D. Program Desa Rawan Air/Terpencil, dengan kriteria:
7.4. SEKTOR PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN (PLP) 1. Kondisi Eksisting
Kondisi eksisting pengelolaan air limbah
Pengelolaan air limbah domestik terutama untuk Kabupaten Badung Bagian Selatan yang meliputi Kecamatan Kuta, Kuta Utara dan Kuta Selatan pengelolaan air limbah domestik dikelola oleh sebuah institusi khusus yang menengah air limbah domestik yaitu DSDP. Sedangkan di bagian utara meliputi Kecamatan Mengwi, Kecamatan Abiansemal dan Kecamatan Petang yang belum dapat dilayani oleh DSDP secara umum dilakukan dengan sistem on site. Pengolahan air limbah domestik di Kabupaten Badung dengan system off-site (perpipaan) melalui program DSDP dilakukan mulai tahun 2007 hingga sekarang. Tahap I dilakukan pembengunan perpipaan di Kelurahan Seminyak dan Legian di Kecamatan Kuta, yang meliputi area pelayanan seluas 295 Ha (penduduk yang dilayani 13.000 jiwa) dengan total panjang pipa 21,7 km dan sambungan pelanggan 860 SR. Untuk tahap ke II dilakukan pembangunan system perpipaan di Kelurahan Kuta, Seminyak dan Legian dengan sambungan pelanggan 1.200 SR. Direncanakan DSDP tahap III (2017 – 2025) perluasan di Kecamatan kuta 1.409 ha. Sampai saat ini (2015) pelayanan air lmbah di Kabupaten Badung mencapai 93,4 %. Permasalahan yang terjadi untuk sub sektor air limbah domestik lebih kepada belum terpasangnya system pengolahan off-site di seluruh kawasan strategis di Kabupaten Badung.
Kondisi eksisting pengelolaan sampah
Sampah merupakan sisa atau hasil buangan kegiatan manusia, ada dua jenis kelompok sampah yaitu organic dan anorganik. Sampah organic adalah sampah alamiah yang dalam kurun waktu tertentu dapat terurai menjadi unsur-unsur yang lebih kecil dapat dapat tersedia sebagai unsur penyubur tanah. Sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari sisa dan atau bekas hasil olahan manusia dan tidak dapat terurai sendiri. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penumpukan sampah apabila tidak segera ditangani. Untuk itu DLHK Kabupaten Badung yang bertanggungjawab untuk pengelolaan sampah telah berupaya untuk mengatasinya dengan berbagai upaya sehingga volume sampah yang terbuang ke TPA juga dapat ditekan. DLHK telah melaksanakan beberapa kegiatan khususnya untuk sampah organic dengan cara composting yaitu mengolah sampah daun menjadi kompos. Kedepan DLHK Kabupaten Badung dengan dukungan dana dari APBD/APBN berencana meningkatkan peran serta masyarakat dengan membentuk wadah pengelolaan/pengolahan sampah dalam bentuk TPST-3R. Saat ini sudah terbentuk TPST sebanyak delapan unit di masyarakat. Sedangkan untuk sampah anorganik DLHK bekerja sama dengan pihak lain menggulirkan program yang bernama Ge.La.Tik (Gerakan Berkelanjutan Anti Sampah Plastik) yaitu upaya memunggut dan mengumpulkan sampah plastic dan menyerahkan kepihak lain untuk penanganan
VII - 43
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
lebih lanjut. Untuk saat ini sampah plastic yang tertangani baru dilingkungan sekolah-sekolah, kantor-kantor Desa/Kelurahan dan pasar. Untuk menunjang dan meningkatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah tersebut diperlukan sarana dan prasarana seperti:
• Sapu, Serok, Keranjang; • Kontener;
• Ting Bin/Bak Sampah terpilah; • TPS; dan
• Mobil Pengangkutan.
