KUESIONER UNTUK RESPONDEN
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
KUESIONER
Petunjuk Menjawab Pertanyaan
Mohon berikan tanda (X) pada salah satu kotak sesuai pendapat Bapak/Ibu. Sebagai petunjuk pengisian dalam 6 kotak adalah sebagai berikut :
Pengisian nilai untuk memberikan gambaran kondisi ideal yang seharusnya.
Berilah penilaian atas pernyataan-pernyataan Variabel Tingkat Harapan di bawah ini dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu pilihan angka di bawah ini: Angka 1 = Sangat tidak penting
Angka 2 = Tidak penting Angka 3 = Agak tidak penting Angka 4 = Agak penting Angka 5 = penting
Angka 6 = Sangat penting
Berilah penilaian atas pernyataan-pernyataan Variabel Tingkat Kinerja di bawah ini dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu pilihan angka di bawah ini: Angka 1 = Sangat tidak puas
Angka 2 = Tidak puas Angka 3 = Agak tidak puas Angka 4 = Agak puas Angka 5 = puas
Angka 6 = Sangat puas
No. Pertanyaan
Nilai/Bobot
Kinerja Harapan
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 Kondisi sampai dengan saat ini,
keterbatasan ekonomi menjadi
hambatan untuk melanjutkan pendidikan 2 Kondisi sampai dengan saat ini,
keterbatasan usia memasuki pensiun merupakan hambatan untuk melanjutkan pendidikan
3 Kondisi sampai dengan saat ini, keterbatasan kesempatan mendapatkan beasiswa merupakan hambatan untuk melanjutkan pendidikan
4 Kondisi sampai dengan saat ini, alasan melanjutkan pendidikan adalah untuk menunjang karier pekerjaan
5 Kondisi sampai dengan saat ini, meningkatkan pendidikan lebih menjadi prioroitas dibanding dengan pengalaman pekerjaan
6 Kondisi sampai dengan saat ini, saya selalu membaca regulasi terbaru dalam melaksanakan pekerjaan
No. Pertanyaan
Nilai/Bobot
Kinerja Harapan
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 7 Kondisi sampai dengan saat ini,
permasalahan dalam pekerjaan adalah tanggung jawab pimpinan
8 Kondisi sampai dengan saat ini, regulasi terbaru jarang disosialisasikan sehingga penyelesaian pekerjaan mengikuti cara yang sudah ada/kebiasaan
9 Kondisi sampai dengan saat ini,
berdiskusi dengan rekan kerja dan atasan sering dilakukan dalam menghadapi permasalahan pekerjaan
10 Kondisi sampai dengan saat ini, saya mampu mengendalikan permasalahan pribadi dengan pekerjaan yang dijalani 11 Kondisi sampai dengan saat ini, insentif
yang diberikan oleh manajemen sudah mencukupi kebutuhan rumah tangga 12 Kondisi sampai dengan saat ini,
ketersediaan alat tulis kantor, komputer, printer dalam pengelolaan anggaran sudah memadai
13 Kondisi sampai dengan saat ini, ketersediaan dan kecepatan akses Internet dalam pengelola anggaran sudah memadai
14 Kondisi sampai dengan saat ini, dukungan moda transportasi dari
manajemen dalam pengelolaan anggaran sudah memadai
15 Kondisi sampai dengan saat ini, latar belakang pendidikan saya sudah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi pekerjaan 16 Kondisi sampai dengan saat ini,
kesesuaian dan keahlian bidang pengelolaan keuangan/akuntansi yang saya miliki sudah mendukung dengan pekerjaan saat ini
17 Kondisi sampai dengan saat ini, keterampilan komputer yang saya miliki sudah mendukung dengan pekerjaan saat ini
18 Kondisi sampai dengan saat ini,
keterlambatan menyelesaikan pekerjaan biasanya dikarenakan oleh beban kerja yang terlalu banyak
19 Kondisi sampai dengan saat ini, pertimbangan melanjutkan pendidikan
No. Pertanyaan
Nilai/Bobot
Kinerja Harapan
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 menjadi sangat penting untuk
meningkatkan kualitas pekerjaan 20 Kondisi sampai dengan saat ini, tingkat
pendidikan dapat mempengaruhi kesejahteraan keluarga
