• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. SPAM IKK

7.4. Sektor Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP)

7.4.1. Kondisi Eksisting 1. Air Limbah Domestik ISU STRATEGIS

Untuk melakukan rumusan isu strategis ini dilakukan dengan melakukan identifikasi data dan informasi dari dokumen-dokumen perencanaan pembangunan terkait dengan pengembangan permukiman tingkat nasional maupun daerah, seperti dokumen RPJMN, RPJMD, RTRW Kabupaten/Kota, Renstra Dinas, RP2KP, SSK dan dokumen lainnya yang selaras menyatakan isu strategis pengembangan air limbah sesuai dengan karakteristik di masing-masing Kabupaten/Kota.

Tujuan dari bagian ini adalah:

Teridentifikasinya rumusan isu strategis pengelolaan air limbah di Kabupaten/Kota; tereviewnya isu strategis pengembangan air limbah dari dokumen terkait.

Berikut adalah isu-isu strategis dalam pengelolaan air limbah permukiman di Indonesia antara lain:

1. Akses masyarakat terhadap pelayanan pengelolaan air limbah permukiman.

Sampai saat ini walaupun akses masyarakat terhadap prasarana sanitasi dasar mencapai 90,5% di perkotaan dan di pedesaan mencapai 67% (Susenas 2007) tetapi sebagian besar fasilitas pengolahan air limbah setempat tersebut belum memenuhi standar teknis yang ditetapkan. Sedangkan akses layanan air limbah dengan sistem terpusat baru mencapai 2,33% di 11 kota (Susenas 2007 dalam KSNP Air Limbah).

2. Peran Masyarakat

Peran masyarakat berupa rendahnya kesadaran masyakat dan belum diberdayakannya potensi masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan air limbah serta terbatasnya penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman berbasis masyarakat.

3. Peraturan perundang-undangan

Peraturan perundang-undangan meliputi lemahnya penegakan hukum dan belum memadainya perangkat peraturan perundangan yang dibutuhkan dalam sistem pengelolaan air limbah permukiman serta belum lengkapnya NSPM dan SPM pelayanan air limbah.

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 94 4. Kelembagaan

Kelembagaan meliputi kapasitas SDM yang masih rendah, kurang koordinasi antar instansi dalam penetapan kebijakan di bidang air limbah, belum terpisahnya fungsi regulator dan operator, serta lemahnya fungsi lembaga bidang air limbah.

5. Pendanaan

Pendanaan terutama berkaitan dengan terbatasnya sumber pendanaan pemerintah dan rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah yang merupakan akibat dari rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan air limbah. Selain itu adalah rendahnya tarif pelayanan air limbah sehingga berakibat pihak swasta kurang tertarik untuk melakukan investasi di bidang air limbah.

Setiap Kabupaten/Kota wajib merumuskan isu strategis yang ada di daerah masing-masing. Isu strategis dalam pengembangan air limbah menjadi dasar dalam pengembangan infrastrukturair limbah dan akan menjadi landasan penyusunan program dan kegiatan dalam Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RP2IJM) yang lebih berpihak kepada pencapaian MDGs, yang diharapkan dapat mempercepat pencapaian cita-cita pembangunan nasional.

