perepaduan dari anggaran keuangan yang disusun secara lengkap.
b. Anggaran parsial, merupakan anggaran yang disusun secara tidak lengkap. Anggaran yang hanya menyusun sebagaian anggaran tertentu saja. Misalnya, karena keterbatasan kemampuan, yang dapat disusun hanya anggaran operasional saja.
6. Menurut fungsinya, anggaran terdiri dari :
a. Anggaran apropriasi (approriatation budget), adalah anggaran yang dibentuk bagi tujuan tertentu dan tidak boleh digunakan untuk tujuan lain.
b. Anggaran kinerja (performance budget), adalah anggaran yang disusun berdasarkan fungsi kegiatan yang dilakukan dalam organisasi (perusahaan). Misalnya, untuk menilai apakah biaya
yang dikeluarkan oleh masing-masing aktifitas tidak melampaui batas.
Sedangkan menurut Rudianto (2009:7) jenis-jenis anggaran dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok anggaran, yaitu:
1. Anggaran Operasional
Anggaran operasional adalah rencana kerja perusahaan yang mencakup semua kegiatan utama perusahaan dalam memperoleh pendapatan di dalam suatu periode tertentu. Karena itu anggaran operasional mencakup :
a. Anggaran pendapatan
Anggaran pendapatan merupakan rencana yang dibuat perusahaan untuk memperoleh pendapatan pada kurun waktu tertentu.
b. Anggaran biaya
Anggaran biaya merupakan rencana biaya yang akan dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh pendapatan yang direncanakan.
c. Anggaran laba
Anggaran laba adalah besarnya laba yang ingin diperoleh perusahaan di dalam suatu periode tertentu di masa mendatang.
2. Anggaran Keuangan
Anggaran laba adalah besarnya laba yang ingin diperoleh perusahaan di dalam suatu periode tertentu di masa mendatang. Anggaran laba
sebenarnya merupakan gabungan dari anggaran pendapatan dan anggaran biaya. Anggaran laba merupakan rangkuman dari keseluruhan anggaran pendapatan dan anggaran biaya. Karena itu anggaran laba dapat digunakan untuk :
a. Mengalokasikan sumber dana
b. Merencanakan dan mengkoordinasikan kegiatan organisasi.
c. Alat pengecek akhir tentang efesiensi biaya yang dianggarkan.
3.4 Keuntungan Anggaran
Sistem anggaran memiliki biaya dan memerlukan pengorbanan, tetapi dibalik pengorbanan itu banyak keuntungan. Menurut Darsono dan Purwanti (2010:13) keuntungan anggaran antara lain :
1. Mempercepat dan mengefesiensikan pencapaian tugas.
2. Mengurangi tugas-tugas rutin operasional pimpinan sehingga ia lebih terfokus kepada hal-hal yang bersifat jangka panjang dan strategis.
3. Meningkatkan daya kompetensi, motivasi, dan menimbulkan proses penialaian yang lebih objektif.
4. Sebagai alat pedoman kerja dan pengendalian kegiatan operasional dan keuangan.
5. Sebagai sarana koordinasi antar bagian, divisi, dalam suatu perusahaan.
3.5 Kelemahan Anggaran
Meskipun begitu banyak keuntungan yang diperoleh dengan menyusun anggaran, tetapi masih terdapat kelemahan yang membatasi anggaran. Menurut Darsono dan Purwanti (2010:14) anggaran juga memiliki kelemahan, antara lain :
1. Anggaran hanya merupakan rencana, dan rencana tersebut baru berhasil apabila dilaksanakan sungguh-sungguh.
2. Anggaran hanya merupakan suatu alat yang digunakan untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugasnya, bukan menggantikannya.
3. Kondisi yang terjadi tidak selalu seratus persen sama dengan yang diramalkan sebelumnya, karena itu anggaran perlu memiliki sifat yang luwes.
