• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Kajian Pengembangan Pembibitan Sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Februari 2009

Rajab

RAJAB. Study of Development of Bali Cattle at Kabupaten Raja Ampat in West Papua Province. Supervised by RONNY R. NOOR, SUBANDRIYO , and CHALID TALIB.

Kabupaten Raja Ampat is a region that has not been able to provide meat for of local people, so that the dependency on replacement stock, high level of breeding value cattle, as well as animal p roducts from outside the region is very high. This study aims to characterize and to evaluate the existing breeding program of Bali cattle that have been run by a breeder at the Raja Ampat regency , including the various aspect that influence in the implementation of the program. The Study was conducted using the method of the survey of 218 breeders and 314 samples of Bali cattle began in August until November 2008 at North Canton Salawati. The Results indicate that the maintenance of Bali cattle are extensi ve traditional, with a low level of implementation of good farming practices technology. Level of knowledge, motivation and participation or farmers are still low (score <25). Body size and body weight of cattle in the district Raja Ampat were lower when compared with the population of Bali cattle in Bali Province and BPTP Naibonat, NTT (P <0.05). It is suggested that in the implementation of the program in the future, the government in this case UPTD -Peternakan Raja Ampat role as the upper tier should acti vely include farmer as the lower tier to prioritize the program such as the increased knowledge and breeder farm workers through training, counseling, or internships.

RAJAB. Kajian Pengembangan Pembibitan Sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Dibimbing oleh RONNY R. NOOR, SUBANDRIYO , dan CHALID TALIB.

Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah yang belum mampu menyediakan bahan pangan asal ternak untuk memenuhi kebutuhan ko nsumsi masyarakatnya, sehingga ketergantungan penyediaan ternak dan bahan pangan asal ternak dari luar daerah sangat tinggi, terutama terhadap ternak penghasil daging. Salah satu potensi subsektor peternakan khususnya peternakan sapi potong yang cocok unt uk dikembangkan di Kabupaten Raja Ampat adalah peternakan sapi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk m elakukan karakterisasi dan studi kekerabatan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat serta menyusun strategi pengembangan pembibitan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat.

Penelitian ini dilakukan pada Kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan Distrik Salawati Utara, selama Agustus sampai November 2008. Pengumpulan data dilakukan dengan metode surve y terhadap 314 contoh ternak dan 218 peternak responden. Data yang diperoleh terdiri atas : (1) data primer, merupakan data hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan serta wawancara langsung pada peternak dan (2) data sekunder. Data karakteristik peternak dan program pem bibitan ternak dianalisis secara deskriptif. Perbandingan skor nilai partisipasi, pengetahuan dan motivasi peternak dalam kegiatan pembibitan meng gunakan metode uji Mann -Whitney. Karakteristik sifat kuantitatif sapi Bali dianalisis dengan metode analisis statistik deskriptif, sedangkan analisis perbandingan dengan beberapa populasi sapi Bali di luar Kabupaten, dalam hal ini dibandingkan dengan populasi sapi Bali di Provinsi Bali (P3Bali) dan NTT menggunakan uji t. Analisis jarak genetik menggunakan fungsi diskriminan . Hasil Perhitungan jarak genetik kemudian dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan software MEGA untuk mendapatkan grafik dendrogram. Strategi pengembangan pembibitan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat dirumuskan menggunakanAnalytical Hierarchy Process(AHP).

Berdasarkan hasil survey dan analisis peningkatan populasi dapat mencapai 28.779,6 satuan ternak. Hasil wawancara dengan peternak menu njukkan bahwa pada umumnya sistem pemeliharaan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat masih menggunakan sistem tradisional ekstensif sehingga kebutuhan pakan ternak seluruhnya tergantung pada hijauan yang dikonsumsi oleh ternak itu sendiri. Pemanfaatan teknologi budidaya sapi oleh peternak sebesar 14,29%, 4,24% dan 3,49% masing-masing di Kampung Sakabu, Kalobo dan Waijan.

