• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH EFEKTIF DAN MBS

Dalam dokumen makalah-kelompok-4 (Halaman 28-41)

Di dalam uraian bagian ini, ada tiga hal yang perlu dibahas, yaitu fungsi sekolah, pendekatan atau kriteriamsekolah efektif, hasil studi tentang sekolah efektif dan hubungannya dengan MBS.

1. Fungsi Sekolah

Sebelum membahas mengenai sekolah efektif, perlu diketahui terlebih dahulu tentang fungsi sekolah karena efektivitas sekolah akan diuji dari sisi sejauh mana sekolah tersebut dapat merealisasikn fungsinya secara baik. Seperti yang dapat diamati saat ini, sekolah adalah suatu institusi atau organisasi di masyarakat yang terus berubah dan dalam konteks masyarakat yang rumit (multidimensi). Sekolah terikat dengan sumber daya yang terbatas, terikat (komitmen moral) oleh berbagai stake holdres baik internal (seperti penguasa pendidikna,  birokrat, personel sekolah) maupun eksternal (seperti orang tua dan siswa, masyarakat, dewan  pendidikan, DPR, dan dunia kerja/pengguna lulusan). Fungsi sekolah dalam konteks social yang kompleks, menjadi tidak sederhana karena sekolah harus berperan melayani berbagai kepentingan stakeholders. Dari sisi tingkat pengelompokkan social, ada kepentingan individu, kepentingan sekolah sebagai lembaga, kepentingan masyarakat, kepentingan nasional (bangsa), dan kepentingan/tuntutan dunia internasional (global).

Dari segi substansi mengenai peran khusus yang harus diemban oleh sekolah yang diharapkan bagi masing-masing tingkat nasional tersebut di atas, sedikitnya ada lima fungsi sekolah, yaitu fungsi teknis/ekonomi, fungsi manusiawi/social, fungsi politik, fungsi kultural dan fungsi pendidikan (Cheng, 1996). Bagi bangsa Indonesia dalam Umaedi 2004 menambah dengan fungsi spiritual, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (kehidupan beragama).

a. Fungsi teknis/ekonomi

Fungsi teknis/ekonomi, merujuk pada sejauh mana konstribusi sekolah di dalam  pembangunan ekonomi bagi individu, institusi, masyarakat, bangsa dan dunia (antar  bangsa). Pada tingkat individu, sekolah membantu siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk bekal hidup; sebagai institusi sekolah merupakan organisasi layanan yang menyediakan produk jasa layanan yang bermutu bagi klien (pengguna  jasa pendidikan), tempat bekerja bagi karyawan dan pengelola; pada ttingkat masyarakat batik local maupun nasional, sekolah turut mewarnai system dan gerak

ekonomi dengan menyediakan tenaga yang diperlukan dan sesuai perkembangan ekonomi masyarakat, serta pada tingkat antar bangsa, sekolah mensuplai tenaga terampil yang mampu bersaing dan diperlukan oleh negar-negara lain. Tentu saja fungsi ini terkait dengan relevansi pendidikan, seperti dikemukakan sebelumnya bahwa ada yang bersifat jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang, dengan cakupan local, nasional maupun global.

 b. Fungsi manusiawi/social

Fungsi manusiawi/social (human/social function) berkaitan dengan sumbangan sekolah terhadap pengembangan manusia sebagai pribadi dan dalam hubungan social (dengan orang lain). Bagi individu, sekolah membantu pengembangan pribadi secara utuh secara psikologis, fisik maupun sikap dan keterampilan social, dengan mengembangkan potensi tiap anak secara optimal. Bagi tingkat institusi (lembaga), sekolah merupakan satuan (unit) masyarakat kecil yang mempunyai s ystem social yang diharapkan ideal (sesuai nilai dan norma tatanan yang dianggap baik) sehingga menjadi model hubungan antarpribadi yang harmonis, antarsiswa dan siswa lain, siswa dengan guru, siswa dengan staf administasi, antar guru, serta hubungan warga sekolah dengan masyarakat (terutama orang tua, komite sekolah) yang menjunjung nilai demokratis, keadilan, nondiskriminasi, (persamaan), dan menghargai pluralisme.