KONDISI EKSISTING

Penentuan area berisiko berdasarkan tingkat resiko sanitasi dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan data primer berdasarkan hasil penilaian oleh SKPD dan hasil studi EHRA Tahun 2014. Penentuan area berisiko berdasarkan data sekunder adalah kegiatan menilai dan memetakan tingkat risiko sebuah area (kelurahan) berdasarkan data yang telah tersedia di SKPD meliputi: luas administrasi kelurahan, luas area terbangun kelurahan, pertumbuhan penduduk, jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, kepadatan penduduk, klasifikasi perkotaan, jumlah penduduk miskin, data air limbah, data persampahan, dan data drainase. Penentuan area berisiko berdasarkan Penilaian SKPD diberikan berdasarkan pengamatan, pengetahuan praktis dan keahlian profesi yang dimiliki individu anggota pokja kota/ kabupaten. Adapun penentuan area berisiko berdasarkan hasil studi EHRA adalah kegiatan menilai dan memetakan tingkat resiko berdasarkan: kondisi sumber air; pencemaran karena air limbah domestik; pengelolaan persampahan di tingkat rumah tangga; kondisi drainase; aspek perilaku (cuci tangan pakai sabun, higiene jamban, penangan air minum, buang air besar sembarangan). Proses penentuan area berisiko dimulai dengan analisis data sekunder, diikuti dengan penilaian SKPD dan analisis berdasarkan hasil studi EHRA. Penentuan area

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 95 berisiko dilakukan bersama-sama seluruh anggota Pokja berdasarkan hasil dari ketiga data tersebut.

Hasil Penentuan area berisiko berdasarkan tingkat/derajat risiko ini disajikan dalam bentuk tabel dan peta seperti dibawah ini:

