• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP WILA<YAH AL-MAZ{A<LIM DALAM FIQH

C. Wila>yah Al-Maz}a>lim

1. Sejarah Wila>yah Al-Maz}a>lim

32

keputusan dalam perkara itu berarti memberikan keputusan terhadap perintah penguasa. Artinya, perkara itu harus dikembalikan kepada wila>yah al-maz}a>lim atau keputusan Allah dan Rasul-Nya. Kewenangan seperti ini menunjukkan bahwa peradilan dalam wila>yah al-maz}a>lim mempunyai putusan final.9

1. Sejarah Wila>yah Al-Maz}a>lim

Wila>yah al-maz}a>lim sudah dikenal sejak zaman dahulu. Kekuasaan ini terkenal dalam kalangan bangsa Persia dan dalam kalangan bangsa Arab di zaman jahiliyah. Hal ini wujud dari komitmen orang-orang Quraisy untuk menolak segala bentuk kezaliman sekaligus memberikan pembelaan terhadap orang-orang yang dizalimi.

Dalam satu riwayat dari az-Zubair bin Bakar tercatat bahwa ada seorang laki-laki Yaman yang berasal dari Bani Zubaid datang ke kota Mekah untuk berdagang. Kemudian ada orang dari Bani Sahm (dalam riwayat lain ada yang menyebut bernama al-Ash bin Wail) membeli dagangannya. Laki-laki yang membeli tersebut mengambil barang melebihi jumlah yang ditentukan. Saat si pedagang meminta kembali barang yang diambilnya ia menolak. Akhirnya, hilanglah kesabaran si pedagang dan ia berteriak di atas sebongkah batu di samping Ka’bah seraya melantunkan syair yang berisi kecaman terhadap kezaliman yang ia rasakan. Tindakan si pedagang tersebut ternyata mendapat respon positif dari

33

orang Quraisy. Hal ini terlihat dari intervensi Abu Sufyan dan Abbas bin Abdul Muthalib dalam membantu mengembalikan hak si pedagang tersebut. Orang-orang Quraisy berkumpul di rumah Abdullah bin Jadz’an untuk membuat kesepakatan menolak segala bentuk kezaliman di Mekah sehingga peristiwa yang telah terjadi tidak terulang. Kesepakatan itu dikenal dengan ‚Hif al-Fud}u>l”. Pada saat peristiwa tersebut terjadi, Nabi baru berusia 25 tahun.

Pada masa Nabi, beliau sendiri yang menyelesaikan segala rupa pengaduan terhadap kezaliman para pejabat. Nabi pernah memerankan fungsi ini ketika terjadi kasus irigasi yang dipertentangkan oleh Zubair bin Awwam dengan seseorang dari golongan Anshar. Seseorang dari golongan Anshar tersebut berkata, ‚Alirkan air tersebut ke sini”, namun Zubair menolaknya. Kemudian Nabi berkata, ‚Wahai Zubair, alirkan air tersebut ke lahanmu, kemudian alirkan air tersebut ke lahan tetanggamu”. Orang Anshar tersebut marah mendengar ucapan Nabi seraya berkata, ‚Wahai Nabi, (pantas kamu mengutamakan dia) bukankah dia anak pamanmu?” mendengar jawaban ini, memerahlah wajah Nabi seraya berkata, ‚Wahai Zubair, alirkanlah air tersebut ke perutnya hingga sampai ke kedua mata kakinya.‛

Pada masa khalifah para sahabat disibukkan dengan berbagai aktivitas jihad, sedang para khalifah dan bawahannya berusaha keras dalam

34

menegakkan keadilan, kebenaran, dan mengembalikan hak orang-orang yang dizalimi sehingga kasus-kasus yang menjadi kompetensi wila>yah al-maz}a>lim sangat sedikit jumlahnya. Para Khulafa Ar-Rasyidin tidak mengadakan lembaga ini, karena anggota-anggota masyarakat pada masa itu masih dapat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran agama. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di antara mereka dapat diselesaikan oleh pengadilan biasa. Akan tetapi di akhir zaman pemerintahan Ali beliau merasa perlu mempergunakan tindakan-tindakan yang keras dan menyelidiki pengaduan-pengaduan terhadap penguasa-penguasa yang berbuat kezaliman. Tetapi Ali belum lagi menentukan hari-hari yang tertentu untuk meneliti perkara-perkara ini.10 Pada waktu itu, apabila para sahabat merasa kebingungan terhadap suatu permasalahan, mereka mencukupkan diri kembali kepada ‚hukum al-qad}a>.‛ Meskipun ada indikasi-indikasi yang mengatakan bahwa peradilan maz}a>lim sudah dipraktikkan sejak zaman Nabi dan Khulafa ar-Rasyidin, namun keberadaannya belum diatur secara khusus.

