(Studi Kasus Desa Binalatung Kecamatan Tarakan Timur)
DORI RACHMAWANI
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Megister Sains Pada
Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
”Sungguh, tidak ada suatu keyakinan kecuali
Di dalamnya terkandung keraguan ”
(Ibrahim Al-Nazhzham)
Dengan ini, saya menyatakan bahwa Tesis Kajian Pengelolaan Ekosistem Mangrove Secara Berkelanjutan Kota Tarakan Kalimantan Timur (Studi Kasus Desa Binalatung Kecamatan Tarakan Timur) adalah karya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir Tesis ini.
Bogor, Agustus 2007
Dori Rachmawani C251040301
Judul Tesis Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi : : : :
Kajian Pengelolaan Ekosistem Mangrove Secara Berkelanjutan Kota Tarakan Kalimantan Timur (Studi Kasus Desa Binalatung Kecamatan Tarakan Timur)
Dori Rachmawani
C251040301
Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
Disetujui, Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc Ketua
Ir. Gatot Yulianto, M.Si Anggota
Diketahui,
Ketua Departemen
Manajemen Sumberdaya Perairan
Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc
Dekan Sekolah Pacasarjana
Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS
Berkelanjutan Kota Tarakan Kalimantan Timur (Studi Kasus Desa Binalatung Kecamatan Tarakan Timur). Dibimbing oleh FREDINAN YULIANDA dan GATOT YULIANTO.
Potensi sumberdaya pesisir Kota Tarakan, hingga saat ini belum mengalami pengelolaan yang optimal. Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu potensi yang dimiliki, dan saat ini mengalami degradasi yang sangat tinggi. Kondisi tersebut akan berdampak terhadap keberlanjutan pembangunan di masa yang akan datang. Pengelolaan sumberdaya secara optimal dan berkelanjutan akan memberikan manfaat terhadap masyarakat (welfare society) dan manfaat terhadap negara (welfare state). Tujuan penelitian yaitu 1) Mengetahui potensi dan permasalahan pemanfaatan ekosistem hutan mangrove, 2) Merumuskan alternatif pengelolaan ekosistem hutan mangrove. Penelitian ini bersifat studi kasus (case study) dengan mengambil data primer dan data sekunder. Analisis yang dilakukan adalah analisis potensi biofisik, analisis NET (nilai ekonomi total) dan analisis MCDM (multy criteria decision making). Hasil penelitian diperoleh bahwa nilai kerapatan relatif jenis (RDi) api-api (Avicennia
sp) sebesar 51,37% dan prepat (Sonneratia sp) sebesar 48,63%, nilai frekuensi relatif jenis (RFi) api-api (Avicennia sp) sebesar 50% dan prepat (Sonneratia sp) sebesar 50%, nilai penutupan relatif jenis (RCi) api-api (Avicennia sp) sebesar 49,86% dan prepat (Sonneratia sp) sebesar 50,14%, berdasarkan hasil tersebut diperoleh bahwa peranan api-api (Avicennia sp) lebih dominan dalam ekosistem dibanding dengan jenis prepat (Sonneratia sp) dengan indeks nilai penting (INP) untuk api-api (Avicennia sp) sebesar 151,23 dan prepat (Sonneratia sp) sebesar 148,77. Nilai ekonomi total (NET) diperoleh Rp.1.112.305.240. Hasil pengamatan dan pengukuran diperoleh bahwa penyebab utama terjadinya degradasi hutan mangrove yakni sedimentasi di muara sungai dan genangan air tawar yang tinggi. Untuk itu diperlukan alternatif pengelolaan ekosistem hutan mangrove kedepan. Berdasarkan hasil analisis MCDM diperoleh bahwa program rehabilitasi kawasan hutan mangrove merupakan alternatif utama dengan nilai keputusan 0,525, dan alternatif kedua yakni program pengelolaan DAS dengan nilai keputusan 0,418.
ABSTRACT
DORI RACHMAWANI. Sustainable Mangrove Ecosystem Management Study in the Tarakan City of East Kalimantan (Case Study Binalatung Village, Tarakan Timur Sub District). Under Supervisor of FREDINAN YULIANDA and GATOT YULIANTO.