c. Fungsi politik

Fungsi politik (political function),  mengacu pada kostribusi sekolah kepada  pengembangan politik pada setiap timgkat atau tataran masyarakat. Pada tataran individual, sekolah membantu siswa mengembangkan sikap kewarganegaraan yang  baik (positif), serta pengembangan pengetahuan dan keterampilan merealisasikan hak dan kewajiban sebagai warga Negara. Pada tataran institusi, sekolah menjadi tempat  pelaksanaan model pemerintahan, analog (sejalan) dengan tatanan kenegaraan dan  pemerintahan Indonesia, utamanya di dalam organisasi intra-kesiswaan, komite sekolah dan unit-unit di dalam organisasi sekolah lainnya sebagai contoh penerapan lembaga yang lebih luas (bangsa), sekolah turut memberikan kontribusi terhadap kesadaran berdemokrasi, menjaga kestabilan pemerintahan yang sah dan menyumbangkan tenaga (termasuk lulusan) yang memiliki etika politik terpuji. Pada

tataran internasional, dalam era globalisasi, sekolah memberikan sumbangan terhadap hubungan antar bangsa, perdamaian dunia, keadilan antar bangsa dan sebagainya. d. Fungsi budaya

Fungsi budaya/kultural, merujuk pada konstribusi sekolah dalam bentuk pembekalan sikap, kesadaran, sosialisasi dan praktik hidup berbudaya baik bagi individu, institusi maupun masyarakat baik local maupun lebih luas (bangsa atau antarbangsa). Pada tataran individu , sekolah membantu siswa mengembangkan sikap perilaku yang  berbudaya (sesuai dengan norma-norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat) memelihara dan mempertahankan tradisi yang positif dan mengembangkannya, baik dalam bentuk tradisi perilaku maupun berbagam ragam kesenian. Dalam tataran institusi, sekolah menjadi pusat (tempat) alih budaya secara sistematis kepada generasi  penerus, pengenalan budaya baru yang lebih dinamis serta pemolesan budaya lama dengan meninggalkan unsur-unsur yang tidak relevan lagi dengan perkembangan masyarakat. Pada tataran masyarakat, sekolah sering dipandang sebagai model yang merefleksikan harapan masyarakat, penghasilan manusia berbudaya, serta calon  budayawan bangsa. Secara internasional, budaya yang berkembang kuat pada suatu  bangsa dapat memberikan sumbangan kepada dan mempengaruhi peradaban

antarbangsa.

e. Fungsi pendidikan

Fungsi ini merujuk pada sumbangan sekolah atau lembaga persekolahan di dalam memelihara, mempertahankan dan mengembangkan system pendidika dan apresiasi (penghargaan) serta komitmen (sepakat peduli) akan pentingnya pendidikan baik bagi individu, lembaga, masyarakat, bangsa dan antar bangsa (internasional). Bagi individu, sekolah membantu siswa belajar bagaimana belajar, kesadaran akan pentingnya belajar (pendidikan) sepanjang hayat (life long education). Bagi institusi, sekolah merupakan tempat bersama-sama belajar secara sistematis, bukan hanyanbagi siswa, tetapi juga guru dan tenaga kependidikan lainnya, tempat eksperimentasi dan pembaruan model  belajar, dan sebagainya. Bagi masyarakat, sekolah merupakan institusi yang penting dalam masyarakat modern yang harus ada dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan  berbagai ragam pendidikan. Pada tataran nasional (sebagai bangsa) sekolah merupakan institusi social penting yang mencerminkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia,

 bahkan menjadi indicator penting di dalam pemantauan Human Development Index (HDI). Pentingnya pendidikan di dalam tataran internasional, menyebabkan konstribusi dunia persekolahan perlu menjalin hubungan antarnegara di bidang pendidikan untuk  bekerja sama dan saling tukar pengalaman serta belajar satu sama lain.

f. Fungsi spiritual

Fungsi spiritual merujuk pada kontribusi sekolah bagi kehidupan pribadi, kepentingan institusi, kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih bermakna dalam hubungan dengan Sang Maha Pencipta, serta hubungan antar bangsa dalam menjakin saling  pengertian antar penganut agama sehingga turut menciptakan perdamaian yang sejati dan lebih tulus karena landasan kepercayaan yang lebih hakiki. Bagi pribadi, sekolah membantu pengembangan spiritual anak untuk memahami nilai luhur dan norma-norma hidup yang bersumber dari agama yang dianut serta pengertian dan pemahaman terhadap perbedaan dalam hal agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan sikap yang positif, untuk di hayati dan di amalkan sehingga sebagai pribadi dapat menjalin kehidupan secara lebih bermakna dan utuh. Bagi institusi, sekolah menjadi tempat kehidupan masyarakat kecil beragama yang harmonis antarwarga yang mungkin pluralistic (beragam) yang kesejukannya dirasakan oleh warga sekolah dan lingkungan masyarakat disekitarnya. Pada tataran masyarakat, sekolah berperan memenuhi hasrat spiritual yang masih kurang ditangani oleh lembaga keagamaan maupun orang tua. Dasar-dasar kehidupan spiritual dalam masyarakat yang pluralistic didapat modelnya dari sekolah-sekolah. Pada tataran masyarakat lebih luas sebagai  bangsa, sekolah turut memberikan warna bagaimana bangsa Indonesia menerapkan dasar Ketuhan Yang Maha Esa yang terkait dengan dasar kemanusiaan yang adil dan  beradab , persatuan Indonesia , demokrasi, dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada tataran internasional, dapat dilakukan kerja sama dan tukar pengalaman tentang  bagaimana pendidikan nasional berdasarkan nilai-nilai agama (spiritual) dan saling  pengertian antarpemeluk agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,