Untuk pelayanan kebersihan saat ini DLHK baru dapat melayani 112,7 km dari luas 212,001 km dengan jumlah tenaga kebersihan sebanyak 490 orang (laki=240 orang, perempuan=250 orang) dan tenaga pengangkutan sebanyak 126 orang (56 orang sopir, tenaga angkat sampah sebanyak 70 orang) dengan armada angkutan sebanyak 43 unit. Untuk meningkatkan dan memperluas wilayah pelayanan DLHK berencana menambah tenaga kebersihan sebayak 234 orang dan armada pengangkutan sebanyak 13 unit.
Untuk pelayanan wilayah yang dilayani, DLHK melakukan pemetaan wilayah kerja yaitu dengan mengatur rute pelayanan. Untuk jalur utama/jalan pertokol sampah yang sudah terkumpul ditempat-tempat penampungan (kontener/Bin) baik sampah hasil penyapuan maupun rumah tangga akan diangkut dengan mobil pengangkutan untuk selanjutnya dibuang ke TPA. Sedangkan untuk sampah yang ada agak ke dalam (gang-gang dan tidak dapat dilalui mobil, sampah akan diambil dengan mempergunakan sepeda motor gerobak/gerobak sampah untuk selanjutnya akan dikumpulkan di TPS yang nantinya diangkut dengan mobil dan dibuang ke TPA. Untuk sampah yang hanyut di sungai, DLHK sudah berupaya dengan memanfaatkan tenaga mesin penangkap sampah (Trash Rack) dan sampah yang sudah terkumpul akan diangkut dengan mobil untuk dibuang ke TPA. Untuk menjaga ketertiban masyarakat dalam membuang sampah, DLHK memberlakukan jadwal jam pembuangan sehingga disaat mobil bekerja melakukan pengangkutan sampah bisa maksimal terangkut. Tata cara ini sesuai dengan amanat Undang-Undang persampahan yaitu UU No. 18 Tahun 2008 dan Perda pendukungnya seperti Perda No. 4 Tahun 2001.
Pemilahan dan pengolahan 3 R di sumber sampah Kabupaten Badung yang berlokasi di salah satu sudut kawasan kantor pemerintahan Kabupaten Badung, masih difokuskan pada pengolahan sampah an-organik melalui Bank sampah. Masyarakat biasanya mengumpulkan sampah anorganik dirumahnya, kemudian dijual ke bank sampah per dua minggu sekali atau kalua dirasa sudah cukup banyak.
VII - 44
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
Pemrosesan akhir sampah di Kabupaten Badung di Tempat pemrosesan akhir (TPA) Sarbagita terletak di Desa Suwung, Kecamatan Denpasar Selatan, dengan jarak ± 30 km dari pusat Kota Mangupura. Beroperasi sejak tahun 1986 dengan luas sebesar 22 hektar. Penanganan akhir sampah di TPA Sarbagita sudah memiliki sarana sistem sanitary landfill. Timbulan sampah di Kabupaten Badung tahun 2014 sebesar 205,5 ton/hari, sampah yang diangkut ke TPA Suwung 79% atau sebesar 162,4 ton/hari.
Timbulan sampah di Kabupaten Badung sebanyak 1.378 m3/hari, dimana hanya 72 % yang terangkut ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir Sampah) setara dengan 994 m3/hari. Sisanya sebesar 384 m3/hari belum tertangani. Sampai dengan tahun 2015 secara keseluruhan pelayanan sampah di Kabupaten Badung 90,34 %.
Kondisi eksisting pengelolaan drainase
Sistem pelayanan drainase lingkungan di Kabupaten Badung disajikan seperti pada tabel VII.4 dengan input bersumber dari rumah tangga dan air hujan dengan user interface rumah tangga, dan limpasan air hujan langsung masuk ke sungai. Institusi yang bertanggung jawab terhadap sistem pelayanan drainase lingkungan di Kabupaten Badung adalah Dinas Bina Marga dan Pengairan yang secara rutin melakukan kegiatan untuk pengelolaan drainase lingkungan yang tersebar di enam kecamatan.
