• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

3. Sejarah Singkat Surat Kabar

Surat kabar merupakan sebuah media massa yang paling tua dibandingkan dengan jenis media massa lainnya. Sejarah telah mencatat keberadaan surat kabar yang di mulai sejak di temukannya mesin cetak oleh Johannes Guttenberg di Jerman.Prototipe pertama surat kabar diterbitkan di Bremen Jerman pada tahun 1609. Pada tahun yang sama, surat kabar yang sangat sederhana terbit di Strasborg. Bentuk surat kabar yang sesungguhnya terbit pada tahun 1620 di Farnkfrut, Berlin, Humberg, Vienna, Amsterdam dan Antwerp.

Di Inggris surat kabar pertama yang sangat sederhana terbit pada tahun 1621. Sedangkan yang dianggap sebagai benar-benar surat kabar yang terbit secara teratur ialah Oxford Gazette yang terbit di Oxford tahun 1665. Beberapa bulan kemudian ketika pemerintah pindah ke London, surat kabar tersebut berganti nama menjadi London Gazette. Surat kabar harian yang pertama terbit adalah Daily Courant. Sedangkan di Amerika surat kabar harian yang pertama di Amerika Serikat adalah Pennsylvania Evening Post dan Daily Advertiser yang terbit pada tahun 1783-1830an, surat kabar ini relative mahal dan hanya dibaca oleh golongan elit, serta para politikus.

Di Indonesia sendiri keberadaan surat kabar ditandai dengan perjalanan panjang melalui lima periode, yakni masa penjajahan Belanda, Jepang, Menjelang Kemerdekaan sekaligus Awal Kemerdekaan serta Zaman Orde Lama dan Orde Baru.

19

Zaman Belanda pada tahun 1828 di Jakarta diterbitkan Javasche Courant yang isinya memuat berita-berita resmi pemerintahan, berita lelang, dan berita kutipan dari harian-harian di Eropa. Surat kabar yang terbit pada masa itu tidak mempunyai arti secara politis, karena lebih merupakan surat kabar periklanan. Tirasnya tidak lebih dari 1000-1200 ekslempar setiap kali terbit.Semua penerbit terkena peraturan, setiap penerbit tidak boleh diedarkan sebelum diperiksa oleh penguasa setempat.

Zaman Jepang ketika Jepang datang,surat kabar-surat kabar yang ada di Indonesia diambil alih secara pelan-pelan. Beberapa surat kabar disatukan dengan alasan untuk menghemat alat-alat dan tenaga. Tujuan sebenarnya adalah agar pemerintahan Jepang dapat memperketat pengawasan terhadap isi surat kabar. Kantor berita Antara pun diambil alih dan diteruskan oleh kantor berita Yashima yang kemudian selanjutnya berada dibawah pusat pemberitaan Jepang, yakni Domei. Wartawan - wartawan Indonesia pada saat itu hanya bekerja sebagai pegawai, sedang yang diberi pengaruh serta kedudukan adalah wartawan yang sengaja didatangkan langsung dari Jepang. Pada saat itu surat kabar hanya bersifat propaganda dan memuji-muji pemerintah dan tentara Jepang.

Zaman Kemerdekaan pada masa awal kemerdekaan Indonesia pun melakukan perlawanan dalam hal sabotase komunikasi. Surat kabar yang diterbitkan oleh Indonesia pada saat itu merupakan tandingan dari surat kabar yang diterbitkan oleh pemerintah Jepang. Dalam perkembangannya berita Indonesia berulang kali dibredel, dan selama pembredelan para tenaga redaksinya ditampung oleh surat kabar Merdeka yang didirikan

oleh B.M.Diah. Surat kabar lainnya yang terbit pada masa itu antara lain: Soeara Indonesia yang dipimpin oleh Manai Sophian Makasar, pedoman harian yang kemudian berganti nama menjadi Soeara Merdeka (Bandung).

