belaka. Seperti yang dikemukakan oleh Fraenkel (1977 ; 1-2) sekolah tidak semata-mata tempat guru menyampaikan pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga yang mengusahakan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai.
Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, dengan demikian tidak bisa dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi melalui penanaman nilai pada peserta didik. Dirasa bahwa pendidikan sangat penting maka pemerintah mulai tahun ajaran 2011/2012 menjadikan pendidikan berbasis karakter segabai gerakan nasional mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai perguruan tinggi termasuk pendidikan nonformal dan informal.
Sebagai lembaga pendidikan sekolah mempunyai fungsi membangun karakter sebagai berikut:
a. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan anak didik
b. Spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
c. Efisiensi pendidikan dilakukan dalam program yang tertentu dan sistematis, juga jumlah anak didik dalam jumlah besar akan memberikan efisiensi bagi pendidikan anak dan juga bagi orang tua.
d. Sosialisasi, yaitu proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.
e. Konservasi dan transmisi kultural, yaitu pemeliharaan warisan budaya.
Dapat dilakukan dengan pencarian dan penyampaian budaya pada anak didik selaku generasi muda.
f. Transisi dari rumah ke masyarakat. Sekolah menjadi tempat anak untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab anak sebagai persiapan
untuk terjun ke masyarakat (Ahmadi. 2012. Makalah Peran dan Fungsi Sekolah dalam Membentuk karakter (online).
http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/27/, diakses 28 Juni 2016).
Sementara itu sekolah mempunyai peran yang sangat strategis dalam membentuk siswa yang berkarakter. Agar pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik maka memerlukan pemahaman yang cukup dan konsisten oleh seluruh personalia pendidikan, peran tersebut sebagai berikut:
a. Pengajaran yang mendidik, pengajaran yang memberi peluang pencapaian tujuan umum pendidikan. upaya mewujudkan pengajaran yang mendidik perlu dikemukakan bahwa setiap keputusan dan tindakan guru dalam kegiatan belajar mengajar akan membawa berbagai dampak kepada siswa. pemilihan kegiatan yang tepat akan memberikan pengalaman yang baik, hal ini dapat dilaksanakan dengan konsisten apabila strategi belajar mengajar mampu dirancang sesuai.
Selain itu pemberian tanggungjawaab sedini mungkin kepada siswa dalam kegiatan belajar maupun kegiatan di luar jam belajar agar siswa tersebut dapat mandiri.
b. Peningkatan, pemantapan program sekolah dan program bimbingan penyuluhan (BP), seperti diketahui bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan harus memantapkan pelaksanaan program sekolah karena bagian dari pencapaian tujuan nasional yang mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. selain itu program bimbingan konseling diharapkan mampu untuk melaksanakan metode dan pendekatan terhadap siswa agar perilaku siswa sesuai dengan norma dan nilai.
Pemantapan ini adalah bagian dari peran sekolah dalam menyukseskan pendidikan generasi muda.
c. Pengembangan perpustakaan sekolah sebagai salah satu pusat sumber belajar. Perustakaan diharapkan mengembangkan program-programnya sesuai dengan visi dan misi sekolah dengan tujuan pendidikan lebih baik. Selain itu perpustakaan menyediakan perangkat lunak dan keras agar siswa mampu mencari sumber belajar dengan mandiri.
d. Peningkatan program pengelolaan sekolah terkait dengan peserta didik, pengelolaan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan merupakan reflexi dari tujuan nasional (Ahmadi. 2012. Makalah Peran dan Fungsi Sekolah dalam Membentuk Karakter (online).
(http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/27/, diakses 28 Juni 2016).
Di sekolah, kepala sekolah, pengawas sekolah, guru dan karyawan, harus memiliki persamaan persepsi tentang peran sekolah untuk membentuk karakter siswa. Setiap personalia pendidikan mempunyai perannya masing-masing yaitu :
a. Peran kepala sekolah sebagai pendidik merupakan peran yang sangat berat sekaligus mulia, selain pendidik kepala sekolah bertugas memimpin sekolah dan menanamkan, memajukan, meningkatkan mutu pendidikan peserta didik, setidaknya tiga macam nilai yang harus ditekankan, yaitu: Pertama, mental yang berkaitan dengan sikap batin dan watak peserta didik. Kedua, moral yang berkaitan dengan ajaran baik buruk mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban atau moral diartikan sebagai akhlak, budi pekerti, serta kesusilaan. Ketiga, fisik yang berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan, kesehatan dan penampilan peserta didik secara alamiah. Perlu diperhatikan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dan pendidik terutama dalam membentuk karakter peserta didik, sebagai pemimpin kepala sekolah menjadi teladan bagi guru dan staf sekolah, sebagai pendidik kepala sekolah harus mampu membuat program demi tercapainya siswa yang berprestasi (Kompri, 2015: 192).
