BOGOR
2009
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Perencanaan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan Belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Bogor, 2009
Sunarti
SUNARTI. Sustainable farming systems for Rubber and Oil Palm Planning in Batang Pelepat Watershed Bungo District Jambi Province. Under direction of NAIK SINUKABAN, BUNASOR SANIM, and SURIA DARMA TARIGAN
Land for rubber and oil palm farmings in Batang Pelepat watershed were generally cultivated without adequate fertilization and soil and water conservation techniques. This practice caused high erosion and in turn gradually decreased land productivity and farmer’s income. The objectives of this research were:(1) to identify land characteristics and farming systems of rubber and oil palm (FSROP) types, (2) to study impacts of FSROP on land characteristic, run off and erosion (ROE) rate, crop production and farmer’s income and (3) to design sustainable FSROP. Identification of FSROP characteristics were carried out by using descriptive analysis. Impacts of FSROP on ROE was measured in small erosion plot and analyzed using variance analysis and Duncan New Multiple Range Test (DNMRT). The sustainable FSROP was formulated by simulation technique using universal of soil loss equation (USLE) and multiple goal programming models. The results of the research showed that farming system in Batang Pelepat watershed consisted of five types of rubber farming systems and two types of oil palm farming systems. All of those farming systems were not able to fulfill indicators of sustainable agriculture (ISA). Cultivated land resulted higher ROE than forest. However among the cultivated land sesap karet caused the lowest ROE (3.53 mm and 13.93 ton/ha/year). The sustainable FSROP could be accomplished by application of combination agrotechnologies including balance fertilization using urea, SP-36, KCl and MgSO4. Meanwhile, the ISA were accomplished by application of Legum Cover Crop (LCC) and countour cropping (on slope 3–14%) and LCC and gulud terrace (on slope 15–30%). The sesap karet I (mixed of rubber-manau-kayu sungkai) performed the most optimum ISA. The sesap karet I generated erosion of 0.61 – 3.46 ton/ha/year and the farmer’s income Rp18 320 000 –18 590 000/ha/year.
SUNARTI. Perencanaan Usahatani Karet dan Kelapa Sawit Berkelanjutan di DAS Batang Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Dibimbing oleh NAIK SINUKABAN sebagai ketua, BUNASOR SANIM, dan SURIA DARMA TARIGAN sebagai anggota.
Pembukaan dan konversi hutan menjadi penggunaan lain, termasuk pengembangan pertanian telah terjadi di berbagai DAS di Indonesia. Fenomena ini juga terjadi di DAS Batang Pelepat, yang umumnya ditujukan untuk pengembangan usahatani karet dan kelapa sawit (UTKKS). Pembukaan dan konversi hutan menjadi lahan UTKKS di DAS Batang Pelepat dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek konservasi tanah dan air (KTA). UTKKS pun dikelola dengan berbagai agroteknologi yang tidak memadai sehingga menyebabkan erosi dan degradasi lahan serta rendahnya pendapatan petani. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perambahan hutan oleh masyarakat atau petani di kawasan ini; jika dibiarkan hal ini dapat mengancam kelestarian Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) karena kawasan hulu DAS Batang Pelepat merupakan kawasan penyangga TNKS. Perencanaan UTKKS yang komprehensif sangat diperlukan untuk mewujudkan UTKKS berkelanjutan di DAS Batang Pelepat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi karakteristik lahan dan tipe UTKKS, (2) mengkaji pengaruh tipe UTKKS terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dan (3) menyusun perencanaan UTKKS berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan metode survei dan pengukuran lapangan dalam mengumpulkan data biofisik (karakteristik lahan dan tipe UTKKS, sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi pada setiap tipe UTKKS) dan sosial ekonomi (luas lahan, input yang digunakan, pendapatan dan karakteristik petani). Karakteristik lahan dan tipe UTKKS dianalisis secara deskriptif, sedangkan pengaruh tipe UTKKS terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dianalisis dengan analisis ragam (uji F) dan uji jarak berganda duncan pada taraf kepercayaan 95% (α=0.05). Selanjutnya UTKKS berkelanjutan diformulasi melalui teknik simulasi dengan menggunakan model USLE dan program tujuan ganda (multiple goal programming).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Batang Pelepat terdiri atas 23 satuan lahan (SL) yang mempunyai tingkat kesuburan yang tergolong sangat rendah – rendah. Lahan tergolong kelas II, III, IV, VI dan VII dengan faktor penghambat utamanya berupa lereng (l) yang tergolong miring hingga sangat curam, erosi (e) yang tergolong ringan hingga sangat berat dan kondisi drainase (d) yang tergolong agak baik hingga agak buruk. Sebagian besar lahan tergolong kelas cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3) untuk usahatani karet dan kelapa sawit dengan faktor pembatas berupa kejenuhan basa dan pH yang rendah (nr) serta kemiringan lereng (eh).
Lahan di DAS Batang Pelepat digunakan sebagai lahan pertanian dan non-pertanian. Penggunaan lahan pertanian umumnya sudah sesuai dengan kelas kemampuan dan kesesuaian lahan untuk karet dan kelapa sawit. Lahan pertanian umumnya berupa lahan UTKKS yang terdiri atas sesap karet I atau campuran karet, manau dan kayu sungkai (SK I), sesap karet II atau campuran karet, kayu balam dan kayu medang (SK II), monokultur karet I (MK I), monokultur karet II (MK II), karet-gaharu (KRG), monokultur kelapa sawit (MKS) dan kelapa sawit-pisang (KSP). Semua tipe UTKKS ini tidak menerapkan agroteknologi yang memadai.
Tipe MK I menunjukkan pengaruh paling buruk terhadap sifat-sifat tanah, aliran permukaan dan erosi dibandingkan dengan tipe UTKKS lainnya dan hutan. Tipe MK I mengakibatkan tingkat kepadatan tanah paling tinggi (BI =1.14 g/cm3) sehingga menyebabkan aliran permukaan dan erosi paling tinggi (6.92 mm dan 0.58 ton/ha), sedangkan tipe SK dengan BI = 0.92 g/cm3 menyebabkan aliran permukaan dan erosi paling rendah (3.53 mm dan 0.12 ton/ha). Berdasarkan prediksi erosi pada lahan pertanian diketahui bahwa semua tipe UTKKS menyebabkan erosi yang melebihi erosi yang dapat ditoleransikan (Etol), kecuali pada lereng 2% (2.78 – 22.23 ton/ha/tahun) dan akibat penerapan tipe SK pada kemiringan lereng 7% sebesar 12.27 ton/ha/tahun. Erosi yang lebih rendah pada tipe sesap karet (SK) dibandingkan dengan tipe usahatani lainnya disebabkan karena sistem pengelolaan pada tipe SK mengakibatkan kapasitas penutupan lahan yang lebih rapat dan jumlah serasah yang lebih banyak dibandingkan tipe usahatani lainnya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa semua sifat-sifat tanah pada lahan UTKKS menunjukkan perbedaan dengan tanah hutan. Hutan dengan kepadatan tanah 0.81 g/cm3 menyebabkan aliran permukaan (0.12 mm) dan erosi (1.20x10-6 kg/ha) yang lebih kecil dibandingkan dengan aliran permukaan dan erosi pada lahan UTKKS.
Perbedaan sistem pengelolaan pada setiap tipe UTKKS juga mengakibatkan perbedaan terhadap produksi tanaman sehingga pendapatan juga bervariasi (Rp5 800 000 – 59 360 000). Pendapatan yang diperoleh dari setiap tipe UTKKS per tahun dari 2 hektar lahan yang dikelola petani belum dapat mencukupi kebutuhan hidup petani secara layak (Rp18 000 000/KK/tahun), kecuali pendapatan dari tipe usahatani KRG yang mencapai Rp 59 360 000/ha/tahun atau Rp118 720 000/2ha/tahun karena gaharu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, yaitu harga jual gubal Rp2 000 000/kg. Tipe UTKKS lainnya (Rp11 200 000 – 16 200 000/2ha/tahun) hanya dapat memenuhi kebutuhan fisik minimum bagi petani (Rp7 200 000/KK/tahun). Tipe usahatani yang layak hanya tipe MK I, KRG, MKS dan KSP, padahal populasi petani tipe tersebut hanya sebagian kecil. Sebaliknya petani tipe SK I, SK II dan MK II merupakan populasi petani yang dominan di DAS Batang Pelepat, namun tipe usahatani ini tergolong tidak layak.
Berdasarkan analisis erosi dan pendapatan di atas, semua tipe UTKKS di DAS Batang Pelepat tidak menunjukkan indikator berkelanjutan sehingga memerlukan alternatif agroteknologi yang dapat diterima dan diterapkan petani sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Semua tipe UTKKS (kecuali KRG) dapat dijadikan alternatif dalam pemilihan tipe usahatani berkelanjutan yang local based, sedangkan alternatif penyempurnaan agroteknologi aktual terdiri atas 2 skenario.
Skenario agroteknologi 1 (SA1) adalah pengaturan jarak tanam pada tipe SK (penanaman baru) dan pemupukan berdasarkan rekomendasi Balitbang Pertanian (2005), yaitu pemberian pupuk urea, TSP dan KCl masing-masing sebanyak 100, 50 dan 50 kg/ha/tahun untuk karet dan untuk kelapa sawit diberikan pupuk NPK sebanyak 0.22 – 0.45 kg/pohon/tahun dan MgSO4
sebanyak 0.10 – 0.40 kg/pohon/tahun. Penerapan agroteknologi ini pada lereng 3–14% disertai dengan penerapan LCC dan sistem tanam menurut kontur dan pada lereng 15–30% disertai dengan penerapan LCC serta teras gulud atau teras kebun. Skenario agroteknolgi 2 (SA2) adalah penerapan pemupukan sesuai dengan rekomendasi BPP Sembawa (2003) untuk karet (urea sebanyak 250 – 350 g/pohon/tahun, SP-36 sebanyak 125 – 260 g/pohon/tahun dan KCl sebanyak 100 – 300 g/pohon / tahun) dan rekomendasi PPKS Medan (1999) untuk kelapa sawit, yaitu urea sebanyak 0.70 – 1.50 kg/pohon/tahun, TSP sebanyak 0.50 – 2.00 kg/pohon/tahun, KCl sebanyak 0.80 – 1.50 kg/pohon/tahun