4. Anggaran harus disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
5. Sering terjadi konflik kepentingan dalam penyusunan anggaran maupun dalam pelaksanaannya.
3.6 Anggaran Sebagai Alat Perencanaan
Setiap organisasi yang ingin bertahan, tumbuh ataupun menginginkan bekerjanya organisasi secara lancar, memerlukan adanya manajemen yang baik. Dalam menciptakan suatu manajemen yang baik, organisasi tentu saja harus memperhatikan dan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik pula.
Perencanaan merupakan fungsi manajemen yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan organisasi dalam rangka pencapaian tujuannya secara efektif dan efisien. Nafarin (2004:4) menyatakan bahwa perencanaan berarti menentukan sebelumnya kegiatan yang mungkin dapat dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Perencanaan merupakan upaya antisipasi sebelum melakukan sesuatu agar apa yang dilakukan dapat berhasil dengan baik.
Sesuai dengan fungsi manajemen, yaitu fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian, anggaran pun demikian.
Hal ini disebabkan karena anggaran sebagai alat manajemen dalam melaksanakan fungsinya. Aspek lain yang penting dari perencanaan dengan menggunakan anggaran adalah perencanaan dana yang tersedia seefisien mungkin.
Menurut Nafarin (2004:20), semua belanja membutuhkan dana dan dana adalah sumber daya yang langka. Oleh karena itu, penyusunan anggaran harus memperhitungkan berbagai kemungkinan mana yang paling menguntungkan bagi perusahaan. Jadi, salah satu fungsi anggaran adalah menentukan rencana belanja dan sumber dana yang ada seefisien mungkin.
3.7 Proses Penyusunan Anggaran Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
Penyusunan anggaran merupakan proses akutansi sekaligus proses manajemen. Dari segi proses akutansi, penyusunan anggaran merupakan proses penetapan peran tiap manajer dalam melaksanakan program atau bagian dari program.
Kebanyakan organisasi membuat anggaran untuk tahun mendatang pada empat atau lima bulan terakhir dan tahun berjalan. Namun, ada pula organisasi yang mengembangkan prinsip-prinsip anggaran berkelanjutan.
Anggaran ini dibuat untuk jangka waktu 12 bulan. Bila anggaran tidak diimplementasikan selama satu bulan, maka satu bulan di masa depan dibuat dan ditambahkan sebagai anggaran tahun berjalan. Dengan demikian, perusahaan selalu memiliki rencana keuangan 12 bulan kedepan.
Penyusunan program berhubungan dengan peran departemen anggaran dan komite anggaran. Departemen anggaran mengadministrasikan aliran informasi dari sistem pengendalian melalui anggaran. Anggaran biasanya berjangka waktu satu tahun dan dirinci untuk setiap bulan selama tahun yang bersangkutan. Langkah-langkah dalam penyusunan anggaran pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, sebagai berikut:
1. Menerbitkan pedoman, prosedur, dan formulir-formulir untuk penyusunan anggaran.
2. Mengkoordinasikan dan menerbitkan setiap asumsi-asumsi dasar yang dikeluarkan kantor pusat untuk digunakan dalam menyusun anggaran.
3. Menjamin bahwa informasi dikomunikasikan secara wajar di antara unit-unit organisasi yang saling berhubungan.
4. Membantu pusat-pusat pertanggungjawaban di dalam menyusun anggaran.
5. Menganalisis usulan anggaran dan membuat rekomendasi, pertama pada penyusunan anggaran dan selanjutnya pada manajemen puncak.
6. Menganalisis laporan prestasi sesungguhnya dibandingkan anggarannya, menginterprestasikan hasil-hasilnya, dan menyiapkan laporan ringkas untuk manajemen puncak.
7. Mengadministrasikan proses penyesuaian anggaran selama tahun yang bersangkutan.
8. Mengkoordinasikan dan secara fungsional mengendalikan pekerjaan departemen anggaran di eselon bawah.
Tim penyusun anggaran bertugas mengusulkan kepada manajemen puncak mengenai pedoman umum penyusunan anggaran, menyebarkan pedoman tersebut setelah disetujui manajemen puncak, mengkoordinasikan berbagai macam usulan anggaran yang timbul di antara usulan anggaran, menyerahkan anggaran final pada manajemen puncak dan dewan komisaris (bagi perusahaan) untuk disahkan, dan mendistribusikan anggaran yang telah disahkan kepada berbagai unit organisasi.