21 Kondisi sampai dengan saat ini, pembagian beban kerja saat ini sudah sesuai dengan keahlian pegawai 22 Kondisi sampai dengan saat ini,
komunikasi dan kerjasama diantara rekan kerja dan atasan menciptakan suasana kondusif
23 Kondisi sampai dengan saat ini, roling pegawai yang sudah dilakukan
manajemen sudah memenuhi kebutuhan pekerjaan
24 Kondisi sampai dengan saat ini, organisasi sudah memperhatikan kesejahteraan pegawainya
25 Kondisi sampai dengan saat ini, pimpinan sudah memberikan reward kepada pegawai yang berkinerja baik 26 Kondisi sampai dengan saat ini,
pendapatan dan tunjangan lainnya saat ini telah memenuhi kebutuhan hidup 27 Kondisi sampai dengan saat ini, pagu
anggaran yang dikelola diatas batas normal pengelolaan
28 Kondisi sampai dengan saat ini, pengelolaan anggaran sesuai dengan kemampuan SDM dan SOP
29 Kondisi sampai dengan saat ini, struktur anggaran berupa MAK per kegiatan sudah operasional
30 Kondisi sampai dengan saat ini, MAK yang tertera dalam judul kegiatan sesuai dgn kebutuhan lapang
31 Kondisi sampai dengan saat ini, pelaksanaan perencanaan kegiatan hampir sama/mendekati operasionalnya 32 Kondisi sampai dengan saat ini,
penetapan SBU sudah sesuai dengan nilai ekonomis di lapangan
33 Kondisi sampai dengan saat ini, pelaksanaan DIPA sering menghadapi kendala revisi
34 Kondisi sampai dengan saat ini, satker membuka ruang diskusi dalam pembentukan SOP unit pelaksana
No. Pertanyaan
Nilai/Bobot
Kinerja Harapan
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 35 Kondisi sampai dengan saat ini, satker
mensosialisasikan SOP pada tiap unit pelaksana
36 Kondisi sampai dengan saat ini, SOP hanya sebagai formalitas, jarang dilakukan evaluasi dalam unit pelaksana 37 Kondisi sampai dengan saat ini,
penyerapan anggaran DIPA tergantung dari bobot penyelesaian (UP, TUP, LS) 38 Kondisi sampai dengan saat ini,
penyelesaian revolving tergantung dari kemampuan pembukuan bendahara 39 Kondisi sampai dengan saat ini, SDM,
sarana prasarana menentukan kecepatan revolving dana
40 Kondisi sampai dengan saat ini, pengguna anggaran dan manajemen sudah sepenuhnya mematuhi SOP 41 Kondisi sampai dengan saat ini,
kedisiplinaan pemberkasan kurang, dan lebih banyak mengandalkan angka rekap 42 Kondisi sampai dengan saat ini,
pembukuan bendahara sudah mengacu utuh kepada SILABI dan PMK 190/2012 43 Kondisi sampai dengan saat ini,
pelaporan sudah dilakukan tepat waktu karena proses pembukuan sudah lancer
Pedoman Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Permenkeu No.192/PMK.05/2012 memberikan definisi umum pelaksana APBN : 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan
tahunan pemerintah negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Ralyat (DPR).
2. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksananaan anggaran yang digunakan sebagai acuan pengguna anggaran dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan sebagai pelaksanaan APBN
3. Menteri/Pimpinan Lembaga adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan 4. Pengguna Anggaran (PA) adalah pejabat pemegang penggunaan anggaran
Kementerian Negara/Lembaga
5. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) adalah pejabat yang memperoleh kuasa dari PA untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan
6. KPA dapat mendelegasikan kewenangannya dengan menunjuk :
a. Pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan Pengeluaran Anggaran Belanja/Penanggung Jawab Kegiatan/Pembuat Komitmen;
b. Pejabat yang diberi kewenangan untuk menandatangani SPM/menguji SPP; c. Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam
rangka pelaksanaan anggaran belanja.