Tabel 7.36.Area Berisiko Sanitasi

Sumber : Dokumen Memorandum Program Sanitasi (MPS) Kota Dumai, 2016 Kecamatan

Kelurahan/Desa

Kecamatan Dumai Barat

Kelurahan Pangkalan Sesai 2,0 1,0 4,0 2,0 3 1,0 2 3,00 3,0 3,0 3,0

Kelurahan Purnama 2,0 4,0 2,0 3,0 1 1,0 2 2,00 2,0 2,0 2,0

Kelurahan Bagan Keladi 3,0 4,0 3,0 1,0 1 3,0 2 2,00 3,0 3,0 2,0

Kelurahan Simpang Tetap 1,0 4,0 4,0 3,0 2 1,0 2 3,00 3,0 4,0 3,0

0,00

Kecamatan Dumai Timur

Kelurahan Teluk Binjai 2,0 4,0 4,0 4,0 1 1,0 2 2,00 3,0 3,0 2,0

Kelurahan Tanjung Palas 1,0 3,0 2,0 2,0 2 2,0 2 2,00 2,0 2,0 2,0

Kelurahan Jaya Mukti 2,0 1,0 4,0 4,0 2 1,0 2 3,00 3,0 3,0 3,0

Kelurahan Buluh Kasap 2,0 3,0 4,0 2,0 1 1,0 2 1,00 4,0 3,0 2,0

Kelurahan Bukit Batrem 1,0 4,0 2,0 2,0 1 2,0 2 2,00 4,0 3,0 2,0

0,00

Kecamatan Bukit Kapur

Kelurahan Bukit Nenas 1,0 1,0 2,0 2,0 1 1,0 1 1,00 3,0 2,0 1,0

Kelurahan Bukit Kayu Kapur 2,0 4,0 3,0 3,0 1 2,0 1 2,00 2,0 2,0 2,0

Kelurahan Gurun Panjang 2,0 1,0 3,0 1,0 1 3,0 1 1,00 2,0 2,0 2,0

Kelurahan Bagan Besar 1,0 4,0 2,0 3,0 1 1,0 1 1,00 2,0 3,0 2,0

Kelurahan Kampung Baru 2,0 3,0 3,0 2,0 1 4,0 1 2,00 2,0 3,0 2,0

0,00

Kecamatan Sungai Sembilan

Kelurahan Lubuk Gaung 3,0 1,0 3,0 2,0 2 3,0 1 2,00 3,0 2,0 2,0

Kelurahan Tanjung Penyembal 4,0 4,0 4,0 2,0 2 2,0 1 2,00 3,0 3,0 3,0

Kelurahan Bangsal Aceh 3,0 4,0 4,0 1,0 1 3,0 1 1,00 2,0 3,0 2,0

Kelurahan Basilam Baru 4,0 4,0 4,0 2,0 1 4,0 1 2,00 3,0 3,0 2,0

Kelurahan Batu Teritip 2,0 3,0 4,0 1,0 1 1,0 1 1,00 4,0 3,0 2,0

Kecamatan Medang Kampai

Kelurahan Teluk Makmur 2,0 3,0 1,0 1,0 1 3,0 1 1,00 2,0 3,0 1,0

Kelurahan Mundam 1,0 4,0 2,0 1,0 1 3,0 1 1,00 1,0 2,0 1,0

Kelurahan Guntung 1,0 1,0 1,0 1,0 1 2,0 1 1,00 1,0 2,0 1,0

Kelurahan Pelintung 2,0 4,0 1,0 1,0 1 4,0 1 2,00 3,0 2,0 1,0

Kecamatan Dumai Kota

Kelurahan Laksamana 4,0 1,0 4,0 1,0 2 2,0 2 2,00 3,0 3,0 4,0

Kelurahan Rimba Sekampung 3,0 1,0 4,0 4,0 4 1,0 2 4,00 3,0 3,0 4,0

Kelurahan Dumai Kota 4,0 1,0 4,0 2,0 3 1,0 2 3,00 3,0 3,0 3,0

Kelurahan Bintan 4,0 1,0 4,0 2,0 4 1,0 2 3,00 4,0 4,0 3,0

Kelurahan Sukajadi 3,0 3,0 4,0 3,0 4 1,0 2 4,00 4,0 3,0 4,0

Kecamatan Dumai Selatan

Kelurahan Ratu Sima 2,0 3,0 4,0 3,0 1 1,0 2 2,00 2,0 4,0 4,0

Kelurahan Bukit Timah 1,0 3,0 3,0 2,0 1 1,0 1 1,00 1,0 2,0 2,0

Kelurahan Mekar Sari 1,0 4,0 1,0 1,0 1 2,0 1 1,00 1,0 2,0 2,0

Kelurahan Bukit Datuk 1,0 3,0 1,0 3,0 1 1,0 2 2,00 3,0 3,0 3,0

Kelurahan Bumi Ayu 2,0 3,0 4,0 3,0 1 2,0 2 2,00 3,0 3,0 4,0

P op ul as i F un gs i U rb an ( ur ba n ata u r ur al ) K ep ad ata n P en du du k P er sa m pa ha n D ra in as e A ir L im ba h IMPACT D ra in as e A ir L im ba h P er sa m pa ha n A ng ka K em is ki na n S K O R IM P A C T

Skor Risiko Sanitasi (Penyesuaian)

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 96

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 97

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 98 Tahapan pencapaian pembangunan sektor sanitasi disusun dengan melakukan analisis terhadap kondisi wilayah saat ini serta arah pengembangan kota secara menyeluruh sebagaimana tertuang dalam dokumen perencanaan pembangunan seperti RPJPD, RPJMD, dan RPIJMD serta dokumen RTRW Kota Dumai.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan pilihan sistem dan penetapan zona sanitasi antara lain adalah :

a. Arah pengembangan kota yang merupakan perwujudan dari visi dan misi Kota Dumai dalam Jangka Pendek sampai dengan jangka panjang

b. Proyeksi pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk pada setiap kawasan berdasarkan luas terbangun

c. Kawasan beresiko sanitasi

b. Kondisi fisik wilayah (topografi dan struktur tanah)

Beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penentuan prioritas tersebut adalah kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah (perkotaan atau perdesaan), karakteristik tata guna lahan(Center of Business Development/ komersial atau rumah tangga), serta resiko kesehatan lingkungan. Analisis yang dilakukan menghasilkan suatu peta yang menggambarkan kebutuhan sistem pengelolaan air limbah yang akan menjadi bahan untuk perencanaan pengembangan sistem.