Proses penyusunan Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut ini:
Gambar 3.1 : Proses Penyusunan Rencana Anggaran Satuan Kerja Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara (RASK)
Keterangan :
S1, S2, S2A : Rencana anggaran pendapatan dan belanja S3A : Rencana anggaran pendapatan satuan kerja S3B1 dan S3B.1.1 : Rencana anggaran langsung kegiatan satuan kerja SB2 : Rencana anggaran belanja tidak langsung
S3B : Rekapitulasi rincian anggaran belanja langsung S3 : Rencana anggaran satuan kerja
Proses penyusunan Rencana Anggaran Satuan Kerja, sebagai berikut:
a. Formulir S3 diisi sampai dengan jenis belanja/jenis pendapatan (misalnya: belanja pegawai, belanja barang dan jasa. Belanja perjalanan dinas, belanja pemeliharaan, belanja modal bangunan gedung).
b. Formulir S3A, S3B, S3B1, dan S3B1.1 diisi sampai dengan rincian objek, misalnya: gaji pokok, biaya alat tulis, biaya perjalanan dinas dalam daerah, biaya pemeliharaan komputer, belanja modal tanah perkebunan, dan belanja modal gedung sekolah.
c. S3B2.1 (belanja tidak langsung per kegiatan) langsung diisi ke S3B2.
Formulir S3B2.1 sebenarnya bertujuan untuk mengukur seberapa besar presentase biaya kegiatan operasi dan pemeliharaan terhadap belanja administrasi umum yang ada di satuan unit kerja. Formulir ini bisa dipergunakan atau tidak sesuai dengan kebutuhan satuan unit kerja.
d. S3A1 (pendapatan per kegiatan), langsung diisi ke S3A. Pada saat ini formulir S3A1 dan S3A1.1 di Pemerintahan Kota Medan tidak digunakan karena disesuaikan dengan kebijakan yang diambil. Formulir ini
digunakan untuk penyusunan anggaran daerah yang selanjutnya akan dipertimbangkan kembali untuk dimasukkan ke dalam penyusunan RASK mengingat pentingnya penjabaran secara detail dari kegiatan yang diperoleh dari pendapatan.
3.8 Penganggaran Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
Sebuah instansi pemerintah dituntut mempunyai pimpinan yang dapat bekerja dengan efektif dan efisien, agar mampu mengelola instansi tersebut dengan baik. Penyusunan anggaran dalam instansi pemerintah merupakan salah satu elemen yang penting dalam pengelolaan instansi tersebut, untuk mencapai hasil yang maksimal.
Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara tentunya melakukan penganggaran atau menyusun anggaran setiap tahunnya sebagai pedoman kegiatan-kegiatan kerjanya.
Sebagai alat perencanaan, anggaran merupakan alat perencanaan manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. Anggaran sektor publik dibuat untuk merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa biaya yang dibutuhkan, dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut.
Dengan demikian, anggaran dapat digunakan sebagai alat bantu bagi pemerintah dalam mengendalikan kegiatan pemerintahan khususnya bagian
pendapatan. Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara mempunyai sumber-sumber pendapatan daerah yang disebut sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak, Bagi Hasil Bukan Pajak, Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari : a. Pajak Daerah
Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Yang termasuk Pajak Daerah antara lain :
a) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
b) Pajak Kendaraan di Atas Air (PKAA).
c) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB).
d) Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air (PBB-KAA).
e) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB).
f) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (ABT/APU).