Zaman Orde Lama setelah presiden Soekarno mengumumkan dekrit kembali ke UUD 1954 tanggal 5 juli 1959, terdapat larangan kegiatan politik termasuk pers. Bahkan persyaratan untuk mendapat surat izin terbit dan surat izin cetak pun diperketat. Namun situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh PKIPartai Komunis Indonesia yang pada saat itu menaruh perhatian pada pers. PKI kemudian memanfaatkan para buruh termasuk karyawan surat kabar untuk melakukan apa yang dinamakan

slowdown strike, yakni mogok secara halus. Dalam hal ini, karyawan di

bagian setting melambatkan kerjanya, sehingga banyak kolom surat kabar yang tidak terisi menjelang deadline (batas waktu cetak). Akhirnya kolom kosong itu diisi iklan secra gratis sebagaimana yang dialami oleh Soerabaja Post dan Harian Pedoman di Jakarta. Pada masa inilah sering terjadi polemik antara surat kabar yang Pro PKI dan Anti PKI.

Zaman Orde Barusejalan dengan tampilan Orba, surat kabar yang tadinya dipaksakan untuk mempunyai gantolan (berafiliasi), kembali mendapatkan kepribadiannya. Contoh kedaulatan rakyat yang pada Zaman Orde Lama harus berganti nama menjadi Dwikora, kembali kepada nama semula. Mengutip pernyataan presiden Soeharto dihadapan sidang umum MPR 12 maret 1973, “ sudah sewajarnya kita merasa bangga dan lega

melihat pertumbuhan pers yang bebas dan merdeka, suatu pertanda bahwa kehidupan demokrasi terjamin pelaksanannya dalam orba, tapi sering-

21

sering kita merasa ikut prihatin dan khawatir terhadap penggunaan hak

kebebasan pers yang kurang wajar dan bertanggung jawab” Selanjutnya

presiden mengemukakan,” masih banyak surat kabar/majalah yang terdorong oleh tujuan komersil/pun motif lainnya menyajikan berita-berita sensasional tanpa norma-norma kesusilaan, sopan santun, kerahasiaan negara, dan kurang memperhatikan akibat tulisan yang dapat menggoncangkan masyarakat, yang pada gilirannya akan merusak

stabilitas nasional”. Itulah mengapa yang menjadi sebab pemerintah memberikan ganjaran berupa pencabutan surat izin terbit dan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), seperti Sinar Harapan, Tabloid Monitor, Detik, Majalah Tempo dan Editor.

Zaman Reformasi tumbangnya presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 silam membawa aura baru di dunia pers. Berakhirnya Orde Baru mengalirkan kebebasan berekspresi melalui media/kebebasan pers. Pada saat itu media massa terutama cetak tumbuh menjamur dan berkembang pesat. Booming media cetak terjadi pada masa presiden BJ.Habibie berkuasa dengan menteri penerangan letjen TNI Muhammad Yunus Yosfiah. Pada saat itu menteri penerangan menerapkan kebijakan pers yang lebih liberal dengan memberikan kemudahan bagi siapa pun untuk memperoleh SIUPP, yang pada saat itu diperoleh dalam kurun waktu kurang dari 1 minggu tanpa bayar. Akibatnya, dalam masa pemerintahan BJ.Habibie yang singkat Mei 1998-Oktober 1999 sudah dikeluarkan lebih

dari 1600 SIUPP baru.Padahal selama 32 tahun era Soeharto, hanya diperoleh sekitar 300 SIUPP yang dikeluarkan.8

4. Karakteristik Surat Kabar

Menurut Karl Batwizh mengemukakan lima syarat:

a) Publisitas: Surat kabar diterbitkan untuk publik, masyarakat umum, bahkan untuk siapa saja. Siapapun boleh membelinya bahkan membacanya, isinya bertujuan agar diketahui oleh masyarakat.

b) Periodisitas: Surat kabar terbit pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Periode terbit, jarak dan waktu antara dua terbitan bersifat tetap dan teratur. Sebagai contoh surat kabar harian sore terbit tiap sore hari terkecuali hari libur.