yang berbeda-beda.

Fungsi sekolah yang terakhir (spiritual) mungkin bersifat khas Indonesia sebagai negara yang menganut dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi bukan negara agama. Di negara yang teokratik (berdasarkan agama) maka fungsi tersebut merujuk pada satu agama tertentu (agama negara) terutama untuk sekolah negeri, sedangkan di negara demokratik/republik lainnya masalah

spiritualitas dalam kaitan dengan agama tidak termasuk di dalam fungsi pendidikan formal (sekolah), melainkan diserahkan kepada orang tua dan lembaga keagamaan.

Fungsi sekolah tidak terlepas dari fungsi pendidikan karena sekolah dalam sistem  pendidikan nasional merupakan satuan pendidikan jalur formal, yang peran utamanya adalah

merealisasikan fungsi pendidikan nasional sesuai konteks lingkungan dan masyarakat sekitar (pendukungnya). Di dalam rumusan formal, fungsi sekolah tidak selalu eksplisit (terang, jelas), terkadang tersembunyi, namun maksudnya mencakup yang dimaksud (implisit). Rumusan fungsi sekolah itu digabung dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, BAB II, Pasal 3 sebagai berikut.

“pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan  dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara

yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Perhatikan pula rumusan pengertian pendidikan pada BAB I, Padal 1, butir 1, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, tahun 2003 sebagai berikut.

“pendidik an adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Dari kedua kutipan tersebut, secara tersurat dan tersirat terdapat fungsi-fungsi sekolah (pendidikan) yang disebutkan sebelumnya termasuk subjek (tataran sosial) yang memperoleh manfaat dari fungsi tersebut, seperti individu, industri, masyarakat, bangsa dan antarbangsa. Sungguhpun di dalam rumusan fungsi, tujuan dan pengertian pendidikan tidak secara eksplisit menyebutkan tentang kepentingan internasional, tetapi di dalam Bab XIV, pasal 50, ayat (3), dinyatakan sebagai berikut.

“pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan  pendidikan yang bertaraf internasional”.

Dengan demikian, jelas bahwa dalam memandang fungsi pendidikan di dalam Undang-undang Sisdiknas atau khususnya fungsi sekolah, tidak hanya terbatas pada yang dirumuskan pada Bab II (Dasar, Fungsi, dan Tujuan), tetapi juga harus dikaji pada bab-bab lainnya, misalnya Bab X tentang Kurikulum, Bab XIV tentang pengelolaan Pendidikan, dan seterusnya.

Dari pengamatan, sebagian sekolah kita gagal atau tidak melaksanakan fungsi-fungsi tersebut, sepenuhnya, apalagi untuk semua tataran sosial sebagai penerima manfaat dari sekolah

yang bersangkutan. Bagaimanapun pemahaman akan fungsi sekolah sangat penting karena efektivitas sekolah akan dilihat dan sejauh mana suatu sekolah dapat memenuhi atau merealisasikan fungsinya. Kalau didefenisikan, sekolah efektif (effective schools) adalah kemampuan (kapasitas) sekolah untuk memaksimalkan fungsi-fungsi sekolah atau derajat yang menunjukkan kinerja sekolah sesuai fungsinya dalam memproses input  tertentu (Cheng, 1996).

Berdasarkan fungsi-fungsi yang telah dikemukakan dan tataran objek-objek sosial yang terkena dan memperoleh manfaat maka di dalam memandang efektivitas sekolah kita akan  bertanya, fungsi yang mana, dan level sosial apa sekolah tersebut efektif? Apakah dalam fungsi teknis/ekonomi, manusiawi/sosial, politik, kultural/budaya, pendidikan atau spiritual? Pada tataran mana fungsi tersebut efektif, apakah individu, instuisi, (lembaga sekolah), masyarakat sekitar, masyarakat lebih luas (bangsa) atau internasional?

