BAB II PRIYAYI DAN PENDIDIKAN BELANDA
1.2. Pendidikan Belanda
1.2.1. Sekolah-Sekolah
Pada akhir abad ke-19 pemerintah mendirikan sekolah-sekolah kelas satu (Angka Siji) dan sekolah-sekolah kelas dua (Angka Lara).35 Sekolah-sekolah kelas satu ini hanya diperuntukan bagi anak-anak pegawai negeri (priyayi) atau anak-anak yang berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi yang lebih, sedangkan sekolah-sekolah kelas dua diperuntukkan bagi anak-anak yang berasal dari kalangan masyarakat umum.
Sekolah lain yang kemudian didirikan oleh pihak pemerintah kolonial MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sekolah ini sama dengan Sekolah Menengah Pertama. Untuk masuk ke sekolah ini tetap ditentukan oleh kemampuan orang tuanya dan hanya anak-anak yang tergolong pandai saja.
35 Ibid., hlm 13.
Sekolah-sekolah lain yang didirikan oleh pemerintah kolonial, antara lain ELS (Europeesche Lagere School). Sekolah ini adalah sekolah dasar Belanda yang sistem pendidikannya tetap menggunakan sistem yang diterapkan di Belanda dan menggunakan bahasa Belanda dalam pengantar pendidikannya. Sekolah ini menjadi satu-satunya sekolah dasar Belanda yang mengajarkan bahasa Belanda bagi orang-orang Jawa, sehingga dijadikan syarat jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah ini diperuntukan selain bagi anak-anak Eropa sendiri tetapi diperuntukan pula bagi anak-anak-anak-anak yang berasal dari anggota-anggota para penguasa Jawa.
Uang sekolah di sekolah ELS ini tergolong tinggi bagi mereka yang berasal dari golongan bawah, terkecuali bagi mereka yang bearasa dari golongan menengah dan atas walaupun mendapat kanaikan dua kali lipat untuk pembayaran uang sekolah. Di sekolah ini juga kisaran besarnya uang sekolah yaung dibebankan kepada anak-anak Jawa ditentukan oleh besarnya pendapatan orang tua mereka. Sehingga agar dapat diterima dan bersekolah di ELS, orang tua mereka harus mempunyai pendapatan minimal 400 gulden per bulan dan hanya seorang regent atau Bupati yang mempunyai pendapatan di atas 400 gulden per bulan, yakni 1000 gulden per bulan.36
Ada juga sekolah yang memberikan pengajaran untuk menjadi seorang guru atau mantri guru, yaitu Sekolah Guru atau kweekschool. Sekolah ini mayoritas menerima murid yang bearasal dari kaum priyayi kelas bawah daripada anak-anak regent atau Bupati. Sekolah guru inipun ada yang khusus melatih dan mendidik
calon-calon guru baik guru wanita maupun guru pria. Untuk calon guru wanita nama sekolah tersebut adalah Meisjes-Normaalscholen, sedangkan untuk calon guru pria nama sekolah tersebut adalah Jongens-Normaalscholen.37
Sekolah lain yang didirikan pemerintah kolonial adalah sekolah dokter Jawa, yang kemudian bernama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen). Sekolah ini membebaskan uang sekolah bahkan memberikan biaya asrama secara cuma-cuma bagi mereka yang bersedia untuk dididik menjadi asisten-asisten kesehatan.
Begitu pula dengan kelompok priyayi pangreh praja yang masuk dalam sistem kekuasaan kolonial, anak-anak mereka pun berkesempatan memasuki pintu-pintu peradaban barat melalui sistem pendidikan yang dibuka oleh pemerintah kolonial. Tetapi untuk proses awal perekrutan anak-anak elit pribumi untuk masuk dalam sekolah Belanda tetap menurut pada jabatan-jabatan yang telah dijabat oleh orang tua mereka masing-masing. Pangreh praja yang memasukkan anak-anaknya ke STOVIA berasal dari jabatan yang berbeda-beda. Sehingga berdasarkan kepangkatan orang tuanya, siswa dari STOVIA dibagi menjadi empat: yaitu anak-anak pejabat tinggi, anak-anak pejabat menengah, dan anak-anak pejabat rendah, serta kalangan umum lainnya.38 Dengan demikian
37
Sagimun MD. op. cit., hlm. 15. 38
Fachry Ali. 1986. Refleksi Paham “Kekuasaan Jawa” dalam Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia., hlm 82.