Penetapan Sistem dan Zona Sanitasi dilakukan untuk mengidentifikasi sistem sanitasi yang paling sesuai untuk suatu wilayah dan membantu perumusan program dan kegiatan yang paling sesuai dengan kondisi wilayah berdasarkan sistem yang diusulkan. Sistem sanitasi adalah suatu proses multi-langkah, di mana berbagai jenis limbah dikelola dari titik timbulan (sumber limbah) ke titik pemanfaatan kembali atau pemrosesan akhir. Setiap tahap ini disebut kelompok fungsional karena memiliki teknologi sendiri-sendiri dengan pengelolaan spesifik. Sistem sanitasi berdasarkan pentahapan implementasi jangka pendek (1-2 tahun), jangka Menengah (5 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun). Zona sanitasi menunjukkan dimana “sistem” tersebut akan diterapkan. Dalam menetapkan sistem sanitasi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah:

a. faktor pengelolaan (peraturan, pengelolaan kelembagaan, pengaturan operasional dan pemeliharaan, kepemilikan aset)

b. faktor fisik wilayah (kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan, dan topografi)

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 99 Pilihan Sistem yang dapat digunakan umumnya adalah :

a) Sub sektor air limbah domestik : Sistem setempat (Sistem on-site), dimana air limbah langsung diolah di tempat; dan sistem terpusat (sistem off-site) dengan mengalirkan air limbah domestik melaui perpipaaan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

b) Sub sektor persampahan: sistem pengolahan tidak langsung (melaui tempat penampungan sementara/TPS; sistem pengangkutan langsung; dan sistem penanganan sampah di sumbernya.

c) Sub sektor drainase: sistem gravitasi dan sistem pemompaan

Gambar 7.6.Persentase Tangki Septik Suspek Aman Sumber : Studi EHRA, 2014

Dari hasil analisis studi EHRA Tahun 2014 didapat bahwa akses jamban pribadi dengan tangki septik aman: 49,8% (38.389 KK) dan Akses jamban pribadi dengan tangki septik tidak aman sebesar 50,2% (38.697 KK) berdasarkan data Instrumen Profil Sanitasi. Beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu

 Hanya ada 1 truk penyedot tinja milik Pemerintah Daerah dan 2 Truk tinja milik swasta yang belum mampu melayani optimal ke seluruh masyarakat Kota Dumai

 Belum adanya IPLT

 Belum dilakukannya praktek pendeteksian kualitas limbah  Belum adanya Masterplan Air Limbah secara terpadu

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 100

Gambar 7.7.Grafik Tempat Penyaluran Akhir Tnja Kota Dumai Sumber : Hasil Studi EHRA, 2014

Diagram Sistem Sanitasi (DSS) pengelolaan air limbah domestik Kota Dumai tersebut diatas menjelaskan, dari produk input (black water) tinja, urine, air pembersih dan air penggelontor dari rumah masyarakat yang menggunakan WC duduk dan WC jongkok di tampung/pengolahan awal menggunakan tangki septik. Kemudian dari tangki septic tersebut ada yang di alirkan ke drainase, ada juga yang di bawa oleh truck tinja untuk dibuang ke sungai maupun di buang di kebun untuk dijadikan pupuk. Sedangkan masyarakat yang menggunakan WC di pinggir sungai menjadikan sungai sebagai tempat pengaliran pembuangan akhir.

Produk input grey water seperti air cucian dari dapur, air bekas mandi dan air cucian pakaian yang menggunakan sarana tempat pencucian piring, dari bak mandi dan pembuangan air cucian di alirkan melalui pipa saluran ke drainase lingkungan setempat. Kemudian dari drainase, grey water tersebut di alirkan lagi ke sungai sebagai tempat pembuangan akhir.