Permulaan Khalifah yang sengaja mengadakan waktu-waktu tertentu untuk memperhatikan pengaduan-pengaduan rakyat kepada para pejabat, yaitu pada masa Khalifah Bani Umayyah, wila>yah al-maz}a>lim menjadi lembaga khusus tepatnya pada masa pemerintahan Abdul Malik bin

10 T. M. Hasbi Ash Shiddieqy, Peradilan & Hukum Acara Islam (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1997), 94.

35

Marwan (685-705 M). Ia adalah penguasa Islam pertama yang membentuk lembaga al-maz}a>lim (Peradilan Khusus). Ia menyediakan waktu khusus untuk menerima pengaduan kasus-kasus al-maz}a>lim. Di dalam memutuskan perkara, Abdul Malik bin Marwan berpegang pada pendapat para hakimnya dan ahli-ahli fiqh-nya. Jika Abdul Malik menemui kesulitan dalam memutuskan hukum, ia berkonsultasi dan meminta pertimbangan kepada Ibnu Idris al-Azdi. Hal ini berlangsung pada khalifah-khalifah selanjutnya.

Pada masa Umar bin Abdul Aziz, lembaga al-maz}a>lim makin efektif. Khalifah Umar terkenal dengan keadilannya sehingga lembaga ini digunakan sebaik mungkin demi menegakkan keadilan. Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang mempertahankan kebenaran dan membela rakyat dari kezaliman. Oleh karenanya beliau mengembalikan harta-harta rakyat yang diambil oleh Bani Umaiyah secara zalim. Misalnya, ia mengembalikan tanah-tanah yang dirampas oleh Walik kepada pemiliknya, ia kembalikan pula rumah yang dirampas oleh Abdul Malik bin Sulaiman kepada Ibrahim bin Thalhah.

Dengan demikian, pada masa Umayyah wila>yah al-maz}a>lim telah menemukan bentuknya meskipun belum sempurna. Hal ini terjadi karena

pelaksanaan wila>yah al-maz}a>lim masih di tangan penguasa.

Keberpihakannya kepada keadilan dan kebenaran sangat tergantung kepada keadilan dan kejujuran penguasa itu sendiri, Umar bin Abdul Aziz berhasil

36

dengan peradilan al-maz}a>limnya karena dia adalah seorang yang jujur dan adil.

Pada masa Bani Abbasiyah, wila>yah al-maz}a>lim masih tetap mendapat perhatian besar. Diceritakan pada hari Ahad, khalifah al-Makmun sedang membuka kesempatan bagi rakyatnya untuk mengadukan kezaliman yang dilakukan oleh pejabat, datang seorang wanita dengan pakaian jelek tampak dalam kesedihan. Wanita tersebut mengadukan bahwa anak sang khalifah al-Abbas, menzaliminya dengan merampas tanah haknya. Kemudian sang khalifah memerintahkan hakim, Yahya bin Aktsam, untuk menyidangkan kasus tersebut di depan sang khalifah. Di tengah perdebatan, tiba-tiba wanita tersebut mengeluarkan suara lantang sampai mengalahkan suara al-Abbas sehingga para pengawal istana mencelanya. Kemudian Khalifah al-Makmun berkata, ‚Dakwaannya benar, kebenaran membuatnya berani bicara dan kebatilan membuat anakku membisu.‛ Kemudian hakim mengembalikan hak si wanita dan hukuman ditimpakan kepada anak sang khalifah.11

Di dalam risalah al-Kharady, Abu Yusuf menganjurkan kepada Khalifah Harun Ar Rasyid supaya mengadakan sidang-sidang untuk memeriksa pengaduan-pengaduan rakyat terhadap para pejabat. Kerapkali para khulafa dahulu menyerahkan tugas ini kepada wazir-wazir dan kepala

37

daerah atau hakim-hakim. Mereka menentukan hari-hari tertentu untuk menerima pengaduan rakyat terhadap para pejabat negara. Pengadilan untuk memutuskan perkara-perkara kezaliman, pada masa itu dilakukan di masjid-masjid. Akan tetapi penguasa yang mengetahui sidang maz}a>lim ini dilengkapi dengan bermacam-macam aparat agar pengadilannya mempunyai

kewibawaan yang penuh dan dapat melaksanakan putusan-putusannya.12

Dokumen terkait