b. Guru memiliki peran dalam pendidikan untuk pembentukan karakter siswa dalam pembelajaran di sekolah (kelas). Konteks pencapaian tujuan pendidikan karakter guru menjadi ujung tombak keberhasilan tersebut, guru sebagai sosok yang teladan dan ditiru mempunyai peran penting dalam aplikasi pendidikan karakter di sekolah maupun di luar sekolah. Sebagai seorang pendidik guru menjadi sosok figur dalam pandangan anak, guru akan menjadi patokan bagi sikap anak didik.
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional diamanatkan bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang baik.
Pada konteks pendidikan karakter pendidikan dilaksanakan untuk mendidik siswa menjadi manusia ihsan, yang berbuat baik dengan tindakan yang baik berdasarkan ketaqwaan kepada Tuhan . Konsep keteladanan dalam pendidikan sangat penting dan bisa berpengaruh terhadap proses pendidikan, khususnya membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Guru harus terlebih dahulu mengenal siswa secara pribadi ini bisa ditempuh dengan cara; Pertama, guru harus mengenali dan memperhatikan watak yang di bawa siswa pada awal proses pembelajaran. Kedua, guru harus mengetahui kemampuan, pendapat, dan pengalaman siswa. Ketiga, pengenalan dan pemahaman konteks nyata para siswa sebagai dasar merumuskan tujuan, sasaran, metode, dan sarana pembelajaran. Sebagai tenaga profesional, guru harus diposisikan diri pada hakekat yang sebenarnya, yaitu sebagai pengajar dan pendidik, yang berarti disamping mentransfer ilmu pengetahuan, juga mendidik dan mengembangkan kepribadian peserta didik melalui interaksi di kelas dan luar kelas. Guru hendaknya diberikan hak penuh melakukan penilaian (evaluasi) proses pembelajaran, karena masalah kepribadian atau karakter peserta didik guru paling mengetahui tentang kondisi dan perkembangannya.
Pendidik merupakan figur yang diharapkan mampu mendidik peserta didik sehingga berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Karena pendidik merupakan teladan bagi siswa dan memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter siswa. Peran pendidik sebagai pembentuk generasi muda yang berkarakter sesuai dengan UU Guru dan Dosen No.
14 Tahun 2005, guru didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik (Zahroh, 2015: 4).
Menurut Thomas Lickona (1991:74) dalam rangka membentuk karakter siswa, sekolah harus menerapkan nilai kejujuran, adil, toleransi,
kebijaksanaan, disiplin diri, tolong menolong, peduli sesama, kerja sama, keberanian. Jelasnya sebagai berikut :
a. Kejujuran, yang harus ditanamkan kepada siswa adalah bagaimana siswa tersebut mampu bersikap apa adanya, tidak melakukan kebohongan terhadap siapapun.
b. Toleransi, merupakan sebuah sikap yang memiliki kesetaraan dan tujuan bagi mereka yang memiliki perberbedaan, maksudnya siswa mampu berinteraksi dengan baik tanpa mempertibangkan latar belakangnya.
c. Adil, sikap adil mengharuskan siswa memperlakukan setiap orang sama, tidak membeda-bedakan.
d. Kebijaksanaan, nilai menghormati diri sendiri serta mampu memutuskan pilihan yang tepat.
e. Disiplin diri, membentuk siswa supaya tidak mengikuti kearah yang negatif, tidak mudah puas dengan hasil yang didapatkan.
f. Tolong menolong dan peduli sesama, sikap ini memberikan pengaruh baik pada pembentukan kepribadian seseorang.
g. Kerjasama, merupakan sikap moral melakukan sesuatu bersama-sama tanpa pandangan tertentu.
h. Keberanian, mengharuskan siswa berani mengambil tindakan dengan keputusan yang tepat dan menghormati hak-hak orang lain