Apakah cukup dengan hal itu menilai efektivitas sekolah? ternyata ada pandangan- pandangan lain. Sekolah adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan, anggota, hierarki dan  pembagian tugas, serta memiliki masyarakat pendukung (pengguna jasa pendidikan). Sebagai

suatu organisasi maka efektivitas sekolah perlu dilihat dari pendekatan organisasi.

2. Pendekatan/Kriteria Sekolah Efektif

Dalam pandangan Robbins (1990), setidak-tidaknya ada empat pendekatan (kriteria) di dalam menilai efektif-tidaknya suatu organisasi (termasuk sekolah sebagai satuan

(termasuk sekolah sebagai satuan organisasi), yaitu goal-attainment approach, system approach,  strategic-constituencies approach, dan competing-values approach. Masing-masing pendekatan

akan dijelaskan, terutama berkaitan dengan efektivitas sekolah sebagai fokus bahasan. a. Goal-attainment approach

Pendekatan ini disebut juga  goal model , dapat dikatakan sebagai “pendekatan  berdasarkan tujuan”. Dalam pendekatan ini diyakini bahwa tujuan organisasi (sekolah) yang dinyatakan secara formal merupakan kewajiban bagi sekolah tersebut untuk memenuhinya. Dengan demikian, efektvitas sekolah dinilai tergantung dari derajat tercapainya (attainment) tujuan (goal). Dengan kata lain pendekatan ini menilai efektivitas  pada hasil daripada proses atau cara mencapai hasil.

Pendekatan ini pada umumnya banyak diterima oleh berbagai pihak, termasuk stakeholders. Persoalan yang timbul adalah manakala tujuan tidak jelas. Di Indonesia, pada umumnya sekolahtidak merumuskan tujuan secara formal, jelas d an spesifik (operasional). Hanya beberapa sekolah (terutama sekolah yang dianggap atau menganggap diri “unggulan”) yang berani menyatakan tujuan secara jelas, serta sebagian sekolah swasta kelas menengah ke atas. Hal ini karena sebagian menganggap bahwa tujuan pendidikan yang dirumuskan secara nasional oleh para pakar, birokrat, dan politisi bijak sudah cukup dan tidak mungkin akan menyesatkan sehingga sekolah tinggal mengacu pada tujuan tersebut. Sebagai acuan. Kebijakan nasional memang wajib diikuti, tetapi perhatikan rumusan tujuan pendidikan nasional sebagai berikut.

“... bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,  berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta  bertanggung jawab”. (dari pasal 3 UU Sisdiknas tahun 2003).

Rumusan yang umum, kualitatif, berlaku untuk seluruh lembaga pendidikan Indonesia (dengan aneka ragam kondisi) ini masih sulit untuk dijadikan patokan menilai efektif tidaknya suatu sekolah. Tujuan itu memerlukan jabaran tujuan (turunan tujuan) yang lebih spesifik, operasional, dan sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.

Pemerintah, dalam rangka penerapan MBS melalui program perintisan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah” telah melatih sekolah-sekolah rintisan untuk masing-masing mengembangkan visi,misi, dan tujuan dalam bentuk rencana strategis sekolah sehingga setiap sekolah memiliki arah yang jelas di dalam upaya penin gkatan mutu sesuai dengan kondisi masing-masing, dengan tetap merujuk pada kebijakan nasional yang  bersifat umum dan standar-standar yang ditetapkan.

Terlepas dari masalah-masalah yang timbul dalam penerapan pendekatan tujuan untuk menilai sejauh mana efektif tidaknya suatu sekolah, seperti dikemukakan di atas dan mungkin masih banyak problem lainnya, pendekatan ini sangat penting dan diikuti sebagian organisasi dengan berbagai penyesuaian dan dikombinasikan dengan pendekatan lain. Apabila pendekatan ini digunakan, ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, tujuan sekolah (hasil yang ingin dicapai sekolah) baik yang berupa output (langsung) maupun outcome (dampak lebih lanjut) harus jelas dan dapat diterima (disepakati) oleh berbagai stakeholders utama (kepala sekolah, guru, birokrat diatasnya, dan orang tua). Kedua, proses perumusan tujuan melibatkan stakeholders dimaksud. Ketiga, upayakan merumuskan tujuan yang mudah diukur, bukan sesuatu yang abstrak (contoh rumusan yang sulit diukur menghasilkan lulusan yang bertanggung jawab kepada masyarakat). Keempat, perjelas mana tujuan jangka pendek dan mana jangk a panjang, dan  perjelas prioritasnya. Adanya keterbatasan-keterbatasan dalam pendekatan ini, orang

mencoba pendekatan lainnya.

