BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.3. Sektor Informal
2.2.3.1.Pengertian Sektor Informal
Hidayat dalam Mustofa (2008 : 15) mendefinisikan sektor informal sebagai unit usaha berskala kecil yang memproduksi serta mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan pokok menciptakan kesempatan dan pendapatan bagi dirinya masing-masing serta dalam usahanya dibatasi oleh factor modal dan keterampilan. Mustafa (2008:4), menambahkan keberadaan sektor informal adalah untuk membantu membantu memecahkan permasalahan ketenagakerjaan dan menunjang pertumbuhan pendapatan ekonomi secara keseluruhan.
Perbedaan kesempatan memperoleh penghasilan antara sektor formal dan informal pada pokoknya didasarkan atas perbedaan antara pendapatan dan gaji serta pendapatan dan usaha sendiri. Pekerjaan sektor informal dilakukan selamanya tidak perlu diformalkan sebagai usaha untuk lebih meningkatkan penghasilan (Mustafa, 2008 : 9). Kelompok migran ke kota bekerja di sektor informal karena ada daya dorong untuk kebutuhan atau aspirasi yang tidak dapat dipenuhi di desa. Pengungkapan perasaan tidak menyenangkan di daerah asal dipandang sebagai factor pendorong dan “kesempatan kerja sempit”. Sedang daya tarik berupa potensi yang diciptakan oleh keberadaan migran terdahulu.
Perkembangan sektor informal di kota kecil yang tidak banyak industrinya berkaitan dengan kehadiran para migran, baik yang datang dari pedesaan maupun dari kota lain. Pentingnya peranan kota untuk menjadi tujuan akhir dari para pencari kerja yang datang dari berbagai daerah sekitarnya, yaitu para migran dan proses memperoleh pekerjaannya mereka masih mengandalkan pendahulunya. Para pencari kerja baru tidak mudah dapat masuk ke sektor informal walaupun hanya dengan modal kecil. Artinya, bahwa walaupun pekerjaan yang akan dilakukan hanya membutuhkan modal kecil, tetapi tidak mudah untuk dilakukan karena ketatnya persaingan di sektor informal tersebut.
2.2.3.2.Ciri-ciri Sektor informal
Salah satu ciri sektor informal adalah mudah masuk dan keluar dari suatu subsektor ke subsektor yang lain. Para pekerja sektor informal sering berganti atau alih pekerjaan untuk sekedar menjajagi dimana subsektor yang paling menguntungkan dan sering terjadinya alih pekerjaan dalam rangka mencari subsektor mana yang lebih menguntungkan. Faktor ekonomi menjadi pendorong utama terjadinya migrasi dari desa ke kota. Dan oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maka para migran ini kemudian memasuki sektor informal ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mereka memasuki sektor informal karena sulitnya mencari pekerjaan. (Mustafa, 2008 : 10)
Sedangkan cirr-ciri sektor formal menurut Subangun dalam Mustafa (2008 : 23) adalah sebagai berikut: seluruh aktivitas umumnya bersandar pada sumber data sekitarnya, ukuran usahanya berskala besar dan memiliki badan hukum, untuk menjalankan roda aktivitas umumnya
ditopang oleh teknologi yang padat modal dan biasanya hasil impor, tenaga kerja dalam aktivitas sektor ini umumnya mendapat latihan dan pendidikan di lembaga formal, tenaga kerja yang terlibat merupakan tenaga ahli, dan seluruh aktivitas berlaku dan berjalan di dalam pasar yang terlindungi.
Adapun ciri-ciri sektor informal menurut Hidayat (1995 : 426) sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha tidak terorganisir secara baik,karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor formal.
2. Pada umumnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha.
3. Pola kegiatan usaha tidak beraturan baik dalam lokasi maupun jam kerja.
4. Pada umumnya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini.
5. Unit usaha mudah keluar masuk dari subsektor ke sub sektor lain. 6. Teknologi yang dipergunakan bersifat tradisional.
7. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil.
8. Untuk menjalankan usaha tidak perlu pendidikan formal, karena pendidikan yang diperlukan pengalaman sambil kerja.
9. Pada umumnya unit usaha termasuk golongan yang mengerjakan sendiri usahanya dan kalau mengerjakan, buruh berasal dari keluarga.
10. Sumber dana modal usaha pada umumnya dari tabungan sendiri atau dari lembaga-lembaga yang tidak resmi.
11. Hasil produksi / jasa terutama dikonsumsikan oleh golongan kota atau desa yang berpenghasilan rendah tetapi kadang-kadang juga yang berpenghasilan menengah.
2.2.3.3.Penyebab Hadirnya Sektor Informal
Secara lebih terperinci, menurut Alisjahbana (2003 : vi) beberapa kondisi yang menyebabkan kehadiran sektor informal di perkotaan terus bertambah meluas adalah hal-hal berikut:
1. Terjadinya konsentrasi investasi di perkotaan telah mendorong orang melakukan urbanisasi, namun jumlahnya melebihi lapangan pekerjaan yang tersedia, sehingga melahirkan pengangguran yang ujung-ujungnya mereka kemudian akan terserap si sektor informal kota yang bersifat illegal, marginal, dan berskala kecil.
2. Perkembangan sektor informal tidak terlepas dan prosesnya daya tarik kota, terutama masyarakat pedesaan yang tidak terserap di sektor pertanian karena rendahnya pendapatan di sektor tersebut.
3. Ketika orang-orang di pedesaan pergi mengadu nasib ke kota, karena mereka terdepak dari tanah mereka akibat paceklik, banjir dan mundurnya sektor pertanian, serta padatnya penduduk.
4. Akibat minimnya sumber daya alam dan material yang bisa
2.2.3.4.Peran Sektor informal
Peran sektor informal pedagang kaki lima dimaksud mendudukkan peran paa posisi konseptual yang mapan atau dengan kata lain sebagai sebuah entitas akademik, di mana dalam dimensi dan waktu bekerja atasnya, sedangkan apa dan bagaimananya entitas tersebut bergeser atau berubah merupakan kajian perubahan. Menurut Merton (1968) banyak pakar yang menyatakan bahwa peran merupakan paket hah yang diterima secara social dan kewajiban yang memiliki eksitensi obyektif, terpisah dari perilaku kerja dan pengharapan yang tidak berperan.
Pedagang kaki lima perkotaan yang berada pada status yang tradisional dan marjinal melalui peran yang dimainkan diharapkan dapat dihargai oleh masyarakat modern perkotaan, memperoleh rasa aman, dan dapat menciptakan hubungan-hubungan social yang lebih luas sehingga upaya untuk melakukan perubahan peran dimungkinkan dalam pekerjaan pedagagang kaki lima.
Berkaitan dengan peran pedagang kaki lima diperkotaan yang keberadaannya seperti pasar dengan pola tradisional, menurut Geertez dalam Mustafa (2008 : 53) untuk memahami pasar dalam arti luas harus dilihat dari tiga sudut pandang:
1. Sebagai arus pertukaran barang dan jasa menurut pola tertentu
2. Sebagai rangkaian mekanisme ekonomi untuk memelihara dan
mengatur arus barang dan jasa tersebut 3. Sebagai system social lain dan kebudayaan.
Sedangkan menurut Ramli, pasar semacam ini dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu pola distribusi barang dan jasa, dan sebagai system social budaya. Dengan demikian pedagang kaki lima perkotaan dipandang dalam kerangka system ekonominya yaitu mekanisme untuk mengatur dan memelihara arus pertukaran barang dan jasa sekaligus juga sebagai system social budaya.