Pejabat yang ditunjuk tersebut pada butir (a), (b) dan (c) tidak diperkenankan saling merangkap. Sedangkan Pejabat Kuasa PA dapat merangkap jabatan sebagai Pembuat Komitmen (a) dan Pejabat Penandatangan SPM/Penguji SPP (b), bila dalam hal ini pejabat/pegawai pada satuan kerja (Satker) tidak memungkinkan pemisahan fungsi, sebagaimana dimaksud dalam butir a dan b, tetapi tidak boleh merangkap sebagai Pejabat Bendahara Pengeluaran (c).
Selanjutnya, apabila diperlukan sesuai kebutuhan untuk membantu Bendahara Pengeluaran dalam mengelola uang persediaan dapat ditunjuk Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP), di dalam pelaksanaan tugasnya BPP bertanggung jawab kepada Bendahara Pengeluaran.
Apabila Pejabat Pembuat Komitmen atau pejabat yang ditunjuk sebagai penanggung jawab kegiatan diberikan kewenangan untuk menandatangani semua bukti pengeluaran atas dana yang dikelolanya, maka Pejabat Lampiran 5 Pedoman tata tara pembayaran APBN
Pembuat Komitmen atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan spesimen tanda tangan dan stempel ke KPPN dan Pejabat Penerbit SPM.
Demikian juga dalam hal BPP diberikan kewenangan untuk menandatangani semua bukti pengeluaran atas dana yang dikelolanya, maka BPP menyampaikan spesimen tanda tangan dan stempel ke KPPN dan Pejabat Penerbit SPM.
Mekanisme Pencairan Dana Melalui DIPA
Pengajuan SPP (SPP-UP/SPP-TUP/SPP-GUP/SPP-LS) oleh BPP (dengan persetujuan Penanggung Jawab Kegiatan) ke Bendahara Pengeluaran
1. Bendahara Pengeluaran mengajukan SPP (SPP-UP/SPP-TUP/SPP-GUP/SPP-LS) dengan persetujuan atasan langsung bendahara ke pejabat pembuat SPM (Kepala Bagian Tata Usaha).
2. Kepala Bagian Tata Usaha (sebagai pejabat penerbit SPM) menerbitkan SPM berdasarkan SPP yang diajukan.
3. Berdasarkan SPM (SPM-UP/SPM-TUP, SPM-GUP/SPM-LS) KPPN menerbitkan SP2D.
4. KPPN mentransfer dana kepada bendahara pengeluaran (untuk UP/TUP/GUP) atau langsung kepada pihak ke-3 (LS)
5. Uang dari bendahara pengeluaran di didistribusikan kepada Bendahara Pengeluaran pembantu (BPP) kegiatan.
Secara rinci pencairan dana dapat dikelompokkan menjadi empat cara yaitu: 1. SPP-UP dan SPM-UP (untuk penarikan dana uang persediaan) 2. SPP-TUP dan SPM-TUP (untuk penarikan tambahan uang
persediaan)
3. SPP-GUP dan SPM-GUP (untuk pertanggungjawaban UP/TUP/Ganti Uang)
4. SPP-LS dan SPM-LS (untuk pembayaran langsung)
Akan tetapi prosedur pengajuan SPP dan SPM harus dilakukan secara terpisah dimana penerbitan SPM dilakukan berdasarkan SPP yang diajukan dan telah diperiksa oleh pejabat pemeriksa SPP.
Prinsipnya pencairan dana terdiri dari :
1. Uang muka kerja (UP) dengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving), yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari perkantoran yang tidak dapat dibayarkan melalui pembayaran langsung (LS).
2. Pembayaran langsung kepada pihak ketiga yang diterbitkan oleh PA/KPA atas dasar perjanjian kontrak kerja atau Surat Perintah Kerja.
Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dan tata cara pengajuannya. Setiap permintaan pembayaran dimulai dengan penyiapan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) oleh pejabat yang bertanggung jawab atas aktivitas.
1. Jenis SPP-UP
Batasan pengeluaran / biaya yang dapat dibayar melalui UP tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 134/PMK.06/2005. a. BPP mengajukan rencana kebutuhan kegiatan yang disetujui oleh
dana dalam DIPA. Realisasi atas penggunaan dana ini akan menjadi dasar adanya SPP.
b. SPP-UP harus dilampiri Surat Pernyataan dari Penanggung Jawab Kegiatan yang meyatakan bahwa UP tersebut tidak membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS.
c. SPP-UP diajukan oleh Bendahara Pengeluaran dan penggunaannya menjadi tanggung jawab Bendahara Pengeluaran.
d. Pengisian kembali UP segera setelah UP dimaksud digunakan/dipertanggungjawabkan, sepanjang masih tersedia pagu dalam DIPA serta dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 90% dari dana UP yang diterima.
e. Sisa UP yang masih ada pada Bendahara pada akhir tahun anggaran harus disetor kembali ke Rekening Kas Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. Setoran sisa UP tersebut dilakukan oleh Bendahara kemudian dilaporkan ke KPPN dan akan dibukukan oleh KPPN sesuai mata anggaran yang ditetapkan.
f. UP diberikan untuk pengeluaran–pengeluaran dengan Mata Anggaran Keluaran ( MAK ) sebagai berikut: MAK 512112 Belanja Uang Honorarium Tidak Tetap MAK 521119 Belanja Barang Operasional Lainnya MAK 521211 Belanja Bahan MAK 524112 Belanja Perjalanan Lainnya.
2. Jenis SPP-TUP
a. Sebelum mengajukan SPP-TUP, satker harus mengajukan dispensasi TUP. b. Rincian penggunaan dana TUP dari KPA atau pejabat yang ditunjuk bahwa
dana dimaksud untuk kebutuhan mendesak, serta rincian dana MAK yang dimintakan TUP.
c. Surat pernyataan dari KPA atau pejabat yang ditunjuk bahwa: Dana tambahan tersebut akan habis dalam waktu 1 bulan terhitung sejak diterbitkannya SP2D. Tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran dengan LS. Apabila terdapat sisa dana setelah 1 bulan terhitung sejak tanggal SP2D maka sisa dana tersebut harus disetorkan ke Rekening kas Negara.
d. Apabila ketentuan diatas tidak dipenuhi kepada Satker yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi, yaitu tidak diberikan TUP sepanjang sisa tahun anggaran berkenaan. Pengecualian terhadap kondisi ini dapat diputuskan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan atas usul Kepala KPPN.
e. Rekening Koran yang menunjukkan saldo terakhir. 3. Jenis SPP-GU
Dokumen pendukung untuk mengajukan SPP-GU
a. Lembar A merupakan rekap dari Lembar A dan B yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab Kegiatan, Bendahara Pengeluaran.
b. Lembar B merupakan daftar perincian rekap untuk kuitansi yang ditanda tangani BPP
c. Lembar C merupakan daftar perincian pembayaran secara swakelola yang ditanda tangani oleh BPP
d. Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja merupakan rekap untuk kuitansi yang ditanda tangani BPP dan Penanggung Jawab Kegiatan
4. Jenis SPP-LS
a. Keperluan pembayaran yang pelaksanaannya dilakukan untuk rekanan/pihak ketiga dan/atau atas pembayaran dalam rangka pengadaan barang dan jasa. b. LS diberikan untuk pengeluaran–pengeluaran dengan Mata Anggaran
Keluaran (MAK) sebagai berikut:
MAK 532111 Belanja Modal Peralatan dan mesin
MAK 532112 Belanja Fisik Lainnya
MAK 521119 Belanja Barang Operasional Lainnya
MAK 521211 Belanja Bahan
MAK 524112 Belanja Perjalanan Lainnya c. SPP-LS ini harus memuat:
Nomor dan tanggal DIPA yang dibebankan
Nomor pinjaman/hibah, porsi pembayaran, komponen serta nomor registrasi pinjaman/hibah
Kategori pengeluaran/pinjaman
Nomor dan tanggal kontrak
Nilai kontrak
Jenis/lingkup pekerjaan
Jadwal penyelesaian pekerjaan
Nilai pembayaran yang diminta
Identitas penerima pembayaran (nama orang/perusahaan, alamat, nomor rekening dan nama bank)
Tanggal jatuh tempo pembayaran.
d. SPP-LS dilampiri dengan bukti asli yang sah dalam rangkap tiga (satu asli dan 2 tindasan) sesuai dengan peruntukan pembayaran.