sebagian anak anak yang masuk ke STOVIA berasal dari anak-anak pangeh praja, baik dari tingkat tinggi maupun tingkat rendah. 39
Berbeda dengan OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) atau Sekolah Kepala, untuk masuk ke sekolah ini anak-anak elit pribumi tetap dikenakan pembayaran uang sekolah jika ingin dididik untuk menjadi seorang Kepala dalam strustur birokrasi pemerintahan. Di Jawa sendiri sejak tahun 1900 terdapat tiga OSVIA (mula-mula bernama Hoofdenscholen). Masing-masing sekolah menerima murid dari daerah penampungannya sendiri. Seperti pada tahun 1905 di antara 70 orang siswa OSVIA di Bandung sebagian besar berasal dari Jawa Barat, terkecuali 3 orang yang beasat dari Kalimantan. Lalu OSVIA Magelang yang besarnya hampir sama dengan yang ada di Bandung, menarik siswa-siswanya yang bearasal dari Jawa Tengah, sedangkan OSVIA Probolinggo yang lebih kecil, diperuntukkan bagi siswa-siwa dari Jawa Timur. Di OSVIA faktor keturunan menjadi faktor yang sangat penting dalam penerimaan siswanya, hal ini ditetapkan dalam suatu peraturan sampai tahun 1919, walaupun uang sekolah disesuaikan dengan penghasilan orang tua.
Namun bagi keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah, menyekolahkan anak di OSVIA menjadi beban yang sangat berat karena mahalnya uang sekolah yang harus dibayar. Penerimaan siswa pun tergantung pada rekomendasi pejabat BB (Binnenlandsch Bestuur) atau pejabat pemerintahan kolonial setempat dan
39 Ibid., hlm 83.
bupati. Bupati sendiri dapat menggunakan hak patronnya untuk mengajukan sanak keluarga dan orang-orang yang disenanginya.40
Walaupun mayoritas murid OSVIA berasal dari keluarga pangreh praja dan berasal dari keluarga yang berada, dan meskipun sekolah ini ditujukan ke arah yang lebih baik guna pelestarian peranan priyayi yang telah memadai, tetapi mereka tetaplah sumber potensial menuju arah perubahan di masa yang akan datang.
Sekalipun lulusan yang berasal dari sekolah OSVIA merupakan minoritas yang kecil, tetapi mereka dapat memainkan perananan yang lebih besar dalam memimpin gerakan-gerakan yang muncul berikutnya untuk memperbaharui korpsnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan telah menggugah merka untuk menumbuhkan rasa perhatian terhadap keterbukaan menuju perubahan tidak harus dengan jumlah orang yang berada di dalamnya dan inilah yang kemudian membedakan lulusan OSVIA dengan priyayi-priyayi lainnya.
Selain sekolah yang telah disebutkan di atas masih ada sekolah-sekolah lain yang didirikan oleh pemerintah kolonial, seperti Hollandsch Chinesche School atau HCS yang secara khusus hanya diperuntukan bagi anak-anak peranak-anakan cina. Sekolah ini hanya diperuntukan bagi anak-anak-anak-anak yang berasal dari orang keturunan cina dan mempunyai pendapatan yang cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Terlepas dari jumlah yang masuk maupun yang lulus dari semua anak-anak pangreh praja, tampak jelas bahwa perubahan-perubahan khususnya di bidang
pendidikan, telah menempatkan mereka pada posisi tapal batas yang berhadapan langsung dengan garis demarkasi peradaban barat. Dengan demikian, anak-anak dari kalangan inilah yang memiliki kesempatan paling besar dalam membuka cakrawala baru kehidupan dan peradaban bangsa.41
Selain sekolah-sekolah yang telah didirikan oleh pemerintah kolonial, pada saat itu terjadi pula perluasan pendidikan yang lebih cenderung mengutamakan pendidikan umum bagi penduduk pribumi. Perluasan ini meliputi bidang teknik, keterampilan, dan sekolah menengah atas. Sehingga sekolah-sekolah ini diharapkan dapat menghasilkan orang-orang muda pribumi yang memiliki daya intelektualitas tinggi.