• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3. Sejarah Masjid

أ ن ِْم ٌد ح أ هنُه طْعُي ْم ل اًسْم خ ُتْيِطْع ُأ (( :

و ، ِرْه ش ة رْيِس م ِبْع رل اِب ُت ْر ِصُن :ْيِلْب ق ِءا يِبْن ْلأ

،ا ًر ْو ُْه ط و اًد ِجْس م ُض ْر ْلأ ا يِل ْت لِعُج

... ل صُيْل ف ُة لاهصلا ُهْت ك رْد أ ْيِتهم ُأ ْنِم لُج ر ا م ي أ ف

)ملسم ،ىرخبل هاور(

Artinya :

Dari Jabir bin Abdillah r.a berkata : Rasulullah SAW bersabda : Aku telah diberi lima hal yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku : 1. Aku dimenangkan dengan perasaan takut yang menimpa musuhku dengan jarak sebulan perjalanan, 2. Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan suci, maka di mana saja umatku menjumpai waktu shalat maka shalatlah….” (HR.Bukhari, Muslim)17

Dari beberapa hadits di atas jelaslah bahwa masjid secara umum adalah semua bagian di bumi yang dijadikan tempat sujud dan keadaannya bersih serta digunakan hanya untuk menyembah Allah SWT. Namun terdapat tempat-tempat yang dilarang untuk dijadikan tempat sujud atau masjid antara lain ; tempat buang hajat dan kuburan, hal ini jelas dilarang oleh Rasulullah SAW.

3. Sejarah Masjid

a. Masjid Pada Masa Rasulullah

Dalam sejarahnya masjid merupakan lembaga pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada periode Madinah. Masjid semenjak zaman Nabi telah memiliki fungsi ganda, sebagai tempat ibadah dan tempat kegiatan sosial kemasyarakatan.18 Berarti makna masjid dari awal memang tidak hanya sebagai tempat ibadah dalam arti sempit, akan tetapi juga mencakup permasalahan sosial kemasyarakatan.

17 Ibid

Berdasarkan catatan sejarah islam masjid pertama yang didirikan Rasulullah SAW dan sahabatnya adalah Masjid At-Taqwa di Quba yang terletak 2 mil dari kota Madinah ketika Nabi berhijrah dari kota Makkah. Pada saat itu masjid di samping sebagai tempat shalat, digunakan pula sebagai tempat untuk mendiskusikan dan mengkaji permasalahan dakwah islamiah, masalah politik, pendidikan, agama, kebudayaan hingga sosial kemasyarakatan.19

Dalam membangun masjid itu Nabi Muhammad juga turut bekerja dengan tangannya sendiri untuk memotivasi kaum muslimin dari kalangan muhajirin dan Anshar untuk lebih bersemangat membangun masjid20. Selesai masjid itu dibangun, barulah disekitarnya dibangun pula tempat tinggal Rasul.

Selain itu, di sisi bagian masjid, Rasul juga menyediakan tempat tinggal bagi para musafir dan muallaf yang tidak mempunyai tempat tinggal, yang dinamakan “Shuffa” (bagian masjid yang beratap). Suatu ketika ada segolongan orang Arab yang datang ke Madinah dan menyatakan masuk Islam, dalam keadaan miskin dan serba kekurangan, sampai-sampai ada diantara mereka yang tidak punya tempat tinggal. Bagi mereka ini oleh Muhammad disediakan tempat di selesar masjid, yaitu “Shuffa” sebagai tempat tinggal mereka.21

19 Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kencana Media Group, 2012), h. 193

20 Samsul Nazar Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta : Kencana Media Group, 2013), h.116

Di masjid inilah, Nabi mempersatukan hubungan kaum Muhajirin dan kaum Anshar serta meningkatkan Ukhuwah antar umat beragama di kota Yastrib. Beliau adalah orang yang sangat mencintai perdamaian, tidak ingin adanya peperangan, kalau bukan karena sangat terpaksa untuk membela kebebasan, agama, dan kepercayaan, beliau tidak akan menempuh jalan perang. Beliau juga sering berdiskusi dengan para sahabatnya di dalam masjid tentang kecintaannya pada perdamaian.

Pada masa perkembangan Islam di Madinah, kegiatan umat muslim terpusat di masjid. Seperti yang telah dipaparkan, bahwa masjid menjadi sarana tempat berdiskusi, bertukar pikiran, menyampaikan wahyu, serta pengkajian Aqidah. Selain itu semua kegiatan pemerintahan Islam juga dilakukan di Masjid. Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai tempat gedung parlemen tempat mengatur segala urusan pemerintahan. Para sahabat dari berbagai kabilah berkumpul dalam satu majlis yang bertempat di masjid nabawi untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau hanya untuk berkumpul bersama Rasulullah SAE.