Potency of coastal resources in the Tarakan City, until right now utalization unoptimalize. The mangrove ecosystem is potency there, and curently has degradation happened highly. The condition will be effect of sustainable development to the future. Resources management by optimal and sustainable will give benefit to community (welfare society) and well being to state (welfare state). The research aims were: 1) to know of potency and utilization problem of mangrove acosystem, 2) to alternative formulate of mangrove ecosystem management. The research is case study by use primer and secunder data. The method analysis used were biofisic potency analysis, total economic value (TEV), and multy criteria decision making analysis. The results of research were value of species relative density (RDi) Avicennia sp is 51.37% and Sonneratia sp is 48.63%, value of species relative frekuency (RFi) Avicennia sp is 50% Sonneratia
sp is 50%, value of species relative covered (RCi) Avicennia sp is 49.86%
Sonneratia sp is 50.14%, based on the resulsts so that found is contirbution of
Avicennia sp is dominant more on mangrove ecosystem with important value index (INP) of Avicennia sp is 151,23 and Sonneratia sp is 148,77. The Total Economic Value (TEV) is Rp.1.112.305.240. The results observation and analyze found that is primery factor of degradation of mangrove ecosystem were sedimention and freshwater fully. The alternative of mangrove ecosystem management to the future based on of results from MCDM analysis were rehabilition programe and DAS management programe.
Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007 Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam Bentuk apapun, baik cetak, fotocopy, microfilm dan sebagainya
PRAKATA
ALLHAMDULILLAH...,Segala puji dan syukur dihaturkan kepada Sumber daripada Kebenaran, Penggiat Semangat, Maha Penolong, Terbaik Sandaran, Maha Pemberi Hidayah, Maha Penyayang, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala karena berkat-NYA penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan hasil penelitian ini. Penelitian yang berisi tentang informasi pengelolaan ekosistem mangrove di daerah pesisir pulau Kota Tarakan kajian studi kasus Desa Binalatung. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan tertinggi yang tak ternilai kepada :
1. Yth Bapak Dr. Fredinan Yulianda dan Bapak Gatot Yulianto, M.Si selaku ketua dan anggota komisi pembimbing, atas keikhlasan waktu, kesabaran, bimbingan, nasehat, arahan serta dorongan selama perencanaan, pelaksanaan hingga penulisan hasil penelitian
2. Yth Bapak Dr. Unggul Aktani selaku penguji, atas waktu, kritik dan saran 3. Yth Bapak Prof. Ismudi Muchsin, Dr. Ernan Rustiadi dan Dr. Jhon I
Pariwono yang telah memberikan semangat pada penulis untuk menyelesaikan studi
4. Yth Bapak Prof. Rohmin Dahuri, selaku Ketua Program Studi Pengelolan Sumberdaya Pesisir dan Lautan beserta staff Dosen dan staff Tata Usaha 5. Ayahnda H. Saukani Daik, MM dan Ibunda Hj. Nur Asyikin, M.Si, kakanda
Rachmawati, S.Sos dan Muhammad Yusuf Halim, M.Si atas dukungan dan doa yang tak terhingga
6. Yth Bapak Drs Suriansyah. A, MAP, Pimpro MCRMP Kota Tarakan
7. Yth Bapak Muhammad Firdaus, M.Si selaku PD II FPIK Universitas Borneo Kota Tarakan serta Bapak Amrullah Taqwa, S.Pi (Novi & QQ) atas bantuannya selama pelaksanaan penelitian
8. Yth Keluarga besar bapak Ahmad dan ibu (RT 12) Desa Binalatung
9. Rekan-Rekan Mahasiswa Program Studi Sumberdaya Pesisi dan Lautan khususnya angkatan XI atas kerjasama dan kebersamaannya
11. Mba Handayani Boa, M.Si (EPN), Mba Nurul Ovia Oktawati (ESK), Mr Amin (PSL), Alm Bapak Nizamuddin, M.Si (SPL), Dimas Wiharyanto, M.Si (SPL), Mr Heppi Iromo, M.Si (BIOREP), Rizal Bahtiar (ESK) dan Mba Nana Perpus PKSPL atas dukungan, semangat dan bantuan selama penulis berada di IPB...Hanya ALLAH SWT yang dapat membalasNYA. Amin
Semoga semua yang telah diberikan mendapat balasan yang setimpal dari ALLAH SWT, Amin.