2. Pengelolaan Persampahan Kota Dumai ISU STRATEGIS

Isu strategis pada kondisi pesampahan di Kota Dumai secara garis besar terbagi dalam beberapa indikator, yaitu :

a. Implementasi Amanat Undangn-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Persampahan Dari sistem pengelolaan sampah yang dikembangkan di Kota Dumai terlihat bahwa Pemerintah Kota Dumai, masih jauh dari amanat Undang Undang Persampahan Nasional ini. Dalam UU no. 18 Tahun 2018 ini menjelaskan bahwa pengelolaan sampah sudah

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 101 sepatutnya dilakukan di sumber melalui aktiftitas pengurangan sampah sehingga mengurangi sampah yang dibuang ke TPA, namun sistem operasi yang dipakai di Kota Dumai masih berpikir bagaimana mengangkut semua sampah di kota ke sebuah TPA. Sehingga dalam hal ini perlu trasformasi menuju sistem yang sesuai dengan amanat Undang-undang.

b. Kapasitas Pelayanan

Yang menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan sampah di Kota Dumai adalah masih terbatas nya Wilayah Pelayanan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan, disebabkan karena luasnya Wilayah Administratif dan kondisi geografi di Kota Dumai. Pelayanan yang dilakukan saat ini baru di prioritaskan di daerah permukiman, yaitu di 4 Kecamatan dengan jumlah penduduk tinggi. Namun demikian, beban operasional saat ini masih berada pada level sedang. Beban pengelolaan tinggi terukur di kawasan perkotaan dengan penduduk yang padat, dan wilayah pasar. Dilihat dari kualitasnya, tingkat pelayanan pengelolaan sampah di Kota Dumai terukur masih rendah. Adanya 3 Kecamatan yang sama sekali tidak menjadi wilayah pelayanan hendaknya harus menjadi perhatian dalam pengembangan rencana ke depan. Model pelayanan perdesaan perlu dikembangkan sebagai solusi permasalahan sampah di kawasan ini.

c. Kapasitas Lembaga

Umumnya di Indonesia, Lembaga Dinas Kebersihan sesungguhnya mengemban dua fungsi yaitu sebagai regulator dan operator. Penggabungan kedua fungsi ini mengakibatkan tidak berjalannya fungsi pengawasan. Diperlukan adanya kehadiran fungsi regulator, sehingga Dinas Kebersihan dapat menjalankan fungsi operator dengan lebih efektif. Kehadiran Kantor Lingkungan Hidup sudah tepat, tinggal adanya penambahan tupoksi terhadap kantor ini yaitu terkait Pengaturan Kebijakan Pengelolaan Sampah Kota Dumai. Ketimpangan fungsi tersebut juga tidak didukung dengan SDM yang memadai baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Kemampuan SDM intern Dinas Pengelola Sampah dalam 2 tahun mendatang selayaknya harus mendapat perhatian besar.

d. Kemampuan Pembiayaan

Saat ini alokasi APBD untuk pengelolaan persampahan di Kota Dumai terhitung sangat kecil. Hal ini menunjukkan perhatian Eksekutif kota dan Legislatif perlu di tingkatkan. Pemikiran bahwa pengelolaan sampah ala kadarnya sudah harus segera ditinggalkan . Dan segera disadari bahwa untuk menjadikan kota bersih membutuhkan investasi. Demikian halnya, dengan efektifitas retribusi yang masih sangat rendah baik dari segi kuantitas maupun kualitas mekanisme penarikannya, menyebabkan pengelolaan sampah di Kota Dumai ini masih bertumpu pada APBD.

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 102 e. Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat di Kota Dumai dalam pengelolaan sampah, terlihat dalam konteks peran serta pasif, yaitu dalam pembayaran retribusi. Adanya pendelegasian operasi pengumpulan sampah di Kecamatan, sesungguhnya menjadi jalan kedekatan pelayanan bagi masyarakat, namun masih perlu di cari penguatan dari struktur pembiayaan dan kelembagaannya.

KONDISI EKSISTING

Sumber sampah di Kota Dumai pada umumnya masih dalam kondisi tercampur. Seperti kondisi persampahan di kota lainnya, sumber sampah di Kota Dumai terdiri atas beberapa kategori sumber sampah, yaitu :

a) Sumber sampah yang berasal dari daerah perumahan

 Perumahan masyarakat berpenghasilan tinggi (High income)

 Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (Middle income)

 Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah/daerah kumuh (low income) b) Sumber sampah yang berasal dari daerah komersial

Daerah komersial umumnya didominasi oleh kawasan perniagaan, hiburan dan lain-lain. Yang termasuk kategori daerah komersial di antaranya yaitu Pasar, Pertokoan, Hotel, Restoran, Industri (Minyak dan Sawit, dan lainnya.

c) Sumber sampah yang berasal dari daerah umum

Fasilitas umum (daerah umum) merupakan sarana/prasarana perkotaan yang dipergunakan untuk kepentingan umum. Yang termasuk dalam kategori fasilitas umum yaitu Pertokoan, Sekolan, Rumah Sakit, Bandara, Pelabuhan, Taman, Jalan, dan lainnya.

Jika dilihat dari sumber sampahnya, pelayanan sampah di Kota Dumai telah mencangkup dari berbagai macam sumber sampah, umumnya sampah yang terangkut dalam kondisi tercampur antar sumber sampah satu dengan yang lainnya, karena proses pegangkutan yang dilakukan tidak berdasarkan sumber sampahnya melainkan berdasarkan rute/jalur yang dilewati alat angkut tersebut.

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 103

Gambar 7.8.Grafik Komposisi Sampah Permukiman Kota Dumai Sumber : Dokumen PTMP Kota Dumai, 2016

Dari laporan dokumen PTMP Kota Dumai, dapat dilihat bahwa sampah yang terbesar dihasilkan dari sisa bahan makanan yaitu sebesar 44% dari seluruh jumlah sampah permukiman yang ada di Kota Dumai, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 7.37.Komposisi Sampah Permukiman Kota Dumai

No Komposisi Keterangan Rata-rata (Kg) Persentase

1 Organik Sisa Makanan Sayur, nasi, buah, ikan dan sisa makanan lainnya

21.46 44%

2 Organik Sapuan Halaman

Tulang, Daun, ranting, Kayu

3.78 8%

3 Kertas Sisa kertas 1.15 2%

4 Karton dan Kardus Karton, Kardus dll 1.89 4%

5 Plastik Laku Jual Botol plastik, gelas plastik, plastik tebal dll

5.62 12%

6 Plastik tidak Laku Jual keresek, bungkus makanan, bungkus permen dll

2.54 5%

7 Kaca Gelas, piring, cermin, dll 0.92 2%

8 Logam Kaleng, besi, logam 0.54 1%

9 Tekstil/Kain Tekstil, Kain sisa, perca 1.13 2%

10 Karet/Kulit Ban karet, kulit dll 1.51 3%

11 B3 Baterai, lampu, aerosol,

obat-obatan dll

0.61 1%

12 Residu Pembalut, popok

material halus, sterofoam dll

7.62 16%

Total 48.75 100 %

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 104 Komposisi sampah permukiman Kota Dumai menunjukkan sampah organik sisa makanan menjadi komposisi tertinggi yaitu sebesar 44%, sedangkan komposisi terbesar kedua adalah sampah residu dengan komposisi sebesar 16%. Dalam survey komposisi kali ini sampah residu umumnya didominasi oleh popok sekali pakai (disposable diapers), hal ini menunjukkan bahwa pola hidup masyarakat Kota Dumai masuk ke dalam kategori masyarakat modern namun kegiatan memasak di rumah masih menjadi pilihan gaya hidup yang berkembang di Kota Dumai.