Kemudian dari segi ekonomi masjid pada awal perkembangan Islam juga digunakan sebagai Baitul Mal yang mendistribusikan harta zakat, sedekah, dan rampasan perang kepada fakir miskin dan kepentingan Islam. Golongan lemah pada waktu itu sangat terbantu dengan adanya baitul mal.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pada masa Rasulullah SAW. masjid memiliki peran yang sangat strategis dalam

kehidupan umat islam, baik sewaktu beliau berada di Makkah maupun setelah beliau hijrah ke Madinah.

b. Masjid Pada Masa Sahabat (al-Khulafa’ al-Rasyidun)

Sejarah perkembangan masjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah kekuasaan Islam dan pembangunan kota-kota baru. Sejarah mencatat bahwa pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, bila ummat Islam menguasai sutu daerah atau wilayah baru, baik melalui peperangan atau jalan damai, maka salah satu sarana untuk kepentingan umum yang dibuat pertama kali adalah masjid. Masjid menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam, di samping merupakan lambang dan cermin kecintaan ummat Islam kepada Tuhannya.

Pada masa shahabat, perubahan dan perkembangan masjid itu, lebih terlihat pada perubahan atau perkembangan wujud fisiknya saja (bentuk, corak dan jumlahnya) saja. Perubahan atau perkembangan itu terjadi, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan jumlah penganut Islam yang terus membesar dan meluas, melampaui jazirah Arab.

Sementara itu, dari segi peran dan fungsinya, masjid pada masa shahabat relatif tidak mengalami perubahan atau pergeseran, masih tetap seperti pada masa Rasulullah SAW. Secara garis besarnya, masjid masih tetap memiliki dua fungsi. Pertama fungsi keagamaan, sebagai pusat atau tempat peribadatan seperti shalat, dzikir, do`a dan i’tikaf. Kedua

fungsi sosial, sebagai pusat pembinaan, pendidikan, pengajaran ummat Islam. Termasuk ke dalam fungsi yang kedua ini, masjid pada masa shahabat, juga digunakan sebagai pusat administrasi pemerintahan, tempat konsultasi dan komunikasi masalah-masalah keummatan, tempat santunan sosial, markas perrtahanan dan keamanan, tempat pengobatan korban perang, tempat perdamaian dan penyeleseaian persengketaan, tempat permusyawaratan kenegaraan, tempat penerimaan tamu negara. c. Masjid Pada Masa Sekarang

Pada penjelasan di atas telah disebutkan bahwa masjid merupakan bangunan yang sengaja didirikan umat muslim untuk melaksanakan shalat berjamaah dan berbagai keperluan lain yang terkait dengan kemaslahatan umat muslim. Akan tetapi, bila mencermati perkembangan dewasa ini, fungsinya yang kedua ini cenderung mulai berkurang, hal ini lantaran masjid sering hanya dipahami semata-mata untuk sujud sebagaimana dilakukan dalam shalat. Selain itu hal ini disebabkan karna adanya sebahagian fungsi masjid yang telah diambil oleh lembaga-lembaga tertentu, seperti pendidikan, pengadilan, pemerintahan dan lain-lain. Padahal dibalik itu, Masjid memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan dan membangun kapabilitas intelektual umat, kegiatan sosial kemasyarakatan, meningkatkan perekonomian umat, dan menjadi ruang diskusi untuk mencari solusi permasalahan umat terkini.

Akan tetapi, fungsi strategis di atas belakangan ini ternyata sudah banyak mengalami pergeseran. Bahkan, ada kecenderungan

umum bahwa masjid lebih difungsikan dari aspek sakralnya saja, yakni ritual seremonial. Sebaliknya fungsi-fungsi sosialnya justru kurang mendapat prioritas. Padahal, masjid merupakan tempat yang cukup strategis untuk menjadi titik pijak penggerak kemajuan umat Islam dan titik temu dan perbedaan simbol-simbol material dan strata sosial yang sering melekat pada kehidupan masyarakat.

Dari pembahasan di atas mengenai sejarah masjid dapat disimpulkan bahwa sejak zaman Nabi dan sahabat masjid telah menjadi pusat aktivitas ummat islam, terutama dalam pelaksanaan ibadah shalat, dzikir, maupun aktivitas sosial kemasyarakatan.

Dokumen terkait