Tabel 3.1
Target dan Realisasi Pajak Daerah T.A. 2012 T.A. Pajak
Daerah
Target Realisasi %
2012 PKB 555.000.000.000,00 557.359.187.958,00 100,43 PKAA 45.000.000,00 46.046.449,00 102,33
BBN-KB
520.000.000.000,00 583.958.809.928,00 112,30
BBN-KAA
5.000.000,00 1.965.950,00 39,32
PBB-KB
362.000.000.000,00 378.195.572.192,00 104,47
ABT-APU
21.350.000.000,00 22.784.655.544,00 106,72
Total 1.458.400.000.000,00 1.542.346.238.021,00 105,76 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
b. Retribusi Daerah
Retribusi Daerah adalah pemungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah. Yang termasuk Retribusi Daerah antara lain :
a) Pengujian Kendaraan Bermotor b) Penggantian Biaya Cetak Peta.
c) Pengujian Kapal Perikanan.
d) Pemakaian Kekayaan Daerah.
e) Pasar Grosir atau Pertokoan.
f) Tempat Penginapan/Persinggahan/Villa.
g) Penjualan Produksi Usaha Daerah.
h) Izin Trayek.
i) Tempat Pendaratan Kapal.
Tabel 3.2
Target dan Realisasi Retribusi Daerah T.A. 2012
T.A. Target Realisasi %
2012 12.179.350.000,00 13.251.999.446,03 108,81 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara c. Laba BUMD
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) adalah Badan Usaha yang dibentuk oleh Daerah dalam hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk menopang keuangan Daerah. Laba Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi adalah penerimaan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang diperoleh dari hasil (laba) pengelolaan BUMD.
Yang termasuk laba BUMD antara lain : a) PDAM Tirtanadi.
b) PD Perkebunan.
c) PD Perhotelan.
d) PD Aneka Industri dan Jasa (PD AIJ) e) PT. Bank SUMUT.
f) PT. KIM.
Tabel 3.3
Target dan Realisasi Laba BUMD T.A. 2012
T.A. Sumber Target Realisasi %
2012 PDAM Tirtanadi
4.100.000.000,00 4.100.000.000,00 100,00
PD
Perkebunan
5.754.582.900,00 5.754.582.900,00 100,00
PD
Perhotelan
550.000.000,00 525.000.000,00 95,45
PD AIJ 100.000.000,00 50.000.000,00 50,00 PT. KIM 275.140.784,00 275.140.784,00 100,00 PT. Bank
Sumut
63.433.826.825,00 63.433.826.824,78 100,00
Total 74.213.550.509,00 74.138.550.508,78 99,90 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Lain – lain pendapatan asli daerah yang sah adalah penerimaan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di luar Pajak Daerah dan Retribusi Daerah seperti jasa giro, hasil penjualan aset daerah. Yang termasuk Pendapatan Lain-lain yaitu :
a) Hasil penjualan aset daerah yang tidak dapat dipisahkan.
b) Penerimaan Jasa Giro.
c) Penerimaan Lain-lain :
Penerimaan dari PT. (Persero) AK Jasa Raharja.
Penerimaan lain-lain dari Biro Keuangan dan Dinas Kesehatan.
Tabel 3.4
Target dan Realisasi Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah T.A. 2012
T.A. Sumber Dana
Target Realisasi %
2012 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
49.222.881.095,00 76.558.383.817,18 155,53
Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
2. Bagi Hasil Pajak berasal dari :
1. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
2. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
3. Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21 orang pribadi dalam negeri).
Tabel 3.5
Target dan Realisasi Bagi Hasil Pajak T.A. 2012 T.A. Sumber
Dana
Target Realisasi %
2012 Bagi Hasil Pajak
266.263.784.000,00 291.470.533.405,00 109,47
Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
3. Bagi Hasil Bukan Pajak berasal dari : 1. Provinsi Sumber Daya Hutan.
2. Iuran Eksplorasi/Eksploitasi/Royalty.
3. Minyak Bumi.
4. Gas Alam.
Tabel 3.6
Target dan Realisasi Bagi Hasil Bukan Pajak T.A. 2012
T.A. Sumber Dana Target Realisasi %
2012 Bagi Hasil Bukan Pajak
2.053.210.000,00 4.253.765.414,00 207,18 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
4. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah berasal dari 1. Sumbangan Pihak Ketiga (SP-3).