 b. System approach atau pendekatan sistem

Organisasi merupakan sebuah sistem atau satuan keseluruhan yang terdiri atas bagian atau komponen yang mendukung dengan fungsi masing-masing yang saling tergantung dan melengkapi untuk membentuk kesatuan (sistem tersebut). sekolah sebagai satuan organisasi merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang menyebabkan satuan organisasi tersebut dinamakan sekolah. Sekolah efektif didukung berbagai komponen yang dapat berfungsi secara efektif. Kurang efektifnya salah satu atau lebih komponen sekolah akan menyebabkan sekolah tersebut tidak dapat sepenuhnya efektif.

Sebagai sebuah organisasi, sekolah memperoleh input (beberapa input), kemudian diubah melalui suatu proses sehingga menjadi output (hasil). Pendekatan yang semata-mata menilai efektivitas sekolah dari segi hasil yang dicapai (goal attainment) dianggap terlalu sempit dan menyederhanakan masalah. Pendekatan sistem mengakui hasil (output ), tetapi itu baru merupakan sebagian dari ukuran efektivitas. Organisasi (sekolah) juga harus dinilai dari kemampuannya

memperoleh input, dan memproses input tersebut menjadi output. Sekolah harus mengelola keseimbangan antara input, proses, dan output untuk tetap stabil dalam kehidupan organisasi  jangka panjang. Di dalam pendekatan sistem sekolah bukan hanya memelihara dan mengelola

input secara internal, tetapi juga berhubungan dengan input eksternal (termasuk sosial) atau lingkungan. Dengan kata lain, pendekatan sistem tidak hanya memfokuskan pada tujuan secara spesifik, tetapi kaitan dengan input, proses, dan perubahan lingkungan untuk menjamin stabilitas tujuan jangka panjang memperoleh perhatian. Dengan pendekatan sistem, perlu analisis berbagai input, bukan hanya siswa, tetapi juga sumber belajar, sumber daya manusia, praktik manajemen (baik manajemen sekolah secara keseluruhan maupun manajemen proses belajar oleh guru), serta  penyaluran hasil terhadap pengguna lulusan, serta respons masyarakat terhadap lulusan.

Dengan pendekatan sistem, kepala sekolah menjadi sadar akan adanya berbagai faktor atau variabel yang saling berkaitan yang turut menentukan hasil pendidikan meskipun untuk mendeteksi perubahan tuntutan masyarakat terkadang jauh lebih sulit ketimbang membandingkan hasil ujian, tetapi dalam jangka panjang, sekolah akan merasakan manfaatnya terutama dalam era kompetisi. Sementara, pendekatan sistem dianggap kurang sederhana, sebagian orang mencari  pendekatan lain yang lebih pragmatis.

c. Strategic constituencies approach atau pendekatan konstituen strategis

Konstituen adalah orang atau kelompok orang (masyarakat) yang diharapkan dukungannya karena dukungan tersebut suatu institusi menjadi kuat. Dalam hal partai politik (atau tokoh  politik), konstituen adalah para pemilih partai atau pemilih tokoh yang bersangkutan. Sekolah memerlukan dukungan orang tua/masyarakat yang saat ini direpresentasikan melalui komite sekolah, kelompok birokrat tertentu atau persatuan guru setempat. Kelompok-kelompok yang sangat mempengaruhi kebijakan sekolah tersebut adalah konstituen strategis karena kalau mereka tidak senang atau tidak puas, pengelolaan sekolah (nasib sekolah) dapat tergantung. Sesuai posisi dan kondisi masing-masing sekolah, konstituen strategis pada setiap sekolah tidak selalu sama. Dalam hal sekolah swasta, mungkin sekali konstituen strategisnya berbeda dengan sekolah negeri karena yang mempengaruhi eksistensinya berbeda.

Dalam hal tokoh-tokoh konstituen strategis berpikir jernih dan upaya idealisme memajukan sekolah (pendidikan) sesuai fungsi-fungsi sekolah, pendekatan ini sangat efektif, tetapi kalau yang terjadi sebaliknya, sekolah dapat terjebak, apabila sekolah dianggap efektif hanya karena dengan  berbagai cara dapat memuaskan “tokoh-tokoh” konstituen strategis tersebut.

