• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1 Sejarah Singkat Kabupaten Dairi

3.1.5 Perjuangan Pembentukan Daerah Otonom

Sejak tahun 1958, aspirasi masyarakat Dairi untuk memperjuangkan Daerahnya sebagai Kabupaten yang Otonom tetap tumbuh berkembang dengan mengutus pertama kali Tokoh Masyarakat ke Jakarta untuk menyampaikan hasrat dimaksud agar disetujui. Aspirasi dan tuntutan tersebut terus berkembang sampai Tahun 1964 dan saat itu Tokoh Masyarakat, Mangantar Dairi Solin dkk diutus dan berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkannya di Departemen Dalam Negeri. Akhirnya pertimbangan persetujuan pembentukan daerah Otonom Kabupaten Dairi, diproses oleh Pemerintah Pusat cq. Menteri Dalam Negeri saat itu Bpk. Sanusi Harjadinata yang pada tahun itu menyetujui Daerah Tingkat II Dairi menjadi Daerah Otonom Kabupaten yang terpisah dari Kabupaten Tapanuli Utara.

Dalam situasi tersebut dikeluarkanlah Undang-Undang darurat yaitu Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 4 tahun 1964 tgl. 13 Pebruari 1964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi yang berlaku surut sejak tgl. 1 Januari 1964. Untuk mempersiapkan pembentukan DPRD Dairi dan pemilihan Bupati yang defenitif, maka diangkatlah Rambio Muda Aritonang sebagai Pejabat Bupati KDH Dairi dan setelah beliau selesai menyusun anggota DPRD sebanyak 20 orang, dilanjutkan dengan pemilihan Bupati . Saat itu terpilihlah Mayor Raja Nembah

Maha, yang memperoleh suara terbanyak menjadi Bupati KDH Tingkat II Dairi dan Wal Mantas Habeahan tepilih sebagai Sekretaris Daerah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi , yang berlaku surut mulai tgl. 1 Januari 1964, maka wilayah Kabupaten Dairi pada saat pembentukannya terdiri atas 8 ( delapan ) Kecamatan ) yaitu :

1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang; 2. Kecamatan Sumbul , ibukotanya Sumbul; 3. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga; 4. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kutabuluh; 5. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak;

6. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukaramai.

7. Kecamatan Silima Pungga-Pungga, ibukotanya Parongil. 8. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Bunturaja;

9. Masa berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok- Pokok Pemerintahan di Daerah.

Pada masa berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, maka sesuai ketentuan Pasal 75 UU dimaksud ditetapkan bahwa pembentukan, nama, batas, sebutan, ibukota wilayah administratif (termasuk Kecamatan) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Mekanisme pembentukan Kecamatan diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 138-210 Tahun 1982 tgl. 3 Maret 1982 tentang Tata Cara Pembentukan Kecamatan Kecamatan serta

Surat Edaran Mendagri Nomor 138/2603/PUOD tgl. 7 Juli 1981, perihal : Prosedur Penyelesaian Masalah Pembentukan Wilayah Kecamatan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1992, yang mengatur tentang Pembentukan Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Siempat Nempu Hulu dan Pegagan Hilir, maka ketiga Kecamatan tersebut disahkan menjadi Kecamatan defenitif dan diresmikan secara terpusat pada tgl. 19 Oktober 1992 di Kecamatan Pagaran Kabupaten Tapanuli Utara.

Wilayah Kabupaten Dairi sejak tgl. 19 Oktober 1992 berjumlah 12 (dua belas) Kecamatan definitif yaitu :

1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang;

2. Kecamatan Sumbul , ibukotanya Sumbul

3. Kecamatan Silima Pungga-pungga, ibukotanya Parongil 4. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Bunturaja 5. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga 6. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kutabuluh 7. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak ;

8. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukaramai ; 9. Kecamatan Parbuluan, ibukotanya Sigalingging; 10. Kecamatan Pegagan Hilir , ibukotanya Tigabaru.