c) Aktualitas: Isinya aktual, belum pernah dimuat sebelumnya. Isi buku dapat dicetak ulang. Sedangkan isi surat kabar yaitu isi bidang redaksi yakni hal-hal yang hangat baru teraktual.

d) Universalitas: Isinya tidak mengenai satu persoalan saja. Misalnya, tidak hanya mengenai olahraga saja akan tetapi mengenai semua aspek kehidupan.

e) Kontinuitas: Isinya berkesinambungan. Seperti halnya surat kabar hari ini memuat berita pengadilan ketua PKS Lutfi Hasan, hendaknya pada terbitan selanjutnya memuat pula berita persidangan Lutfi Hasan sampai vonis hakim dijatuhkan.9

8

Elvinaro ardianto dkk,Komunikasi Massa suatu pengantar edisi revisi,(Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007), h. 105-110.

9

Hoeta Soehoet, Dasar-dasar Jurnalistik (Jakarta: Yayasan Kampus Tercinta-IISIP, 2003)h.11

23

5. Spesifikasi Surat Kabar

Diklafikasikan menurut frekuensi penerbitan, ukuran, sirkulasi, format isi, dan kelas sosial pembacanya. Berikut penjelasan singkatnya:10

1. Frekuensi Penerbitan: Surat kabar dibedakan menjadi dua, yaitu surat kabar harian dan surat kabar mingguan. Surat kabar harian dilihat dari usianya hanya satu hari, lewat dari hari itu beritanya dianggap basi. Sedangkan surat kabar mingguan dilihat dari usianya lebih lama dibandingkan surat kabar harian. Berita maupun artikel-artikel yang ada di dalamnya tidak cepat basi, karena isi berita daripada artikel-artikel tersebut diulas lebih mendalam dari surat kabar harian. Sedangkan dilihat dari waktu penerbitan, surat kabar harian diterbitkan lebih awal yakni setiap pagi hari dan surat kabar mingguan terbit setiap seminggu sekali.

Ukuran: Umumnya surat kabar dikenal dengan dua jenis, yakni tabloid dan standar (broadsheet). Surat kabar tabloid terdiri dari lima/enam kolom yang masing-masing memiliki lebar sekitar 5 cm dan panjang ke bawah sekitar 35 cm. Sedangkan bentuk standar

(broadsheet) memiliki ukuran dua kali lipat dari ukuran tabloid

dengan delapan/Sembilan kolom ke samping. Meskipun demikian untuk kepentingan pragmatis dan estetika banyak surat kabar standar yang mengurangi kolomnya menjadi enam kolom. Lebih dari 90% surat kabar Indonesiaberbentuk standar.

10

Kasali Rhenald, Manajemen Periklanan:Konsep dan Aplikasinya di Indonesia ( Jakarta: Pustaka Utama Grafiti),h.101

2. Suirkulasi: Surat kabar adalah media komunikasi massa yang menjangkau khalayak regional, nasional, maupun lokal. Dalam hal ini surat kabar menggunakan kata sirkulasi untuk menjelaskan jumlah surat kabar yang terjual.

3. Format Isi: Format sebuah surat kabar harus disesuaikan dengan rubrik-rubrik yang ada di dalamnya yang menjadi kekuatan di dalam surat kabar tersebut, yang memiliki popularitas tinggi dibandingkan dengan rubrik-rubrik lainnya.

4. Kelas Sosial Budaya: Dilihat dari kelas sosial pembacanya, surat kabar dibedakan menjadi dua jenis yaitu High BrowNewpaper (Quality) adalah surat kabar untuk golongan masyarakat menengah-atas dan

BoulevardNewspaper (popular) adalah surat kabar untuk golongan

masyarakat menengah-bawah.

6. Sifat Surat Kabar ditinjau dari ilmu komunikasi adalah sebagai berikut:11

Dokumen terkait