Timbulan sampah suatu kab/kota tentu dipengaruhi oleh aktivitas permukiman dan non permukimannya. Untuk mengetahui besarnya timbulan sampah non permukiman, konsultan menggunakan pendekatan terhadap proporsi sampah yang terangkut ke TPA dengan melihat pada sumber sampahnya. Berdasarkan data jalur pengangkutan sampah, diketahui bahwa proporsi timbulan sampah permukiman adalah sebesar 70% dari timbulan sampah kota. Sehingga proporsi timbulan sampah non permukiman hanya 30% nya saja dari total sampah kota. Adapun proporsi dan timbulan sampah berdasarkan aktivitasnya masing-masing disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 7.38.Proporsi Timbulan Sampah Non Permukiman Kota Dumai No Sumber Sampah Satuan Proporsi Timbulan Timbulan Sampah

1 Jalan dan taman l/m2/hari 5% 0.15

2 Pertokoan l/petugas/hari 2% 0.05

3 Sekolah l/murid/hari 4% 0.11

4 Pasar l/m2/hari 8% 0.24

5 Perkantoran Pegawai/hari 3% 0.08

6 Rumah Sakit l/bed/hari 3% 0.09

7 Fasilitas Umum (Lapas, Pelabuhan)

l/orang/hari 5% 0.14

Jumlah l/hari 30% 0.86

Berdasarkan hasil proporsi timbulan diatas, terlihat bahwa sampah non permukiman terdiri atas sampah yang bersumber dari aktivitas jalan dan taman sebesar 5% yaitu 0.15 l/m2/hari, pertokoan sebesar 2% yaitu 0.05 l/petugas/hari, sekolah sebesar 4% yaitu 0.11 l/murid/hari, pasar sebesar 8% yaitu 0.24 l/m2/hari, perkantoran sebesar 3% yaitu 0.08 l/pegawai/hari, rumah sakit sebesar 3% yaitu 0.09 l/bed/hari dan fasilitas umum lainnya sebesar 5% yaitu 0.14 l/orang/hari. Sehingga jumlah timbulan sampah untuk sumber sampah non permukiman adalah sebesar 0.86 l/orang/hari.

Dengan melihat pada jalur/rute pengangkutan sampah, dapat diketahui daerah mana saja yang menjadi wilayah pelayanan pengelolaan sampah oleh Kecamatan dan Dinas Tata

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 105 Kota, Kebersihan dan Pertamanan Kota Dumai. Wilayah pelayanan pengelolaan sampah Kota Dumai baru menyentuh pada 4 (empat) kecamatan yaitu Kecamatan Dumai Barat, Dumai Timur, Dumai Kota dan Dumai Selatan, namun tidak semua kelurahan di kecamatan tersebut terlayani, hanya Kecamatan Dumai Kota saja yang telah mendapatkan pelayanan pengelolaan sampah di seluruh kelurahannya. Wilayah pelayanan pengelolaan sampah eksisting di Kota Dumai disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 7.39.Wilayah Pelayanan Pengelolaan Sampah Eksisting di Kota Dumai No Nama Kecamatan Nama Kelurahan Jumlah Kelurahan

Terlayani Penduduk Terlayani (Jiwa) 1 Dumai Barat 1. Purnama 1 Kelurahan 13.966 2 Dumai Timur 1. Jaya Mukti 2. Teluk Binjai 3. Buluh Kasap 3 Kelurahan 19.703 17.234 7.926 3 Dumai Kota 1. Rimba Sekampung 2. Sukajadi 3. Bintan 4. Dumai Kota 5. Laksamana 5 Kelurahan 11.965 8.346 9.452 8.050 4.395 4 Dumai Selatan 1. Bukit Datuk 1 Kelurahan 12.624 Jumlah 10 Kelurahan 105.735

Sumber : Dokumen PTMP Kota Dumai, 2016

Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah

Pengumpulan sampah pasar dilakukan oleh petugas pengumpul dari kios-kios ke TPA Pasar. Pengumpulan sampah sungai dilakukan dengan menggunakan boat/perahu khusus oleh petugas sampah. Kegiatan pengumpulan sampah sungai ini hanya dilakukan di Sungai Bulu Ala. Pengumpulan sampah permukiman dilakukan oleh masing-masing kelurahan/kecamatan setempat, dimana kegiatan operasional pengumpulan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak Kecamatan. Masing-masing kecamatan memiliki kendaraan pengumpul berupa motor sampah roda tiga serta petugas harian pengumpulan sampah yang di tempatkan di masing-masing kelurahan sebanyak 4 (empat) orang petugas. Pertugas pengumpulan sampah ini memiliki tugas mengakut sampah dari permukiman ke TPS.