11. Kecamatan Siempat Nempu Hulu, ibukotanya Silumboyah; 12. Kecamatan Siempat Nempu Hilir, ibukotanya Sopo Butar.

Pemberlakuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, telah mengamanatkan agar sebagian besar kewenangan pemerintahan diatur dan diurus oleh Daerah Otonom Kabupaten/Kota. Salah satu kewenangan Daerah yang cukup penting dalam rangka mendekatkan pelayanan kepada masyarakat adalah kewenangan dalam penataan dan pembentukan wilayah-wilayah kerja pemerintahan seperti: pembentukan Kecamatan, Kelurahan maupun Desa. Berdasarkan ketentuan Pasal 66 ayat (6) UU dimaksud telah ditetapkan bahwa Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Dengan demikian wilayah pemerintahan Kabupaten Dairi terdiri dari 16 (enam belas) Kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang;

2. Kecamatan Sumbul , ibukotanya Sumbul

3. Kecamatan Silima Pungga-pungga, ibukotanya Parongil 4. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Bunturaja 5. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga 6. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kutabuluh 7. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak ;

8. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukaramai ; 9. Kecamatan Parbuluan, ibukotanya Sigalingging; 10. Kecamatan Pegagan Hilir, ibukotanya Tigabaru;

11. Kecamatan Siempat Nempu Hulu dengan ibukotanya Silumboyah; 12. Kecamatan Siempat Nempu Hilir dengan ibukotanya Sopo Butar. 13. Kecamatan Lae Parira, ibukotanya Lae Parira;

15. Kecamatan Gunung Sitember, ibukotanya Gunung Sitember. 16. Kecamatan Berampu, ibukotanya Berampu.

Berdasarkan uraian singkat perkembangan wilayah pemerintahan di Kabupaten Dairi sejak kemerdekaan tersebut di atas, maka fenomena pemerintahan yang cukup menarik dicermati adalah keterlambatan pengembangan wilayah pemerintahan, khususnya pembentukan Kecamatan pada wilayah eks Kewedanaan Simsim dahulu, dengan segala konsekwensinya dalam bidang pemerintahan, pelaksanaan pembangunan serta pembinaan masyarakat.

Pada kenyataannya bahwa sejak terbentuknya Kabupaten Dairi Tahun 1947, wilayah eks Kewedanaan Simsim atau wilayah Onder District Van Simsim pada masa penjajahan Belanda dahulu ( Kecamatan Salak dan Kecamatan Kerajaan), baru setelah 53 Tahun berlangsungnya penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Dairi yang dapat dimekarkan hanya Kecamatan Salak pada Tahun 2000, dengan membentuk Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe berdasarkan Peraturan Daerah Kab. Dairi No. 33 tahun 2000. Pembentukan Kecamatan dimaksud baru bisa terwujud setelah berlakunya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, walaupun pada dasarnya telah lama diusulkan pada masa berlakunya UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.

BAB 4

SEJARAH SINGKAT TEMPAT RISET

4.1 Sejarah Singkat Badan Pusat Statistik di Indonesia

Sejarah Badan Pusat Statistik di bagi dalam tiga masa, yaitu masa sebelum kemerdekaan, masa setelah kemerdekaan dan masa orde baru. Masa sebelum kemerdekaan dibagi kembali dakam dua masa yaitu masa pemerintahan Belanda dan masa pemerintahan Jepang.

4.1.1 Masa Pemerintahan Belanda

Pada bulan Februari 1920, kantor statistik pertama kali dibentuk oleh direktur pertamina, kerajinan, dan perdagangan (Directur Van landbow nijerverheid en Handel) yang berkedudukan di Bogor. Kantor ini diserahi tugas untuk mengolah dan mempublikasikan data statistik. Pada bulan Maret 1923, dibentuk sutu komisi untuk badan statistik yang anggotanya merupakan wakil dari tiap-tiap departemen. Komisi tersebut diserahi tugas merencanakan tindakan-tindakan yang mengarah sejauh mungkin.