Bogor, Agustus 2007
RIWAYAT HIDUP
Penulis adalah anak bungsu dari pasangan ayahnda H. Saukani Daik, dan Ibunda Hj. Nur Asyikin, dilahirkan pada taggal 17 Desember 1981 di Tanjung Selor Kalimantan Timur.
Pada tahun 1999 penulis lulus dari SMUN 1 Tanjung Selor, tahun 1999 penulis diterima di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman Samarinda pada Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan. Tahun 2004 penulis melanjutkan pendidikan Magister dan diterima pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor.
Selama menempuh studi di Institut Pertanian Bogor, penulis juga melaksanakan kegiatan Magang pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jakarta.
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR TABEL... v PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 3 Tujuan Penelitian ... 5 Manfaat Penelitian ... 5 TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Pengelolaan Bekelanjutan ... 6 Pembangunan Wilayah Pesisir Secara Terpadu ... 8 Pulau-pulau Kecil... 9 Ekosistem Hutan Mangrove... 11 Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Kehidupan Mangrove... 14 Faktor Pembatas Ekosistem Mangrove... 20 Adaptasi mangrove Terhadap Habitatnya... 23 Fungsi dan Manfaat Ekosistem Mangrove... 25
KERANGKA PEMIKIRAN PENELITIAN... 27
METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Lokasi Penelitian ... 30 Sifat dan tipe Penelitian ... 30 Alat yang Digunakan ... 31 Jenis dan Sumber Data ... 32 Pengumpulan Data ... 32 Analisis Data ... 34
GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
Potensi Sumberdaya Alam
Potensi Fisik Wilayah ... 45 Potensi Sumberdaya Pesisir ... 49 Sosial Ekonomi Masyarakat
Kondisi Sosial ... 50 Kegiatan Penangkapan ... 52 Kegiatan Pengolahan Hasil ... 55 Aksesibilitas, Sarana dan Prasarana... 55
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Ekosistem Bakau... 58 Degradasi Hutan Bakau
Sedimentasi Muara Sungai... 60 Arus menyusur Pantai ... 61 Pasang surut ... 64 Kualitas Perairan ... 69 Aktivitas Masyarakat di Darat (Upland)... 71 Genangan Air Tawar
Curah Hujan ... 79 Limpahan Air Buangan Masyarakat ... 80 Kadar Garam Rendah (Salinitas) ... 81 Potensi Hutan dan Nilai Manfaat Ekonomi
Potensi Biofisik ... 83 Nilai Total Ekonomi... 86 Penentuan Prioritas Pengelolaan ... 94 Strategi Program Pengelolaan ... 99 Arahan Pengendalian Sedimen ... 101
KESIMPULAN... 112
DAFTAR PUSTAKA... 114
1. Grafik Penurunan Luasan Ekosistem Hutan Mangrove ... 4 2. Tiga Pilar Pengelolaan Berbasis Ekososiosistem ... 7 3. Hubungan Timbal Balik Antara Ekosistem Alam dan Sistem Sosial di
Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Konteks Pembangunan Berkelanjutan. 8 4. Zonasi Penyebaran Jenis Mangrove ... 18 5. Bentuk Spesifikasi Akar pada Mangrove ... 24 6. Hubungan Ketergantungan dalam Ekosistem Mangrove ... 26 7. Kerangka Pendekatan Masalah... 29 8. Peta Lokasi Penelitian ... 31 9. Desain Metode Transek Kuadrat ... 33 10. Tipologi Nilai Ekonomi Total (TEV)... 37 11. Diagram Analisis SWOT... 43 12. Fisiografi Pulau Kota Tarakan... 46 13. Formasi Batuan Pulau Kota Tarakan... 47 14. Ilustrasi Alat Tangkap Tugu (Trap Net) ... 