e. Pada setiap tahap proses pengadaan barang dan jasa dan tahap penyelesaian pekerjaan perlu dibuatkan Berita Acara Serah Terima/Penyelesaian Pekerjaan f. Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan harus memuat
sekurang-kurangnya
Identitas pekerjaan (yang meliputi kantor/satuan kerja pengelola pekerjaan)
Nomor dan tanggal kontrak kerja, tempat/lokasi pekerjaan
Besar nilai kontrak, nomor dan tanggal DIPA yang menjadi dasar pembuatan dan/atau ditunjuk dalam kontrak
Tahap penyelesaian pekerjaan (termin)
Pernyataan kesaksian atas prestasi kerja yang telah diselesaikan
Rekomendasi pembayaran hak/tagihan atas penyelesaian pekerjaan g. Berita Acara yang dilampirkan bersama SPP-LS dibuat rangkap 6:
Asli dan dua tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak.
Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan.
Surat Perintah Membayar (SPM) dan tata cara pengajuannya
1. Jenis SPM-TU
a. SPM-TU harus diterbitkan selambat-lambatnya 1 hari kerja sejak diterimanya SPP-TU berkenaan.
b. Setelah melakukan pengujian SPP, SPM diterbitkan sekurang-kurangnya dalam 4 rangkap dengan distribusi sebagai berikut:
Lembar 1 : KPPN pembayar
Lembar 3 : Satker yang bersangkutan
Lembar 4 : Arsip PP-SPM 2. Jenis SPM-GU
a. SPM-GU diterbitkan atas nama KPA atas beban masing-masing MAK sesuai dengan sifat pengeluaran
b. SPM-GU hanya dapat diterbitkan apabila untuk pengeluaran tersebut tersedia kredit anggaran untuk masing-masing MAK dalam DIPA/SKO bersangkutan c. Setelah melakukan pengujian SPP, SPM diterbitkan sekurang-kurangnya
dalam 4 rangkap dengan distribusi sebagai berikut:
Lembar 1 : KPPN pembayar
Lembar 2 : KPPN pembayar
Lembar 3 : Satker yang bersangkutan
Lembar 4 : Arsip PP-SPM 3. Jenis SPM-LS
a. SPM-LS dibuat atas beban MAK yang tersedia kreditnya pada DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. b. SPM-LS diterbitkan atas beban APBN dilakukan selambat-lambatnya 1 hari
kerja sejak SPP diterima oleh penerbit SPM.
c. Setelah melakukan pengujian SPP, SPM diterbitkan sekurang-kurangnya dalam 4 rangkap distribusi sebagai berikut:
Lembar 1 : KPPN pembayar
Lembar 2 : KPPN pembayar
Lembar 3 : Satker yang bersangkutan
Lembar 4 : Arsip PP-SPM
d. SPM-LS dinyatakan sah apabila sudah ditandatangani oleh PP-SPM serta didukung oleh bukti-bukti pengeluaran yang telah disetujui dan ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang.
e. Kriteria penerbitan SPM-LS untuk pengadaan barang dan jasa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Dokumen kontrak harus meenuhi syarat-syarat dalam pembuatan dokumen kontrak
Pembayaran uang muka harus dicantumkan dalam kontrak serta melampirkan jaminan bank yang masih berlaku
Pembayaran kontrak harus sesuai prestasi penyelesaian pekerjaan dengan sistem termin dengan memperhitungkan besarnya uang muka yang telah dibayar dan kewajiban perpajakan.
Surat Perintah Pencairan Dana Membayar (SP2D) dan Tata Cara Pengajuannya
Tata cara, syarat dan ketentuan pengajuan masing-masing jenis SPP diuraikan pada users guide/peraturan yang berlaku. Tata cara pengajuannya:
1. Penerbitan SP2D dilakukan setelah melewati tahap pengujian sebagai berikut: a. Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM
b. Menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut
c. Menguji dokumen sebagai dasar penagihan (kontrak, SPK, dan lain-lain) d. Menguji bukti pengeluaran dan/atau SPTB dari Kepala Kantor/Satker atau
pelaksanaan pembayaran. e. Faktur pajak beserta SSP-nya
f. Mencocokkan tanda tangan PP-SPM (berdasarkan contoh/spesimen)
g. Memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf (termasuk tidak boleh cacat dalam penulisan)
2. Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut :
a. SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat 1 hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.
b. SP2D ditandatangani oleh Seksi Perbendaharaan dan Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum.
c. SP2D diterbitkan dalam 3 rangkap dan didistribusikan sebagai berikut:
Lembar 1 : Bank Operasional
Lembar 2 : Penerbit SPM dengan dilampiri SPM yang telah dibubuhi cap “Telah diterbitkan SP2D tanggal … Nomor..”
