BAB II PROSES INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO) DALAM
B. Pentingnya Prinsip Keterbukaan Informasi (Full Disclosure)
Keterbukaan merupakan suatu prinsip yang berlaku secara universal dalam pasar modal. Prinsip keterbukaan yang merupakan sesuatu yang mutlak harus dapat dilakukan semua pihak yang terlibat dengan kegiatan di pasar modal, merupakan
suatu kebalikan dengan prinsip atau asas yang dianut kalangan perbankan dimana prinsip kerahasiaan bank merupakan hal yang wajib untuk ditaati.
Keterbukaan dalam pasar modal mempunyai makna bahwa menjadi suatu keharusan bagi emiten, perusahaan publik dan pihak lain yang tunduk kepada UUPM untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap efek yang dimaksud atau harga dari efek tersebut.
Adapun yang dimaksud informasi material adalah informasi atau fakta-fakta penting yang relevan mengenai kejadian, peristiwa, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada bursa dan atau keputusan calon investor atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.
Berkenaan dengan kewajiban melaksanakan prinsip keterbukaan ini, Pasal 86 ayat (1) UUPM menentukan bahwa emiten, perusahaan publik atau pihak lain yang terkait wajib menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan tindakan atau efek perusahaan tersebut pada waktu yang tepat kepada masyarakat dalam bentuk laporan berkala dan laporan peristiwa penting. UUPM menentukan bahwa emiten wajib menyampaikan informasi secara lengkap dan akurat. Informasi dinyatakan disampaikan dengan lengkap, apabila informasi itu utuh, tidak ada yang tertinggal atau disembunyikan, disamarkan, atau tidak menyampaikan apa-apa atas fakta material. Dikatakan akurat apabila informasi yang disampaikan mengandung kebenaran dan ketepatan. Dengan demikian, berdasarkan Pasal 80 ayat (1) UUPM
informasi yang disampaikan yang tidak mengandung kebenaran dan ketepatan digolongkan sebagai informasi yang tidak benar dan menyesatkan.
UUPM dan sejumlah peraturan yang berkaitan dengan pasar modal merupakan instrumen yuridis untuk mewujudkan pasar modal yang terorganisasi dengan baik. Menurut Irvan Nasution dan Indra Surya, keterbukaan merupakan prinsip dari Good Corporate Governance yang diakomodasikan ke dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Lebih lanjut dijelaskan Irvan Nasution dan Indra Surya, pedoman Good Corporate Governance ref 4.0 memasukkan prinsip keterbukaan yang mensyaratkan ketepatan waktu dan akurasi informasi.
Perseroan wajib menyampaikan informasi penting dalam laporan berkala dan laporan peristiwa penting perseroan kepada pemegang saham dan instansi pemerintah yang terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku secara tepat waktu, akurat, jelas, dan objektif.101 Dengan demikian, ada relevansi antara iklim keterbukaan yang berkembang di pasar modal dengan kondisi objektif suatu perusahaan dimana iklim keterbukaan yang diterapkan dalam pasar modal menuntut keharusan pengelolaan perusahaan secara baik bagi perusahaan-perusahaan yang akan masuk ke pasar modal.
Menurut Indra Surya dan Ivan Yustiavandana, peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal juga sangat terkait dengan implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance, selain hukum perusahaan. UUPM juga memuat peraturan yang berkaitan dengan Good Corporate Governance, terutama dalam kaitannya
101Bismar Nasution, Op.Cit., hlm.236
dengan prinsip keterbukaan (disclosure). Pengaturan tersebut terutama termuat dalam Bagian Kelima, Pasal 82-84, yakni mengenai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HEMTD), benturan kepentingan, penawaran tender, penggabungan, peleburan dan pengambilalihan.102
Dalam laporan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) telah membuat suatu laporan mengenai prinsip-prinsip umum pengelolaan perusahaan (corporate governance) berdasarkan pandangan sektor swasta dengan menitikberatkan pada apa yang diperlukan oleh suatu pengelolaan untuk menarik modal. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa intervensi dalam masalah pengelolaan perusahaan akan menjadi cara yang paling efektif dalam rangka menarik modal, jika intervensi tersebut terfokuskan pada empat bidang. Salah satu bidang tersebut adalah bidang keterbukaan (transparency) yang sekaligus menjadi salah satu prinsip pengelolaan perusahaan, di samping prinsip-prinsip lainnya, seperti keadilan (fairness), pertanggungjawaban (accountability) dan tanggung jawab (responsibility).