53 15. Aksesibilitas Berupa Sarana Transfortasi... 56 16. Wadah Penampungan Air dan Bangunan MCK... 56 17. Bangunan Sekolah Dasar... 57 18. Ekosistem Mangrove Pesisir Utara Desa Binalatung ... 59 19. Kondisi Ekosistem Mangrove ... 60 20. Lokasi Aktivitas Masyarakat Penambang ... 62 21. Kecepatan Rata-rata Arus Permukaan... 63 22. Tipe Pasang Surut Harian Ganda Kota Tarakan... 65 23. Kondisi Pasang Surut Kota Tarakan tahun 2005... 67 24. Kontribusi Sektor Galian terhadap PDRB Kota Tarakan... 71 25. Aktivitas Penambangan Pasir dan Krikil... 73 26. Kondisi Curah Hujan Kota Tarakan tahun 2005 ... 79 27. Indeks Nilai Penting (INP) ekosistem mangrove ... 85 28. Lokasi Pembuatan Breakswaters Batu Ampar, Pontianak ... 93 29. Grafik Perbandingan antar Kriteria ... 95
30. Hirarki Penentuan Prioritas Pengelolaan... 95 31. Prioritas Pengelolaan ... 97 32. Kontribusi Kriteria terhadap Prioritas Pengelolaan... 97 33. Propagul dari Jenis Api-api (Avicennia spp) dan Prepat (Sonneratia spp) . 103 34. Konstruksi Bangunan Persemaian Bibit Mangrove ... 106 35. Konstruksi Alat Penahan Ombak (APO)... 107 36. Sketsa Penanaman Mangrove dengan Pembanagunan APO... 108
Halaman 1. Penyebaran Jenis-jenis Mangrove Berdasarkan Kelas Genangan ... 14 2. Ikhtisar Dampak Kegiatan Manusia pada Ekosistem Mangrove... 22 3. Alat-alat yang Digunakan Dalam Penelitian ... 31 4. Jenis Data Primer dan Data Sekunder ... 32 5. Definisi dan Contoh Komposisi Total Nilai Ekonomi (TEV)... 37 6. Skala Banding secara Berpasangan ... 42 7. Matrik SWOT ... 43 8. Luas dan Sebaran Ekosistem Mangrove... 48 9. Data Kependudukan Desa Binalatung... 50 10. Hasil Tangkapan Tugu (Togo) ... 54 11. Kondisi Hutan Mangrove dan Kriteria Baku KLH ... 59 12. Parameter Perairan Pesisir Kota Tarakan ... 69 13. Volume Aktivitas Penambang Pasir ... 72 14. Jumlah Pembudidaya dan Luas Lahan Budidaya ... 74 15. Lokasi Usaha Penambangan Pasir Darat ... 78 16. Kualitas Air Genangan di Sekitar Mangrove Desa Binalatung... 82 17. Jumlah Individu, Diameter Batang dan Tipe Substrat... 83 18. Nilai RDi, RFi, RCi, Indeks Nilai Penting ... 84 19. Identifikasi Nilai Manfaat Ekosistem Mangrove ... 86 20. Total Nilai Manfaat Langsung... 88 21. Total Nilai Manfaat Tidak Langsung ... 90 22. Nilai Ekonomi Total ... 92 23. Nilai Pembobotan terhadap Sub Kriteria... 94 24. Nilai Manfaat Ekosistem Mangrove dengan Rehabilitasi ... 98 25. Bobot, Rating dan Skor untuk Faktor Internal (IFAS) ... 99 26. Bobot, Rating dan Skor untuk Faktor Eksternal (EFAS) ... 100
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kawasan pulau Kota Tarakan merupakan salah satu pulau yang berada di Propinsi Kalimantan Timur bagian utara yang kaya akan potensi daerah. Selain secara geografis pulau yang memiliki posisi sangat strategis sebagai jalur transportasi skala regional maupun skala internasional pulau ini juga memiliki potensi sumberdaya alam yang secara optimal belum termanfaatkan, baik yang bersifat sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resource) maupun sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resource) serta jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut.
Pulau Kota Tarakan yang terletak diantara 117o34’ garis bujur barat sampai dengan 117o38’ garis bujur timur dan antara 3o19’ garis lintang utara sampai dengan 3o20’ garis lintang selatan, dengan luas 657 km2 (daratan seluas 250,80 km2 dan lautan seluas 406,53) memiliki satu atau lebih ekosistem pesisir. Ekosistem pesisir Kota Tarakan diantaranya adalah hutan mangrove (mangrove forests), karang tepi (fringging reefs) padang lamun (seagrass beds), dan pantai berpasir (sandy beach), yang mana ekosistem-ekosistem tersebut menyediakan sumberdaya alam produktif baik sebagai sumber pangan, tambang mineral dan energi, media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata.
Sebagai suatu ekosistem pesisir utama pulau Kota Tarakan keberadaan ekosistem mangrove sepanjang pantai memberikan kontribusi yang sangat penting baik manfaat langsung (direct) maupun manfaat tidak langsung (indirect). Manfaat tersebut diantaranya secara fisik, khususnya dalam melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan dan pertanian dari angin kencang dan intrusi air laut. Mangrove juga memainkan peranan penting dalam melindungi pesisir dari terpaan badai. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus, sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen. Zonasi sepanjang pantai mangrove
tidak hanya penting untuk memperluas pantai dan membentuk pulau, tetapi juga melindungi pantai dari pengikisan secara dahsyat yang ditimbulkan oleh badai tropika yang hebat. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. Peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan keberadaan pulau tersebut. Sebaliknya pada pulau yang hilang mangrovenya, pulau tersebut mudah disapu oleh ombak dan arus musiman selain itu jika mangrove tidak ada maka produksi laut dan pantai akan berkurang secara nyata (Naamin, 1991). Selain itu ekosistem ini juga memiliki nilai ekonomi yang bersifat long term (jangka panjang dengan tingkat diskonto rendah) sedangkan sumberdaya migas memiliki nilai ekonomi yang bersifat short term (jangka pendek dengan tingkat diskonto tinggi). Walaupun kontribusi ekonomi nyata ekosistem mangrove kurang signifikan namun kontribusi nyata dan tidak langsung (salah satunya seperti pelindung pantai dan pendukung perairan pesisir) tinggi dan kontinyu (Bengen, 2006).
Obsesi pembangunan jangka panjang Kota Tarakan di era Otonomi Daerah ialah menjadikannya sebagai salah satu little singapore atau second singapore
diantara little singapore yang ada di Indonesia. Obsesi ini di bangun karena diharapkan mampu menjadi daya ungkit pembangunan Indonesia menjadi “the big singapore” serta dapat divisualisasikan oleh masyarakat pulau Kota Tarakan berdasarkan kondisi geografisnya. Obsesi ini terlihat dari pesatnya peningkatan PAD dari tahun ketahun. Pada tahun 2001 nilai PAD sebesar Rp.7.866.451.361 dan jumlah tersebut meningkat pada tahun 2002 yaitu sebesar Rp.12.142.940.000. Peningkatan PAD ini menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam membangun daerah. Mengingat tujuan pembangunan Kota Tarakan adalah menjadikannya sebagai salah satu ”little singapore” diantara little singapore
lainnya yang ada di Indonesia. Sementara itu, disisi lain pertambahan penduduk Kota Tarakan yang cukup pesat dari tahun ke tahun memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di bidang usaha (investasi). Menurut BKCSKB (2005) bahwa jumlah penduduk Kota Tarakan pada tahun 2000 tercatat sekitar 116.995 jiwa dan pada tahun 2005 jumlah tersebut bertambah menjadi 168.331 jiwa atau sekitar 43,88 %.