Lembar 3 : Arsip KPPN (Seksi Verifikasi dan Akuntansi) dilengkapi SPM asli dari Satker yang bersangkutan beserta bukti-bukti pengeluaran asli.
Lampiran 6 Mekanisme pencairan dana APBN
Keterangan :
PPSPM : Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar BPP : Bendahara Pengeluaran Pembantu
KPPN : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara SP2D : Surat Perintah Pembayaran Dana Sumber : Permenkeu 190/PMK/2012
Lampiran 7 Matrik penelitian terdahulu No. Nama
Peneliti Judul Penelitian Jenis Metode Hasil Penelitian
Relevansi dengan Penelitian 1 Gagan Gania Nursaadi Evaluasi efektivitas peran manajemen sumber daya manusia strategik di Bank XYZ Tesis Penelitian deskriptif evaluativ dengan dua teknik pengumpulan data adalah kuesioner dan observasi. dengan metode Important Performance Analysis. Kinerja MSDM Bank XYZ belum efektif dibeberapa indicator dari kriteria evaluasi
Penelitian Nursaadi GG, (2015) menggunakan analisis kualitatif dan kuantitif dengan metode
Importance Performance Analysis 2 Arsyiati, Darwanis, Muslim A. Djalil Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia dalam pengelolaan keuangan terhadap kualitas pertanggungjawaban keuangan PNBP dalam upaya meningkatkan kinerja instansi pada Universitas Syiah Kuala Jurnal Penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan path analysis Pengaruh kualitas SDM dalam pengelolaan keuangan terhadap kualitas pertanggungjawaban keuangan dilihat dari nilai signifikansi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan, namun pengaruh kualitas SDM dalam pengelolaan keuangan dan pertanggungjawaban keuangan berpengaruh terhadap kinerja instansi pada Unsyiah
Penelitian dari Arsyiati,
et. al. (2008) memiliki tujuan untuk mengetahui tentang hubungan kualitas sumber daya manusia dalam pengelolaan keuangan dengan kualitas pertanggungjawaban keuangan sebagai variabel independen. Varaibel dependen dari penelitian ini kualitas SDM dan akuntabilitas dan efektivitas menjadi variable independen 3 H. Asbeni, Ahmad Tohardi, Rusdiono Implementasi system penjaminan mutu internal perguruan tinggi (suatu studi tentang standard operasional prosedur) di Politeknik Negeri Sambas Jurnal Penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi dokumentasi, wawancara dan observasi
Penerapan SOP belum melalui tahapan prosedur kerja sesuai dengan standard yang telah ditetapkan dalam dokumen SOP dan proses implementasi SPMI yang dijalankan POLTESA dan belum dilaksanakan secara maksimal sesuai dengan pedoman SPMI
Penelitian dari Asbeni, et. al. (2013) untuk mengamati proses implementasi Standar Operasional Prosedur 4 Made Dwi Setyadhi Mustika Analisis Strategi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dalam upaya pengentasan kemiskinan di Kecamatan Nusa Penida Jurnal Penelitian kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif dan SWOT Analisis indikator variable kualitas sumber daya manusia (SDM) memberikan hasil dari beberapa indicator yang dianalisis, menunjukkan kualitas SDM berkaitan dengan kondisi kehidupan mereka sendiri, Analisis SWOT yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa desa batukandik memiliki berbagai kekuatan yang bias dimanfaatkan dalam usaha pengentasan kemiskinan
Peneliatian dari Mustika MDS, (2013) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan indikator sebagai berikut: (a) kecerdasan, (b) inisiatif, (c) kepribadian, (d) adil, (e) keahlian, (f) pandangan. Penelitian ini juga menggambarkan kondisi dan evaluasi suatu masalah menggunakan metode SWOT
La mpi ra n 8 Ma trik ki ne rja pe laksa na an pe n eli ti an