• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH SINGKAT PENATAAN RUANG DI INDONESIA

SEJARAH SINGKAT PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

C. SEJARAH SINGKAT PENATAAN RUANG DI INDONESIA

Ada tiga manfaat mempelajari sejarah penataan ruang di Indonesia, yaitu: (1) belajar dari pengalaman masa lalu yang mungkin dapat terjadi lagi di masa depan, (2) sejarah mampu memberi inspirasi kepada kita, dan (3) kita mampu memahami karakteristik khas yang terbentuk selama perjalanan sejarah sampai saat ini. Sejarah perkembangan penataan ruang di Indonesia berbeda dengan sejarah serupa di negara-negara lain, dengan memahami sejarah perkembangan tersebut kita akan memahami terbentuknya karakteristik khas penataan ruang di Indonesia yang berbeda dengan negara-negara lain.

Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota (104 D52 02) 37 Perkembangan praktIk perencanaan di Indonesia dari masa ke masa dipengaruhi beberapa faktor (disarikan dari “Sejarah Penataan Ruang”

http://penataanruang.pu.go.id/taru/sejarah/sejarah.htm; diakses 23 November 2014), sebagai berikut:

1. Perkembangan paradigma perencanaan di dunia: bermula dari master planning, berkembang ke rational comprehensive planning, kemudian strategic planning dan participatory planning.

2. Perubahan ke pemerintahan: dari pemerintahan (Kolonial) Hindia Belanda, Pemerintahan Penjajahan Jepang (sampai tahun 1945), Pemerintahan Republik Indonesia (bersamaan dengan Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pasca perang Dunia II, sampai tahun 1949), Pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru (sampai tahun 1998), dan Pemerintahan pasca Orde Baru. Tiap pemerintahan mempunyai orientasi politik yang dapat berbeda dan kebijakan penataan ruang yang berlainan.

3. Perkembangan pendidikan dan pelatihan perencanaan: sejak tahun 1950-an sampai sekarang diadakan pelatihan kedinasan Pekerjaan Umum (yang tidak terbatas pada penataan ruang); tahun 1960-an mulai berkembang Perguruan Tinggi bidang Perencanaan Wilayah dan Kota; tahun 1980-an sampai sekarang jumlah Perguruan Tinggi PWK makin meningkat. Ketersediaan SDM perencana lulusan perguruan tinggi mempengaruhi kuantitas dan kualitas produk perencanaan. Selain melalui pendidikan tinggi PWK, terdapat jalur lain pendidikan perencanaan yaitu melalui Pendidikan dan Latihan Jabatan Fungsional Perencana (Diklat JFP) yang dibina oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota (104 D52 02) 38 4. Pengaruh aliran perencanaan luar negeri: sampai tahun 1950-an penataan ruang kita dipengaruhi oleh aliran dari Negeri Belanda (“planologie” atau perencanaan fisik, yang sudah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia); akhir tahun 1950-an para ahli perencanaan dari Belanda pulang ke negaranya karena krisis politik Irian Barat waktu itu, dan digantikan ahli-ahli perencanaan dari negara lain, terutama dari Amerika Serikat; para ahli dari AS membawa aliran perencanaan umum (perencanaan komprehensif), selain itu banyak SDM kita yang disekolahkan ke AS yang sewaktu pulang ke Indonesia makin memantapkan penerapan rational comprehensive planning ke bidang penataan ruang (produknya berupa Rencana Umum Tata Ruang atau RUTR, yang kemudian berubah namanya menjadi Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW); tradisi perencanaan komprehensif (yang mengacu ke AS) makin kuat di Indonesia dengan diterapkannya peraturan zonasi (zoning) mulai tahun 2000-an.