Data karakteristik peternak sapi Bali pada lokas i penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (>75% responden) umur peternak berkisar antara 15 – 55 tahun, sedangkan di bawah 15 tahun atau di atas 55 tahun kurang dari 30%. Tingkat pendidikan peternak beragam, dengan didominasi oleh tingkat SD (57 -76%), sedangkan tingkat Perguruan Tinggi (PT) masih yang terendah (1 -2%). Pekerjaan pokok peternak adalah sebagai petani atau nelayan, masih menternakkan sapi Bali sebagai usaha sambilan dan baru 5% peternak di Kampung Kalobo yang menjadikannya usaha pokok. Sapi Bali dipelihara dengan tujuan sebagai tabungan/tambahan penghasilan . Pengalaman peternak sebagian

masing berkisar 7-11% dan 46-55% dengan rasio jantan dan betina 4,27 -5,0. Jumlah jantan dewasa cukup tinggi karena digunakan sebagai pejantan untuk mengawini induk di padang pengembalaan se cara kawin alam. Jumlah betina juga cukup tinggi dalam populasi karena diharapkan dapat menghasilkan anak sapi yang kemudian dijadikan sebagai ternak pengganti (replacement stock) sementara sebagian ternak dewasa dijual oleh peternak.

Skor nilai pengetahuan, motivasi dan partisipasi peternak sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat menu njukkan bahwa peternak sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat memiliki nilai skor yang masih rendah (< 2 5,0) tentang program pembibitan. Kenaikan populasi sebesar 44% per tahun. Persent ase kelahiran sapi Bali berkisar antara 24 sampai 29% dari total populasi. Persentase kematian ternak masih cukup tinggi yaitu berkisar 2 sampai 6% per tahun. Jumlah pengeluaran dan pemotongan mencapai 44% setiap tahunnya, yang berarti jumlah ini cenderung melampaui angka pertambahan populasi setiap tahunnya dan jika tidak ditanggulangi maka akan terjadi pengurasan populasi yang signifikan. Angka pengeluaran dan pemotongan ternak yang cukup besar menu njukkan tingginya tingkat permintaan daging masyarakat Ka bupaten Raja Ampat dan Kabupaten sekitarnya di Papua Barat dan Papua terutama Kabupaten Sorong.

Sapi Bali yang banyak memiliki warna bulu merah bata mengkilap terdapat di Kampung kalobo yaitu sebesar 64%, sedangkan Kampung Sakabu dan Waijan memiliki ternak sapi Bali dengan warna bulu merah bata yang memudar lebih banyak masing–masing 83% dan 53%, hal ini mungkin disebabkan oleh proses silang dalam atau rendahnya penerapan tatalaksana pemeliharaan oleh peternak. Karakteristik ukuran tubuh dan bobot badan sap i Bali di Kabupaten Raja Ampat untuk hampir semua kategori umur dan jenis kelamin masih rendah, terutama disebabkan oleh perbedaan sistem pemeliharaan dan ‘seleksi negatif’ sehingga kemungkinan telah terjadi penurunan performa ukuran tubuh dan bobot bada n sapi Bali Kabupaten Raja Ampat yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan sapi Bali murni di Pulau Bali dan NTT (P<0,05) . Hasil analisis jarak genetik sapi Bali antar kampung di Kabupaten Raja Ampat menu njukkan bahwa antara sapi Bali di Kampung Kalobo dan Waijan memiliki jarak genetik yang lebih dekat bila dibandingkan dengan sapi Bali di Sakabu. Jarak genetik sapi Bali antar Kabupaten memperlihatkan bahwa sapi Bali di kabupaten Raja Ampat memiliki jarak genetik yang lebih dekat dengan sapi Bali di B PTP Naibonat, NTT dibanding sapi Bali pada 10 Kabupaten di Provinsi Bali.

Rendahnya kualitas SDM peternak menjadi prioritas untuk lebih ditingkatkan melalui penyuluhan, pelatihan atau magang jika ingin program pembibitan berjalan baik di masa mendatang. P rogram pembibitan akan berhasil bila kondisi sosial budaya pete rnak dipertimbangkan dalam tujuan pemuliaan. Kegagalan program perbaikan mutu genetik te rnak di negara-negara berkembang umumnya karena direncanakan oleh pemerintah tanpa melibatkan dan mempertimbangkan apa yang diperlukan oleh pete rnak.

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

PROVINSI PAPUA BARAT

RAJAB

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Ternak

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

NIM : D051060191

Disetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, M .Rur.Sc Ketua

Prof(R). Dr. Ir. Subandriyo, M .Sc, APU Dr. Ir. Chalid Talib, M.S

Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Ternak

Dr. Ir. Rarah R. A. Maheswari, DEA Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M .S

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini telah diselesaikan dengan semaksimal mungkin. Kajian yang diangkat dalam penelitian ini dengan topik ”Pengembangan pembibitan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat”.

Permasalahan ini diangkat berdasarkan keinginan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk pengembangan subsektor peternakan khususnya sapi Bali sebagai sumber produksi daging di daerah tersebut. Menggapai maksud ini maka dengan dana dari pemerintah telah dibangun Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD)-Bidang Peternakan, dengan salah satu tugasnya adalah mengembangkan ternak sapi potong seperti sapi Bali. Disebabkan kurangnya informasi pengembangan peternakan sapi Bali yang tersedia maka perlu dilakukan suatu penelitian tentang berbagai aspek yang mempengaruhi perkembangan sapi Bali, salah satunya adalah program pengembangan pemuliaan ( pembibitan).

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampa ikan terima kasih kepada Bpk Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, M.Rur.Sc, Prof(R). Dr. Ir. Subandriyo, M.Sc, APU dan Dr. Ir. Chalid Talib, MS atas waktu dan kesediaannya memberikan informasi, bimbingan dan saran untuk kelayakan tesis ini . Terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada CV Arya Timur Graha, Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Raja Ampat atas bantuan dana penelitian.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2009

Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 22 Juni 1977 dari ayah La Usman dan ibu Wa Suminah. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Tahun 1995 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Ambon dan pada tahun yang sama lulus masuk Universitas Pattimura Ambon pada Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Akibat konflik sosial yang terjadi di Ambon tahun 1999, maka pada tahun 2000 penulis bermutasi ke Program Studi Produksi Ternak, Fakultas Pertanian Universitas Hal uoleo Kendari, dan lulus tahun 2001. Pada tahun 2003 penulis diterima sebagai staf pengajar pada Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, dan selanjutnya tahun 2006 diterima sebagai mahasiswa Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan tahun 2007 penulis mutasi ke Program Studi Ilmu Ternak Fakultas Peternakan IPB . Sponsor biaya pendidikan pascasarjana diperoleh dari Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) Departemen Pendidikan Nasional.

DAFTAR TABEL ……… vi

DAFTAR GAMBAR ……… ……… vii

DAFTARLAMPIRAN .……….. viii

PENDAHULUAN …….……….. 1

Latar Belakang ………... 1

Tujuan Penelitian ..……….. 3 Manfaat Penelitian ……….. 3

TINJAUAN PUSTAKA ……… …….. 4

Sapi Bali dan Karakteristiknya ………... 4 Produktivitas Sapi Bali……… 5 Potensi Pengembangan Sapi Bali ……… 7 Parameter Genetik Sapi Bali ………... 9 Pola Pemuliaan (Breeding Scheme) ……… 10 Program Pemuliaan Berkelanjutan ………. 13

METODE PENELITIAN ………. 15

Tempat dan Waktu Penelitian ……… 15

Bahan dan Alat ……… 15

Metode Pengumpulan Data………. 15

Peubah Penelitian ……… 17

Analisis Data ……….. 18

HASIL DAN PEMBAHASAN ……… 21

Keadaan Umum Lokasi Penelitian ………. 21 Karakteristik Peternak ……… 25 Pengetahuan, Motivasi dan Partisipasi Peternak ……… 27 Dinamika Populasi Sapi Bali ……….. 29 Karakteristik Fenotip Sapi Bali ……… 31

Warna Bulu ………... 31

Karakteristik Sifat Kuantitatif ……….. 32 Analisis Jarak Genetik ……… 43 Program Pembibitan ………... 45 Strategi Pembibitan pada Tahun Mendatang dan Rekomendasi

untuk Pengembangan Pembibitan Sapi Bali di Kabupaten Raja

Ampat……….. 50

KESIMPULAN DAN SARAN ……… 53

DAFTAR PUSTAKA ……….. 54

1 Rataan persentase kelahiran, kematian dan calf cropbeberapa sapi potong di Indonesia ……… ……… 6 2 Penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi di

Indonesia ... ... 6 3 Heritabilitas beberapa sifat penting pada sapi Bali ………. 9 4 Hasil analisis regresi stepwise antara bobot badan dan ukuran

tubuh sapi Bali di Provinsi Bali ……….. 16 5 Skala banding berpasangan ……… ……. 20 6 Keadaan umum lokasi penelitian ……… 21 7 Aspek teknis pemeliharaan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat …… 23 8 Fasilitas sarana dan prasara na (infrastruktur) layanan peternakan …. 24 9 Potensi peternakan sapi potong di Kabupaten Raja Ampat menurut

persepsi dan aspirasi masyarakat ……… ………… 24 10 Karakteristik peternak sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat ………... 26 11 Hasil uji Mann-Whitney skor pengetahuan, motivasi dan

partisipasi peternak di Kabupaten Raja Ampat dalam kegiatan pembibitan sapi Bali……… … 28 12 Populasi sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat tahun 2005 -2008……. 29 13 Perkembangan populasi, kelahiran, kematian, pemasukan,

pengeluaran, pemotongan dan produksi daging sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat tahun 2005 -2008 ……….. 29 14 Karakterisitik warna bulu sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat …….. 31 15 Rataan±simpangan baku dan hasil uji -t karakteristik sifat

kuantitatif sapi Bali umur ≤1 tahun (gigi I0) antar kampung di Kabupaten Raja Ampat ………... 33 16 Rataan±simpangan baku dan hasil uji -t karakteristik sifat

kuantitatif sapi Bali umur > 1 sampai ≤ 2 tahun (gigi I1) antar kampung di Kabupaten Raja Ampat ………... 34 17 Rataan±simpangan baku dan hasil uji -t karakteristik sifat

kuantitatif sapi Bali umur > 2 tahun (gigi I2) antar kampung di

Kabupaten Raja Ampat ……….. 35

18 Struktur total kanonik ukuran -ukuran tubuh sapi Bali antar kampung di Kabupaten Raja Ampat ………... 44 19 Struktur total kanonik ukuran -ukuran tubuh sapi Bali Kabupaten Raja

Ampat, 10 Kabupaten di Provinsi Bali, dan BPTP Naibonat, NTT…. 44 20 Vektor prioritas faktor yang menentukan dalam program

1 Sapi Bali ……… ……. 4 2 Metode pengukuran ukuran-ukuran tubuh sapi ……….. 16 3 Histogram karakteristik sifat kuantitatif sapi Bali jantan umur ≤ 1

tahun (gigi I0) antar Kabupaten Raja Ampat, 10 Kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT ……… ……… 36 4 Histogram karakteristik sifat kuantita tif sapi Bali betina umur ≤ 1

tahun (gigi I0) antar Kabupaten Raja Ampat, 10 Kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT ………... 37 5 Histogram karakteristik sifat kuantita tif sapi Bali jantan umur > 1

tahun sampai ≤ 2 tahun (gigi I1) antar Kabupaten Raja Ampat, 10 Kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT ………. 38 6 Histogram karakteristik sifat kuantitatif sapi Bali betina umur > 1

tahun sampai ≤ 2 tahun (gigi I1) antar 10 Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT ………... 39 7 Histogram karakteristik sifat kuantita tif sapi Bali jantan umur > 2

tahun (gigi I2) antar Kabupaten Raja Ampat, 10 Kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT……… ……… 40 8 Histogram karakteristik sifat kuantita tif sapi Bali betina umur > 2

tahun (gigi I2) antar Kabupaten Raja Ampat, 10 Kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT……… ……… 41 9 Dendrogram jarak Genetik Sapi Bali Antar Kampung di Kabupaten