Apabila pendekatan ini akan digunakan maka sekolah sejak awal berusaha menjaring masukan atau secara resmi meminta masukan para konstituen yang dominan di dalam merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah. Dengan keterlibatan mereka di dalam menentukan arah pengembangan sekolah maka efektivitas model ini akan tidak menyimpang dari idealisme dan fungsi-fungsi sekolah yang sebenarnya. Peran konstituen strategis sangat penting, terutama pada saat seperti sekarang ini di mana keberhasilan tidak hanya dinilai/diklaim oleh satu pihak, tetapi memerlukan  pengakuan oleh beberapa pihak dan banyak di antaranya lebih bernuansa politis daripada teknis.

d. Compering values approach atau pendekatan persaingan nilai

Dasar pendekatan ini adalah kriteria yang digunakan seseorang untuk menilai efektivitas suatu organisasi tergantung dari siapa dia, dan kepentingan siapa yang dia w akili. Seorang guru menilai efektivitas sekolah dari segi kepentingan guru, kepala sekolah menilai dari sudut kepentingan kepala sekolah. dan orang tua siswa akan menilai dari segi kepentingan mereka. Demikian pula  birokrat pendidikan. Sungguhpun terdapat berbagai kepentingan yang saling bersaing, pendekatan ini berasumsi bahwa berbagai value (nilai) yang direfleksikan dalam bentuk kepentingan dapat diorganisasikan dengan pola tertentu.

Di dalam praktiknya, jarang terjadi sekolah ekstrem mengikuti salah satu pendekatan dengan mengesampingkan pendekatan yang lain. Biasanya orang cenderung secara ideal menghendaki semua unsur atau ciri-ciri yang baik dari kriteria atau pendekatan yang ada. Sekolah ingin  pencapaian hasil pendidikan yang jelas, ingin memperoleh semua input yang mendukung hasil yang bermutu, ingin memperoleh dukungan semua stakeholders (konstituen) sehingga posisinya mantap, tidak diganggu-ganggu. Di samping itu, sekolah juga ingin kehidupan stabil, semua mengikuti aturan, tetapi juga ingin fleksibel mudah merespons pembaruan dan tuntutan lingkungan. Sekolah ingin memperhatikan warga sekolah, tetapi juga ingin produktivitasnya tinggi, bermutu dan efesien. Keinginan-keinginan ini bisa menjadi ciri-ciri sekolah yang efektif.

3. Studi tentang Sekolah Efektif

Studi tentang model sekolah efektif ini berdasarkan investigasi empirik dan studi kasus terhadap sekolah-sekolah yang berhasil dalam merealisasikan pembelajaran sesuai kurikulum yang diinginkan (ditetapkan), terutama dengan fokus pada keterampilan dasar (basic skills), yang meliputi keterampilan membaca secara komperehensif (penguasaan isi bacaan), menghitung,  pemecahan soal, keterampilan berpikir pada tingkat lebih tinggi, dan keterampilan sosial.

Kriteria efektivitas sekolah disepakati meliputi kualitas dan keadilan/pemerataan (quality dan equity). Dari sisi kualitas, merujuk pada hasil pengukuran atau pengujian terhadap keterampilan dasar tersebut. Tentu ini seolah membatasi lingkup pendidikan yang fungsinya lebih luas, tetapi untuk kepentingan penelitian, aspek itulah yang lebih mudah diuku r, dan sesuatu yang sangat dominan dan harus dicapai oleh suatu tingkat pendidikan, utamanya pendidikan dasar. Kriteria keadilan/pemerataan (equity)  mengandung makna bahwa model sekolah efektif harus dapat diimplementasikan/diterapkan bukan hanya untuk sekolah dengan anak-anak yang status sosial ekonominya tinggi, tetapi berlaku dan justru dimaksudkan untuk memperbaiki layanan  pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung (lemah ekonomi, sosial, kultural,

dan seterusnya yang umumnya bermasalah dalam belajar). Para peneliti sekolah efektif berasumsi dan percaya bahwa semua anak dapat belajar (Taylor, 1990).

Para peneliti efektif lainnya, seperti Gauthier, Shoemaker, Villanova dan lainnya yang terlibat dalam The Connecticut School Effectiveness Project Mengemukakan tujuh karakteristik, yaitu sebagai berikut:

Dalam dokumen makalah-kelompok-4 (Halaman 28-41)

Dokumen terkait