Pada tanggal 24 September 1924, nama lembaga tersebut diganti dengan nama Central kantor Voor de Statistik (CKS) atau kantor statistik dan dipindahkan ke Jakarta.

Bersama dengan itu beralih pula pekerjaan mekanisme statistik perdagangan yang semula dilaksanakan aleh kantor Invoer Uitvoer en Accijnsen (AIU) yang sekarang disebut kator bea dan cukai.

4.1.2 Masa Pemerintahan Jepang

Pada bulan juni 1944, pemerintah jepang baru mengaktifkan kembali kegiatan statistik yang utamanya di arahkan untuk memenuhi kebutuhan perang atau militer. Pada masa ini CKS diganti menjadi Shomubu Chosasitsu Gunseikanbu.

4.1.3 Masa Pemerintahan Republik

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 kegiatan statistik tidak lagi ditangani oleh Chosasitsu Gunseikanbu tetapi oleh lembaga /instansi baru yang sesuai dengan suasana kemerdekaan yaitu KAPPURI (Kantor Penyelidikan Perangkaan Umum Republik Indonesia). Tahun 1946 kantor KAPPURI dipindahkan ke Yogyakarta sebagai konsekuensi Linggarjati. Sementara ini Pemerintah Belanda (NICA) di Jakarta mengaktifkan kembali CKS.

Berdasarkan surat edaran Kementrian Kemakmuran, tanggal 12 juni 1950 No. 219/S.C,KAPPURI dan CKS dilebur menjadi Kantor Pusat Statistik (KPS) dan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Kemakmuran.

Dengan Surat Menteri Perekonomian tanggal 1 Maret 1952 No. P/44, lembaga KPS berada dibawah tanggung jawab menteri perekonomian. Selanjutnya keputusan menteri

perekonomian tanggal 24 Desember 1953 No.18.009/M KPS dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian riset yang disebut Afdeling A dan bagian penyelenggara tata usaha yang disebut Afdeling B.

Dengan keputusan Presiden RI No. 131 tahun 1957 , kementerien perekonomian dipecah menjadi kementerian perdagangan dan perindustrian. Untuk selanjutnya keputusan presiden RI No. 172 tahun 1957, terhitung mulai tanggal 1 Juni 1957 nama KPS diubah menjadi Biro Pusat Statistik dan urusan statistik yang semula menjadi tanggung jawab dan wewenang berada dibawah perdana menteri.

4.1.4 Masa Orde baru Sampai Sekarang

Pada pemerintehan orde baru, khususnya untuk memenuhi kebutuhan dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan, maka untuk mendapatkan statistik yang handal, lengkap, tepat, akurat, dan terpercaya mulai diadakan pembenahan organisasi Biro Pusat Statistik.

Dalam masa orde baru ini BPS telah mengalami 4 kali perubahan struktur organisasi, yaitu :

1. Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 1968 tentang Organisasi BPS.

2. Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 1980 tentang Organisasi BPS.

3. Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 1992 tentang Organisasi BPS dan keputusan

presiden No. 6 tahun 1992 tentang kedudukan, tugas, fungsi susunan dan tata kerja Biro Pusat Statistik.

4. Undang-undang No. tahun 1997 tentang statistik.

5. Keputusan Presiden RI No. 86 tentang BPS.

7. PP No. 51 tahun 1999 tentang penyelenggaraan statistik.

Tahun 1968 ditetapkan peraturan pemerintah No. 16 tahun 1968 yaitu yang mengatur organisasi dan tata kerja di pusat dan daerah. Tahun 1980 peraturan pemerintah No. 6 tahun 1980 tentang organisasi sebagai pengganti peraturan pemerintah No. 16 tahun 1968. Berdasarkan peraturan pemerintah No. 6 tahun 1980 di tiap propinsi terdapat perwakilan BPS dengan nama kantor statistik propinsi. Di kabupaten / kotamadya terdapat cabang perwakilan BPS dengan nama Kantor Statistik sebagai pengganti UU No. 6 dan 7 tentang sensus dan statistik. Pada tanggal 17 Juni 1998 ditetapkan nama Badan Pusat Statistik sekaligus mengatur tata kerja dan struktur organisasi BPS yang baru.