3
Pembangunan ekonomi dan pertambahan penduduk yang terus meningkat tentunya akan memberikan pengaruh nyata terhadap keberadaan ekosistem mangrove yang ada. Akibatnya ialah jika daya dukung lingkungan (carrying capacity) mangrove tidak lagi dapat menunjang aktivitas tersebut maka degradasi lingkungan akan semakin parah. Isu utama dalam upaya pelaksanaan pembangunan saat ini adalah mengenai masalah lingkungan. Pembangunan yang selama ini berorientasi pada pertumbuhan ekonomi cenderung mengabaikan aspek lingkungan terbukti berdampak buruk tidak saja pada aspek ekologi sumberdaya, tapi juga pada aspek sosial ekonomi masyarakat seperti bencana banjir, abrasi pantai, menurunkan hasil tangkapan berupa ikan dan udang di perairan lepas pantai, pencemaran laut, erosi garis pantai, intrusi kadar garam dan lain sebagainya. Menjaga sumber kekayaan alam yang merupakan nikmat Allah SWT bagi makhluk-Nya adalah kewajiban setiap manusia. Barang siapa yang hendak mensyukuri nikmat tersebut, haruslah menjagannya dari pencemaran, kehancuran serta bentuk-bentuk lain yang termasuk dalam kategori perusakan diatas muka bumi (Al Qardhawi, 2001).
Perumusan Masalah
Mangrove sebagai ekosistem utama pesisir pulau Kota Tarakan memiliki fungsi yang sedemikian kompleks sebagai penunjang kehidupan dan keberadaan daerah ini. Namun peranan yang multikompleks tersebut tidak dapat berfungsi secara optimal menopang lajunya pertumbuhan penduduk dan pesatnya pembangunan daerah menuju little singapore, akibatnya luasan hutan mangrove Kota Tarakan terus mengalami penurunan yang signifikan selama dua tahun terkhir. Laporan diperoleh dari hasil kegiatan MCRMP (2004) dan Dinas Kehutanan Kota Tarakan (2005). Secara grafis penurunan luasan eksositem hutan mangrove dapat dilihat pada gambar 1.
Degradasi ekosistem mangrove Kota Tarakan berdasarkan penyebabnya dapat diidentifikasi dari 2 (dua) faktor, yakni faktor internal seperti pemanfaatan secara tradisional melalui pengambilan hasil-hasil hutanya secara langsung melampaui batas dan konversi lahan untuk berbagai peruntukan. Selanjutnya penyebab dari faktor ekternalnya (di luar habitatnya) seperti penggundulan hutan
di daerah aliran sungai, pembangunan waduk penampung air di daerah hulu atau memindahkan aliran sungai. Departemen Kehutanan (2004) memberikan gambaran bahwa ancaman serius berasal dari manajemen DAS yang kurang baik dan meningkatnya bahan pencemar hasil industri dan domestik (rumah tangga) yang masuk kedalam daur hidrologi.
1250 766.6 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 2004 2005 L u asan M a n g ro ve (h a)
Gambar 1. Grafik Penurunan Luasan Ekosistem Hutan Mangrove
Isu kasus kematian massal (dieback) terhadap ekosistem mangrove pesisir utara Desa Binalatung diakibatkan oleh genangan air tawar dan akar penyebabnya berasal dari faktor ekternal (diluar habitatnya) yakni berupa aktivitas masyarakat
upland yang kurang tertata dengan baik sehingga dampak yang ditimbulkan berupa sedimentasi muara sungai. Proses sedimentasi muara sungai secara langsung menghambat terjadi proses percampuran air tawar dan air laut yang dibutuhkan oleh ekosistem mangrove sehingga kematian massal pada ekosistem mangrove tidak dapat dihindari.