Tabel VII.9: Sistem Pengelolaan Drainase Yang Ada Di Kabupaten Badung Kelompok
Fungsi
Teknologi yang
digunakan Jenis Data Sekunder (Perkiraan) Nilai Data Sumber Data
a b c d e
User interface Air limbah dari dapur, kamar mandi, tempat cuci pakaian, dan wastafel
KK pembuang ke
drainase Belum ada data Studi EHRA Kabupaten Badung, 2012 Limpasan air
hujan, Talang Curah Hujan Rerata Kuta Selatan : 164,1 mm Kuta : 164,1 mm Kuta Utara : 159,3 mm Mengwi : 159,1 mm Abiansemal : 180,2 mm Petang : 180,3 mm Badung Dalam Angka, 2011 Jumlah titik
Genangan 15 titik 1. Jl. Raya Petitenget 2. Sungai Tragia Nusa Dua 3. ByPass Nusa Dua sekitar
Mumbul Billa Bow view Hill 4. Drainase Jl Sunset Road
Dinas Bina Marga dan Pengairan tahun 2012
VII - 45
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
Kelompok Fungsi
Teknologi yang
digunakan Jenis Data Sekunder (Perkiraan) Nilai Data Sumber Data
a b c d e
menuju rawa 5. Jl Uluwatu Jimbaran 6. Jl Raya Kerobokan 7. Pertigaan Samping Poltek
Negeri Bali
8. Batu Pageh Simpang Nirmala Uluwatu 9. Perempatan Penarungan 10. Utara Pasar Latu 11. Sungai Seminyak 12. Perumahan Ungasan
Permai
13. Pertigaan Kwanji ke barat 14. Karang Gadon
15. Pertigaan abiansema Pengaliran Drainase
lingkungan Sistem Pembuangan 5 Sistem Pembuangan Drainase Dinas Cipta Karya tahun 2012 Pembuangan
akhir Sungai Nama Sungai Tukad Penet Tukad Tukad Pangi Tukad Umaalas Tukad Mati Hulu Tukad Badung Hulu
Dinas Bina Marga dan Pengairan tahun 2012
Sumber : Studi EHRA
Permasalahan dan tantangan pengembangan penyehatan lingkungan Permasalahan pengelolaan air limbah:
1. Cakupan pelayanan air limbah masih rendah baik yang dikelola oleh Pemerintah maupun masyarakat
2. Pembuangan air limbah domestik oleh penyedia jasa secara ilegal
3. Investasi pengolahan limbah cair mahal dan sulitnya mendapatkan lahan untuk IPAL/IPLT
4. Retribusi air limbah terpusat belum optimal.
5. Anggaran APBD untuk kegiatan pengolahan limbah cair masih belum maksimal. 6. Permasalahan sistem pembuangan air limbah setempat secara individual;
7. Permasalahan sistem pembuangan terpusat skala kecil pada kawasan permukiman padat perkotaan yang tidak terlayani sistem jaringan air limbah
VII - 46
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
terpusat dan/atau komunal kota dalam bentuk Sistem Sanitasi Masyarakat (Sanimas).
8. Permaslahan pendayagunaan dan pemeliharaan sistem prasarana
pembuangan air limbah perpipaan terpusat yang telah dibangun.
9. Permasalahan pengembangan baru sistem prasarana pembuangan air limbah perpipaan terpusat untuk melayani kawasan perkotaan fungsi PKN dan PKL, pusat-pusat kawasan pariwisata dan pusat kegiatan lainnya.
10. Permasalahan Keterpaduan sistem pengelolaan air limbah dan sistem pengelolaan drainase.
Tantangan pengelolaan air limbah
1. Peningkatan cakupan pelayanan sarana sanitasi menjadi 100 % jumlah penduduk di tahun 2019 untuk mencapai total pelayanan sanitasi secara nasional, memerlukan dukungan investasi prasarana dan sarana serta dukungan peraturan perundang-undangan.
2. Peningkatan jumlah penduduk yang berdampak pada peningkatan pemakaian air bersih dan juga peningkatan kuantitas/volume limbah cair dan padat
3. Dibutuhkan perbaikan dan perkuatan koordinasi antar instansi pemerintah dan antara pemerintah daerah dengan masyarakat serta pihak terkait lainnya dalam pengelolaan limbah.