2. Iuran Jasa Air (Annual Fee).
Tabel 3.7
Target dan Realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah T.A. 2012 TA. Sumber
Dana
Target Realisasi %
2012 Sumbangan Pihak Ketiga (SP-3)
3.403.710.000,00 3.717.819.797,00 109,23
Annual Fee 14.014.478.000,00 19.145.276.322,00 136,61 Dana
Penyesuaian dan
Otonomi Khusus
20.000.000.000,00 18.000.000.000,00 90,00
Total 37.418.188.000,00 40.863.096.119,00 109,21 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
3.9 Peranan Anggaran Sebagai Alat Perencanaan Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara
Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara selaku organisasi pasti memerlukan anggaran untuk mewujudkan visi dan misinya dengan efektif dan efisien. Terdapat beberapa kriteria umum yang menjadi perhatian serius dalam menentukan arah dan kebijakan keuangan daerah Provinsi Sumatera Utara. Kriteria tersebut antara lain :
1. Pengupayaan kesinambungan antara anggaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah.
2. Pengupayaan netralisasi dampak mobilisasi penerimaan daerah terhadap perkembangan ekonomi Sumatera Utara maupun nasional.
3. Pemenuhan Standar Pelayanan publik Minimal (SPM).
4. Peningkatan efisiensi pelayanan publik.
5. Peningkatan akuntabilitas dan transparansi anggaran serta peningkatan partisipasi masyarakat.
Demi memenuhi kriteria-kriteria tersebut, maka diperlukan struktur anggaran dan pengelolaan keuangan daerah yang tepat. Struktur anggaran yang tepat merupakan necessary condition bagi pengelolaan keuangan daerah yang baik. Dalam mewujudkan struktur anggaran yang tepat, beberapa ketentuan berikut semaksimal mungkin diupayakan untuk dipatuhi.
Pertama, struktur anggaran secara ekspilit memisahkan pendapatan dan pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari utang misalnya, tidak bisa diklaim sebagai pendapatan karena suatu saat nanti harus dikembalikan.
Demikian pula, penerimaan yang berasal dari kinerja anggaran tahun-tahun sebelumnya (seperti dana cadangan) ataupun dana-dana yang sifatnya temporer (seperti hasil penjualan aset daerah) tak bisa dimasukkan ke dalam komponen pendapatan daerah karena berpotensi mengganggu perencanaan keuangan daerah.
Kedua, struktur alokasi anggaran disusun sesuai dengan prioritas, yakni antara alokasi belanja untuk yang bersifat wajib dan pilihan, serta antara alokasi belanja yang dirasakan manfaatnya secara langsung dan tidak langsung oleh masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah meliputi mobilisasi pendapatan,
BAB IV PENUTUP
Pada bab ini penulis akan memaparkan beberapa kesimpulan dari pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, selain itu penulis juga memberikan bebrapa saran yang mungkin bermanfaat demi kebaikan dan kemajuan Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara.
4.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas mengenai peranan anggaran sebagai alat perencanaan pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara merupakan lembaga pemerintah sebagai penyelenggara sebagian kewenangan pemerintahan maupun tugas dekonsentrasi dibidang pendapatan daerah. Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu: sebagai pengelola utama sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang digunakan mendanaibelanja Provinsi Sumatera Utara, dengan berpedoman pada prinsip akuntabilitas, transparansi, efisien, dan efektif.
2. Anggaran pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara berperan sebagai alat perencanaan karena instansi ini melakukan
banyak pertimbangan dan analisa dalam penyusunan rencana anggarannya sebelum menetapkan anggaran.
3. Dari target yang telah ditentukan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara pada tahun anggaran 2012, hmpir semua
3. Dari target yang telah ditentukan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara pada tahun anggaran 2012, hmpir semua