Dalam prinsip keterbukaan tersebut dinyatakan, bahwa kerangka pengelolaan perusahaan harus dapat memastikan bahwa pengungkapan infomasi yang akurat atau tepat diadakan berkaitan dengan materi yang menyangkut perusahaan, termasuk situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan kepemimpinan suatu perusahaan.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, secara umum dapat disebutkan bahwa keterbukaan merupakan prinsip dasar yang dianut secara universal dan berlaku secara
102Indra Surya & Ivan Yustiavandana, Penerapan Good dengan Lembaga Kajian Pasar Modal dan Keuangan (LKPMK,), (Jakarta : Fakultas Hukum UI, 2006), hlm.116
mutlak di pasar modal. Sebagai pasar yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dan pihak yang menawarkan dana, pasar modal dikelola secara profesional dengan mengedepankan keterbukaan untuk mempermudah akses bagi semua pihak yang berkepentingan dengan kegiatan pasar modal. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa penerapan prinsip keterbukaan di pasar modal sesungguhnya bertujuan untuk :
1. Memberikan perlindungan hukum bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pasar modal terutama bagi calon investor (pemodal).
2. Memberikan informasi seluas-luasnya bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pasar modal sebagai dasar pertimbangan pengembilan suatu keputusan.
3. Meningkatkan kepercayaan publik kepada pasar modal, hal ini didasarkan pemikiran bahwa aktivitas pasar modal sangat bergantung pada tingkat kepercayaan masyarakat, sehingga untuk menumbuhkan kepercayaan diberikan ruang seluas-luasnya untuk mendapat informasi di pasar modal.
Keterbukaan di pasar modal tidak hanya berorientasi pada kepentingan perlindungan hukum pemodal (investor) tetapi juga dapat menjadi suatu instrumen yuridis bagi upaya membangun perusahaan yang sehat dengan pengelolaan yang baik.
Pada akhirnya pengelolaan perusahaan yang baik dapat mempengaruhi kemampuan suatu perusahaan untuk menarik kepercayaan penanam modal (investor) untuk menanamkan modalnya kepada perusahaan yang menerapkan keterbukaan informasi pada proses penawaran saham perdana atau Initial Public Offering(IPO).
Prinsip keterbukaan atau transparansi yang diterapkan di pasar modal merupakan suatu bentuk perlindungan hukum kepada masyarakat, mengingat pasar modal merupakan tempat bertemunya permintaan dan penawaran dana dalam jumlah yang amat besar dan datang dari mana saja untuk kegiatan bisnis. Oleh karena itu, prinsip keterbukaan merupakan suatu prinsip yang amat diperlukan bagi investor untuk menyakinkan dirinya mendapatkan informasi yang benar dan lengkap.103
Prinsip keterbukaan merupakan jaminan bagi hak publik untuk mendapatkan akses. Pelanggaran terhadap UUPM terkait keterbukaan informasi dikenakan sanksi pidana, sanksi perdata maupun sanksi administrasi. Pengenaan sanksi yang termuat dalam UUPM serta penegakan hukum atas setiap pelanggaran ketentuan mengenai keterbukaan ini menjadikan pemegang saham atau investor terlindungi secara hukum dari praktik-praktik manipulasi dalam perusahaan publik. Perlindungan hukum bagi pemegang saham atau investor tersebut, dapat terdiri atas dua bentuk. Bentuk pertama adalah dengan memberikan kepastian hukum melalui peraturan perundang-undangan yang disertai penegakan hukum. Bentuk kedua adalah jaminan keterbukaan informasi. Adanya jaminan keterbukaan informasi akan memberikan pedoman bagi calon investor atau pemegang saham untuk mengambil keputusan.
Secara umum pelaksanaan keterbukaan di pasar modal dilakukan dalam 3 (tiga) tahap, yaitu primary market level, secondary market level, dan timely disclosure. Pelaksanaan keterbukaan telah dimulai pada saat melakukan penawaran
103M.Irsan Nasaruddin, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm. 226
umum (primary market level), yang didahului dengan pernyataan pendaftaran emisi ke Bapepam dengan menyertakan semua dokumen penting yang dipersyaratkan dalam Peraturan Nomor IX.C.I tentang Pedoman Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran, antara lain prospektus, laporan keuangan yang telah diaudit akuntan, perjanjian emisi, legal opinion dan dokumen-dokumen lainnya. Keterbukaan, selanjutnya dilaksanakan setelah emiten mencatat dan memperdagangkan efeknya di bursa (secondary market level). Dalam tahap ini emiten wajib menyampaikan laporan keuangan secara berkala dan terus menerus (continuously disclosure) kepada Bapepam dan Bursa Efek, termasuk laporan keuangan berkala yang diatur dalam Peraturan Nomor X.K.2. Keterbukaan juga dilaksanakan karena terjadinya suatu peristiwa penting dan laporannya disampaikan secara tepat waktu (timely disclosure), yakni peristiwa yang dirinci dalam Peraturan Nomor X.K.1.104
Dikaji berdasarkan fungsinya, paling tidak ada tiga fungsi keterbukaan dalam pasar modal antara lain105:
Pertama, prinsip keterbukaan berfungsi memelihara kepercayaan publik terhadap pasar modal. Apabila tidak ada keterbukaan dalam pasar modal akan dapat menyebabkan investor tidak percaya pada mekanisme pasar, sebab prinsip keterbukaan mempunyai peranan penting bagi investor sebelum mengambil keputusan untuk melakukan investasi. Melalui keterbukaan akan terbentuk suatu penilaian (judgment) terhadap investasi, yang dapat menentukan pilihan secara
104Ibid., hlm. 229-230
105Bismar Nasution, Op.Cit., hlm. 9-11
optimal terhadap portofolio. Makin jelas informasi perusahaan, keinginan investor untuk melakukan investasi akan semakin tinggi. Sebaliknya ketiadaan atau kekurangan informasi akan dapat menimbulkan ketidakpastian dan ketidakpercayaan investor untuk melakukan investasi melalui pasar modal.
Kedua, prinsip keterbukaan berfungsi untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien. Filosofi ini didasarkan atas konstruksi pemberian informasi yang secara penuh akan menciptakan pasar modal yang efisien dimana harga saham secara penuh merupakan refleksi dari seluruh informasi yang tersedia. Dengan demikian prinsip keterbukaan berperan untuk meningkatkan penyediaan informasi yang benar agar dapat ditetapkan harga pasar yang akurat. Hal ini penting, oleh karena secara kenyataan pasar modal merupakan lembaga keuangan beroperasi berdasarkan informasi.
Ketiga, prinsip keterbukaan penting untuk mencegah penipuan. Fungsi prinsip keterbukaan membuat prinsip keterbukaan menjadi fokus sentral pasar modal.
Undang-undang Pasar Modal yang mengatur kewajiban pelaksanaan prinsip keterbukaan menentukan investor dan pelaku bursa lainnya memiliki informasi yang cukup dan akurat untuk mengambil suatu keputusan.
Dukungan penerapan prinsip keterbukaan di pasar modal dilakukan PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan mematuhi sejumlah peraturan Bapepam.
Peraturan Bapepam tersebut bertujuan untuk menciptakan suatu pasar modal yang efisien dan efektif dan harus ditaati oleh setiap perusahaan yang telah melakukan penawaran umum (go public). Peraturan-peraturan tersebut, antara lain:
1. Peraturan Nomor VIII.G.7. tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan.
2. Peraturan Nomor X.K.2 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Berkala.
3. Peraturan Nomor X.K.5 tentang Keterbukaan Informasi bagi Emiten atau Perusahaan – Perusahaan yang Dimohonkan Pailit.
4. Peraturan Nomor IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.
5. Peraturan Nomor IX.E.1 tentang Penawaran Tender.
6. Peraturan Nomor X.K.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.
7. Peraturan Nomor IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.
8. Peraturan Nomor X.K.1 tentang Keterbukaan Informasi yang Harus Segera Diumumkan kepada Publik.
9. Peraturan Nomor IX.1.1 tentang Rencana dan Pelaksana Rapat Umum Pemegang Saham.
10. Peraturan Nomor IX.C.3 tentang Pedoman Menngenai Bentuk dan Isi Prospektus dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
Menurut Faisal106 yang merupakan Broker saham PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk, calon investor yang ingin membeli saham PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk wajib terlebih dahulu untuk mengetahui semua informasi akurat dan aktual mengenai Perseroan, karena hal tersebut akan menambah keyakinan calon investor untuk membeli atau tidak membeli saham tersebut. PT.Garuda Indonesia
106Faisal, Account Officer/ Broker PT.Mandiri Sekuritas Cabang Medan, hasil wawancara tanggal 16 Januari 2015
(Persero) dalam hal tersebut, dinilai telah cukup terbuka dalam memberikan semua informasi mengenai Perseroan kepada calon investor.
Fakta material Perseroan dapat diketahui secara langsung dari Prospektus yang diterbitkan secara berkala setelah Perseroan melakukan penawaran umum, melalui website terkait seperti www.idx.co.id maupun dari keterangan pihak-pihak PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan perusahaan penjamin emisi. Di samping sumber informasi tersebut, diharapkan pula calon investor untuk mencari informasi dari sumber-sumber lainnya yang dapat dipercaya.
Salah satu bentuk penerapan prinsip keterbukaan informasi (full dislosure) dilakukan dengan menerbitkan Prospektus. Prospektus merupakan pernyataan yang dicetak atau informasi tertulis perseroan yang digunakan untuk penawaran umum dengan tujuan agar calon investor membeli ataupun memperdagangkan kembali saham yang ditawarkan.
Prospektus PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk diterbitkan dalam bentuk buku maupun softcopy yang dapat diunduh oleh siapa saja. Semua fakta material sebagaimana yang diwajibkan dalam Peraturan Bapepam telah dipenuhi dan diuraikan secara rinci pada Prospektus PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Secara garis besar, prospektus terdiri dari bab-bab yang menguraikan107:
1. Penawaran umum
2. Rencana penggunaan dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum 3. Pernyataan hutang
4. Analisis dan Pembahasan oleh Manajemen 5. Risiko Usaha
107Prospektus Awal PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Op.Cit.,hlm.i-ii
6. Kejadian penting setelah tanggal pelaporan auditor independen 7. Keterangan tentang Perseroan dan Anak Perusahaan
8. Kegiatan dan prospek usaha perseroan 9. Industri penerbangan di Indonesia
10. Ikhtisar data keuangan penting, sebagaimana yang diatur Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.7. tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan. Pada prospektus diuraikan ikhtisar data keuangan penting Perseroan dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik terdaftar Bapepam.
11. Ekuitas L2. Perpajakan
13. Kebijakan deviden
14. Penjamin emisi efek, lembaga dan profesi penunjang pasar modal 15. Pendapat dari segi hukum
16. Laporan auditor independen dan laporan keuangan perseroan 17. Laporan penilai
18. Anggaran dasar perseroan
19. Persyaratan dan pemesanan pembelian saham 20. Penyebarluasan prospektus dan formulir pemesanan.
Untuk menjamin penerapan prinsip keterbukaan informasi (full disclosure), UUPM mewajibkan PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyampaikan fakta material perseroan. Berdasarkan UUPM secara berturut-turut Pasal 78 ayat 1, Pasal 79 ayat 1 dan Pasal 80 ayat 1, prospektus maupun pengumuman dalam media massa terkait penawaran umum, dilarang memuat keterangan yang tidak benar tentang fakta material dan atau tidak memuat pernyataan tentang fakta material yang diperlukan agar keterangan yang dimuat tidak memberikan gambaran yang menyesatkan.
Ketidakpatuhan terhadap ketentuan Pasal 80 ayat 1 tersebut mengakibatkan : 1. Setiap pihak yang menandatangani pernyataan pendaftaran
2. Direktur dan Komisaris emiten pada waktu pernyataan pendaftaran menjadi efektif
3. Penjamin pelaksana emisi efek
4. Profesi penunjang pasar modal atau pihak lain yang memberikan pendapat atau keterangan dan atas persetujuannya dimuat dalam pernyataan pendaftaran wajib bertanggung jawab sendiri-sendiri maupun bersama-sama atas kerugian yang timbul. Tuntutan ganti rugi hanya dapat diajukan dalam jangka waktu 5 tahun sejak pernyataan pendaftaran efektif.108Pendaftaran PT.Garuda Indonesia (Persero) Tbk dinyatakan efektif pada tanggal 11 Februari 2011, sehingga saat ini belum dapat dilakukan pengajuan tuntutan ganti rugi apabila ada pihak yang merasa dirugikan.
108UUPM Pasal 80 ayat 4
BAB IV
PERKEMBANGAN PENJUALAN SAHAM PT.GARUDA INDONESIA (PERSERO) TBK
A. Tujuan Pelaksanaan Penawaran Umum (IPO)
Pengembangan usaha suatu perusahaan mempunyai konsekuensi logis untuk mendapatkan dana yang lebih besar guna membiayai aktvitas perusahaan. Untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan perusahaan mempunyai beberapa alternatif seperti mencari pinjaman dari bank-bank komersial atau sumber pinjaman lainnya, mencari partner usaha (dalam sistem ini disebut partner yang menyediakan dana tersebut dinamakan straregic partner), melakukan merger (penggabungan perusahaan), menjual perusahaan tersebut atau mengurangi sebagian aktivitas perusahaan, menggunakan laba yang diperolehnya untuk pendanaan aktivitas yang ada.109
Salah satu pendanaan perusahaan yang disebutkan diatas yakni dengan menjual sebagian dari kepemilikan perusahaan tersebut kepada pihak lain untuk melakukan investasi biasa disebut dengan equity financing. Jenis pendanaan dengan penyertaan (equity financing) ini dilakukan dengan menjual sekuritas (efek) perusahaan. Penjualan sekuritas ini dapat dilakukan dengan penawaran umum kepada masyarakat (public offering) ataupun dengan melakukan penjualan kepada pihak tertentu secara terbatas (private placement).110
109Asril Sitompul, Due Diligence Dan Tanggung Jawab Lembaga-Lembaga Penunjang Pada Proses Penawaran Umum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 13
110Ibid.
Penawaran umum atau yang secara lebih populer dikenal dengan IPO (Initial Public Offering) atau go public merupakan gejala yang mulai dikenal di Indonesia sejak akhir tahun 80-an, dan kemudian memasuki masa populernya di tahun awal 90-an. Kepopuleran istilah ini ditandai dengan begitu banyaknya orang yang harus antri untuk mendapatkan formulir pembelian saham ketika suatu penawaran umum dilakukan.111
Keberhasilan Initial Public Offering(IPO) memerlukan perencanaan yang matang. Idealnya perencanaan ini dilakukan sekitar dua atau tiga tahun sebelum perusahaan melaksanakan penawaran umum, dalam arti bahwa bila pemilik dan manajemen perusahaan mempunyai niat untuk melakukan penawaran umum (go public) dengan melepas sebagian dari sahamnya maka segala sesuatunya harus dipersiapkan jauh sebelumnya.112 Bila persiapan dilakukan dalam waktu yang tidak cukup panjang maka hasil yang akan dicapai akan kurang memuaskan. Sebaiknya persiapan dimulai lebih awal sehingga manajemen perusahaan merasa yakin bahwa laporan keuangan beberapa tahun yang lalu telah tersedia sebelum dimulainya penawaran umum perdana (IPO).113
Dalam hal ini pihak manajemen perusahaan dalam melaksanakan persiapan juga harus menjalankan bisnis perusahaan, sehingga waktu menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Semakin cepat perusahaan bersiap untuk memasuki pasar,
111Jasso Winarto, Pasar Modal Indonesia : Restropeksi Lima Tahun Swastanisasi BEJ, Cet-I, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm.20
112Ibid., hlm. 37
113Ibid., hlm. 23
semakin lebih mungkin juga mendapatkan kesempatan pasar yang baik. Perhitungan waktu yang tepat baik bagi perusahaan maupun bagi pasar adalah penting. Dengan adanya waktu yang lama maka manajemen perusahaan dapat menjalin hubungan baik dengan satu atau lebih perusahaan penjamin emisi dan mengikuti perkembangan ratio nilai pasar secara umum (misalnya P/E Ratio) atau industri yang sedang favorit untuk dapat menjadi panduan dalam menentukan saat yang tepat untuk IPO.114
Beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menunjang keberhasilan penawaran umum115:
a. Membangun citra perusahaan, dalam hal ini reputasi yang baik tidak bisa didapat dalam waktu yang singkat, akan tetapi hal ini memerlukan waktu yang panjang untuk mendapatkannya. Untuk mendapatkan citra yang baik, sebaiknya dipertimbangkan penggunaan jasa perusahaan atau lembaga yang bergerak di bidang public relation yang berpengalaman dalam menangani publikasi di bidang kegiatan usaha dan mempunyai hubungan yang luas dengan masyarakat pemodal b. Melaksanakan tugas-tugas pembenahan administrasi perusahaan. Hal ini
merupakan langkah yang sulit karena dapat berpotensi merusak kemampuan manajemen dalam melakukan respon yang fleksibel terhadap jendela pasar.
Dengan kata lain diharapkan setiap pekerjaan yang tidak perlu harus tidak ditunda
c. Meninjau kembali perjanjian pengawasan dari pemegang saham apabila diatur dalam Anggaran Dasar perusahaan.
d. Melakukan penyusunan daftar dan mereview perjanjian dan kontrak-kontrak yang material
e. Melakukan review atas status hukum perusahaan dan bila diperlukan harus dilakukan perubahan akta pendirian. Dalam hal ini perubahan akta pendirian perusahaan diperlukan agar sesuai dengan bentuk yang diperlukan setelah menjadi perusahaan publik, termasuk di dalamnya adalah perusahaan struktur modal perusahaan
114Ibid., hlm. 27
115Ibid., hlm. 27-28
f. Berupa untuk menyelesaian sengketa-sengketa, litigasi, dan kewajiban-kewajiban yang material lainnya. Dalam hal ini apabila terdapat sengketa atau pun kemungkinan sengketa yang cukup material yang belum dapat diselesaikan maka harus dinyatakan secara terbuka dalam pernyataan pendaftaran maupun prospektus
g. Melakukan pengesahan saham baru dan/atau membuat klasifikasi saham preferensi atau preferred black check jika diperlukan. Apabila penawaran umum dilakukan oleh BUMN, pemerintah Indonesia selaku pemegang saham BUMN tersebut mengeluarkan saham istimewa yang dinamakan saham dwi warna.
Saham tersebut memberikan hak-hak istimewa bagi pemegang sahamnya yaitu pemerintah. Hal ini juga harus dijelaskan dalam dokumen penawaran (prospektus)
h. Membuat rencana stock option oppreciation right dan ESOP bagi pegawai perusahaan.
i. Menyusun kembali dewan direksi yang kuat dan terpercaya dengan beberapa direktur independen yang mempunyai pengalaman dan keahlian manajemen yang dibutuhkan, akan merupakan asset yang sangat berharga bagi perusahaan.
Persyaratan pendaftaran di bursa efek (listing) mengharuskan adanya beberapa direktur yang independent. Dewan direksi yang kuat akan sangat disukai dan diterima oleh masyarakat investor dan menajdi alat kerja yang sangat baik bagi perusahaan;
j. Membentuk suatu sistem pengawasan intern yang baik. Dalam hal ini kebanyakan perusahaan berukuran menengah dan perusahaan yang sedang dalam pertumbuhan, belum mempunyai sistem pengawasan, sistem keuangan, serta sistem operasional yang baik. Demikian pula sistem pengawasan dan pelaporan yang efektif. Hal ini merupakan sesuatu yang diharuskan oleh para pemegang saham dan juga oleh Bapepam.
k. Menjamin agar audit yang diwajibkan telah dilaksanakan dengan sempurna. Bila perusahaan telah beroperasi lebih dari dua tahun maka dipersyaratkan adanya laporan keuangan yang telah diaudit selama tiga tahun terakhir menurut prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku.
Dengan melakukan penjualan saham ke publik, terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh perusahaan, diantaranya :
1. Memperoleh Sumber Pendanaan Baru116
Dana untuk pengembangan, baik untuk penambahan modal kerja maupun untuk ekspansi usaha, adalah faktor yang sering menjadi kendala banyak perusahaan.
Dengan menjadi perusahaan publik, kendala pendanaan tersebut akan lebih mudah diselesaikan, yaitu:
a. Perolehan dana melalui hasil penjualan saham kepada publik.
Dengan cara ini, perusahaan dapat memperoleh dana dalam jumlah yang besar dan diterima sekaligus dengan cost of fund yang relatif lebih kecil dibandingkan perolehan dana melalui perbankan. Selain itu di masa mendatang, dengan telah menjadi perusahaan publik, perusahaan juga dapat melakukan secondary offering tanpa batas.
b. Mempermudah akses kepada perbankan.
Dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek, kalangan perbankan akan dapat lebih mengenal dan dapat percaya kepada perusahaan. Hal tersebut tidak berlebihan mengingat setiap saat perbankan dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan melalui berbagai keterbukaan informasi yang diumumkan perusahaan melalui bursa. Dengan kondisi demikian, tidak hanya proses pemberian pinjaman baru akan lebih mudah dibandingkan pemberian pinjaman kepada perusahaan yang belum
Dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek, kalangan perbankan akan dapat lebih mengenal dan dapat percaya kepada perusahaan. Hal tersebut tidak berlebihan mengingat setiap saat perbankan dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan melalui berbagai keterbukaan informasi yang diumumkan perusahaan melalui bursa. Dengan kondisi demikian, tidak hanya proses pemberian pinjaman baru akan lebih mudah dibandingkan pemberian pinjaman kepada perusahaan yang belum