4. Peningkatan kesadaran terhadap masalah sanitasi dan perubahan perilaku rumah tangga untuk mengurangi resiko kesehatan lingkungan.
5. Pelibatan masyarakat dan sektor swasta di sektor sanitasi untuk menyeimbangkan pembagian peran, hak dan kewajiban serta tanggung jawab selaku pelaku pembangunan.
6. Terpenuhinya Standar Pelayanan Minimum subsektor air limbah.
7. Perubahan iklim akan sangat berdampak pada curah hujan dan kondisi sumber air yang juga mempengaruhi kondisi limbah
8. Operasi dan Pemeliharaan Sistem Air Limbah Terpusat (DSDP) yang telah dibangun.
Permasalahan Pengelolaan sampah
1. Dukungan/ partisipasi masyarakat dalam penanganan sampah masih rendah 2. Cakupan pelayanan pengangkutan sampah masih 74% (ketersediaan personil
dan peralatan masih kurang)
VII - 47
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
4. Terbatasnya sarana dan prasarana angkutan, sehingga cakupan layanannya masih terbatas pada perkotaan dan pasar.
5. Anggaran di bidang kebersihan dan persampahan sangat minim. Tantangan pengelolaan sampah
1. Peningkatan cakupan pelayanan sarana sanitasi menjadi 100 % jumlah penduduk di tahun 2019.
2. Peningkatan jumlah penduduk yang berdampak pada peningkatan
kuantitas/volume limbah padat
3. Perlu perbaikan dan perkuatan koordinasi antar instansi dan antara pemerintah daerah dengan masyarakat serta pihak terkait lainnya.
4. Peningkatan kesadaran terhadap masalah persampahan dan perubahan perilaku rumah tangga.
5. Pelibatan masyarakat dan sektor swasta di sektor persampahan belum optimal. 6. Terpenuhinya Standar Pelayanan Minimum sub sektor persampahan.
Permasalahan Pengelolaan Drainase
1) Belum ada master plan drainase yang komprehensif di Kabupaten Badung
2) Masih ada genangan air yang belum tertangani di beberapa kawasan akibat alih fungsi lahan dan topografi yang rendah
3) Terjadinya pendangkalan saluran drainase
4) Belum maksimalnya sosialisasi peraturan tentang sempadan saluran drainase 5) Pembuangan air limbah dari rumah tangga termasuk pengusaha ternak langsung
ke drainase
Tantangan Pengelolaan Drainase
1. Terwujudnya sistem drainase yang tertata dengan baik dan tidak timbul genangan.
2. Peningkatan sarana dan prasarana drainase dan trotoar di wilayah perkotaan. 3. Terwujudanya program sanitasi yang inovatif sebagai program prioritas.
4. Terwujudnya iklim pembangunan sanitasi khususnya drainase yang mendukung swasta untuk dapat berperan serta.
5. Terwujudnya pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility untuk pembangunan sanitasi sub sektor drainase.