Raja Ampat ……… ………. 45

10 Dendrogram Jarak Genetik Sapi Bali Antara Kabupaten Raja Ampat, 10 Kabupaten di Provinsi Bali dan BPTP Naibonat NTT…… 45

Halaman

1 Peta lokasi penelitian ……… … 63 2 Korelasi antara bobot badan dan ukuran tubuh sapi Bali di

Provinsi Bali ………. 64

3 Aspek agroklimat wilayah penelitian……… 65 4 Kondisi topografi, tanah dan hidrologi wilayah penelitian ………….. 65 5 Kondisi potensi wilayah dan daya dukung lahan bagi

pengembangan sapi Bali pada wilayah penelitian ……… 66 6 Hasil analisis deskriptif karakteristik sapi Bali di Kabupaten Raja

Ampat menggunakan softwareMinitab 14.0 ……….. 67 7 Hasil analisis deskriptif karakteristik sapi Bali Kabupaten Raja

Ampat, 10 Kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT

menggunakansoftwareMinitab 14.0……… 70 8 Hasil analisis diskrimina n karakteristik sapi Bali di Kabupaten

Raja Ampat menggunakan softwareMinitab 14.0 ……….. 80 9 Hasil analisis diskriminan karakteristik sapi Bali Kabupaten Raja

Ampat, 10 kabupaten di Bali dan BPTP Naibonat, NTT

menggunakansoftwareMinitab 14.0……… 81 10 Hasil analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) Pola

Pembibitan Sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat menggunakan

Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang No. 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Baru Hasil Pemekaran, Kabupaten Raja Ampat merupakan pemekaran dari Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat pada tanggal 9 Mei 2003. Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari kurang lebih 600 pulau besar dan kecil, dan jumlah penduduknya kurang lebih 31.263 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 5,14 jiwa per km2 (Bappeda Raja Ampat 2006) . Daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang tinggi dan belum dimanfaatkan secara optimal sehingga sangat dibutuhkan perencanaan pembangunan yang strategis dan terarah untuk memanfaatkan sumber daya alam tersebut secara arif dan bijaksana demi kesejahteraan masyarakat umumnya dan Raja Ampat khu susnya.

Salah satu misi Pemerintah Kabupaten Raja Ampat adalah "Peningkatan Kualitas dan Produkti vitas Sumber Daya Manusia Raja Ampat" agar berperan aktif dalam menunjang pelaksanaan pembangunan. Faktor yang mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia salah satunya adalah tersedianya bahan pangan yang mengandung protein asal ternak, sedangkan hampir 70% masyarakat Indonesia mengkonsumsi bahan pangan asal ternak dibawah standar kecukupan gizi. Rendahnya konsumsi protein hewani oleh masyarakat, antara lain disebabkan oleh produksi bahan pangan asal ternak yang tidak mampu mengimbangi laju pertambahan penduduk, di samping daya beli masyarakat yang masih rendah (Alimet al.2004).

Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah yang belum mampu menyediakan bahan pangan asal ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakatnya, sehingga ketergantungan penyediaan ternak dan bahan pangan asal ternak dari luar daerah sangat tinggi, terutama terhadap ternak penghasil daging. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani asal daging masih sangat bergantung dari luar daerah. Populasi sapi Bali sebagai sumber penghasil daging di Kabupaten Raja Ampat sampai dengan tahun 2007 berjumlah 923 ekor dengan jumlah terbesar yaitu 842 ekor berada di Distrik Salawati Utara (Samate) (Distannakbun Raja Ampat 2007).

Daging merupakan komoditas utama pada usaha sapi potong rakyat. Menghasilkan daging yang bermutu baik perlu dilakukan usaha pembibitan sapi potong dengan melaksanakan seleksi dan perkawinan silang antara sapi lokal dengan sapi potong lainnya yang memiliki potensi untuk menghasilkan pertumbuhan optimal dan produksi daging yang bernilai ekonomis tinggi. Bila usaha pengembangan pe mbibitan ternak sapi potong telah memasyarakat di tingkat petani-peternak, maka kebutuhan konsumsi mas yarakat terhadap daging sapi akan terpenuhi dan ketergantungan penyediaannya terhadap daerah lain secara bertahap akan berkurang, sehingga perlu dikembangkan usaha ternak sapi potong dengan berbagai pola kerjasama dan kemitraan. Melalui upaya ini, diharapk an di masa mendatang kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap daging sapi dapat terpenuhi melalui produksi yang dihasilkan oleh daerah sendiri.

Salah satu potensi subsektor peternakan khususnya peternakan sapi potong yang cocok untuk dikembangkan di Kabupaten Raja Ampat adalah peternakan sapi Bali, hal ini karena sesuai dengan kondisi wilayahnya yang luas dengan jumlah penduduk yang menyebar. Bangsa sapi Bali merupakan ternak lokal yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan iklim tropis yang panas. Jenis sapi ini telah terbiasa dengan caplak sapi (cattle ticks) sehingga telah memiliki kekebalan (imunitas) alami terhadap penyakit infeksi yang ditularkan oleh caplak (Wiyono & Aryogi 2007) . Sapi Bali umumnya dipelihara oleh penduduk transmigran asal Jawa dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan hanya bersifat sampingan. Di samping itu potensi pemasaran daging sapi mempunyai peluang yang sangat besar dengan adanya perusahaan -perusahaan pertambangan besar di sekitar wilayah Kabupaten Raja Ampat yang siap meneri ma pasokan daging sapi. Melihat kondisi ini maka sangat diperlukan adanya program -program pengembangan dan peningkatan produk tivitas peternakan, termasuk program pengembangan pemuliabiakkan (pembibitan) sapi Bali yang tepat sehingga berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Raja Ampat dan pendapatan asli daerah (PAD).

Bentuk upaya pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk mengembang kan subsektor peternakan adalah dengan mulai dibangunnya sarana dan prasarana

peternakan khususnya untuk peng embangan ternak sapi potong ( sapi Bali) yang merupakan cikal bakal dib entuknya suatu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Bidang Peternakan. Agar sesuai dengan hara pan untuk membentuk suatu UPTD -Peternakan khususnya untuk pengembangan ternak sapi Bali, maka perlu adanya suatu kajian dan perencanaan teknis yang tepat mengenai pengembangan kawasan UPTD peternakan sapi Bali tersebut sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kawasan Pengembangan Ekonomi Kabupaten Raja Ampat. Kajian pengembangan peternakan sapi Bali meliputi aspek : (1) pemuliabiakkan (pembibitan), (2) produktivitas ternak dan analisis potensi wilayah pengembangan sapi Bali dan (3) analisis finansial dan kelayakan usaha pengembangan sapi Bali. Berdasarkan hal ini maka dilakukan suatu penelitia n tentang kajian pengembangan pembibitan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Melakukan karakterisasi sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat terutama karakterisasi fenotip dari sifat kuantitatif.

2. Melakukan studi kekerabatan populasi sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat dengan populasi sapi Bali di daerah lainnya.

3. Mengkaji program pembibitan sapi Bali yang telah dijalankan oleh peternak di Kabupaten Raja Ampat, termasuk berbagai aspek yang berpengaruh da lam pelaksanaan program pem bibitan tersebut.

4. Menyusun strategi pengembangan pembibitan sapi Bali di Kabupaten Raja Ampat.

Dokumen terkait