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 106 Kendaraan pengumpul sampah di Kota Dumai berupa motor sampah milik Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pertamanan Kota Dumai sebanyak 3 (tiga) unit ditujukan untuk membantu kegiatan pengumpulan sampah permukiman di kecamatan yang belum melakukan pengumpulan sampahnya secara mandiri yaitu 3 (tiga) Kelurahan di Kecamatan Dumai Timur, sedangkan armada pengumpul milik kecamatan terdata sebanyak 8 (delapan) unit untuk melayani beberapa kelurahan di Kecamatan Dumai Barat, Dumai Kota dan Dumai Selatan.

Sampah yang telah terkumpul selanjutnya dibawa menuju TPS terdekat dari pemukiman. Dalam hal ini proses pengumpulan sampah di Kota Dumai didominasi dengan pola pengumpulan tidak langsung, dimana TPS menjadi titik kumpul pertama sebelum sampah akhirnya diangkut menuju TPA.

Kota Dumai memiliki 17 (tujuh belas) unit TPS yang tersebar di Kecamatan Dumai Kota, Kecamatan Dumai Barat, Kecamatan Dumai Timur dan Kecamatan Dumai Selatan. Terdapat 3 (tiga) jenis sarana pengumpul sampah yang dimiliki Kota Dumai yaitu TPS Kontainer, TPS Pasangan Bata dan TPS Mini. TPS Kontainer memiliki kapasitas sebesar 6 m³, sumber sampah umumnya berasal dari lokasi sekitar. Selanjutnya sampah dari TPS ini diangkut oleh kendaraan pengangkut sampah yaitu berupa truk sampah menuju TPA, sedangkan TPS Mini memiliki kapasitas sebesar 1 - 1.5 m³, sumber sampah umumnya berasal dari pertokoan, jalan, permukiman. Selanjutnya sampah dari TPS ini diangkut oleh kendaraan pengangkut sampah yaitu berupa truk sampah menuju TPA.

Kendaraan operasional pengangkutan sampah yang dimiliki oleh Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pertamanan Kota Dumai terdiri atas 3 (tiga) jenis kendaraan angkut yaitu Dump truk (18 unit) kapasitas 6 m³, Amroll truk (5 unit) kapasitas 6 m³, dan Mobil Pick Up (4 unit) kapasitas 3 m³, namun terdapat 4 (empat) unit dump truk dalam kondisi rusak berat dan 1 (satu) unit amroll truk dengan kondisi rusak, sehingga hanya 22 (dua puluh dua) unit kendaraan angkut yang beroperasi.

Pengolahan dan Pemoresasan Akhir Sampah

Kegiatan pengolahan sampah di Kota Dumai diantaranya berupa kegiatan pengomposan dan kegiatan bank sampah. Terdapat 2 (dua) unit rumah kompos yaitu rumah kompos kelurahan Bukit Datuk dan Rumah Kompos Kelurahan Jaya Mukti serta 2 (dua) unit bank sampah yang terdapat di Kelurahan Dumai Kota dan Kelurahan Jaya Mukti. Beberapa industri di Kota Dumai telah melakukan pengolahan sampahnya secara mandiri seperti PT Cheveron yang memiliki fasilitas pengelolan sampah anorgani dan organic juga memiliki TPA mandiri yang di kelola dengan sangat baik.

Bab VII – Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII - 107 Terdapat 2 (unit) rumah kompos yang tersebar di Kota Dumai yaitu:

1. Rumah Kompos Bukit Datuk

Rumah Kompos Bukit Datuk terdapat di Kelurahan Bukit Datuk Kecamatan Dumai Selatan.

Dokumen terkait