BOGOR
2011
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Gandum (Triticum aestivum L.) merupakan serealia dari famili Gramineae
(Poaceae) yang berasal dari daerah subtropis. Salah satu keunggulan gandum adalah kandungan gluteinnya yang mencapai 80%. Glutein adalah protein yang bersifat kohesif dan liat sehingga bahan pangan yang mengandung glutein banyak digunakan untuk membuat roti, tepung, produk bahan baku (cake, cookies, crackers, pretzel), roti tanpa ragi, semolina, bulgar dan sereal. Selain kandungan glutein yang tinggi, komposisi nutrisi gandum juga lebih baik dibanding komoditas lainnya. Sebagai contoh, kandungan protein pada gandum mencapai 13%, sedangkan pada padi 8%, jagung 10%, dan barley 12%. Kandungan karbohidrat gandum mencapai 69%, sedangkan padi 65% dan barley 63%. Keragaman penggunaan, kandungan nutrisi dan kualitas penyimpanannya yang tinggi menjadikan gandum sebagai bahan makanan pokok lebih dari sepertiga populasi dunia (Porter 2005).
Permintaan terhadap gandum dunia sampai tahun 2020 diperkirakan meningkat sebesar 1.6% per tahun. Di negara-negara berkembang peningkatan permintaan gandum diperkirakan mencapai sekitar 2% per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan peningkatan produksi gandum dua kali dari rata-rata produksi gandum dunia saat ini. Laju peningkatan produksi gandum pada saat ini masih terlalu rendah untuk dapat memenuhi kebutuhan gandum di
masa depan (Reynolds2002).
Kebutuhan gandum dalam bentuk tepung terigu di Indonesia meningkat
setiap tahun sejalan dengan perkembangan ekonomi dan jumlah penduduk. Konsumsi terbesar adalah 40% untuk kebutuhan industri skala rumah tangga, 25% untuk industri roti, 20% industri mie instant, serta 15% untuk industri kue dan biskuit. Konsumsi terigu Indonesia meningkat sangat signifikan dari 9.9 kg per kapita pada tahun 2002, menjadi 17.11 kg per kapita pada tahun 2007 atau sekitar 12% dari konsumsi pangan Indonesia. Tahun 2009 konsumsi terigu mencapai 17.7 kg per kapita dari konsumsi 2.37 juta ton menjadi 2.93 juta ton sehingga akhir
tahun diperkirakan mencapai 3.8 juta ton. Dengan demikian Indonesia kini menjadi negara pengimpor gandum terbesar kelima dengan total impor 4.5 juta ton/tahun dan angka ini terus meningkat dengan laju 2.6 %/tahun (Loppies 2010).
Sovan (2002) menyatakan bahwa untuk menekan impor gandum, Indonesia perlu melakukan upaya untuk memproduksi gandum dalam negeri. Produksi gandum dalam negeri perlu didukung oleh ketersediaan varietas gandum dan penerapan teknologi budidaya yang sesuai dengan kondisi agroklimat di Indonesia. Varietas yang sesuai di Indonesia dapat diperoleh dengan mengadaptasikan gandum subtropis di lingkungan tropis Indonesia.
Hasil penelitian membuktikan bahwa tanaman gandum dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di Indonesia serta mempunyai peluang untuk pengembangannya, namun perlu diperhatikan pengaruh suhu, terutama curah hujan yang menyebabkan naiknya intensitas penyakit terutama menjelang panen
(Azwar et al. 1988). Hasil gandum di Lembang, Jawa Barat (1100 m dpl)
mencapai 3.34 ton ha-1, varietas Nias di Malino dapat menghasilkan 5.37 ton ha-1
pada 2001 dan gandum yang ditanam di daerah Cangar, Jawa Timur (1700 m dpl) pada musim kemarau tahun 2000 mampu memproduksi hasil biji sebesar 3.5 – 4.0 ton ha-1 (Dahlan et al. 2003).
Program pengembangan varietas unggul gandum di Indonesia telah
dilakukan sejak tahun 1985. Kegiatan penelitian meliputi evaluasi plasma nutfah
dari CIMMYT dan India, pembentukan populasi pemuliaan melalui persilangan, evaluasi daya hasil pendahuluan dan lanjutan serta uji multilokasi. Kegiatan- kegiatan penelitian tersebut dilaksanakan di beberapa propinsi di Indonesia, khusus kegiatan uji multilokasi. Tahun 2003 telah berhasil dirilis varietas baru gandum yang lebih adaptif pada ketinggian 1000 m dpl yaitu varietas Selayar dan
Dewata (Dahlan et al. 2003).
Gandum dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada beberapa lokasi di Indonesia, khususnya pada dataran tinggi. Di dataran tinggi tanaman gandum bersaing dengan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi, akibatnya areal pertanaman gandum menjadi terbatas dan tidak banyak berarti untuk menekan impor terigu sehingga perlu pengembangan
gandum di dataran rendah untuk mendapatkan varietas yang adaptif (Danakusuma 1985).
Luas lahan yang sesuai untuk pengembangan komoditas gandum dataran tinggi mencapai 1.972.000 ha, akan tetapi sebagian besar telah digunakan untuk pengembangan komoditas lainnya seperti sayur-sayuran, namun masih ada peluang pengembangan tanaman gandum di lahan dataran tinggi seluas 706.500 ha. Lahan seluas tersebut tersebar di beberapa pulau, seperti Sumatera, Sulawesi,
Kalimantan dan Nusi Tenggara Timur (Andyana et al. 2006). Oleh karena itu
perlu dilakukan perakitan varietas gandum yang dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis baik di dataran tinggi maupun dataran rendah untuk meningkatkan daya saing dan elektabilitas pasar gandum sebagai sumber pangan.
Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang daya adaptasi genotipe gandum introduksi di lingkungan tropis Indonesia.
Tujuan khusus penelitian adalah :
1) Memperoleh informasi variabilitas genetik gandum introduksi di lingkungan
tropis Indonesia
2) Memperoleh genotipe gandum introduksi yang dapat beradaptasi pada
dataran tinggi di lingkungan tropis Indonesia
3) Memperoleh gandum introduksi yang dapat beradaptasi pada dataran rendah
di lingkungan tropis Indonesia.
Kerangka Pemikiran
Lingkungan yang cocok untuk produksi gandum di Indonesia adalah ketinggiaan 1000-3000 m dpl, namun pada ketinggian tersebut gandum bersaing dengan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dari
gandum. Kendala utama yang dihadapi pada adaptasi tanaman gandum di dataran
rendah (< 400 m dpl) adalah cekaman lingkungan yang sangat tinggi, khususnya cekaman suhu tinggi, dan belum tersedia varietas yang sesuai untuk dataran rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan varietas gandum yang
dapat beradaptasi di lingkungan tropis Indonesia, baik untuk dataran rendah maupun dataran tinggi. Bagan alir penelitian terdapat pada Gambar 1.
Gambar 1. Bagan alir penelitian.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis pada penelitian ini adalah :
1) Terdapat variabilitas genetik yang tinggi dari gandum introduksi di
lingkungan tropis Indonesia
2) Terdapat gandum introduksi yang dapat beradaptasi pada dataran tinggi di
lingkungan tropis Indonesia
3) Terdapat gandum introduksi yang dapat beradaptasi pada dataran rendah di
lingkungan tropis Indonesia.
Gandum
Uji Adaptasi
Ketinggian > 1000 m dpl Ketinggian < 400 m dpl
Studi Keragaman Genetik
Analisis Adaptabilitas
Galur Adaptif Dataran Tinggi Galur Adaptif Dataran Rendah
5