5. Perkembangan kelembagaan perencanaan: sejak awal berdirinya republik ini, penataan ruang telah menjadi urusan teknis bidang Pekerjaan Umum (PU), yang dimulai sebagai Balai Tata Ruang Pembangunan (BTRP), kemudian meningkat menjadi Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah, dan kini naik eselonnya menjadi Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Selain Kementerian PU, perencanaan wilayah dan kota di Indonesia juga didukung oleh lembaga-lembaga lainnya, di antaranya: (a) Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Kementerian Dalam Negeri) untuk urusan legalitas tata ruang, (b) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, (c) Kementerian Lingkungan Hidup, dan (d) Badan Pertanahan Nasional. Selain

Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota (104 D52 02) 39 itu ada Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) yang beranggotakan menteri-menteri terkait dan diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Keppres No. 4 tahun 2009).

6. Perkembangan peraturan perundang-undangan perencanaan: tahun 1947-1949 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-Undang (Ordonansi) Pembentukan Kota dan Pengoperasionalannya (stadsvormongordonantie/SVO dan stadsvorming voor ordening/SVV) dan sejak tahun 1950, meski SVO dan SVV dirasa tidak cocok untuk Indonesia, tapi secara hukum SVO dan SVV masih berlaku (karena belum ada penggantinya yang setingkat UU). RUU Bina Kota yang disusun tahun 1970, dirancang untuk menggantikan SVO dan SVV tapi pengesahannya tidak lancar. Meski tidak setingkat UU, sementara dipakai pedoman penataan ruang dari Menteri PU tahun 1987. Akhirnya pada tahun 1992 Indonesia mempunyai UU pengganti SVO dan SVV yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, yang kemudian dilengkapi dengan peraturan Menteri PU tahun 2002 terkait dengan pedoman penataan ruang. Dengan diterapkannya otonomi daerah di Indonesia di awal tahun 2000-an, maka UU 24/1992 diperbarui dengan UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, disusul dengan pedoman penataan ruang yang sudah diperbarui dalam Peraturan Menteri PU Nomor 15, 16, dan 17 Tahun 2009.

Berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh tersebut di atas disusun kajian singkat perkembangan praktek perencanaan tata ruang di Indonesia, pada tabel 2:

Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota (104 D52 02) 40 Tabel 2. Sejarah Singkat Penataan Ruang Wilayah dan Kota di Indonesia

Periode Isu-isu Penting Cara Solusi Catatan

Zaman Kolonial Belanda (sampai tahun 1949)

Masalah-masalah difokuskan pada fisik kota (sanitasi, permukiman yang tidak teratur, dsb)

Perencanaan fisik kota (planologie)

Perencanaan fisik kota masa ini dilakukan oleh ahli-ahli teknik sipil dan arsitek didikan Belanda Zaman Awal Republik (1950-an) Meskipun masih meneruskan tradisi sebelumnya, tapi mulai disadari bahwa Indonesia berbeda dengan negara Barat/ Belanda

Planologie mulai ditambah dengan aspek-aspek sosial, ekonomi dan budaya Indonesia

Zaman Orde Lama dan Orde Baru (1950-an sampai 1990-an)

Krisis politik dengan Belanda (terkait Irian Barat pada akhir tahun 1950-an sampai awal 1960-an, banyak ahli dari Belanda pulang ke negaranya; diganti oleh ahli-ahli dari Amerika Serikat Perencanaan tata ruang mulai berorientasi ke AS yang berbasis perencanaan umum (rational comprehensive planning)

Rencana tata ruang mulai disebut sebagai Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), kemudian berubah menjadi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

Zaman Otonomi Daerah dan

Desentralisasi (mulai awal tahun 2000-an sampai sekarang) Desakan demokratisasi dan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan dan tata ruang Pedoman penataan ruang terbaru (Peraturan Menteri PU Nomor 15, 16, 17 tahun 2009) lebih memperlihatkan peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang Perencanaan tata ruang gaya Amerika serikat makin mewarnai dengan diterapkannya peraturan zonasi (zoning) di Indonesia

sumber: Djunaedi, A. 2014. Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota.

PENUTUP

Setelah penyajian materi modul ajar ke-2 (dua) yang disertai contoh penjelasan tambahan, dilakukan tanya-jawab dan diskusi antara dosen dan mahasiswa serta antar mahasiswa agar dapat lebih mengenal, dan memahami materi yang disampaikan.

Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota (104 D52 02) 41

MODUL 3

Dokumen terkait