4.2 Visi dan Misi

4.2.1 Visi

Badan Pusat Statistik mempunyai visi untuk menjadikan informasi sebagai tulang punggung pembangunan nasianal dan regional, didukung sumber daya manusia yang berkualitas, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang mutakhir.

4.2.2 Misi

Dalam menunjang pembangunan nasional Badan Pusat Statistik mengemban misi mengarahkan pembangunan statistik pada penydiaan data statistik yang bermutu dan handal, efektif dan efisien, peningkatan kesadaran masyarakat akan kegunaan badan statistik dan mengemban ilmu pengetahuan statistik dalam kehidupan sehari-hari.

4.3 Struktur Organisasi Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik adalah suatu lembaga pemerintah non-departemen yang bertanggung jawab kepada presiden. Ini menjamin BPS tidak tergantung pada instansi pemerintah lainnya dalam menghasilkan data statistik.

Struktur organisasi BPS pada peraturan pemerintahan No. 2 tahun 1992. di daerah-daerah terdapat 27 kantor perwakilan Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik tingkat propinsi, dan dibawahnya terdapat 302 kantor perwakilan Badan Pusat Statistik tingkat Kabupaten / Kotamadya.

Kantor statistik tingkat propinsi dibagi dalam dua kategori yaitu tipe A dan tipe B. Tipe kantor statistik tersebut didasarkan atas beban kerja serta pertimbangan lain yang dinilai mempunyai keterkaitan langsung dengan tugas dan fungsi kantor statistik propinsi. Pengumpulan data penulis ini yang dilakukan di BPS dan masuk dalam kategori tipe A. Kantor statistik tipe A berlokasi di enam propinsi yaitu : DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan sedangkan kantor statistik di propinsi lainnya bertipe B.

Menteri statistik adalah aparat Badan Pusat Statistik di kecamatan yang bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Statistik tingkat II. Mereka itu adalah petugas pengumpul data statistik yang secara langsung berhubungan dengan responden. Untuk memperlancar kegiatan statistik dan menghindari kecurigaan diantara reponden, undang-undang statistik juga mengatur berbagai ketentuan, termasuk kewajiban untuk memberikan data, kerahasiaan data individual pelanggaran hokum.

BAB 5

ANALISA DAN PEMBAHASAN

5.1 Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang didapat tidak melalui survei (pendataan langsung). Data didapat dari Badan Pusat Statistik(BPS) Kabupaten Dairi Dalam Angka.

Tabel 5.1 Banyaknya TFR dan IMR pada periode tahun 1999-2008 di Kabupaten Dairi

TAHUN TFR IMR 1998 3.92 56.30 1999 3.78 56.30 2000 3.79 56.30 2001 3.48 47.50 2002 3.61 47.00 2003 3.42 45.00 2004 3.36 43.00 2005 3.15 29.60 2006 3.07 28.20 2007 2.99 26.30 2008 2.96 25.40

Bila dilihat dari tabel, terjadi penurunan baik TFR maupun IMR dari tahun ke tahun. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat melalui grafik berikut :

Gambar 5.1 Tingkat TFR dan IMR periode tahun 1998-2008 di Kabupaten Dairi

5.2 FERTILITAS

Data yang dilakukan untuk menganalisis fertilitas adalah tingkat fertilitas total (TFR), yaitu rata-rata yang dilahirkan oleh wanita dalam masa usia subur. Sebelum memproyeksikan TFR maka harus lebih dl diketahui tingkat pertumbuhan TFR pada setiap tahun, di singkat dengan (r). untuk mencari r dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut :

1. Tingkat pertumbuhan fertilitas (r) dengan menggunakan rumus eksponensial :

Rumus : Pt =P0.ert 0 10 20 30 40 50 60 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 J U M L AH TAHUN

Dokumen terkait