Berdasarkan kondisi tersebut pemerintah yang dalam hal ini selaku pengambil kebijakan daerah melakukan langkah-langkah aktif untuk mengurangi resiko degradasi lingkungan mangrove dengan perencanaan sampai pelaksanaan aksi pengelolaan melalui kegitan MCRMP khusus Kota Tarakan tahun 2001. Langkah-langkah aktif yang telah diupayakan diantaranya ialah dengan melakukan rehabilitasi kawasan mangrove, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan pembangunan infrastruktur desa. Namun upaya ini dirasa kurang mampu menjawab permasalahan krusial yang terjadi khususnya di kawasan Desa Binalatung sehingga diperlukan langkah-langkah yang lebih konkrit yang
5
dibarengi dengan kajian ilmiah sehingga diharapkan mampu mengurangi permasalahan degradasi lingkungan khususya ekosistem mangrove yang terletak di pesisir utara Desa Binalatung.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah:
1. Mengetahui potensi dan isu permasalahan ekosistem mangrove peisisr utara Desa Binalatung
2. Merumuskan alternatif program pengelolaan ekosistem mangrove Desa Binalatung
Manfaat penelitian adalah:
1. Sebagai acuan program pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan di Kota Tarakan
2. Sebagai bahan dan informasi terbaru dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan bidang kajian pengelolaan ekosistem mangrove
Konsep Pengelolaan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (WCED, 1987) dalam Dahuri et al., (2004). Selanjutnya Bengen (2004) berpendapat bahwa pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan visi dunia internasional sudah saatnya juga merupakan visi nasional. Visi pembangunan berkelanjutan tidak melarang aktivitas pembangunan ekonomi, tetapi meganjurkannya dengan persyaratan bahwa laju (tingkat) kegiatan pembangunan tidak melampaui daya dukung (carrying capacity) lingkungan alam. Dengan demikian, generasi mendatang tetap memiliki aset sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental service) yang sama atau kalau dapat lebih baik dari pada generasi yang hidup sekarang.
Pada dasarnya pembangunan berkelanjutan merupakan suatu strategi pembangunan yang memberikan semacam ambang batas (limit) pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah serta sumberdaya alam yang ada didalamnya. Ambang batas yang dimaksud tidaklah bersifat mutlak (absolute), melainkan merupakan batasan yang luwes (fleksibel) yang bergantung pada kondisi teknologi dan sosial ekonomi tentang pemanfaatan sumberdaya alam, serta kemampuan biosfer untuk menerima dampak kegiatan manusia. Secara garis besar konsep pembangunan berkelanjutan memiliki empat dimensi: (1) dimensi ekologis, (2) dimensi sosial ekonomi budaya, (3) dimensi sosial politik, dan (4) hukum dan kelembagaan. (Dahuri et al., 2004).
Konsep pengelolaan lain yang berbasis Sosial-Ekosistem yang juga telah diperkenalkan oleh Meffe et al., (2002) dalam INRR (2005) menggambarkan bahwa pada dasarnya pendekatan ini mengintegrasikan antara pemahaman ekologi dan nilai-nilai sosial ekonomi. Dalam hal ini tujuan pengelolaan berbasis ekosistem adalah memelihara, menjaga kelestarian dan integritas ekosistem sehingga pada saat yang sama mampu menjamin keberlanjutan suplai sumberdaya untuk kepentingan sosial ekonomi manusia. Rejim kolaboratif untuk mencapai
7
tujuan tersebut adalah tiga pilar pengelolaan berbasis ekologi, sosial ekonomi dan institusi (Gambar 2). Dari gambar tersebut, terdapat 4 konteks kebijakan yang masing-masing merupakan irisan dari dua perspektif tersebut.
Gambar 2 Tiga Pilar Pengelolaan Berbasis Sosial-Ekosistem (Meffe et al., 2002) Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa daerah A adalah zona otoritas pengelolaan (zone of management authority) dimana institusi pengelola mendapatkan mandat dari masyarakat untuk melakukan regulasi terhadap pengambilan keputusan yang terkait dengan ekosistem. Daerah B disebut sebagai darah kewajiban masyarakat (zone of societal obligations) dimana kebijakan yang diambil institusi menitikberatkan pada kepentingan masyarakat. Sementara itu daerah C adalah daerah pengaruh (zone of influence) di mana dinamika keterkaitan antara sistem alam dan sistem sosial ekonomi terjadi dalam konteks proses dan bukan pada regulasi atau otoritas. Dengan kata lain proses saling mempengaruhi antar keduanya menjadi fokus utama dari perspektif daerah C. Terakhir daerah D sering pula disebut sebagai daerah interaksi bersama (zone of win-win-win partnership) di mana fokus utama pembangunan berbasis pada