6. Terwujudnya peran serta aktif masyarakat dan LSM dalam pembangunan sanitasi sub sektor drainase.
VII - 48
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
7.4.2. Sasaran Program
Arahan RPJMN 2015 – 2019 mengamanatkan untuk meningkatnya akses penduduk terhadap sanitasi layak (air limbah domestik, sampah dan drainase lingkungan) menjadi 100 persen pada tingkat kebutuhan dasar. Berdasarkan kondisi eksisting layanan air lmbah tahun 2015 sebesar 93,4 % dan kondisi elsisting pelayanan sampah tahun 2015 sebesar 90,34 % serta asumsi pelayanan off site 15 % dan on site 85 % maka sasaran penanganan penyehatan lingkungan di Kabupaten Badung sebagiman disajikan pada Tabel VII.10
Tabel VII.10. Matrik Sasaran Program Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman
NO URAIAN SASARAN PROGRAM EKSISTING KONDISI Tahun 2015
SASARAN PROGRAM
Th 2018 Th 2019 Th 2020 Th 2021 Th 2021 1 Sistem Pengelolaan Air
Limbah Cakupan Pelayanan SPAL Terpusat 5 % 15 % 15 % 15 % 15 % 15 % Cakupan Pelayanan SPAL Setempat 89 % 82 % 84 % 85 % 85 % 85 % 2 Pengelolaan Persampahan Cakupan Pelayanan Persampahan 90,34 % 96,22% 98,11% 100% 100% 100%
Sesuai nomenklatur yang baru, sasaran kegiatan dan Indikator sasaran sektor penyehatan lingkungan permukiman, meliputi:
1. Peraturan Pengembagan Penyehatan Lingkungan Permukiman dengan indikator : o Jumlah NSPK, Peraturan Pengembagan Penyehatan Lingkungan Permukiman. 2. Pembinaan, fasilitasi, pengawasan dan kampanye serta advokasi dengan
indikator:
o Jumlah Kabupten/Kota yang mendapat Pembinaan & Pengawasan
Pengembagan Penyehatan Lingkungan Permukiman
3. Infrastruktur Air Limbah dengan Sistem Terpusat Skala Kota, Kawasan dan Komunal dengan indikator :
o Jumlah Kab/kota yang dibangun infrastruktur air limbah sistem terpusat skala kota
o Jumlah kawasan dan Kab/kota yang dibangun infrastruktur air limbah sistem terpusat skala komunal
o Jumlah kawasan dan Kab/kota yang dibangun infrastruktur air limbah sistem terpusat skala kawasan
VII - 49
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
4. Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) dengan indikator :
o Jumlah Kab/kota yang dibangun Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) 5. Infrastruktur Tempat Pemrosesan Akhir Sampah dengan indikator :
o Jumlah Kab/kota yang dibangun TPA
6. Infrastruktur Tempat Pengolah Sampah Terpadu/3R dengan indikator o Jumlah kawasan dan Kab/kota yang dibangun TPST/3R
7. Infrastruktur Fasilitas Pengolahan Akhir Sampah dengan indikator : o Jumlah Kab/kota yang difasilitasi Pengolahan Akhir Sampah 8. Infrastruktur Drainase dengan indikator
o Kabupaten/Kota dan Luas Genangan Tertangani.
7.4.3. Usulan Kebutuhan Program
Berdasarkan isu strategis, kondisi eksisting, permasalahan dan tantangan, target cakupan pelayanan sesuai RPJMN 2015 – 2019 serta program-program dan readiness criteria maka usulan program dan kegiatan sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman Kabupaten Badung sebagaimana disajikan pada Tabel VII.11 dan Matrik Usulan Kebutuhan Pembiayaan pada Lampiran III
VII - 50
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kabupaten Badung 2015 -2019 HASIL REVIEW TAHUN 2017
Tabel VII.11 Usulan Kebutuhan Program Sektor PLP
NO. Kegiatan Pengembangan PLP Jumlah Satuan RENCANA PROGRAM
2018 2019 2020 2021 2022
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Penguatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Bidang Pengembangan PLP 1 Paket 1 Paket
2 Penguatan Kapasitas Masyarakat dan Kemitraan dalam Bidang Pengembangan PLP 41 Paket 9 Paket 8 Paket 8 Paket 8 Paket 8 Paket
3 Pengawasan dan Evaluasi Bidang Pengembangan PLP 5 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket
4 Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Skala Kota 3 Paket 2 Paket 1 Paket
5 Sistem Pengelolaan Air Limbah Skala Kawasan 3 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket
6 Sistem Pengelolaan Air Limbah Berbasis Masyarakat 3 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket
7 Sistem Pengelolaan Drainase Lingkungan Permukiman 5 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket
8 Sistem Penanganan Persampahan Skala Regional 5 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket
9 Sistem Penanganan Persampahan Skala Kota 5 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket
10 Sistem Penanganan Persampahan Skala Kawasan 5 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket